Panasnya Rote

IMG20190423115500
Gerbang Selamat Datang Pelabuhan Baa, Rote

Mungkin karena panasnya yang kelewatan makanya orang rote buat topi ti’i langga kali ya? Itu loh, topi yang sering dijadikan andalan kekhasan NTT. Yang ada sayapnya di keliling topi seperti topi koboi, tapi lebih lebar. Ternyata topi itu dari Rote. Topi itu, di Pelabuhan Rote, dijadikan semacam ikon selamat datang.

Siapa yang tidak kenal Rote? Itu kan Pulau Ter-Selatan Indonesia. Kan ada lagunya: dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Sebetulnya bukan betul-betul yang paling Selatan. Ada lagi pulau yang lebih selatan dari Pulau Rote. Namanya Pulau Ndana. Tapi karena pulau itu isinya hanya tantara, tidak ada sipil, jadi mungkin tidak masuk hitungan.

Atau bisa jadi panasnya bukan betul-betul panas, tapi lebih karena saya naik kapal cepat yang di dalamnya itu pakai AC. Terus turun-turun di pelabuhan langsung gersang. Jadi berasa banget panasnya.

Kapal cepat ini hanya ada sehari sekali. Kalau Sabtu dan Minggu ada dua kali sehari. Sebetulnya dari Kupang ada dua opsi kapal, yaitu kapal cepat dan kapal lambat. Perhatikan betul-betul dari dan ke nya! Penting banget!

IMG20190423115030
Express Bahari, operator kapal cepat yang menghubungkan Kupang dengan Rote

Kalau kapal lambat itu dari Pelabuhan Bolok (Kupang) ke Dermaga Pantai Baru (Rote). Sedangkan kapal cepat itu dari Pelabuhan Tenau (Kupang) ke Dermaga Baa (Rote). Kalau salah pilih, bisa bahaya! Karena dari Dermaga Pantai Baru ke Dermaga Baa itu 31 km! Setara dengan 50 menit motoran. Setara dengan 6 jam jalan kaki.

Hampir saya terjebak karena kejar murahnya. Tadinya saya mau pakai kapal lambat. Untung dikabari teman yang di Baa, bahwa kalau mau ke Baa ya pakai kapal cepat. Kalau naik kapal lambat, niatnya mau dapat murah malah mahal karena nambah ongkos ojeg. Lambat pula.

Nama kapal cepatnya Express Bahari. Rasanya operator kapal ini pemain lumayan besar deh. Bukan lokalan yang hanya pegang trayek Kupang Rote. Beberapa kali saya lihat atau malah naik. Misalnya di Banda Aceh waktu mau nyeberang ke Sabang. Terus di Jepara waktu mau nyeberang ke Karimun Jawa.

Memang terlihat professional sih. Waktu beli tiket, keluar boarding pass yang ada barcode-nya. Waktu mau masuk kapal, ada petugas yang scan barcode itu. Jadi bisa kelihatan penumpang mana yang belum masuk. Ada nomor bangku juga. Jadi harusnya tidak rebutan. Waktu balik dari Rote ke Kupang, bangku saya diduduki orang. Tinggal tunjukkan tiket saja, dia nyerah dan minggir.

Di kapal, perjalanan hampir dua jam. Ada TV besar yang memutar film Aquaman. Suaranya tidak ada. Ada sih, kecil. Nontonnya gambar sama baca subtitle saja. Lumayanlah buat hiburan di jalan.

Sampai Dermaga Baa, waktu turun kapal, langsung deh panasnya menusuk. Gerbang selamat datangnya, selain ada topi ti’I langga di puncak gerbang, juga ada alat musik sasando. Itu alat music khas NTT juga, yang juga asalnya dari Rote.

Siang itu juga, habis makan di dermaga, langsung tancap gas naik motor ke arah Pantai Nembrala. Ini pantai yang sering direkomendasikan orang di banyak blog dan artikel. Juga rekomendasi dari buku Lonely Planet. Katanya di situ pantainya bagus buat surfing. Ke sana sama teman saya namanya Maruf. Pakai motor Maruf. Motornya sempat bocor bannya di Nembrala. Untung dapat bengkel. Tapi di bengkel tidak bisa tambal, jadi beli ban dalam baru.

Mampir di salah satu pantai, entah apa namanya, tapi kalau di Maps sih titik itu dekat dengan “Oenggaut Beach”. Di situ luar biasa biotanya!

IMG20190423170044
Bntang laut di pantai selatan Pulau Rote

Ada bintang laut. Saya ketemu sekitar sepuluh bintang laut. Warnanya ada yang biru, ada yang merah totol-totol.

Ada umang-umang. Ketemu beberapa yang ukurannya kecil. Lebih kecil dari kelereng.

IMG20190423170724
Bintang ular banyak bersembunyi di rerumputan laut

Ada bintang ular. Bentuknya mirip bintang laut, tapi dengan tentakel yang bergerak bebas. Dan dia suka jalan-jalan. Kalau bintang laut kan diam saja.

Ada teripang. Sebetulnya saya kurang yakin itu teripang. Ada yang memang saya yakin itu teripang, karena gambarnya sama dengan hasil googling. Tapi ada yang warnanya seperti karang berpasir, tapi ternyata jalan. Jalannya lambat. Dia punya antena. Saya kurang yakin itu teripang. Kalau bukan teripang, apaan dong?

Saya kirim video hewan yang saya tidak tahu namanya itu ke teman yang lulusan kelautan. Dia bilang, itu siput laut yang tanpa cangkang, atau nama lainnya nudibranchia. Langsung saya cari di Youtube “nudibranchia”.  Ketemu dengan video dari National Geographics.

IMG20190423165755
Nudibranchia atau siput laut tanpa cangkang. Bernapas dengan insang.

Videonya singkat tapi padat informasi. Bahwa walaupun tanpa cangkang, nudibrancha bisa hdup di banyak lautan. Dia mempertahankan diri dengan mengeluarkan semacam racun. Juga dari warnanya yang atraktif, hewan lain bisa jadi takut.

Agak beda dengan nudibranchia yang saya temukan di Rote ini. Warnanya tidak atraktif. Bukan yang warna warni mencolok begitu. Malah mirip warna karang. Saya pikir itu cara hewan ini berkamuflase.

Lalu saya lari ke Wikipedia untuk tahu lebih banyak tentang Nudibranchia. Nama lainnya adalah kelinci laut. Penasaran betul sama hewan ini, karena baru sekarang ketemu langsung hewan begini di pantai. Kata Wikipedia, Nudibranchia berasal dari dua kata: nudus (Bahasa Latin) artinya telanjang dan brankhia (Bahasa Yunani) artinya insang. Nudus, karena dia tidak punya cangkang alias telanjang. Brankhia karena bernapas pakai insang. Memang betul saya bisa lihat di bagian atas hewan ini seperti ada lubang yang terbuka dan tertutup, seperti terbuka tertutupnya insang ikan.

Begitu banyaknya biota, saya jadi harus betul-betul hati-hati berjalan di pinggir pantai. Takut menginjak teripang sampai mejret. Takut membunuh umang-umang kecil.

Sampai tiga jam saya di pantai mutar-mutar melihat banyak biota. Jarang-jarang saya ketemu pantai dengan biota sebanyak ini.

Tapi harus pulang, karena sudah maghrib!

Pulangnya harus lebih hati-hati, karena sudah mulai gelap. Di sepanjang jalan antara Baa dan Nembrala, itu juga jalannya hewan. Babi-babi itu tidak peduli kalau ada motor yang melaju cepat. Juga dengan anjing-anjing itu. Juga dengan para sapi dan kambing. Dan kerbau. Ditambah beberapa kuda. Saya dengar, kalau kita tabrak ternak mereka, urusannya bisa panjang. Yang dihitung untuk kita ganti bukan hanya seharga seekor yang mati itu, tapi juga dengan calon-calon anak cucunya.

IMG20190423141931
Babi nyeberang tidak lihat kiri kanan, itu biasa di Rote

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Gili Trawangan: Berasa Bukan di Indonesia

IMG20190403072646
Map Gili Trawangan di Gili Castle

Catatan perjalanan pribadi pada kunjungan tanggal 2-3 April 2019

Siang bolong saya nyeberang dari Bangsal ke Gli Trawangan. Bangsal adalah semacam pelabuhan di daratan Lombok, yang punya kapal-kapal regular untuk nyeberang ke Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Tiga gili tersebut biasanya disebut trio gili. Kalau lihat di peta, ketiganya berdekatan. Lanjutkan membaca “Gili Trawangan: Berasa Bukan di Indonesia”

Nusa Tenggara? Berangkat….

Ini sudah lama saya rencanakan, impikan, dan doakan. Ini juga jadi alasan saya resign yang kelima kalinya, dan akan menjadi catatan yang keenam. Sebetulnya bukan resign, tapi tidak memperpanjang kontrak. Saya pun tidak cari kontrak yang lain dulu. Mau fokus traveling.

Minggu ini saya masih kerja, sampai Jumat 29 Maret 2019. Tiket Jakarta – Lombok sudah saya pesan tadi malam, lewat Traveloka, yang kemudian ditransfer pakai mobile banking BCA punya istri. Lanjutkan membaca “Nusa Tenggara? Berangkat….”