28
Jan
10

Kasodo untuk Bromo

Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upacara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Tengger

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah dorongan yang paling kuat dalam penyusunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan sembarang kalender. Bukan berdasarkan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentukan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, penduduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun berikutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentukan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebelumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Tengger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger.

Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Legenda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu menegaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sama dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten menjadi salah satu mata rantai upacara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melemparkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Tengger dengan Hindu Bali punya budaya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger sehingga budaya mampir ke Poten terlebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rangkaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sumber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Kecamatan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Persiapan Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Ada yang mengatakan, membersihkan Pura Poten juga merupakan rantai wajib dalam upacara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 sedangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa bergumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bukan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mirip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir adalah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa punya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan menggantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang dinobatkan sebagai acara puncak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan mengumpulkan hasil bumi yang hendak dipersembahkan di penghujung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam rantai kegiatan upacara Kasodo.

Upacara Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang dilakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan untuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kambing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikorbankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi tersebut setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Tengger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendapatkannya. Kadang terlihat menegangkan ketika mereka menjatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap perlindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi sekitar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengambilan air dan sebagainya. Titik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar empat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara puncaknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasanah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

(salah satu tulisan di Ezine Backpackin’ edisi pertama, klik di sini untuk masuk blognya lalu bisa download Ezinenya )

17
Jan
10

Perpanjang SIM di Samsat Cipinang Cuma 30 Menit dengan Biaya 60-80 Ribu, Jangan Tertipu !

Sekedar mengingatkan, umur SIM itu Cuma 5 tahun. Setelah basi, kalau tidak mau kena tilang di jalan maka harus diperpanjang. Terkadang kita lupa untuk memperpanjang. Baru sadar setelah berbulan-bulan kemudian atau setelah polisi lalin yang menegur bahwa SIM sudah basi.

Image mahal dan ribet untuk perpanjang SIM sepertinya sudah bisa dihapus. Akhir Oktober 2009 lalu, saya berangkat ke SAMSAT Cipinang untuk mengurus SIM yang sudah mati 5 bulan. Sesampainya di tempat parkir motor, petugas parkir langsung nembak, “Cuma 250 ribu tinggal foto.” Wah, calo nih sepertinya.

Masuk ke ruangan, saya langsung disambut dua petugas informasi (sepertinya Polwan) yang mengingatkan syarat-syaratnya, yaitu SIM lama, KTP asli, dan fotocopy KTP 3 kali. Lalu mereka menunjukkan alurnya, “Urus asuransi dulu, tes kesehatan, baru masuk loket-loket secara berurutan (ada nomor loketnya, satu sampai empat).”

Di depan ruang asuransi, sebelum orang asuransinya menyapa, saya langsung tembak (karena teringat asuransi2 gadungan di Airport), “Ini wajib gak?”. Dia bilang tidak. Ya sudah, saya langsung ke tempat cek kesehatan. Dokternya cukup ramah (mungkin karena ini saya jadi tidak kritis). Dia bilang dengan suara yang halus, “Kalau di asuransi memang tidak wajib, tapi tes kesehatan wajib. Dari sini nanti ada surat pengantar ke loket.” Oke, saya turuti. Sang dokter kemudian memperlihatkan buku kecil bergambar abstrak yang di tengahnya ada angka. Saya diminta untuk menyebutkan angka di dalam gambar abstrak itu. Sangat mudah bagi yang tidak buta warna. Singkat sekali tesnya, mungkin hanya 1 menit. Lalu saya dimintai 20 ribu untuk biaya tes kesehatan (yang ternyata Cuma tes buta warna). Dengan mudah saya bayar.

Lanjut je loket BRI. Sebelum sampai ke loket, ada petugas berseragam yang mengingatkan untuk bayar asuransi dulu. Dengan agak keras saya jawab, “Kan gak wajib!” Lalu dia menjawab lagi dengan nada menantang, “Nanti urusannya di sini (menunjuk salah satu loket yang setelahnya baru saya tahu itu loket 2 untuk menyetor persyaratan).”

Sampai di loket BRI, saya dimintai 60 ribu untuk biaya perpanjangan. Penjaga loket mengingatkan, “Walaupun telat mengurus perpanjang SIM, Bapak tidak kena denda, tetap 60 ribu.” Saya bayar lalu menandatangani entah apa itu. Karena saya buru-buru dan sang petugas juga mengatakan tinggal tanda tangan saja, ya sudah, isian di atasnya (ada nama dsb) tidak saya isi, langsung saya tanda tangan. Selesai di loket ini.

Ternyata BRI ini baru loket 1. Jadi asuransi dan kesehatan tidak dihitung loket. Barulah saya mulai curiga, jangan-jangan si dokter muda itu bohong, bilang wajib padahal tidak. Ya sudahlah. Lain kali harus lebih kritis kalau berurusan dengan dokter.

Loket selanjutnya loket 2 untuk urusan administrasi non rupiah. Di situ saya berikan SIM lama, fotocopy KTP 3 kali, KTP asli, tanda bukti pembayaran dari loket 1, dan surat dari hasil tes kesehatan di loket kesehatan (sepertinya yang terakhir ini tidak termasuk syarat). Lagi-lagi saya diminta untuk urus asuransi terlebih dahulu. Berikut dialog singkatnya:

Petugas: Bisa urus asuransi dulu mas.

Iqbal: Katanya gak wajib ?!

Petugas: Sudah, mas urus saja dulu.

Iqbal: Memang betul wajib Pak?

Petugas: Mas ini pekerjaannya apa sih?

Iqbal: Saya wartawan, Pak !

Petugas: Coba mana kartu identitas kamu? Kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Ini ! (saya pertunjukkan dari luar, tapi tidak saya berikan)

Petugas: Coba saya lihat sini.

Iqbal: Apa ini jadi syarat buat SIM ?

Petugas: Saya lihat sebentar, nanti kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Bapak namanya siapa (press card tetap tidak saya berikan) ?

Petugas: Bukan begitu… Ini buat laporan untuk atasan saya.

Iqbal: (Sadar posisi di atas angin) Jadi saya gak bisa ngurus SIM nih Pak ?

Sadar posisinya terdesak. Rekan petugas itu langsung ambil sikap. “Sudah Bapak tunggu saja di depan, nanti kami panggil. Lalu si rekan itu terlihat buru-buru mengurusi kelengkapan saya. Di tempat saya duduk sudah ada seorang pemuda yang suda menunggu lebih awal. Sedikit berbincang.

Pemuda: Abis berapa mas ?

Iqbal: Delapan puluh ribu. Dua puluh di kesehatan, enam puluh di BRI. Emang mas berapa ?

Pemuda: Saya nambah asuransi 30 jadi 110.

Iqbal: Itu kan gak wajib mas. Kita harus tegasin biar mereka gak mainin kita.

Baru 1 menit duduk, nama saya dipanggil duluan, padahal pemuda itu sudah menunggu lebih awal. Di loket 2 itu saya diberikan KTP asli yang ditempel secarik kertas dengan tulisan ceker ayam, tidak bisa saya baca. Lanjut ke loket 3.

Sepertinya saya benar-benar dilayani. Baru memberikan KTP dan secarik kertas itu langsung disuruh cap jempol, tanda tangan, dan foto. Loket 3 memang untuk foto, tanda tangan, dan cap jempol. Dua menit kemudian, di loket 4 (loket pengambilan SIM baru) nama saya sudah dipanggil. SIM barunya sudah jadi! Karena masih belum yakin bisa selesai secepat itu, saya tanya petugas, “Ini sudah selesai ya Bu?” Petugas mengiyakan. “Wah, cepat betul.”

SIM C fresh from the oven. Dok: Iqbal

Kurang lebih, waktu yang saya habiskan dari parkiran sampai parkiran lagi Cuma 20 menit. Memang di depan pintu terpampang jelas tulisan bahwa perpanjang SIM hanya 30 menit. Sepertinya petugas di SAMSAT itu dituntut untuk memperpendek birokrasi. Atau bisa jadi (pikiran jahat saya), mereka takut dengan press card yang saya tunjukkan, takut saya tulis kalau mereka mempermainkan pengunjung. Semoga saja memang mereka betul professional.

Semoga bermanfaat.

14
Jan
10

Workaholic itu Harus!

Ada yang bilang, janganlah sampai menjadi workaholic yang lupa waktu. Hmm. Aku sangat mau mendebat hal itu. Konsep yang harus diubah menurutku adalah bahwa kerja itu bukan untuk memprioritaskan uang sebagai tujuan utama. Apalagi untuk umur-umur di bawah 30 yang menurutku saatnya untuk berdarah-darah, memungut pengalaman.

Aku seorang biokimiawan, orang yang sering dibayangkan menggunakan jas lab putih panjang, menggunakan kacamata tebal, dan seumur hidup berkutat dengan tabung reaksi dan Sprague Dewley (sejenis tikus lab). Setiap dihadapkan dengan bacaan tentang ilmu hayat, reaksi kimia dalam tubuh, dan sebagainya yang menyangkut biokimia, Aku selalu bergelora. Nikmat sekali mempelajari Biokimia. Sayangnya, pekerjaan yang banyak ada untuk sarjana Biokimia selalu berkutat di kotak besar penuh piranti unik bernama laboratorium.

Walaupun pendapatan ekonomi menjadi peneliti lumayan besar, tapi menulis membuatku lebih menggelora. Konsekuensinya mungkin seperti yang banyak orang katakan, wartawan sulit sekali menembus level ekonomi atas.

Hidup dengan ekonomi sedang bukan masalah buatku, selama hatiku tenang dan tidak melakukan hal yang tidak Aku sukai. Tapi Aku tetap yakin, selama kita focus dan professional, uang lebih yang berlebih akan datang dengan sendirinya.

Maka satu setengah tahun yang lalu dimulailah petualangan hebat. Aku menulis untuk sebuah media cetak. Menulis membuatku lupa diri. Tidak kenal aturan 9 to 5. Terkadang Aku tidak sadar sudah berganti hari karena keasyikan menulis. Menulis untuk bos ku, blog ku, diary ku, atau menulis untuk kemudian Aku hapus, hanya sekedar berbagi dengan MS Word. Tiada hari tanpa menulis. Satu hari satu karya. Satu setengah tahun.

Memang, terkadang jenuh mendera, mirip konsep salting in salting out dalam ilmu biokimia. Saat itu harus aku cari aktivitas lain yang positif. Beruntung sekali Aku diberi keingintahuan yang super besar. Kalau sudah jenuh dengan MS Word, Aku lari ke buku. Kalau bosan lagi, Aku lari ke luar kota, backpacking sesukaku sesuai sakuku.

Tiga hal ini yang menjadi pekerjaanku: menulis, membaca, jalan-jalan. Aku sangat mencintai ketiganya. Aku tidak kenal jam kantor untuk ketiganya. Jadi, konsep yang kuanut, bekerja itu adalah melakukan hal yang Aku sukai dengan professional. Ada deadline di situ yang harus tetap ditepati.

lonely planet, meliput, dan teh, kolaborasi yang sangat Iqbal. Dok: Iqbal

Bukan main nikmatnya hidupku. Satu setengah tahun membuatku sudah melahap seratus lebih buku, memproduksi ratusan tulisan, dan menghinggapi puluhan sudut cantik Indonesia. Kalau saja Aku tidak masuk ke media cetak, mungkin semua itu sulit terjadi. Mungkin Aku tidak bisa berkeliling kota Medan, snorkeling di Sabang, menikmati sunset di pinggir jembatan Ampera sambil menunggu lampu Ampera dinyalakan, tidur di pinggir pantai Takisung (Kalsel), makan soto Banjar sambil memandang eksotisme sungai Musi, menikmati pasar terapung, adu cepat dengan matahari timur Bromo, menunggu sunset danau Sukoharjo, mengeksplorasi gerabah Kasongan (Jogja), dsb dsb.

Belum lagi kesempatan bertukar pikiran dengan bermacam jenis orang berlatar belakang warna-warni, mulai dari tukang jualan bunga melati di pasar Pramuka sampai menteri. Kesempatan berdebat hebat melatih kuasa kata. Kesempatan setaraf dengan orang-orang hebat walau Cuma beberapa menit. Kesempatan untuk tetap menjaga idealism. Kesempatan untuk bisa duduk di perpustakaan dari kunci dibuka sampai diusir karena sudah waktunya tutup. Kesempatan membaca buku-buku hebat dari bos Ku. Luar biasa! Semoga Allah mengekalkan anugrah ini kepadaku.

Itulah Aku, seorang yang workaholic. Aku mewajibkan diriku untuk menjadi workaholic. Bahkan sepertinya Aku sudah satu tingkat lebih ekstrem lagi, sudah menjadi pengedar. Membujuk orang lain untuk menjadi workaholic dengan terlebih dahulu memilih pekerjaan yang menomorsatukan pekerjaannya, bukan uangnya…=)

Tulisan ini punya 2 maksud:

  1. Mengajak memilih pekerjaan yg betul2 dicintainya
  2. Sedikit pamer dan curhat….=)
13
Jan
10

Menapaki Ciwidey dan Gambung

Dalam peta Jawa Barat, ada kumpulan warna merah di sebelah Selatan kota Bandung. Menandakan daerah tersebut punya angka ketinggian yang paling besar. Salah satunya sudah tidak asing di telinga, Ciwidey. Dari terminal Leuwi Panjang ke Ciwidey ada dua alternatif angkutan umum, colt dan bus. Waktu itu Aku naik colt karena katanya lebih cepat, biayanya 6 ribu. Kalau lancar cuma 1 jam, kalau macet dan ngetem bisa sampai 2 jam.

Hal pertama yang terpatri dalam benakku tentang Ciwidey adalah strawberry. Memang banyak sekali perkebunan strawberry di kanan kiri jalan besar, jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Tidak sulit menemukan kebun strawberry yang di dekatnya sering tertulis “Petik Sendiri”.

Ciwidey terkenal dengan Situ Patenggang dan Kawah Putihnya. Situ Patenggang adalah nama sebuah danau eksotis yang menurutku punya kesan mistis yang dalam. Situ artinya danau sedangkan Patenggang berasal dari kata pateangan-teangan (bahasa Sunda) yang artinya saling mencari-cari. Ceritanya, dulu di seputaran danau ini ada pasangan yang saling mencari kemudian dipertemukan di sebuah batu yang kemudian terkenal dengan sebutan batu cinta, terletak di tengah-tengah danau.

Batu cinta. Dok: Iqbal

Kawah putih tidak kalah serunya. Aura mistis masih pekat menyeruak, tapi kesan damai lebih dalam lagi. Asap hasil metabolit kawah putih menyelimuti seluruh pelosok kawah, pagi, siang, malam, tanpa henti. Disebut kawah putih karena memang warna kawah yang putih dicampur sedikit warna biru, mungkin itu warna yang keluar ketika intensitas belerang jauh di atas ambang normal.

Kawah putih. Dok: Iqbal

Junghuhn adalah orang yang selalu dilibatkan dalam sejarah kawah putih. Setahuku dia adalah pengusaha Belanda yang punya andil besar dalam perkebunan Kina di Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Apa hubungannya ya dia dengan kawah putih?

Maaf Aku tidak bisa memberikan banyak info detail tentang perjalanan menuju kedua tempat dahsyat tersebut, karena waktu Aku dengan rombongan Backpacker Indonesia ke sana, kami menyewa angkot dari Bandung dengan rute: Bandung-Kawah Putih-Situ Patenggang-Bandung, per anak bayar 50 ribu. Jadi kalau tidak lebih dari 10 orang akan lebih mahal dari itu dan Aku tidak tahu berapa.

Dari terminal Ciwidey Aku menuju Gambung. Ada misi khusus: menuju perpustakaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk menggali sejarah dari perpustakaannya dalam rangka pembuatan bukuku tentang sejarah Teh di Indonesia. Jalan menuju Gambung agak banyak rusaknya walaupun masih wajar tapi cukup mengganggu. Menggunakan angkot memakan waktu setengah sampai satu jam dengan ongkos 4 ribu, sampailah di pos 1. Butuh naik ojeg untuk sampai ke kantor PPTK, jaraknya sekitar 1,5 km. Tahu ongkos ojeg nya berapa? Seribu perak saja! Kalau di Jakarta, bisa tiga sampai sepuluh ribu. Seribu perak itu memang harganya segitu. Kok bisa ya?

Udaranya dingin sekali. Seingatku, mirip ketika Aku menginap di Cemoro Lawang, Tengger. Memang masih bisa kalau tidak memakai jaket, tapi jauh lebih nyaman dengan jaket. PPTK dikelilingi banyak sekali pohon cemara, mirip rumah Edward Cullen dalam film Twilight, sunyi, damai. Semakin sore semakin riang serangga menggesek-gesekkan kakinya, sepertinya mereka berlomba-lomba mencuri perhatian seisi hutan.

Ya, hutan. Jauh lebih mirip hutan daripada pusat penelitian. Kalau diteruskan, jalan tersebut akan tembus menuju Pangalengan, tapi harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya hutan yang dikelola Perhutani.

Perpus tutup pukul 4 sore, Aku beranjak menuju Wisma milik PPTK. Di dalamnya ada sekitar 6 kamar yang dapat menampung 14 orang. Dua kamar di antaranya punya fasilitas air panas di dalam kamar mandi dalamnya. Dua kamar ini yang paling eksklusif. Yang pertama punya 1 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil. Harganya kalau tidak salah ingat 180 ribu. Kamar kedua punya 3 tempat tidur kecil, harganya 160 ribu. Waktu itu, Aku memakai kamar 2. Selain biaya kamar, Aku memesan makan malam dan sarapan, jadi menambah 30 ribu lagi.

Kalau mau menyewa seluruh wisma yang ada 6 kamar tersebut, biayanya 1,5 juta, itu sudah termasuk makan pagi untuk 30 orang. Walaupun Cuma ada 14 kasur di dalam kamar, tapi ruang tengahnya sangat luas. Begitu pula terasnya. Luas. Langsung menghadap ke hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sepertinya ruang tengah bisa menampung sampai 50 orang. Perapian menambah cantik ruang tengah. Kalau mau booking, hubungi Aku untuk nomor HP penjaga wismanya.

Pukul Sembilan malam sudah memaksaku berselimut, semakin larut semakin dingin. Walaupun saat itu (Januari 2010) sedang musim hujan, tapi bukan karena itu. Menurut penduduk sekitar, kawasan Gambung memang selalu dingin.

Rasanya menyenangkan kalau punya vila di daerah ini. Harga tanah di jalan utama seputaran Gambung ini sekitar 1 juta untuk satu tumbak. Orang sini biasa memakai ukuran tumbak untuk ukuran tanah. Satu tumbak sekitar 14 meter persegi. Jadi satu meternya sekitar 70 ribu saja! Kalau di jalan kecil/pelosok lebih murah lagi, 300 ribu satu tumbak atau 21 ribu per meter!

Esok paginya, merupakan perjuangan berat untuk berjalan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Udara super dingin, lantai lebih-lebih lagi. Untung ada air panas. Walau tidak mengantuk lagi, selimut tetap kutarik, mata tetap kupaksa terpejam, tak sanggup Aku melawan dinginnya pagi itu. Rencana berkeliling kebun teh tidak pernah kuintip lagi.

Pukul tujuh pagi udara sudah cukup bisa ditoleransi. Aku keluar menuju pabrik pengolahan daun teh, sekitar 100 meter saja dar wisma. Satu bungkus kecil teh yang ada di pasaran saja kalau dibuka bungkusnya bisa kuhirup aromanya berkali-kali saking nikmatnya. Bagaimana kalau tehnya sebanyak satu pabrik?! Luar biasa. Aromanya betul-betul menenangkan. Aroma daun teh bisa jadi keajaiban dunia kedelapan. Kewalahan mendapatkan nikmatnya aroma ini. Seperti anak kecil yang diberikan sekolam permen. Kewalahan.

Masih mengeksplorasi perpus PPTK. Sepertinya perpus jarang sekali dikunjungi, selama dua hari itu, sayalah pengunjung satu-satunya. Sesekali masuk karyawan hanya untuk membaca Koran. Padahal, buku-buku di dalamnya banyak yang tidak pernah Aku temui sebelumnya. Perlu diketahui, Aku sudah banyak sekali datang ke bermacam perpustakaan hanya untuk mencari literatur tentang dunia per-teh-an, buku yang ditemukan itu-itu saja. Berbeda sekali dengan Gambung. Banyak buku teh yang kutemukan bersampul keras dan kertasnya sudah berwarna cokelat, menggambarkankan umurnya. Sayangnya, semua buku bagus itu berbahasa Belanda, jadi sama saja, hehe. Aku hanya melihat-lihat gambarnya. Cukup menarik industri teh pada zaman Belanda dulu.

Ada beberapa buku ingin Aku photocopy. Namun di kantor PPTK tidak ada satupun mesin photocopy. Aku harus turun ke arah Ciwidey, menempuh belasan kilometer hanya untuk photocopy! Bisa dibayangkan betapa terpencilnya Gambung.

Gambung bagiku bukan tempat yang efektif untuk bekerja tapi sangat efektif untuk menenangkan diri, menyatu dengan alam, alam Gambung.

28
Des
09

Malang Melintang; Coban Rondo-Sempu-Bromo

Tersandar punggungku oleh kepala seorang bocah di kereta Matarmaja. Lima menit tak terasa sampai Aku terbangun. Kasihan anak itu, tergencet kursi kulit palsu Matarmaja dan punggungku. Duduknya ke arah depan tapi kepalanya berbelok ke kanan, condong. Maaf dik.

Tak lekang sepi. Matarmaja (Pasar Senen Jakarta-Malang, 51 ribu) di penghujung 2009 ini selalu penuh aktivitas. Teriakan “Kopi pop mie, kopi pop mie” terdengar hampir tiap menit. Semakin malam semakin menggelitik. Pedagang memplesetkan dagangannya, “Tora Sudiro” maksudnya Tora Bika atau “Susu janda liar” maksudnya bermacam susu instan. Banci pun tak mau kehilangan bagian, berdendang dari kursi ke kursi. Riuh.

Sampai di stasiun Malang. Tak ada dari rombongan kami yang tahan berlama-lama menyimpan keringat kering hasil metabolit sembilan belas jam di Matarmaja. Semua mandi di stasiun. Ada tiga kamar mandi cukup luas. Memang dibuat untuk mandi. Ada tempat menaruh barang, menaruh sabun. Bak mandi relatif luas. Dua ribu rupiah. Segar.

Selangkah lagi keluar stasiun, ada tawaran menarik dari seorang supir berplat hitam. Kami terima. Panther sewaan kami dari stasiun Malang pas memuat sembilan orang. Supir kami seorang Bapak Madura berkumis tebal beristri tiga. Aku agak takut bercanda dengannya. Bisa-bisa nanti keluar ancaman, “Tak sate sampeyan!” Perawakan wajahnya cukup mumpuni untuk melakukan itu. Hiiii.

Tak mengapa, kinerjanya apik. Dia menunjukkan kami penginapan paling murah yang pernah kusambangi, Wisma Ijen di Batu. Batu adalah satu daerah (mungkin Kabupaten) di utara Malang, kalau dilanjutkan bisa tembus ke Jombang atau Kediri. Udaranya sejuk sekali, banyak pohon di kanan kiri jalan.

Satu kamar di Wisma Ijen berisi empat kasur, kamar mandi dalam, dan sedikit tempat duduk-duduk hanya dibandrol 70 ribu. Bisa kutawar pula, 60 ribu. Kami pesan dua kamar. Masih banyak varian kamar lain sebetulnya. Ada kamar mini dengan dua kasur seharga 35 ribu, dsb.

Beberapa jenak melemaskan kaki. Setelah makan, sholat, dan bertemu Oci, host Malang yang baik sekali, kami beranjak menuju air terjun Coban Rondo. Karcisnya delapan ribu per orang. Tiga ribu per mobil. Sambil makan sosis Solo yang Oci bawa, kami telusuri jalan menuju air terjun. Sebentar saja.

Air terjun sepertinya punya tinggi seratus meter. Butuh empat detik untuk tiap butiran air terjun bebas. Tak ada yang sanggup berada tepat di bawah air terjun. Dua meter dari air terjun saja sudah seperti hujan deras. Kuyup. Belum lagi pukulan air dari atas.

Aku sempat baca sejarah Coban Rondo ini sekilas. Coban artinya air terjun. Rondo artinya janda. Dulu ada janda yang sering menangis di sini setelah ditinggal suaminya. Itu saja yang Aku ingat, belum tentu akurat pun.

Cuban Rondo. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Kera di sekeliling Coban Rondo luar biasa banyaknya. Sama persis dengan Grojogan Sewu di Karanganyar, tetangganya Solo. Tampak di satu sudut, seorang anak umur SD memberikan kacang satu per satu pada kera. Belasan kera di sekelilingnya berebut. Kenapa ya gerombolan kera itu tidak berpikir untuk berkoalisi merebut seplastik kacang sekaligus seperti koalisi para hyena memburu kijang? Kera bodoh! Mirip era jaya islam yang kedua; banyak, tak berkutik.

Beberapa kios kecil menjual bermacam penganan di dekat parkiran Coban Rondo. Dua bungkus buah black berry dihargai lima ribu rupiah. Cukup untuk membuat semua bibir dan lidah menjadi ungu. Setelah berfoto dengan bibir dan lidah ungu, kami tancap menuju payung.

Payung adalah nama tempat seperti puncak di Bogor. Kawasan sejuk. Banyak orang berjualan jagung bakar dan mie instan. Karena masuk kawasan Malang, tentu susu segar dan bakwan Malang juga menjadi menu andalan di Payung.

Untuk sewa Panther seharian ini dari stasiun Malang menuju penginapan, tempat makan, Coban Rondo, Payung, kembali lagi ke penginapan, kami bayar 250 ribu rupiah. Tidak sampai tiga puluh ribu rupiah per kepala.

Malam hari waktu yang tepat untuk bersiap menjunjung Sempu besok. Sebagian dari kami menuju kota membeli pop mie, roti, cokelat, air mineral, dsb. Setiap orang membawa bekal dua botol air mineral 1,5 liter. Malam berlangsung agak panjang karena semua belanjaan digabung pembayarannya, jadi harus dipilah-pilah lagi malam ini.

Sepertinya Aku yang paling pagi bangun. Tidak bisa kembali tidur karena sudah terbiasa menjadi manusia pagi. Kubunuh waktu dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan. Ternyata kawasan ini dekat sekali dengan perkampungan warga Batu.

Decitan burung layang-layang dan sedikit gonggongan anjing terharmonisasi rapi dengan gesekan kaki serangga, kokok ayam, dan nyanyian burung berbalut aliran sungai yang konsisten. Kala mata terpejam, seakan kelopak tak tega membuka kembali. Gendang telinga semakin rajin menangkap dan menganalisis suara-suara alam yang lebih mikro. Damai.

Terlihat gubuk kecil berisi tumpukan batu-batu kecil dan sebuah batu besar. Tempat warga memecah batu. Sepertinya daerah ini adalah pegunungan batu. Warga menambang batu sebagai salah satu pencahariannya. Jangan-jangan karena ini maka daerah ini disebut Batu? Tidak mungkin cuma ada satu gubuk, pasti di daerah ini banyak gubuk pemecah batu lain. Seperti kecoa, kalau ditemukan satu kecoa, maka yakinlah di sekitarnya masih banyak lagi.

Petani mengangkut pestisida di punggungnya. Penduduk tanpa sandal menggotong sekarung besar mayur. Aktivitas perkampungan berdenyut lemah. Interaksi hangat. Sangat jauh berbeda dari Jakarta sibuk.

Lekas bersiap. Pukul 9 pagi kami sudah kumpul di depan masjid UMM (Universitas Muhammadiah Malang), sesuai perjanjian dengan Dian, travel agent kami yang akan memperlihatkan kami “The Beach”nya Indonesia, Sempu.

Beres melunasi biaya sebesar 165 ribu, kami menjemput peserta lain di stasiun Malang. Total peserta tujuh belas. Travel agent yang turut menapaki Sempu tiga orang. Kami menggunakan dua Panther dan satu Trooper. Butuh tiga jam menuju Sendang Biru, yaitu pantai terdekat dengan Pulau Sempu tujuan kami.

Perjalanan menuju Sendang Biru betul-betul mengingatkanku pada Gunung Kidul. Jalan berliku, melintasi gunung, lalu tiba-tiba ketemu pantai. Jalan yang berliku juga sudah teraspal mulus. Namun tetap sepi. Betul-betul persis Gunung Kidul.

Sendang biru panas betul, untungnya angin cukup kencang. Tak nyaman dengan keringat, Aku mandi. Dua ribu rupiah. Ketika itu, sedang dibangun pelabuhan kecil. Pasirnya putih, banyak orang berenang di pantai. Jelas terlihat gradasi warna laut dari biru wangat muda menjadi biru sangat tua. Sepertinya ada palung antara Sendang Biru dan Sempu. Dari Sendang Biru sudah terlihat Sempu dengan sangat jelas. Persis di depan. Agak kecewa dengan kenyataan. Kupikir menyebrang ke Sempu akan melewati cukup tantangan.

Tempat makan yang murah dan variatif di Sendang Biru digapai dengan berjalan sekitar 200 meter. Soto ayam bernilai 7 ribu. Nasi+ayam+sayur+teh manis dibandrol 10.500. Menuju ke tempat makan itu, pohon kersen memanggil-manggil membentuk brikade di pinggir jalan. Ranum.

Kami menyebrang dengan kapal nelayan yang bisa memuat sekitar 15 orang. Biayanya seratus ribu bolak-balik, dijemput keesokannya. Namun biaya ini sudah termasuk fasilitas dari Dian. Hanya lima belas menit sampai Sempu, tepatnya di Teluk Semut. Kapal tidak bisa merapat ke pinggir pantai, jadi harus turun 50 meter sebelum bibir pantai. Seperti pengungsi perang Vietnam saja.

Banyak lubang-lubang berdiameter bola tenis di Teluk Semut. Dalamnya tak bisa diprediksi. Sarang semut memang bertebaran. Sempat berjinjit-jinjit karena takut semut merahnya mencium kaki. tapi sedetil mata memandang tak pula semut-semut itu muncul. Apa mereka pemalu? Entahlah, yang jelas dinamakan teluk semut.

Kalau tanpa rehat, tracking dari teluk semut menuju Segoro Anakan hanya satu jam. Jalur yang dilalui cukup mudah, tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim. Lajur sudah terlihat jelas, kemungkinan tersasar pun mengecil. Untungnya waktu itu tidak sedang hujan dan tidak habis hujan, jadi jalan kering, mudah dilalui.

Sempu termasuk kawasan Cagar Alam. Artinya tidak ada komersialisasi daerah ini. Pohon yang tumbang, walaupun punya harga tinggi, tidak boleh diangkut ke luar. Maka wajar saja kalau banyak pohon melintang di tengah jalur yang kami lalui. Ranting pun tidak kalah banyaknya. Jarang sekali terlihat permukaan tanah yang mulus, ada saja daun yang menyelimutinya.

Layaknya hutan virgin, Sempu kaya akan jenis tanaman. Batang-batang yang menjulur menghubungkan pohon satu dengan pohon lain mudah didapat. Beberapa menjulur ke bawah, menggantung. Kuat untuk ber-tarzan ria.

Aku kaget bukan main melihat pantai tenang di sebelah kanan. Pasirnya sangat putih. Sepertinya itu pantai paling putih yang pernah kupijak. Segoro Anakan. Indah luar biasa. Tidak salah kalau seorang kawanku memirip-miripkannya dengan film “The Beach”. Hanya bedanya tidak ada hamparan ganja di sini.

Barang bawaan kutaruh, langsung menuju pantai. Bersih sekali pasirnya. Mengapung kurasakan lebih mudah di sini daripada pantai-pantai yang pernah kurenangi. Dengan menolkan tenaga yang kukeluarkan saja sudah cukup membuatku terapung. Kadar salinitasnya kurasa lebih tinggi.

Segoro Anakan seperti pantai yang terjebak di daratan. Airnya asin. Pantai dikelilingi tebing karang setinggi puluhan meter. Hanya satu celah yang menghubungkannya dengan samudra. Di celah itulah sirkulasi air berjalan. Ombak besar dari samudra menghempas celah tersebut memberi suplai air laut sekaligus menarik air Segoro Anakan.

Segoro Anakan. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Aku sempat snorkeling. Semakin mendekat ke celah samudra, semakin dalam rasanya, semakin tidak terpijak dasarnya. Mungkin mencapai empat meter, tidak jelas karena saat itu air cukup berkabut. Aku merasakan hawa yang tidak enak ketika mendekati celah. Apalagi setelah melihat sekelebat ikan sepanjang satu meter. Rasanya ingin buru-buru menyingkir dari tempat itu. Padahal di situlah dapat dengan mudah ditemukan gerombolan ikan sebesar telapak tangan, berwarna-warni.

Puas berenang, Aku bilas tubuhku dengan air mineral supaya tidak lengket. Satu liter kuhabiskan, sudah termasuk untuk keramas. Aku tega berboros air karena tahu di samping bekal 3 liter per orang, ada satu gallon lagi yang dibawa. Jangan harap ada toilet umum atau suplai air tawar di sekitar sini. Kalau tidak bawa air sebelum menyentuh Sempu, habis sudah.

Matahari kembali ke peraduannya. Sayang sekali tidak ada tempat yang pas dari Segoro Anakan untuk menikmati sunset. Tebing karang yang tinggi menghalangi semuanya.

Enam buah tenda berdiri tegak sudah. Untuk makan malam, kami memasak air panas untuk menyiram pop mie yang kami bawa. Penggorengan kecil digunakan untuk menggoreng sosis sebagai asupan protein. Menikmati pop mie dengan canda tawa tak habis-habis. Ada saja celetukan yang membuat kami membuang tawa.

Bintang bersahabat sekali malam ini. Tidak ada yang titip absen. Maka sebagian dari kami memutuskan tidur di pinggir Segoro Anakan, beralaskan matras menikmati bintang. Dua meter dari bibir pantai. Cukup lama kami ngobrol sebelum tidur. Kami baru sadar, air pantai pasang, semakin lama semakin mendekat. Mundurlah lagi sekitar dua meter, untuk menghindari jilatan air pantai.

Akhirnya semua terlelap. Sampai semua terbangun karena air betul-betul menyentuh kaki salah satu dari kami. Pindahlah ke balik pandan berduri. Terlelap kembali dengan cepat. Sampai Aku sadar serangga kecil-kecil menggigit. Gigitannya sakit dan membuat gatal. Sekali kutangkap basah seekor serangga. Karena tidak ada akses cahaya, Aku hanya meraba saja. Bentuknya bulat keras, kecil seperti pasir. Serangga inilah yang sukses membuat belasan bentol merah di kakiku.

Suhu Segoro Anakan awalnya tidak dingin sama sekali, tapi menjelang subuh semakin dingin namun tetap dalam hitungan tidak dingin. Tidak mengapa jaket tanggal.

Matahari pagi tak terlihat karena tertutup tebing-tebing karang. Menuju tebing lewat pijakan karang-karang tajam. Pilih karang yang berbekas merah muda untuk dipijak karena itu menandakan sudah aman dipijak oleh pemijak sebelumnya.

Di pinggir tebing terlihat arus laut/samudra yang ganas. Karang menang, tak goyah. Sesekali, deburan ombak menyentuhku setelah bertarung melawan karang belasan meter di bawahku. Pertarungan hebat.

Memandang samudra dari tebing karang. Dok: Galih Permadi.

Menyadari matahari semakin panas, kami beranjak. Sebelumnya, Aku perhatikan kembali Segoro Anakan. Pantainya kembali mulus. Aku sudah tahu rahasianya, pasang sampai luber sepuluh meter membuat pasir pantai kembali suci. Ini terjadi setiap malam maka setiap pagi pantai kembali suci.

Berbenah. Tas semakin ringan karena banyak perbekalan yang sudah dienyahkan. Pengenyahan isinya saja, bungkus tetap kami bawa pulang ke Sendang Biru untuk dibuang. Dua puluh delapan botol kosong bekas air mineral, tujuh bungkus sampah, dan satu plastik sampah untuk memungut sampah di sepanjang jalan pulang. Tak tega rasanya mengotori pantai sebagus ini. Seperti pesan salah satu penjaga cagar, “Jangan tinggalkan sedikitpun sampah.” Namun kami, tepatnya beberapa oknum rombongan kami, tak kuasa untuk tidak membuat api unggun dari kayu yang sudah tidur di tanah. Maafkan Pak.

Sampai di Sendang Biru, ada satu acara yang belum tuntas, makan ikan bersama di kampung Irian. Menuju pasar ikan Sendang Biru kami gunakan mobil lalu dilanjutkan dengan berjalan sekitar 10 menit melalui jalan setapak dengan pemandangan pantai di sebelah kiri.

Dikatakan kampung Irian, konon katanya mereka yang tinggal di sini dulunya berasal dari Irian. Memang sih, Aku lihat perawakannya cukup meyakinkan sebagai orang Irian. Sesampainya di sana, hidangan sudah siap disantap. Aku suka sekali ikan bakarnya, entah ikan apa.

Rumah mereka ada di atas air. Terbuat dari kayu. Di halaman rumahnya yang berwujud air, ada beberapa kapal nelayan yang parkir. Ada juga kapal-kapal kecil dari fiber dicat biru. Di belakang rumahnya ada pula kapal kecil yang karam, beberapa.

Kembali ke tempat asal. Setelah semua mandi, kami kembali menuju Malang. Sampai alun-alun sekitar jam enam sore. Aku puas dengan travel agent kami. Semua yang dijanjikannya terpenuhi.

Provokasi tadi siang sukses menjaring empat belas orang untuk melanjutkan perjalanan ke Pananjakan-Bromo malam ini. Ditambah Oci menjadi lima belas. Oci yang mengatur Colt yang akan kami pesan. Empat ratus lima puluh ribu untuk satu Colt penumpang delapan. Per orang kami kena 60 ribu. Biaya itu untuk penjemputan di Malang (kami memilih alun-alun), menuju Pananjakan lanjut Bromo, lalu kembali ke Malang.

Colt akan menjemput kami pukul 12 malam. Sekarang baru pukul 7. Berarti ada 5 jam yang harus dibunuh. Pertama dengan makan malam. Agak sulit mencari tempat makan yang bisa menampung seluruh rombongan. Soto dan sate yang tepat berada di hook alun-alun pun demikian. Warung ramai yang sepertinya nikmat juga begitu. Maka kami masuk ke tempat yang agak sepi. Ada yang bilang kalau sepi berarti ada apa-apanya, bisa tidak enak, bisa mahal, dsb. Aku pesan soto Madura biasa seharga 7 ribu. Jus mangga seharga 5500.

Pukul Sembilan malam. Tidak tahu lagi yang akan kami perbuat. Kami putuskan nongkrong di alun-alun. Tadi alun-alun ramai. Banyak pengunjung, banyak pedagang. Warna-warni di langit sesak dengan barang dagangan untuk menggaet pelanggan cilik. Tapi sekarang sudah sepi. Hanya ada kami dan beberapa orang misterius.

Aku dan beberapa lainnya langsung merebahkan punggung di rerumputan. Tak sadarkan diri dalam lima menit. Kalau tidak ada gerimis mungkin esok pagi baru Aku bangun. Kami pindah ke trotoar alun-alun yang beratap untuk melindungi dari gerimis. Beberapa langsung terlelap tanpa aba-aba. Memang, perjalanan kami dua hari ini sungguh melelahkan sekaligus mengasyikkan. Tak perlu kupikirkan apa kata orangtuaku kalau melihatku tidur di trotoar alun-alun kota yang berjarak ratusan kilometer dari rumah. Tak peduli, yang penting Aku bisa rehat.

Tepat pukul dua belas, dua colt sudah berjejer rapi. Berkemas dan jalan. Dua jam kemudian kami tiba di Pananjakan. Selama dua jam itu kami dipusingkan dengan jalan berkelok. Sayang sekali tidak bisa kulihat indahnya kanan kiri jalan karena gulita.

Jam tiga pagi kami sudah sampai. Terlalu cepat. Lebih baik dari terlalu lambat. Menurut supir kami, baru pukul empat nanti ramai. Dari parkiran menuju view area Pananjakan tidak jauh, hanya berjalan sepuluh menit. Jarak tidak masalah, suhu yang masalah. Dinginnya sampai mengigit-gigit tulang. Wajar saja bertaburan orang yang menyewakan jaket tebal. Sepuluh ribu rupiah.

Sampai hampir pukul enam, matahari masih disadap awan. Ini kali kedua Aku ke sini dan kali kedua pula awan menyadap pemandanganku. Katanya, kalau mau mendapat pemandangan yang bersih, datanglah sekitar bulan Agustus.

Bromo, Batok, dan Semeru dari Pananjakan. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Gunung Bromo hanya jelas memperlihatkan asap belerangnya. Gunung Batok samar-samar. Semeru seperti tak tampak. Padahal, kalau tidak ada awan, ketiganya akan indah sekali dijepret. Seperti foto yang kulihat dibawa oleh penjual jasa foto keliling di Pananjakan.

Lanjut menuju Bromo. Sebelumnya kami sempat mampir untuk foto-foto di balik gunung Batok. Batok yang kokoh pantas sekali untuk dijadikan teman berfoto. Bentuk gunungnya gunung sekali. Tidak ada kelok-kelok di punggung gunungya. Lurus sampai puncak.

Patok-patok besar menghalangi Colt kami untuk lebih mendekat ke Bromo. Dulunya patok ini tidak ada. Penjaja jasa kuda tidak senang karena merasa sesuap nasinya dirampok para pemilik Colt & Jeep. Akhirnya jadilah patok tersebut.

Walau sudah menyiapkan tenaga dan tekad untuk sekali jalan menuju puncak Bromo, lagi-lagi gagal. Tangga terlalu tinggi dan oksigen terlalu tipis. Namun semua terbayar setelah sampai di puncak. Asap sedang banyak hari ini. Apa karena itu banyak penduduk setempat yang membawa sesajen? Di tebing-tebing kawah, banyak terlihat makanan yang dilemparkan dari atas. Sepertinya tadi pagi ada pesta kecil.

Nikmat memandang ke sekeliling dari atas Bromo. Kawah berasap yang masih misterius. Pura bersih terawat yang sengaja dibangun di kaki Bromo. Hamparan lautan pasir. Gunung Batok. Semua dapat dilihat dari puncak Bromo.

Puas dengan semuanya, kami beranjak menuju peraduan masing-masing. Ada yang memakai jasa Gajayana, Bangunkarta, Matarmaja, bahkan ada yang terbang dari Surabaya. Semua membawa bercak senyum dari Malang. Beberapa butuh bercak konkret berupa keripik nangka dan keripik apel.

Setengah juta rupiah dan lima hari yang kusisihkan lunas sudah terbayar dengan Coban Rondo, Sempu, Bromo, dan kehangatan komunitas Backpacker Indonesia.

*Tulisan ini diedit oleh Sri Anindiaty Nursastri.

14
Des
09

Mendekatkan Panggang dengan Api Anak Jalanan

Walaupun berjarak empat puluh kilometer dari Ibukota, Bogor masih banyak mengadopsi budaya Jakarta. Saya kerja di daerah Baranang Siang yang menjadi pusat kota Bogor. Tidak ada perbedaan besar dengan Jakarta. Baranang Siang juga dikelilingi restoran-restoran besar, mal-mal megah, factory outlet bagus, dan sebagainya. Juga selalu ada unsur anak jalanan, pengemis, dan kaum pinggiran lainnya.

Kampung Cieheuleut hanyalah salah satu perkampungan yang dihuni oleh kaum termarjinalkan tersebut. Kami yang tergabung dalam relawan SABOR (Saung Belajar Anak Bogor) mencoba meminimalkan ketimpangan tersebut dengan jalan pendidikan.

Selasa dan Minggu menjadi agenda rutinan kami untuk mengajar. Karena pemahaman yang belum banyak, belum ada metode terarah untuk isi pembelajaran di dalamnya. Kami hanya mengikuti kurikulum dari sekolah, sedikit ditambah dengan Bahasa Inggris.

Suatu waktu, saya coba perkenalkan laptop dan Microsoft Word pada salah seorang anak seumuran SMP. Anak asuh saya ini tertarik sekali mempelajarinya. Saya bukakan MS Word lalu saya tugaskan dia mengetik. Maka satu setengah jam matanya tidak lepas dari layar dan keyboard berusaha mencari huruf-huruf untuk menyusun kata. Terkadang butuh puluhan detik beranjak dari satu huruf ke huruf lain, pertanda jarang sekali menggunakan keyboard.

Dia bilang bahwa pernah sekali belajar di salah satu rental kampus dekat tempat tinggalnya. Dengan pembelajaran dari saya waktu itu, berarti dia baru dua kali memencet tuts keyboard, setelah belasan tahun hidup. Dua kali!

Besar sekali keinginan saya memperkenalkan internet lebih lanjut kepada mereka. Apa daya, kami tidak punya dana besar, hanya bergantung pada dana relawan saja. Namun, mimpi itu masih tetap saya tanam. Suatu saat nanti, saya ingin satu per satu anak asuh saya tersebut memegang laptop berakses internet. Saya ajarkan membuat blog dan mengutarakan pandangan dan keluh kesah mereka. Saya ajarkan membuat akun facebook lalu memberikan link ke pejabat dan orang-orang pengambil keputusan sehingga mereka bisa protes langsung dan memberikan ide langsung kepada pejabat terkait.

Semangat belajar mereka besar. Terlihat dari pupil matanya ketika relawan memberikan penjelasan tentang bilangan desimal, tentang kalimat majemuk, dsb. Sayangnya akses mereka terbatas. Andai akses internet masuk pada mereka, tentunya api semangat mereka akan lebih dekat dengan segala hal berbau ilmu pengetahuan.

13
Des
09

Reverse Library; Pay It Forward

Bukan rahasia lagi bahwa perpustakaan pada umumnya selalu sepi, di manapun itu (selama masih di Indonesia; diwakili Jakarta dan Bogor) dan sebagus apapun itu. Sepengamatan saya pribadi, penggemar perpustakaan cuma mahasiswa yang mau menyusun karya tulisnya atau para peneliti yang hunting sumber pustaka. Bahkan waktu saya buat kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), hal pertama yang ditanyakan petugas, “KTM nya mana?”, saking seringnya mahasiswa yang berkunjung. Padahal ada juga kartu anggota PNRI untuk umum dengan modal KTP. Atau itu karena tampang saya masih imut-imut ya? =p

Padahal, tidak sedikit juga yang hobi sekali membaca. Saya kebetulan hidup di kelilingi orang-orang yang suka membaca. Mereka malas datang ke perpus, walaupun mereka bisa mendapat akses baca buku gratis dengan hanya bermodalkan ongkos jalan ke perpusnya. Beberapa yang suka membaca tapi kurang bisa membeli buku secara rutin, tetap tidak memilih untuk pergi ke perpus. Dia lebih memilih mencari temannya untuk meminjam buku yang dia inginkan.

Ganti berganti membaca buku ini baik sekali menurut saya. Satu buku bisa memberikan manfaat tidak hanya ke satu orang. Sebetulnya cita-cita itu juga yang ingin dicapai penggiat perpustakaan. Tapi sepertinya pendekatannya kurang tepat untuk menggaet salah satu golongan pecinta buku sehingga perpus tetap sepi.

Dari fakta-fakta itu, saya punya pemikiran untuk memberikan pendekatan yang menurut saya lebih efektif. Tujuannya tetap untuk membuat satu buku bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya orang. Kalau perpustakaan memberi kesan pembaca yang mencari buku, gerakan ini membalik hal tersebut, buku yang akan mencari pembacanya.

Saya tidak tahu data penelitian tentang kebiasaan orang memperlakukan buku setelah dibaca habis. Tapi dari pengamatan saya, orang hanya membaca sekali atau dua kali lalu buku akan disimpan atau dipinjamkan ke temannya. Kalau dia pinjamkan ke temannya, tentu saja lebih bagus, tapi karena kecilnya lingkungan, maka tidak akan banyak orang yang akan meminjamnya, kecuali buku itu sangat popular.

Nah, bagaimana kalau buku itu bukan dipinjamkan, tapi diberikan? Dengan syarat, orang yang diberikan ini berniat membaca buku itu dan mau memberikannya ke orang lain lagi dengan syarat yang sama. Begitu seterusnya. Semakin kredibel orang yang mendapat buku itu semakin panjang daftar orang yang akan membaca buku itu.

Pemberiannya bisa kepada teman kuliah, teman kantor, keluarga, atau lingkungan tempat dia bersosialisasi, asalkan dia bisa yakinkan bahwa orang yang akan diberikan buku ini punya maksud baik dan mau memberikannya kepada orang lain yang punya maksud baik juga.

Bahkan, kalau dia tidak mendapatkan orang di sekitarnya yang kredibel untuk melanjutkan program ini, dia bisa memberikan pada orang yang lokasinya jauh (tetap orang yang dia kenal). Buku bisa dikirimkan via pos. Biayanya ya dari kantong yang mau memberikan buku itu. Ini memang bagian pahitnya. Tapi kalau dia punya niat sosial yang tinggi, sepertinya tidak akan terlalu berat kalau mengeluarkan tidak lebih dari Rp10 ribu untuk melanjutkan keterbacaan buku itu.

What do you think?

03
Des
09

Grafiti Pancoran

Sayang malam itu aku tidak bawa kamera. Pancoran sekarang sudah dipenuhi Grafiti yang gak norak dan lumayan berbobot. Di tiang-tiang jalan tol dalam kota, tepatnya di titik pancoran dan kuningan, tampak gambar polisi dan pengguna jalan, sang polisi berucap, “Tertib berlalu lintas, aman di jalan.” Atau gambar seperti seorang pengendara motor yang menggunakan helm standar sambil tersenyum, lalu di bawah gambar itu tertulis “Gaya aman berkendara”, maksudnya mengajari bahwa helm standar itu bikin aman. Ada juga yang menggambarkan bagaimana safety riding. Hamper semua tiang sudah dipenuhi graffiti yang masing-masing punya pesan tersendiri.

Tentunya, bomber, istilah orang yang melakukan aksi graffiti, tidak akan berani beraksi di Pancoran yang tidak pernah mati dan jarang lekang dari pengawasan polisi. Sepertinya ada kerja sama antara polisi lalu lintas dan para bomber ini. Simbiosis mutualisme. Bomber bisa tertampung hobinya, polisi bisa mensosialisasikan pesan-pesannya pada masyarakat. Sangat sepakat dengan idenya.

30
Nov
09

Penyembelihan Kurban di Mata Ilmu Sains

Hewan memamah biak, menurut hukum islam, halal untuk dimakan. Masih banyak lagi yang halal, tapi saya mau cerita hewan memamah biak karena sedang suasana hari raya kurban. Aturan islam memerintahkan untuk menyembelih hewan pada lehernya dengan cepat dan dengan pisau yang tajam (intinya supaya cepat juga).

Ada dua penjelasan utama dari segi sains yang menyepakati cara tersebut. Pertama, dengan disembelih di leher, darah akan keluar dengan cepat. Darah penting untuk dikeluarkan segera karena bisa dibilang darah adalah sumber penyakit. Kebanyakan (atau mungkin semua) virus disebarkan ke seluruh tubuh lewat darah. Dengan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya, maka daging berpenyakit dapat direduksi. Leher dipilih karena di situ terdapat arteri (pembuluh darah) paling besar selain aorta, yang itu berarti darah akan keluar dengan lebih cepat.

Kedua, karena disembelih dengan cepat, maka tingkat stres hewan dapat diminimalisir. Stres hewan yang akan disembelih bisa menyebabkan otot-otot banyak berkontraksi, akibatnya banyak ATP (atau sebut saja energi) yang berubah menjadi asam laktat. Peningkatan jumlah asam laktat dalam otot/daging menyebabkan pH daging turun sehingga daging menjadi alot. Ini yang juga menyebabkan daging menjadi merah kehitaman (daging yang baik berwarna merah cerah).

Saya pernah baca di sampul kaset Gold Finger, band yang sangat peduli lingkungan. Mereka memerangi penyiksaan hewan yang marak terjadi di negaranya. Salah satu contoh yang masih saya ingat, mereka (para penyiksa hewan) memukul kepala sapi sampai mati untuk kemudian mereka konsumsi. Dari sisi kehewanan (padanan kata kemanusaiaan untuk hewan) sepertinya kurang sekali ya. Kalau dibahas dari sisi ilmu pangan, ini juga sangat tidak sehat. Darah tidak keluar dari tubuh si sapi. Walaupun ujung-ujungnya sapi akan dipotong-potong, tapi darah dalam beberapa menit saja sudah membeku berbentuk padatan seperti daging. Nah, waktu memotong-motong sapi tidak akan bisa beradu cepat dengan membekunya darah sapi di dalam tubuh. Dengan begitu, darah beku akan bercampur dengan daging. Penyakit yang dibawa sapi akan lebih riskan untuk tertular ke manusia.

Semoga menambah wawasan…=)

20
Nov
09

Kembali ke Potensi Diri

Satu minggu penuh saya ikut meliput Jakarta Fashion Week 09/10 di Pacific Place lewat blog ini. Fashion adalah suatu hal yang sangat baru buat saya. Sesuatu yang glamor, penuh hura-hura, dan tidak terakses dengan baik. Paling tidak, itu yang tampak di TV.

Begitu pula pendapat teman-teman sekitar saya tentang fashion. Ada yang menambahkan, fashion Indonesia tidak kuat, hanya berkiblat ke Milan dan Paris. Ada juga yang berkomentar, kain Indonesia itu tidak cuma batik, banyak yang lain yang tidak diketahui para desainer. Bermacam komentar tentang fashion.

Seminggu liputan membuat pola pikir saya berubah. Walaupun, dunia fashion ya tetap dunia fashion yang tidak pernah lekang dengan kesan kekinian dan glamor. Tapi di balik itu, beberapa desainer top Indonesia konsisten terus-menerus mengeksplorasi kain Indonesia, motif Indonesia, budaya Indonesia. Ada yang mengangkatnya murni, ada yang mencampurnya dengan budaya luar Indonesia. Kadang hasil karya mereka membuat saya merinding. Sebegitu hebatnya eksplorasi dan modifikasi yang mereka lakukan untuk menghasilkan karya baru. Karya yang tidak terbersit sama sekali dalam pikiran saya. Kain dan motif Indonesia diangkat dan dimodifkasi sedemikian rupa tanpa meninggalkan budaya aslinya.

Para desainer kita sudah banyak yang sadar dan berkomitmen dengan budaya Indonesia; Anne Avanti dengan cita-citanya menggabungkan batik se-Jawa Tengah, Merdi Sihombing yang rela riset ke daerah-daerah pelosok untuk mengangkat kembali kain tenun daerah; Ghea Panggabean yang lengkap dengan pencitraan etnik khas Indonesia; Bakat-bakat baru secara mencengangkan ikut andil dalam mengangkat ragam kain Indonesia pada Lomba Perancang Mode; dan sebagainya.

Sepertinya semua sepakat dengan apa yang dikatakan Iwan Tirta dalam Reader’s Digest Indonesia edisi November, Ia berpesan pada desainer muda Indonesia, “The more Indonesia you are, the more successful you will be abroad. Kalau main fashion Barat juga, walah, lebih banyak yang lebih pintar dari Anda!”

Jadi, kesimpulannya, kita harus kembali ke potensi diri kita sendiri yang memang sejak lama sudah ada. Eksplorasi budaya dan kain Indonesia adalah satu-satunya cara paling efektif menembus pasar internasional. Selamat berjuang desainer-desainer Indonesia. Katakan pada Milan dan Paris bahwa Indonesia sudah kreatif sejak dilahirkan!

Hidup fashion Indonesia! Dok: Iqbal.