Agak kasihan melihat bangunan-bangunan di Pulau Balai, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Sejak gempa Nias 2005, daratan Balai turun satu meter. Puluhan bangunan tenggelam. Yang punya duit tinggal pergi dari pulau atau bikin bangunan baru. Yang gak punya duit terpaksa tetap tinggal di situ. Dia timbun rumahnay sampai melebihi tinggi air.
Pulau Balai Tenggelam
Peak Hunter Buat Travelling
Tiga bulan saya keliling Sumatera cuma bawa beberapa kaos, kebanyakan adalah kaos-kaosnya Peak Hunter. Buat saya yang outdoor banget, saya perlu kaos yang gampang nyerap keringat, bikin gak gerah, dan jelas saya perlu kaos yang melarnya enak.
Nah, itu semua saya dapat di kaos-kaosnya Peak Hunter. Kalau saya tracking yang lebih dari 3 km, biasanya saya pakai kaos Peak, kecuali lagi kotor semua, terpaksa deh saya pakai kaos lain. Panas dari dalam tubuh itu gampang keluar kalau pakai Peak.
Saya tanya ke Rendy, si produsen kaos-kaos Peak Hunter, pakai bahannya apa? Dia jawab begini:
“Kalo jenisnya sama kaya kaos merk-merk lain, cotton combed 30s. Cuman emang jenis cotton-nya yang berbeda. Kualitasnya halus. Gw mati-matian cari bahan kualitas gitu. Oh iya satu lagi, ada yang bilang kalo ukuran kaos gw lebih kecil. Itu emang gw buat kaya gitu agar lebih nempel ke badan, sehingga keringat yg keluar langsung diserap kaosnya dan langsung diuapkan ketika kena sinar matahari. Cocok buat light trekking dan backpacker.”
Oh gitu ya. Saya mah kurang paham begituan. Yang penting enak dipakailah.
Kaos-kaos Peak sudah saya ajak snorkeling di Pulau Sebesi, masuk ke kandang gajah di Way Kambas, foto bareng situs megalitik di Pasemah, jalan-jalan di Pulau Siberut, makan masakan Padang bareng di Padang. Wah, udah ke mana-mana deh. Kaos Peak emang enak buat ke mana-mana selama judulnya jalan-jalan.
Saya juga suka desainnya. Gak norak. Pernah waktu di Harau saya ketemu sekelompok pemuda dari Bukittinggi yang lagi latihan panjat tebing. Katanya sih mau latihan buat lomba. Saya perhatikan kok mereka pada merhatiin saya, padahal gak saya ajak ngomong.
Saya baru sadar kalau saya lagi pakai kaos Peak yang gambar orang lagi manjat tebing batu dan ada tulisan “Rock Climbing” nya. O oww… mungkin mereka menganggap saya pemanjat juga. Bukan… bukan… saya bukan pemanjat. Saya cuma backpacker kere… =p
Homesick
Saya bikin tulisan ini di hari ke-34 perjalanan saya keliling Sumatera. Entah kapan saya bisa upload ke blog. Mudah-mudahan secepatnya saya temukan warnet dan hati saya digerakkan untuk masuk ke warnet itu.
Akhirnya saya bisa pahami kenapa kawan-kawan kuliah saya dulu, di bulan-bulan awal, beberapa yang rumahnya di luar Jawa tiba-tiba jadi pendiam dan malas bergaul dengan kami, teman-teman satu lorongnya. Dia lebih senang sendirian di kamar asrama atau keluar gak tahu ke mana, pokoknya sendirian.
Itu juga yang saya rasakan sekarang. Saya sedang tidak mau keluar, sedang tidak berkeinginan buat ngobrol sama sekali. Walau hari ini adalah natal dan saya sedang berada di Sumut, yang itu berarti bakal banyak cerita di luar sana, tapi saya lebih ingin sendirian.
Saat ini, makanan seenak apapun tidak bisa mengalahkan makanan rumah. Penginapan sebaik apapun tidak bisa mengalahkan kamar di rumah. Rupanya begini rasanya homesick.
Sekarang ini saya benar-benar merasa sendirian. Walau banyak orang-orang baru kenal yang memberikan saya tempat tinggal, dan segudang informasi, tapi tetap itu tidak bisa menggantikan suasana ketika saya di rumah. Walau ada puluhan orang di sekeliling saya, tapi saya merasa sendirian.
Maka saya juga jadi paham, ketika dulu abang kelas saya teriak-teriak kesetanan di Bogor waktu dikabari rumah dan seluruh keluarganya terbawa tsunami di Aceh. Walaupun memang kelewatan juga dia, karena dalam islam tidak boleh sampai teriak-teriak begitu. Tapi saya bisa sedikit pahami apa yang dia rasakan waktu itu.
Pembelajaran 34 hari ini betul-betul mendalam dan terlalu banyak sepertinya. Saya merasakan bagaimana perut bisa menjadi musuh yang sangat nyata, bisa membuat orang melakukan hal-hal salah dan dia sendiri tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Perut sudah berkehendak.
Saya merasakan betapa saya hidup sangat berkelebihan di Jakarta, bisa makan, tidur, dan mencari penghidupan dengan tenang. Karena saya tinggal dengan orang-orang yang sama-sama berkelebihan, maka nilai “berkelebihan” itu menjadi tidak terasa. Padahal di pedalaman Mentawai, orang punya TV saja itu hitungannya sudah kaya.
Saya baru bisa merasakan nikmat makanan berlimpah di Jakarta setelah tahu bahwa masih banyak orang yang kulkas saja tidak punya, dan tidak punya stok bahan makanan untuk besok. Besok, kalaupun punya uang, pilihan bahan makanan yang orang jual dalam radius 30 km itu tidak banyak.
Kelihatannya, orang itu baru benar-benar bisa bersyukur setelah dia tahu apa yang dia dapatkan itu tidak bisa didapatkan orang lain.
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.
Kawasan dataran tinggi menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal, terutama dari kota besar seperti Jakarta. Puncak Bogor sempat berjaya dengan keunggulan tersebut, tapi makin lama orang jenuh dengan kondisi macet yang selalu menjadi momok menyebalkan. Ciwidey kemudian dilirik untuk menjadi alternatif Puncak Bogor, terutama setelah proyek Tol Cipularang tuntas.
Dahulu, Ciwidey dan strawberry menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Kalau ke Ciwidey ya petik strawberry. Namun, sebetulnya banyak tempat lain yang bisa dikunjungi sepanjang jalan dari Ciwidey sampai Situ Patengan, berikut akan dibahas satu per satu.
Kawah Putih
DarikotaBandung, perjalanan menuju Kawah Putih menempuh jarak 46 km atau 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kawah Putih adalah tempat wisata besar pertama yang ditemui sepanjang jalan dari Ciwidey ke Selatan. Kalau tempat wisata kecil seperti petik strawberry di belakang rumah, itu banyak terdapat di sepanjang jalan sebelum Kawah Putih.
Letak pintu gerbangnya di sebelah kiri jalan. Dari pintu gerbang tersebut, perjalanan masih menanjak sekitar 6 km sampai menuju kawah yang sebetulnya tidak berwarna murni putih, tapi ada unsur biru dan hijaunya. Sepanjang jalan tersebut, pemandangan yang tersibak adalah hutan hujan tropis dan Eucalyptus. Berdiri di hamparan kawah berarti kita berdiri pada ketinggian 2.194 mdpl.
Tebing-tebing di sekitar kawah putih membuat suasana menjadi semakin syahdu. Air kawah yang tenang seakan mengajak mata untuk terus mengagumi keindahannya. Apalagi ketika kabut sudah mulai turun, rasanya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kita beranjak pulang.
Dulunya, dari pintu masuk sampai parkiran di atas, pengunjung dibebaskan masuk membawa kendaraannya. Namun, sejak 8 Mei 2010, setelah ditutup dua bulan untuk pemugaran, kendaraan sudah disortir untuk ke atas. Biayanya akan sangat mahal jika membawa kendaraan ke atas. Satu mobil dengan satu penumpang dikenakan biaya Rp165 ribu, tambah 15 ribu tiap penambahan 1 orang.
Sekarang, banyak yang bilang, Kawah Putih jauh lebih baik kondisinya daripada sebelum pemugaran. Juga, disuguhkan atraksi baru bagi pengunjung, yaitu Legenda Kawah Putih Domba Lukutan. Namun, banyak yang mengeluh karena biaya masuknya jadi berlipat sehingga sulit dijangkau. Paket termurah yang ditawarkan seharga Rp 25 ribu. Dengan paket tersebut, pengunjung mendapat karcis masuk dan fasilitas Ontang-Anting, yaitu alat transportasi yang akan mengantar pengunjung ke atas, menunggu pengunjung menikmati Kawah Putih, lalu mengantar kembali ke pintu masuk.Adayang bilang, memang harus seperti itu untuk membuat suatu kawasan wisata tetap terjaga keasriannya.
Emte
Entah kenapa diberi nama demikian. Ketika ditanya, apa Emte itu maksudnya Mario Teguh? Si pengelola cuma tertawa. Tempat wisata ini terbilang baru, belum banyak orang yang tahu. Baru sekitar awal 2010 Emte berdiri. Di dalamnya banyak sekali pilihan wisata. Kalau beberapa tempat wisata memfokuskan bisnisnya pada, pemetikan strawberry atau outbond atau pemandangan indah atau pemandian air panas, Emte hadir dengan semuanya itu. Memang, kualitasnya masih belum sebaik tepat wisata yang focus di satu wahana wisata.
Tempat ini cocok untuk keluarga, rombongan, juga perjalanan sendiri. Biaya masuknya Rp5 ribu, sudah termasuk kolam air hangat. Tapi kolamnya sangat biasa dan agak keruh. Adabeberapa saung besar dan kecil buat berkumpul atau berteduh. Flying fox yang melintasi kolam ikan (bukan kolam pemandian) berbayar Rp15 ribu. ATV ukuran besar Rp50 ribu per 3 lap, ukuran kecil Rp25 ribu per 3 lap. Petik strawberry sendiri dibandrol 30 rb/kg, tapi tidak harus memetik 1 kg. Satu Styrofoam itu setara dengan setengah kg, kita bahkan bisa petik kurang dari itu.
Di tengah-tengah tempat lokasi wisata Emte, terdapat kantin yang harganya lumayan bersaing. Nasi putih dengan ayam goreng special dihargai Rp10 ribu, sotobandungRp10 ribu, nasi goreng strawberry special Rp10 ribu. Yang membuat kantin lebih mempunyai daya saing adalah adanya saung-saung lesehan di seputaran kantin tersebut. Dari saung ini, hamparan pemandangan aktivitas wisatawan Emte bisa terlihat.
Ranca Upas
Sejatinya, Ranca Upas adalah tempat wisata untuk berkemah. Beberapa orang bilang, kalau belum camping di Ranca Upas berarti belum ke Ciwidey. Pengelola sepertinya tidak mau ketiggalan dengan para tetangganya. Beberapa cottage kemudian dibangun. Pilihan aktivitas juga bertambah dengan adanya outbond. Satu paket outbond dengan 4 games yang salah satunya adalah flying fox, dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Harga ini tentu terbilang murah, terutama jika dibanding tempat wisata di Ciwidey yang menawarkan paket serupa.
Tiket masuk Ranca Upas adalah Rp5 ribu untuk weekdays dan Rp6.500 untuk weekend. Jika mau camping di dalamnya, maka pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.
CImanggu
Mata air panas yang ada di dalamnya berasal dari Gunung Patuha.
Rancabali
Tempat ini merupakan 1 dari 41 kebun milik PTPN VIII. Komoditas utama yang diusahakan adalah the. Seperti perkebunan the lain yang mempunyai lokasi strategis, Rancabali juga –oleh pengelolanya- digarap menjadi satu kawasan agrowisata. Kita bisa melakukan tea walk disana. Petik strawberry juga menjadi pilihan yang menarik.
Walini
Kebun Teh milik PTPN VIII yang ternyata punya kolam pemandian air panas.
Situ Patengan
Di tengahnya terdapat Pulau Asmara. Sebetulnya kurang tepat juga disebut pulau, karena letaknya yang tersambung dengan daratan pinggir Situ Patengan.
Relatif
Satu adegan nyentil di film Ice Age (lupa Ice Age berapa). Salah satu tokoh hewan menggali tanah nyari air, dia gali lumayan dalam. Akhirnya dia nemu sesuatu: intan, emas, perhiasan. Dia buang sekopnya, perhiasan ditinggalin begitu aja. Kecewa berat karena gak dapat yang dia cari. Waktu itu, air jauh lebih mahal dari setumpuk perhiasan.
Satu lagi. Ada game namanya Age of Empire. Di situ, kita jadi raja salah satu kaum yang butuh ekspansi kekuasaan (mirip sifat dasar manusia). Di awal-awal, saya gampang banget ngumpulin kayu dan bikin pertanian. Kayu dan pangan jadi barang yang gak ada artinya banget dibanding emas. Kebutuhan primer jelas tercukupi.
Tapi waktu semua lahan sudah terkuasai, sudah dieksplorasi habis, pasar menghendaki harga emas sebagai komoditi tersier jauh lebih rendah dari kayu dan pangan yang jadi barang super langka. Saya dituntut untuk ngurangin populasi penduduk supaya makanan cukup. Harga pangan relatif naik.
Secara logis kedua cerita di atas bisa dijabarkan. Suatu hari nanti emas gak ada artinya. Gak ada orang miskin yang mau dikasih harta, semua sudah kaya (kutub as sittah). Harga emas relatif turun.
Tapi memang sudah dasar sifatnya orang itu rakus. Sesuai HR Tirmidzi: Kalau manusia sudah punya emas sebanyak 2 jurang, maka dia akan mencari yang ketiga. Hanya tanah yang bisa memenuhi mulutnya.
Alhakumuttakatsur. Semua kita, semua kalian, sibuk pake mulut, jalanin bisnis, kerja dari pagi sampai sore, melipatgandakannya, beli rumah, beli mobil. Dan Allah kasih semua itu, insya Allah. Tapi ketika diajarkan tentang Allah, tentang agama, kalian bilang, “Maaf gak ada waktu. Entar aja deh kalo udah tua. Kok hukumnya menentang HAM sih? Sekarang kan zamannya kesetaraan gender. Gak pacaran gimana pendekatannya? Ih, fundamentalis…” Bla…bla…bla…
See, how arrogant the people can be… how arrogant I can be… A’udzu billah min dzalik.
Tahun lalu (2010), saya mau ngetes, saya bisa gak sih jalan jauh. Start awal dari Lengkong (Nganjuk, Jatim), targetnya sampai Trowulan (Mojokerto, Jatim) yang itu jaraknya 40 km. Saya jalan dari pagi sampai sore, tapi gak bisa sampai tujuan, cuma kuat 30 km.
Selama di perjalanan, saya pakai sorban buat nutup kepala biar ngurangin panas. Ini bukan karena saya mau kelihatan alim, tapi karena memang yang paling enak itu sorban, lebar dan tipis, terus bisa nutupin sampai pundak telapak tangan. Kebetulan juga jenggot saya lagi banyak waktu itu.
Yang menarik, beberapa orang, ada juga bocah SD, meneriaki saya teroris. Saya sampai ke kesimpulan bahwa anggapan itu karena saya pakai jenggot dan sorban. Jadi keduanya itu sudah benar-benar, kalau kata orang pemasaran, sudah jadi top of mind orang-orang bahwa jenggot dan sorban identik dengan teroris.
Kalau orang tanya pasta gigi itu apa, mereka jawab Pepsodent. Kalau ditanya air mineral itu apa, mereka jawab Aqua. Nah, kalau ditanya teroris itu siapa, mereka bakal jawab orang islam yang jenggotan dan sorbanan.
Saya pernah baca catatan perjalanan seorang wartawan yang keliling Indonesia setahun pakai motor. Ya namanya lagi bertualang kan hidupnya gak teratur, jadi jenggotnya juga lebat. Kalau dia lagi ada di pulau-pulau kecil, terutama yang di perbatasan, sering kali beberapa pihak yang ngakunya berwenang menggeledahnya karena, mereka pikir, ada indikasi orang ini teroris yang mau nyebrang ke negara sebelah. Jadi kalau jenggotan perlu lebih diwaspadai.
Kalau diperhatikan di film-film yang keluar 5 tahun terakhir, terutama yang keluaran Hollywood, sebutlah Green Zone dan Body of Lies, gerombolan teroris selalu digambarkan beragama islam, jenggotan, dan sorbanan. Juga, orang islam gak mau bergaul sama non-islam. Doktrinasi banget! Saya gemes banget waktu nonton film ini.
Hey! Saya orang islam, saya jenggotan, tapi saya bukan teroris tauk! Boro-boro pegang bom, petasan aja enggak.
Mudah-mudahan bukan karena pandangan teroris begini yang bikin kita, orang islam, meninggalkan sunah pelihara jenggot. Ngapain malu. Justru kita harus balikin doktrin yang begituan dengan jadi orang islam yang jenggotan, yang gak malu pakai sorban, yang bisa supel sama masyarakat, yang suka bantu orang, yang suka sholat sama puasa sunah. Masyarakat bakal menilai dan doktrinasi “jenggotan itu teroris” bakal bersih sendiri. Mudah-mudahan ya.
Law of Attraction
Aku membacanya sekitar tahun 2006. Buku ini menjabarkan tentang teori hukum ketertarikan. Kalau kamu percaya itu akan terjadi, maka itu akan terjadi. Semua kekuatan alam akan mendukungmu untuk mencapainya. Kuncinya adalah PERCAYA! Ini seirama dengan dalil bahwa Allah bersama prasangka hambanya.
Buku ini menjawab kenapa pemulung tidak sakit karena memakan makanan yang dipungutnya dari sampah, karena ia menyangka itu adalah makanan, bukan sampah. Banyak contoh lain yang bisa meyakinkan bahwa hukum ketertarikan (law of attraction) itu berlaku.
(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)
Seperti cerita di negeri dongeng. Sampai detik ini, masih ada produsen susu sapi yang bertahan meneruskan usaha nenek moyangnya di tengah jantung kota ibukota, dikelilingi gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Lebih dari lima puluh sapi perah berbagai usia masih hidup dan masih produktif dimiliki Mirdan. Dua ratus liter susu sapi disuplai dari tempat ini setiap harinya. Menurut Ridho, kakak kandung dari Mirdan yang juga mengelola peternakan ini, mereka sudah merintisnya sejak tahun 1960. Peternakan ini merupakan usaha turun-temurun keluarganya.
Letaknya dekat sekali dengan kawasan Mega Kuningan, tepatnya di Jalan Perintis, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tidak persis di pinggir jalan perintis, tetapi ada semacam lorong kecil sepanjanglimapuluh meter yang memang hanya menuju peternakan ini. Di jalan perintisnya sendiri, kemacetan khas ibukota dijumpai setiap hari pada jam masuk dan keluar kantor.
Kedua keadaan tersebut sangat kontras sekali terasa. Di jalan raya, segala kemodernan kental sekali, mobil-mobil mewah berbondong-bondong menuju atau keluar perkantoran. Tetapi ketika berjalan sedikit ke dalam peternakan, hawa pedesaanlah yang menyeruak, alami sekali. Tampak jelas di sekeliling peternakan sapi perah ini gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi menampakkan kekuasaannya. Sapi perah di kawasan ini sudah ada sejak dulu, sebelum gedung-gedung tinggi disekitarnya dibangun, bahkan sebelum dipikirkan akan dibangun.
Bekas Sentra Susu Jakarta
Memang kawasan ini dulunya adalah tempat produksi susu sapi terbesar diJakarta. Bahkan ada suatu gang yang dinamakan gang susu. Sepanjang gang susu ini dulunya dipenuhi sapi perah. Sekarang tidak ada satupun sapi yang terlihat di gang susu. Namun, plang nama Gang Susu masih tetap tegar berdiri menjadi saksi bisu kejayaan akan susu sapi di tempat ini dulu.
Ahmad Mirdan adalah salah satu dari sisa peternak itu. Usaha peternakan miliknya saat ini sudah dilakukan sejak dua generasi sebelumnya. Jadi, Mirdan adalah generasi ketiga. Ia dan keluarganya memiliki lebih darilimapuluh sapi berbagai usia, ada yang siap perah ada juga yang belum. Terlihat juga belasan kambing yang ikut diternakkan di tempat ini. Bisa dibilang, lahan peternakan seluas kurang lebih 200 meter persegi ini kurang layak lagi untuk ditempati sapi-sapi dan kambing-kambing itu karena harus berjejalan dengan jarak antarsapi yang sangat kecil.
Setiap hari, Ridho memerah sapinya dua kali, yaitu pada pukul 6 pagi dan 4 sore. Produksi susu dari peternakan ini sekitar 200 liter per hari. “Saya jual ke loper-loper susu yang berani membeli dengan harga tujuh ribu per liter. Kalau tidak ada yang beli ya saya jual ke koperasi. Susu pasti laku dijual,” kata Mirdan. Ridho menambahkan, terkadang ada juga pembeli yang langsung datang ke tempatnya untuk membeli susu. Minimal pembelian adalah satu liter. Harga yang diberikan sama dengan harga untuk loper.
Setelah sapi diperah, biasanya para loper susu sudah menunggu hasil saringan susu itu untuk diedarkan ke berbagai pelosok ibukota. Kemasannya ada dua jenis, plastik dan botol. Botol-botol yang dipakai ini adalah hibah dari pemerintahan Soeharto dulu. Ukurannya ada yang setengah dan ada yang satu liter.
Dulu, para loper susu ini menyebarkan susu dengan menggunakan sepeda yang disemati kantong-kantong di sekujur tubuh sepeda. Namun, sekarang tidak perlu mengayuh sepeda sampai berpuluh kilometer lagi karena biasanya loper sudah dilengkapi dengan sepeda motor.
Pemindahan sentra susu Jakarta dari Kuningan ke Pondok Ranggon dilakukan sekitar tahun 70an. Saat itu, Jakarta mulai melakukan pengembangan kawasan Mega Kuningan. Sedikit demi sedikit peternak pindah ke Pondok Rangon atau memilih untuk menutup usaha sapi perahnya sama sekali.
Proses pengembangan kawasan Kuningan menggerus lahan-lahan kosong yang biasa ditumbuhi rumput. Dengan begitu, Mirdan dan Ridho merasa kesulitan mencari hijauan sebagai pakan sapi-sapi mereka. “Biasanya kami ngarit sampai ke Cilandak,” kata Ridho. Memang mendapatkan hijauan menjadi kendala bagi peternak di daerah perkotaan. Di Pondok Ranggon pun mencari hijauan sudah memperlihatkan kendala.
Bahan pakan selain hijauan relatif lebih mudah didapatkan. Ridho bercerita bahwa pakan yang diberikan terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan potongan-potongan singkong, selain hijauan yang diberikan dalam jumlah paling besar. Ada komposisi tertentu yang dipercaya efektif menghasilkan susu lebih banyak.
Kalau dilihat dari sudut pandang para loper susu sebagai distributor andalan, mereka diberi pilihan yang berat, membeli susu ke Pondok Rangon dengan harga relatif lebih murah, yaitu sekitar 4 ribuan tetapi biaya distribusinya lebih tinggi, atau membeli ke Mirdan, mahal tetapi dekat.
20 juta per meter
Menurut Mirdan, lahan peternakan miliknya sekarang berharga 20 juta/meter. “Sampai sekarang belum ada penawaran harga yang cocok buat saya jadi belum saya jual,” akunya. Mirdan tidak segan untuk menjual lahan peternakan mininya itu jika ada tawaran menarik. Pengembang kawasan Mega Kuningan masih mematok harga tertinggi 10 juta/meter. Harga tersebut masih ditolak oleh Mirdan.
Bagi Mirdan, bisnis usaha sapi perah masih cukup menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, keuntungan bersih dari satu ekor sapi produktif adalah lebih dari 10 juta dalam satu tahun. Sedangkan Mirdan memiliki puluhan sapi yang masih produktif. Jadi, memang hasil dari beternak sapi di kawasan ini sama menggiurkannya dengan menjual lahan peternakannya kepada pihak pengembang.
Kalau lahan Mirdan ini sudah dijual, habis sudah bekas-bekas kejayaan kuningan sebagai produsen susu. Sapi berubah menjadi gedung. Lebih gagah memang, tetapi juga lebih sombong.











Komentar Terakhir