Sagoeleuser5’s Weblog

Juli 5, 2009

Eksotisme Wisata Air Banjar

Sunset Pantai Takisung

Sunset Pantai Takisung

Maka dengan sedikit menyesal, kuputuskan membeli sebotol Aqua 600 ml di luar bandara. Sejak ada logo Danone di kemasannya, aku selalu memilih merk lain agar seluruh uang yang kukeluarkan tidak keluar Indonesia. Sayangnya kios kecil tadi tidak menjual air mineral lain.

Perjalananku sejak dua hari lalu cukup padat, pantas saja kalau kerongkongan ini minta dibasuh. Sesampainya di bandara Syamsudin Noor dua hari yang lalu, kupikir sudah sampai di kota Banjarmasin, ternyata baru sampai Banjar Baru. Bandara itu letaknya pada pal 25, sedangkan kota Banjarmasin ada pada pal 10 ke bawah. Orang Banjar biasa menyebut pal untuk kata ganti kilometer. Kata “pal” jauh lebih akrab buat mereka. Bahkan terminal terbesar yang ada di kota Banjarmasin dilabeli nama “Pal 6” karena letaknya di kilometer keenam dari mesjid raya Banjarmasin yang dinobatkan sebagai titik kilometer nol, eh salah, pal nol.

Menuju Pal 6, banyak taksi yang bisa dicegat di luar bandara. Taksi di Banjar bukan dari golongan Limo atau sedan lainnya seperti di Jakarta, tapi mobil colt besar yang rela diisi sampai 14 manusia. Taksi adalah sebutan masyarakat lokal untuk angkutan umum. Tarifnya, ya seperti tarif angkutan umum. Alternatif lainnya menggunakan ojeg, tarifnya minimal Rp15 ribu, tergantung skill menawar.

Adzan Magrib bergema tepat setelah aku sampai Pal 6. Segera kukabari Anas posisiku. Sambil menunggu, aku bereskan urusan lambung dulu di tempat yang direkomendasikan seorang supir taksi. Tidak lama kemudian, Anas datang. Tubuhnya tidak segempal yang aku bayangkan. Anas adalah penduduk lokal Banjar yang baru kukenal seminggu yang lalu lewat milis IndoBackpacker. Setelah intensif berkomunikasi via udara, akhirnya bisa bertemu langsung juga.

Perbincangan langsung mengalir deras. Ia bercerita tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Menarik sekali, tapi sayang waktuku tidak lama. Loksado adalah wisata alam nomor wahid di Kalimantan Selatan, di sana ada air terjun, pegunungan, dan masih banyak suku Dayak asli. Mungkin jalan-jalan berikutnya.

Setelah membayar Rp11 ribu untuk segelas air jeruk hangat, segelas teh manis, dan sepiring kuetiau, kami langsung menuju hotel rekomendasi Anas, Niagara namanya. Saya masih bingung navigasi Banjarmasin, tapi yang jelas hotel Niagara masih di dalam kota, di pinggir jalan besar (telp 0511-3356355). Aku pilih kamar non AC untuk dua orang, harganya Rp60 ribu. Kalau untuk satu orang, harganya Rp35 ribu. Kamar yang termahal seharga Rp80 ribu untuk dua orang dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam.

Kondisi kamar hotel Niagara

Kondisi kamar hotel Niagara

Melepas lelah sejenak, langsung atur strategi perjalanan. “Malam ini kita ke Kuin,” kata Anas. Beruntung, Anas punya Vega R merah, jadi hanya perlu mengisi bensin Rp10 ribu saja untuk perjalanan seharian. Sangat membuat hemat.

Kuin adalah tempat terjadinya pasar terapung setiap pagi. Ini adalah lokasi shooting RCTI untuk jeda antarprogram yang dulu sering kali diputar. Kata Anas, sejak subuh sampai sekitar jam 9 pasar terapung itu bergeliat. “Sekarang sudah jam 9 malam, jangan harap bisa melihat pasar terapung,” katanya. Di malam hari, sungai Barito masih tetap cantik. Terlihat kapal besar di tengah sungai besar itu. Kapal itu tidak bergerak. Kata Sujito, polisi patroli yang markasnya sedang bertengger di dekat pelabuhan Kuin, itu adalah kapal yang terjerat kasus penyelundupan minyak. Karena masih sengketa, maka kapal tidak boleh beranjak.

Markas polisi patroli yang saya lihat itu nyatanya bisa bergerak. Di bawah markas itu ada kumpulan drum besar yang menyangga markas. Mesin diletakkan di belakang markas. Kalau sedang banyak kasus di seberang sungai, tinggal tancap gas, maka markas pun pindah ke seberang.

Sudah puas menghirup udara sungai, kami kembali ke hotel. Oiya, sebelumnya mampir di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Siapakah dia? Aku juga tak paham. Tapi dilihat dari megahnya pemakaman itu, Sultan ini pasti dulu pernah menjadi orang hebat. Sekelompak orang sedang berkumpul di dekat makam. Mereka tertawa, bersenda gurau persis di samping makam. Sepertinya tempat ini sudah dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk membahas sesuatu. Suasana mistis raib bersama gelak tawa mereka.

makam sultan tampak muka

makam sultan tampak muka

Vega R merah kembali ditancap, balik menuju Hotel Niagara. Suasana hotel sepi. Sepertinya sedikit yang menginap malam ini. Ah, sudahlah. Kami harus tidur cepat supaya besok bisa bangun cepat.

Pukul 5.30 pagi kami sudah siap berangkat. Tujuannya Pasar Terapung Lok Baintan di sungai Martapura, 30 menit dengan sepeda motor. Lok Baintan adalah pasar terapung yang paling alami. Di dunia, ada 3 buah pasar terapung. Satu di Thailand, bentukan pemerintahnya untuk menggaet wisatawan. Dua lagi di Kalimantan Selatan ini, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Kuin dekat dengan kawasan industri sehingga aura alaminya sedikit luruh.

IMG_7312

Barang dagangan di pasar terapung hampir sama persis dengan pasar darat. Hanya daging sapi yang tidak terlihat dijajakan di sini. Kebanyakan dari pedagang menjual hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Sebagian lagi menjual ikan, sembako, makanan kecil, dan pakaian. Pemandangan jukung (sejenis sampan kecil) yang dipenuhi dengan tumpukan jeruk membuatku sumringah. Indah! Indah sekali. Pemandangan yang tidak pernah kudapat di Jakarta.

Sungai sudah menjadi jalan hidup masyarakat sekitar Lok Baintan. Mereka memiliki Jukung seperti masyarakat desa di Jawa memiliki sepeda atau sepeda motor bagi masyarakat kota. Jukung menjadi alat transportasi utama.

Puncak aktivitas pasar itu sekitar pukul 8 pagi. Ada sekitar 100 jukung yang ikut andil. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa berlipat. Sungai Martapura menjadi mati kembali setelah pukul 10.

Tidak terasa, kami belum sarapan. Soto Banjar harus kunikmati pagi ini. “Beres, kita ke Soto Banjar Bang Amat,” kata Anas. Soto Banjar Bang Amat bisa dibilang yang paling dicari untuk menikmati soto banjar. Letaknya di pinggir sungai Barito. Harga soto yang biasa Rp12 ribu dan yang spesial Rp19 ribu. Banyak pejabat dan artis yang sudah mampir ke tempat ini, mereka pasti mencari pemandangan.

Soto Banjar Bang Amat

Soto Banjar Bang Amat

Pukul 9 pagi. Anas mengantarku kembali ke hotel sedangkan dia sendiri harus bekerja, maka kami berpisah. “Thanks Nas, kalau kita gak ketemu, gak akan selancar ini,” kataku. Anas berlalu. Aku berkemas kemudian melanjutkan perjalananku ke Pantai Batakan. Beberapa menit kutunggu taksi ke Batakan dari Pal 6, tapi tak ada tanda-tanda. Saran dari Anas lewat SMS, naik ke Plaihari saja dulu, baru di sana lanjut ke Batakan.

Kuturuti. Dua jam perjalanan menuju Plaihari. Banjarmasin-Plaihari berjarak 65 km. Ongkosnya Rp13 ribu. Berita buruknya, taksi menuju Batakan baru ada pukul 4 sore, padahal jarum pendek di terminal baru menunjuk ke arah angka 12. Tidak hilang akal, kulihat lagi brosur Pariwisata Kabupaten Tanah Laut (Kabupatennya kota Plaihari) yang kudapat dari pameran wisata Gebyar Nusantara. Ada alternatif Pantai Takisung. Gambar di brosur cukup meyakinkan. Pantainya bersih, pohon kelapa berjejer rapi. Keterangannya, pantai ini cocok untuk menikmati sun set.

Sepuluh detik kemudian, kuputuskan mengubah haluan ke Takisung. Pendapat tukang ojeg sekitar bahwa Batakan lebih jauh (40 km dari Plaihari) dan rawan tindak kriminal membuatku semakin kokoh menuju Takisung.

Taksi menuju Takisung juga baru ada sekitar pukul 4 sore, jadi kuputuskan untuk naik ojeg. Plaihari-Takisung berjarak 22 km, ongkos ojegnya Rp25 ribu. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Di sebelah kiri jalan tampak jelas pegunungan Meratus.

Pantai Takisung cukup ramai, ada ratusan orang yang sedang berekreasi siang itu. Ada yang duduk-duduk di tenda sewaan (Rp40 ribu untuk seharian) ada yang bermain-main air di pinggir pantai, ada yang menyewa kapal untuk berkunjung ke pulau Bejanggut. Harga sewanya Rp50 ribu, bisa dihinggapi sampai 20 orang. Pasir pantainya abu-abu. Pantainya tidak sejernih yang kubayangkan.

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Awalnya aku mau menyewa satu penginapan milik Dinas Pariwisata. Agak berat hati mengiyakannya karena biayanya Rp150 ribu per malam dengan fasilitas seadanya, hanya kasur ukuran besar dan kamar mandi dalam, tanpa AC dan tanpa TV.

Namun, menurut nelayan sekitar, penginapan itu ada penunggunya. Hiiii. Dengan cepat kubatalkan kontrak. Jadi menginap di mana malam ini? Ada penduduk sekitar yang menawarkan menginap di rumahnya. Seorang penduduk lagi menawarkan tendanya dan dirinya untuk menemaniku bermalam di pinggir pantai. Aku pilih tenda.

Tenda di sini bukan tenda dome seperti yang biasa dibawa pendaki, tapi hanya terpal berukuran 2×3 yang disanggah oleh beberapa batang kayu kuat. Jadi, sambil tiduran, pantai masih jelas terlihat di depan dan samping.

Barang kutitipkan di rumah si pemilik tenda. Aman! Aku harus yakinkan diriku bahwa bawaanku akan aman. Ternyata memang aman. Aku bahkan sempat berkenalan dengan seluruh isi rumah si pemilik tenda.

Ketika sedang menikmati pantai, tiba-tiba seorang anak memamerkan hasil tangkapan ubur-uburnya di depan wajahku. Hidup! Ubur-ubur itu masih hidup! Segera kuperintahkan memasukkannya ke dalam plastik berisi air. Tidak besar, ukurannya hanya sebesar satu ruas jempol kaki. Setelah diamat-amati, di pinggiran pantai banyak ubur-ubur kecil yang terlihat jelas. Anehnya, anak-anak itu tidak merasa gatal sedikitpun setelah memegang dan menyiksa ubur-ubur itu. Menyiksa dalam arti yang sebenarnya. Salah satu dari mereka memotong ubur-ubur itu hidup-hidup, lalu membuangnya lagi ke pantai. Ternyata benar apa yang digambarkan dalam film Jermal tentang kerasnya kehidupan laut.

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

Matahari semakin condong ke barat. Tidak salah kalau brosur Dinas Pariwisata mengatakan bahwa pantai Takisung tepat untuk menikmati sun set. Tidak ada awan sedikitpun. Aku bisa melihat matahari seakan bersentuhan dengan laut. Pantulan cahayanya seperti intan yang bertaburan di permukaan laut, kemilau.

Sunset Takisung

Sunset Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

Adzan Subuh membangunkanku. Sudah pagi. Selimut tebal dari pemilik tenda membuatku tidur lelap sekali. Setelah api unggun mini redup tadi malam, aku langsung tidur, tak terasa 7 jam sudah. Segar sekali rasanya. Untuk biaya sewa tenda dan selimut tebal serta bonus api unggun, aku dimintai Rp50 ribu.

Taksi Takisung menuju Banjar biasanya berangkat pukul 7. Hanya itulah jam keberangkatannya. Kalau ketinggalan, silakan naik ojeg yang itu berarti mahal! Taksi Takisung Banjar bertarif Rp20 ribu dengan lama perjalanan 2,5 jam.

Dari Pal 6, aku sewa ojeg menuju Kuin kembali untuk mendapatkan gambar, kemudian lanjut ke bandara untuk penerbangan pukul 2 siang. Biaya sewa ojegnya Rp45 ribu. Andai aku punya waktu, pasti bukan ojeg pilihanku.

Akhirnya, aku terduduk di ruang tunggu pesawat. Lion-ku belum nampak, padahal sudah pukul 2 lebih. Kutenggak kembali aqua 600 ml yang kubeli di luar tadi. Ah, segar….

Juni 25, 2009

Angkat Tanganmu untuk Indonesia

Diarsipkan di bawah: cerita, sosok, unik — Tag:, , , , , — sagoeleuser5 @ 6:15 am

IMG_0191Padahal sudah habis gelas kedua, tapi suara riuh belum keluar dari loud speaker itu. Sekelilingku sibuk tertawa dengan temannya masing-masing. Aku mau baca majalah yang kubawa dari rumah tapi lampu dalam ruangan itu remang-remang. Kata nenekku, tidak baik baca dalam keadaan remang-remang. Hmm…tertawa dan remang-remang, mirip Jakarta tampak depan ya?

Plaza fx Senayan memang selalu ramai. Kalau mau menutup mata sejenak dari bayangan buruknya kehidupan ibukota, fx bisa jadi alternatif. Tapi tidak untuk forum yang sedang kunantikan ini. Microsoft, Acer, dan Fresh si empunya acara justru ingin memberikan alternatif untuk membuka mata pemuda-pemuda di sekelilingku, melihat dan menyadari sepenuhnya keadaan lingkungan dengan usaha melebarkan senyum di sekeliling.

Social Entrepreneurship! Tiga jam ke depan, otakku akan dijejali dengan konsep-konsep social entrepreneurship. Grace, sang pembicara pertama lulusan Nanyang, bertutur social entrepreneurship adalah konsep yang tujuan utamanya bukan maximizing profit seperti konsep Kotler dalam bukunya yang dianut hampir seluruh mahasiswa dunia, termasuk Indonesia. Karena ada kata depan sosial, maka tujuan utamanya adalah pergerakan sosial, peka dengan darah-darah di lingkungannya, maximizing profit boleh, tapi kemudian profit itu untuk tujuan sosial. Bahkan, Grace menghalalkan creative capitalism yang digaungkan Bill Clinton. Mungkin si Grace ini belum tahu kalau orang Indonesia bisa melotot kalau ada yang bicara kapitalis-kapitalisan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan creative capitalism beda dengan capitalism biasa, yang ini tidak menumpukkan harta di satu puncak, karena yang ada di puncak-puncak itu selalu mengalirkan hartanya lagi ke piramida terbawah alias orang-orang miskin yang kata badan dunia berpenghasilan kurang dari dua dolar per hari. Apa jangan-jangan creative capitalism ini yang disebut-sebut ekonomi kerakyatan yang sebenarnya ya?

Contoh yang paling terkenal dalam aplikasi social entrepreneurship ada pada Muhammad Yunus. Pria hebat ini keliling ke salah satu kampung miskin di Bangladesh kemudian menemukan bahwa ada 42 wanita yang tidak punya modal untuk memulai atau melanjutkan usahanya. Untuk memodali mereka semua, ternyata hanya diperlukan 27 dolar saja! Maka dengan sigap Yunus mengumpulkan uang lalu menyalurkannya. Tidak lama kemudian, keempat puluh dua wanita itu sudah bisa mengembalikan uang Yunus sambil menyunggingkan senyumnya, mereka sudah mengaktifkan kembali usaha mereka. Dari situlah usaha Yunus semakin berkembang. Satu saat, dengan bangga ia mengangkat ke atas piala nobel yang didapatkannya karena langkah hebatnya itu.

Atau kisah sepasang manusia yang dengan kemampuan IT yang baik dalam membantu orang-orang di Afrika. Ia membuat kiva.org untuk menghubungkan peminjam dengan calon orang yang akan dibantunya di Afrika sana. Lewat video dan gambar yang mudah diakses, calon peminjam dapat dengan mudah memilih orang mana yang akan dibantunya.

Pada akhir presentasinya, Grace meyakinkan kami semua bahwa semua bisa ikut dalam gerakan sosial dengan bakat yang dimilikinya asalkan mau aksi langsung dan punya jiwa yang senang melihat kepingan orang yang dibantu tersenyum lalu mengoleksi kepingan-kepingan itu sebanyak-banyaknya.

Next, pembicara kedua, bloger hebat yang dipilih Microsoft untuk mendapatkan Microsoft blogership. Aku kenal gadis mungil itu. Anandita Puspitasari, kakak kelasku yang hebat. Stok semangatnya untuk beraksi offline sepertinya tidak pernah habis. Tulisan-tulisannya banyak menggugah. Aku sudah lama berlangganan blognya, nonadita.com.

Cerita multipoint yang diceritakannya sudah pernah kubaca di blognya. Gambaran ringkasnya, setiap murid dalam satu kelas dapat menggerakkan kursor dalam satu layar besar di depan kelas untuk mempelajari suatu hal yang sedang diajarkan gurunya. Satu layar banyak mouse. Misalnya sang guru sedang mengajarkan nama-nama benua di dunia, maka dia minta murid-muridnya berebut cepat dalam memindahkan kotak-kotak kecil bertuliskan nama-nama benua ke gambar peta dunia dalam layar dengan cara mengklik mouse masing-masing. Mungkin karena banyak kursor yang akan terlihat di layar maka dinamakanlah multipoint.

Adanya multipoint ini karena kegundahan Microsoft melihat data perbandingan jumlah computer dengan murid sekolah, di Jawa 1:900, artinya 1 komputer untuk 900 siswa. Luar Jawa pasti punya angka yang lebih besar. Dengan multipoint ini, hanya dibutuhkan 1 komputer untuk 1 kelas. Memang belum menyelesaikan masalah yang 1:900 tadi, tapi paling tidak ada satu gerakan yang sangat aplikatif untuk sekolah yang kurang mampu membeli banyak computer. Dengar-dengar, software untuk multipoint ini gratisan loh.

Lepas Dita, ada seorang penggiat UNICEF yang mengajak kita semua untuk lebih peduli dengan anak kecil. Ia meminta kami semua untuk membantu UNICEF dalam pergerakannya, kalau tidak bisa dengan uang ya dengan tenaga atau skill yang dimiliki. Ia bercerita tentang parahnya angka kematian balita di Indonesia karena banyak hal, termasuk imunisasi yang cupu.

Suasana jauh lebih meriah ketika Pandji Pragiwaksono, pembawa acara reality show “Kena Deh” itu loh, muncul di panggung. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: Angkat Tanganmu untuk Indonesia. Rupanya itu adalah lirik lagu rap ciamik buatannya. Harmonisasi lirik dan music semakin membuai penonton dan ikut larut mengangkat tangannya untuk Indonesia sambil sedikit ikut berdendang. Lirik dan musiknya sungguh membuat seratus kepala dalam ruangan remang itu terbius. Angkat Tanganmu untuk Indonesia…!

Mei 25, 2009

Dokter Alam di Simpang Mentjos

Diarsipkan di bawah: cerita, jalan-jalan, kuliner, unik — Tag:, , , — sagoeleuser5 @ 4:19 am

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

Mei 20, 2009

Earth from Above

Diarsipkan di bawah: cerita, unik — Tag:, — sagoeleuser5 @ 7:27 am

earth from above

Ada sebuah program cantik di Metro TV, judulnya Earth Above Us. Kalau tidak salah ditayangkan setiap hari Sabtu pukul 8 malam. Kemudian ditayangkan ulang beberapa kali dalam jangka waktu seminggu. Di dalamnya diceritakan betapa jahatnya manusia yang selama ini mengeksploitasi alam dengan membabi buta, tanpa peduli apa yang dirasakan alam yang sebetulnya secara tidak langsung akan mengancam manusia juga.

Di salah satu tayangannya, program ini bercerita tentang ketergantungan petani India terhadap produk-produk kimia (pupuk, pestisida, dsb) dari perusahaan-perusahaan raksasa. Karena semakin tingginya harga produk-produk tersebut, banyak petani yang dikejar-kejar hutang. Para pemilik toko menagihnya setiap saat. Tidak kuat dengan keadaan itu, banyak petani yang bunuh diri. Tercatat ada sekitar 25 ribu petani India yang bunuh diri karena malu dikejar pemilik toko.

Melihat kenyataan tersebut, ada seorang revolusioner (saya lupa namanya) yang berkeliling ke petani-petani India untuk mengajak kembali ke pertanian natural, atau di Indonesia disebut-sebut sebagai pertanian organic. Tokoh ini memasukkan doktrin bahwa menggunakan bahan-bahan kimia itu memang meningkatkan produktivitas tapi sekaligus membeli racun untuk dirinya sendiri.

Bisa dikatakan, doktrinasinya berhasil, banyak petani yang kembali ke pertanian organic. Tiba-tiba si tokoh ini mendapat tuntutan dari perusahaan-perusahaan besar yang menjual produk-produk kimia tadi. Sang perusahaan besar mengatakan bahwa si tokoh India ini tidak mendukung ketahanan pangan dunia bla bla bla. Padahal, semua orang tahu bahwa itu hanya kedok karena penjualan produknya berkurang di India. Entah bagaimana akhir dari cerita si tokoh ini, saya lupa.

Di akhir program, dikatakan bahwa mereka (tim pembuat program itu) telah melepaskan 64 ton karbondioksida dalam membuat programnya (penggunaan helicopter, pesawat, dsb). Jumlah itu sama dengan jumlah pelepasan karbondioksida oleh 7 orang Perancis dalam setahun. Karena itu, mereka merasa telah merusak alam. Maka mereka menyumbangkan sejumlah uang kepada sebuah LSM yang bergerak dalam program konversi bahan bakar dari kayu menjadi biogas dari kotoran hewan.

Saya perjelas sedikit. Jadi ada di satu sudut di bumi ini yang masyarakatnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kemudian ada LSM yang mencoba mengubah kebiasaan itu karena akan mereduksi jumlah tanaman yang ada di bumi yang itu berarti mengurangi penyerapan karbondioksida. LSM ini memberikan alat masak yang berbahan bakar panas matahari. Entah bagaimana mekanismenya, yang jelas kayu yang ditebang akan berkurang, itu tujuannya. Nah, si program Earth Above Us ini menjadi salah satu penyumbang dana dalam menggerakkan LSM ini. Hebat, kan!

Mei 6, 2009

Backpacker Indonesia Copot Semua Identitas

Diarsipkan di bawah: cerita, jalan-jalan, unik — Tag:, — sagoeleuser5 @ 7:51 am

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca satu buku yang sangat inspiratif, judulnya 5 cm. Setelah menutup halaman terakhir buku itu, adrenalin saya seakan meningkat. Tiba-tiba ada energy yang besar, siap untuk melakukan dua hal. Pertama, mencintai bangsa ini sebesar-besarnya. Kedua, menjelajahi Indonesia seluas-luasnya.

Untuk hal menjelajahi Indonesia, terkadang banyak kendala yang menghadang. Ketika ada keinginan dan teman jalan, uangnya tidak ada. Ketika ada uang dan teman jalan, waktunya tidak ada. Atau yang paling sering, ketika ada keinginan, waktu, dan uang, sayangnya tidak ada teman jalannya. Sehingga mau tidak mau perjalanan ditunda karena kalaupun dipaksa jalan sendirian, bisa jadi akan berisiko tinggi (mis: naik gunung), kurang seru, atau akan banyak menghabiskan uang akibat trip tidak efisien.

Kabar baiknya, keluh kesah itu sudah dapat dinetralisir dengan adanya komunitas Backpacker Indonesia (BI). Saya masuk komunitas ini sejak Februari 2009 kemarin. Saya ikuti aktivitasnya di facebook. Ramai diperbincangkan cerita-cerita trip, bagaimana membuat sebuah trip yang hebat sekaligus murah, dan tips dan trik dalam melakukan trip.

Padat sekali aktivitas yang ada di grup ini. Topic di Discussion Board(DB)-nya pun sangat aktif. Ternyata ada semacam semi-kepengurusan yang sudah dibentuk dalam komunitas ini. Awal komunitas ini terbentuk adalah dari seorang mahasiswi Bandung bernama Ilma Dityanngrum. Ia membuat satu trip perdana awal 2009 kemarin ke Pulau Sempu, Bromo, Pananjakan, dsk. Semua persiapan tetek bengek dibahas di DB. Komplit! Mulai dari jadwal trip, rincian prediksi biaya yang akan dikeluarkan, sampai barang-barang apa yang harus dibawa.

Sebagian besar yang aktif di DB ini belum pernah kenal sebelumnya. Sama sekali belum pernah bertatap muka. Semua komunikasi bermula dari DB dan tidak ada komunikasi langsung. Ketika pendaftaran trip ditutup, mereka yang ikut mulai berkomunikasi via HP masing-masing. Mereka berkumpul di tempat yang sudah disepakati (trip pertama kumpul di Malang). Anggota yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya berkumpul di Malang. Mereka berkenalan lalu menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari. Setelah selesai, mereka membuat semacam kepengurusan kecil. Ilma sebagai inisiator awal diberi jabatan Bu Lurah. Kemudian setiap cabang daerah punya ketua RW nya masing-masing (ada RW Jakarta, RW Bandung, dsb). Dari situlah, grup ini mulai melakukan pergerakan yang lebih besar.

Beberapa trip lagi dibuka kemudian. Ada trip yang dibuka untuk menjelajahi 5 negara hanya dengan 5 juta rupiah. Yang membuat saya tertarik adalah trip ke Kepulauan Seribu. Adhit yang membuka trip ini. Ia dengan lugas memberitahukan tujuan-tujuannya, kemudian rincian costnya (mulai dari ongkos perahu sampai sewa penginapan), dan juga detail waktunya per jam. Untuk yang berminat, bisa kirim uang Rp 50 ribu untuk DP sewa penginapan, sewa kapal, dsb.

Pagi itu, pukul 7 pagi di pom bensin Muara Angke, sekitar 30 orang sudah berkumpul dan siap berangkat. Sesuai jadwal yang diberikan Adhit, kapal berangkat pukul 7 pagi. Kapalnya sangat sederhana, lebih mirip kapal ikan (ya iyalah, kalo kapal pesiar bukan backpacker namanya), tapi tidak ada yang mempermasalahkannya, perjalanan tetap seru.

Singkat cerita, kami diajak snorkeling di beberapa tempat, jalan-jalan ke beberapa pulau, melihat taman nasional, dsb. Untuk itu semua, saya cuma keluar tidak lebih dari 200 ribu, tidak jauh dari prediksi yang Adhit paparkan. Sangat lain ceritanya kalau trip dilakukan sendiri, karena untuk penginapan dan sewa kapal akan jauh lebih murah kalau beramai-ramai.

Sebagian besar (sekitar 70%) yang ikut adalah mahasiswa, ada yang dari UI, IPB, UGM, ITB, Unpad, UNJ, dsb. Sebagian lagi sudah kerja, sebagai konsultan, PNS, jurnalis, banker, perpajakan, dsb. Di balik itu pasti masih banyak keragaman lain, perbedaan suku, agama, cara pandang, ideology, pergaulan, dsb. Tapi kami melepas semua itu, demi satu hobi yang sama, hobi menjelajahi sudut-sudut indah di bumi ini.

Sepulangnya dari trip itu, saya membawa oleh-oleh pengalaman, foto-foto hebat, dan sekian banyak kenalan baru. Komunikasi tetap dilanjutkan lewat facebook.

BI punya satu acara besar demi langkah yang lebih besar, yaitu Gathering pertama BI (tentunya ada jalan-jalannya donk), akan dilaksanakan di Bandung, 30-31 Mei ini. Bagi yang berminat silakan join grup BACKPACKER INDONESIA, lalu baca DB-nya untuk gimana-gimananya.

Salam ransel !

April 27, 2009

Uhuiiyy…=p

Diarsipkan di bawah: cerita — sagoeleuser5 @ 10:11 am

Di kantor tempat saya bekerja, karyawannya terbiasa untuk jadi anak jalanan, pergi ke sana ke mari mencari sesuap berita. Tentunya banyak intrik yang terjadi di setiap tulisan yang ditelurkan. Walaupun banyak juga yang biasa-biasa saja, alias kurang menantang, hehe. Setiap karakter orang, karakter tempat, karakter perusahaan punya keunikan yang sering dibicarakan di meja redaksi. Satu cerita berikut adalah salah satu yang cukup membuat suasana kantor panen polusi suara.

Begini ceritanya. Kami ingin mengangkat jatuh bangunnya industri hulu dan hilir komoditas karet di Indonesia. Di akhir pertemuan, kami bagi-bagi tugas. Teman saya ini, sebutlah Gepe, ditugaskan meliput ke salah satu perusahaan kondom dengan brand Artika di Bandung.

Dengan sigapnya beberapa hari kemudian dia tunggangi motornya, berangkat ke Bandung. Di sepanjang jalan, karena belum paham benar jalanan di Bandung, Gepe bertanya ke dua orang yang berbeda. Pertama, dia bertanya ke tukang bengkel di pinggir jalan. Posisi bengkel itu tepat di depan kios kecil. “Mas, tau pabrik kondom gak?” Dengan cepat si tukang bengkel teriak ke kios di seberangnya, “Woooy, ada yang mau beli kondom nih…” Gepe pun panic, runtuh sudah harga dirinya. Mukanya seperti dicoreng arang hitam yang legam. Sadar masih bisa memungut sisa-sisa harga dirinya, Gepe langsung mengklarifikasi, “Bukan…bukan…saya mau wawancara!” Gepe langsung melanjutkan perjalanannya tanpa melihat ke belakang lagi, malu euy…hihiii.

Kedua kalinya, dia bertanya ke seorang Satpam, “Pak, tau pabrik kondom gak?” Sang satpam tanpa malu-malu langsung cekikikan. Satpam satu itu langsung menanyakan ke satpam kawannya. Satpam kedua menunjukkan arah, tentunya dengan sumringahnya yang tak lekang. Mungkin dalam hatinya, “Dasar anak muda, nyari kondom sampai ke pabriknya, emang yang di warung gak cukup apa?”

Huhhh…letih berkendara, Gepe akhirnya menemukan pabrik kondom yang dimaksud. Sebelum masuk, dia makan dulu di tempat makan dekat pabrik. Sambil makan, sayup-sayup namun pasti, Gepe menyimak pembicaraan orang di dekatnya. Orang itu menggunakan bahasa Jawa. Karena mengalir darah Jawa Tulen di kapilernya, Gepe langsung sok akrab, “Dari Jawa ya mas?” Sang mas-mas menjawab, “Oh, bukan, saya dari Cirebon,” sambil senyum-senyum gak jelas, trus mas-mas itu ikutan sok akrab, “Mau ke mana mas?” Gepe menjawab, “Ke pabrik kondom di depan situ,” sambil menunjuk kea rah pabrik Dengan polosnya si mas-mas bertanya, “Mau apa? Ambil barang ya?” Ahahaha…Dengan kekinya, Gepe langsung angkat kaki melanjutkan tugas sucinya.

Singkat cerita, sesampainya di kantor, kami menagih oleh-oleh dari Bandung. Dengan sigap Gepe langsung mengeluarkan ber pak-pak kondom. Ahahaaa. Berhubung kami semua masih single, sampai hari ini kondom itu masih tergeletak di meja kantor. Ada yang mau??? =p

April 17, 2009

Gapui; Prototipe Pedalaman Aceh

Diarsipkan di bawah: cerita, indie cult, jalan-jalan, unik — Tag:, , , , — sagoeleuser5 @ 6:30 am

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Sigli, sebuah kota yang bisa dikatakan besar di NAD. Kehidupan Sigli sudah cukup modern. Akses informasi hampir sama dengan di Jakarta. Hampir semua rumah sudah memiliki TV walaupun tidak bisa mengakses semua stasiun TV seperti di Jakarta. Radio dan Koran hampir sama nasibnya. Warung internet sudah banyak, walaupun tidak sebanyak Jakarta dan penggunanya juga masih belum banyak. Garis besarnya, dari segi aliran informasi, Sigli sudah layak dikatakan kawasan perkotaan. Lansekap Sigli juga mendukung pernyataan tersebut. Banyak rumah, banyak pedagang, dan sedikit sawah.

Tapi, itu ya Sigli, berbeda jauh keadaannya dengan Gapui, tetangga Sigli. Padahal jarak Gapui-Sigli hanya 3 km. Namun dengan cepat kita bisa menghakimi bahwa Sigli adalah kota dan Gapui adalah kampung.

Tidak ada angkutan umum yang bisa mengakses Gapui kecuali RBT, atau dalam bahasa Jakarta-nya ojeg. Entah siapa yang menamakan ojeg itu RBT. Setiap saya tanya ke teman yang berdarah Aceh, tidak ada yang tahu apa kepanjangannya. Mereka hanya menyebut RBT. Aneh. Ada yang memelesetkan menjadi Rakyat Banting Tulang. Haha. Tentu saja bukan itu kepanjangannya.

Sepanjang jalan, tidak ada pemandangan lain kecuali sawah dan hutan. Jalan akses Sigli-Gapui hanya selebar 3 meter. Masalah besar ketika dua mobil dari arah berlawanan berpapasan. Namun itu jarang terjadi karena tidak banyak penduduk Gapui yang memiliki mobil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Mulai memasuki Gapui, terlihat rumah-rumah tinggi, rumah panggung. Dulu, rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari keganasan hewan-hewan buas, tapi sekarang rumah itu hanya sebagai adat atau budaya yang terus-menerus diturunkan dengan jumlah yang semakin berkurang karena ada anggapan bahwa rumah panggung adalah kampungan. Terselip beberapa rumah yang bukan panggung, sudah beton dan sudah memiliki pagar dari besi.

Ada yang unik dari rumah panggung di Gapui ini. Bahan dasarnya diambil dari batang kayu nangka. Penduduk meyakini bahwa kayu nangka adalah kayu yang paling kuat. Mereka menyambung batang demi batang sehingga terbentuklah sebuah rumah. Yang paling mencengangkan adalah, mereka menyambung dengan tanpa menggunakan paku sama sekali. Namun demikian, tidak pernah ada cerita rumah panggung Aceh rubuh. Sekalipun tidak pernah! Semuanya dibuat oleh arsitek alami tanpa gelar sarjana.

Tinggi rumah panggung bermacam-macam, kalau diambil rata-rata, mungkin 1,5-3 meter. Di bawah rumah panggung itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai rumah bagi ternaknya, atau ada juga yang menggunakan sebagai ruang tamu, bahkan untuk keduanya sekaligus. Artinya betul-betul tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi yang dekat dengan hewan ternak (biasanya kambing) yang diikat.

Memang, mata pencarian sebagian besar penduduk adalah beternak dan bertani. Maka merupakan hal biasa kalau di sepanjang jalan dan di setiap rumah akan terlihat ternak. Nah, ini juga unik. Paman saya yang dulu sempat menghabiskan masa kecilnya di Gapui bercerita, karena kebanyakan penduduk adalah petani, maka kesibukan warga hanyalah ketika masa tanam dan masa penen. Di waktu sela antara itu, warga menghabiskan waktu dengan bermain adu kerbau dan adu orang. Adu orang dalam arti yang sebenarnya! Kalau di olahraga, mungkin gambaran yang paling mendekati adalah gulat. Dua lawan satu. Yang dua tidak boleh menggunakan tangan (tidak boleh menonjok, memukul, menggampar, menampar, mencubit, dsb) sedangkan yang satu bebas memakai apa saja. Inilah hiburan yang paling menghibur bagi masyarakat. Entah masih ada atau tidak kebiasaan tersebut.

Waktu itu, saya berjalan-jalan ke Gapui dalam rangka silaturahim dengan keluarga. Definisi keluarga bagi orang kampung sangat luas dan sangat jauh. Mereka bisa mengatakan satu kampung (setara Kelurahan) itu adalah saudara semua. Kenyataannya bisa jadi demikian, karena banyak pernikahan dilakukan antara sesama warga kampung kemudian menetap di kampung itu juga, dan seterusnya. Nenek saya yang besar di Gapui selalu mengatakan, dia adalah saudara, orang yang di rumah tinggi itu saudara semua, bapak-bapak yang sedang berjalan itu saudara juga, dan seterusnya.

Kami singgah di rumah saudara yang saya juga tidak tahu bagaimana hubungannya sampai bisa dikatakan saudara. Di rumah itu saya bertemu seorang nenek, anak dan menantunya, serta cucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Semuanya terpesona melihat si balita karena betul-betul menggemaskan. Ketika ditanya siapa namanya, kedua orang tuanya menyahut dengan santai, belum ada. Belum ada! Satu setengah tahun, kawan!

Mampir di rumah kedua, lagi-lagi nenek mengatakan ini rumah saudara dan lagi-lagi saya tidak peduli hubungan saudara macam apa antara saya dan dia, sudah terlalu banyak yang dijejalkan sebagai saudara ke tempurung ini hari itu. Kebetulan, ada anak kecil lagi, kali ini lebih kecil, umurnya belum genap satu tahun. Seperti di awal, sang Ibu belum membubuhkan nama untuk si anak. Malah sang ibu minta tolong untuk dicarikan nama. Seorang kerabat dari sang Ibu nyeletuk, “Ah, nama itu nanti saja, kalau memang sudah diperlukan, misalnya mau masuk sekolah, baru dipikirkan.” Wah, bisa stress ini orang dinas kependudukan. Di aturan yang ada, maksimal melaporkan kelahiran (dengan sudah ada nama) selambat-lambatnya 6 bulan setelah kelahiran, kalau tidak maka akan ada sanksi kurungan atau denda. Mungkin ini jawaban kenapa DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk Pemilu tidak pernah beres di negeri ini.

Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah saudara yang kekerabatannya paling dekat (menurut Nenek). Di rumah panggung itu, kami disuguhi makanan yang pastinya sudah disiapkan sejak tadi pagi. Mendengar akan datang saudara jauh, maka si kerabat ini mempersiapkan makanan semaksimal yang bisa dibuatnya. Ya begitulah budaya orang kampung ketika menerima tamu. Di sela-sela makan, Nenek nyeletuk, “Eeeh Ibal mau air kelapa ya…” Dengan sigap, si empunya rumah langsung turun, memetik kelapa, lalu memecahkannya. Lima menit kemudian, kelapa yang sangat segar itu sudah tersaji di hadapan. Alami! Sangat alami!

Budaya kapitalis dan imperialis, baik yang lama, neo, atau apalah itu, sama sekali tidak terasa di Gapui. Yang ada adalah budaya hormat-menghormati, budaya gotong-royong, dan budaya memuliakan tamu. Sepertinya terbalik kalau orang kota mengatakan, “Ah, dasar kampungan!” Mungkin lebih tepat kalau orang kampung yang mencaci, “Dasar orang kota!”

Maret 31, 2009

Cot Seurani: Cerminan Demokrasi yang Sesunguhnya

Diarsipkan di bawah: cerita, politik, unik — Tag:, , , , — sagoeleuser5 @ 11:03 am

Beberapa orang sedang berdiskusi di Meunasah

Beberapa orang sedang berdiskusi di Meunasah

Setelah Maghrib usai, sayup-sayup terdengar pengumuman dalam Bahasa Aceh yang kurang lebih artinya, ”Ayo, warga kampong Cot Seurani (sebuah desa kecil di kecamatan kecil Krueng Mane, NAD), kumpul di Meunasah (semacam Mushala) setelah Isya, ada yang penting untuk dibicarakan.”

Waktu berjalan. Isya baru saja lewat. Suara itu terdengar lagi, tapi lebih keras dan tegas, masih dalam Bahasa Aceh, yang kalau diterjemahkan menjadi, ”Hai warga kampong, ini sudah lewat Isya. Cepat kumpul!”

Sekitar 30 menit kemudian, berkumpullah sekitar 50 orang laki-laki yang mewakili keluarganya di Meunasah. Teuku Imum* angkat bicara. Kalau di-translate lalu dirangkum dalam Bahasa Indonesia menjadi, ”Akhir-akhir ini, orang yang datang ke masjid semakin berkurang. Sekarang saja yang datang Cuma sekitar 50, seharusnya 200 (ada sekitar 200 KK di desa Cot Seurani). Kekuatan islam ada di jama’ah sekalian. Kalau kita tidak bersatu, apa lagi yang bisa diandalkan dalam islam? Untuk itu saya minta saudara sekalian untuk lebih aktif lagi ke masjid. Kita harus bersatu. Islam harus bersatu.” Sebetulnya pidato tersebut lebih panjang dan lebih menyentuh lagi, saya potong karena akan panjang sekali.

Setelah Teuku Imum bicara, ia mempersilahkan Geuchik** untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Geuchik ambil posisi. “Yang penting-penting semua sudah disampaikan oleh Teuku Imum tadi. Yang saya sampaikan hanya melanjutkan amanah. Ada instruksi dari pemerintah untuk kita sama-sama menjalankan ronda setiap malam sampai pemilu usai. Kita tidak usah membantah, kerjakan saja. Sekarang yang kita sepakati, siapa yang akan dilibatkan dalam ronda?” Seseorang memberikan usul untuk laki-laki yang sudah Baligh. Kemudian ada warga yang membantah, “Sulit untuk yang masih sekolah. Kasihan mereka.” Terus menerus pendapat mengalir deras dari warga. Dengan bijak, Geuchik ambil alih, merangkum semua usulan, “Baik, jadi yang ikut ronda adalah pria umur 20-50, tapi kalau ada yang di bawah 20 namun tidak sekolah maka dia wajib ikut. Pengaturan selanjutnya tentang pembagian tugas akan digodok oleh tetua 4 dan tetua 8 (semacam DPR dan MPR dalam desa itu). Selanjutnya saya buka agenda dan lain-lain, ada yang ingin dibahas?”

Salah seorang warga mengacungkan jarinya lalu mulai bicara, “Ternak sapi yang suka dilepas entah punya siapa itu suka mengganggu rumah saya (banyak penduduk Aceh yang mempunyai ternak, Aceh terkenal dengan lumbung sapi). Tanaman habis dimakannya. Apa saya boleh tangkap ternak itu lalu saya potong?!!”

Dengan tenang, Geuchik memimpin forum itu untuk membahas kasus ini. Forum sepakat membuat hukum desa untuk masalah ini. Kembali banyak warga yang mengacungkan tangannya lalu mengajukan pendapatnya. Geuchik dengan hormat menampung semua pendapat warga, kemudian membuat kesimpulan lagi, “Kalau ada warga yang merasa dirugikan akibat sapi yang dilepas, maka warga tersebut boleh menangkap lalu mengikatnya di depan rumah. Tunggu sampai pemilik sapi datang. Ada juru hitung yang akan saya tunjuk untuk menghitung kerugian warga yang dirugikan lalu akan dimintakan pada pemilik sapi. Kalau tidak datang, pemilik sapi dikenakan 100 ribu/hari. Sampai angkanya setara dengan harga sapi, maka sapi boleh menjadi milik warga yang dirugikan.”

Selesai membuat kesimpulan, ada yang nyeletuk, “Kalau kambing bagaimana?” Geuchik langsung menjawab, “Akan sama persis dengan hukum sapi yang kita buat tadi.” Ada warga yang masih belum puas, “Kalau ayam atau bebek?” Warga yang lain tergelak dengan pertanyaan tersebut. Geuchik dengan sabar menjawab, “Tentunya itu akan beda kasusnya. Kalau sudah ada warga yang mengeluh tentang ayam dan bebek baru akan kita bahas kemudian bagaimana hukumnya.”

Seorang lagi warga yang masih belum puas, “Kalau warga yang dimakan pekarangannya itu mengikat sapi lalu sapinya mati, tanggung jawab siapa?” Dengan mimic yang sama sekali tidak meremehkan pertanyaan tersebut, Geuchik menjawab, “Sesungguhnya hidup dan mati itu sudah digariskan. Itu sudah ditulis di sana. Hewan ternak pun demikian, sudah ada garisnya. Tidak akan melenceng dari garis yang dibuat oleh pemilik alam ini. Jadi, kalau memang ternak itu mati, maka memang dia seharusnya mati. Bukan menjadi tanggung jawab yang mengikatnya. Namun demikian, kita tidak boleh membuat hal-hal yang dengan sengaja membuat hewan ternak itu mati.”

Dua jam sudah berlalu. Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, maka pertemuan itu ditutup. Warga kembali ke rumahnya masing-masing, tanpa membawa besek. Jangankan besek, segelas air mineral pun tidak ada. Sangat berbeda jauh dengan keadaannya di Jakarta. Pengurus masjid di Jakarta mempunyai aturan wajib yang tidak tertulis bahwa warga yang diundang oleh pengurus masjid harus diberi “bekal” ketika pulang. Tidak jarang, hal itu malah membuat tujuan berubah.

*****

Cerita di atas betul-betul terjadi ketika saya sedang tinggal di rumah nenek di Krueng Mane, sebuah desa kecil di pesisir timur Nangroe Aceh Darussalam. Desa yang tidak mengenal macet. Desa tanpa polusi. Desa dengan penduduknya yang ramah. Desa yang sarat akan gotong royong. Desa dengan aturan islam yang masih dipeluk erat.

Rapat seperti ini sering dilakukan pemimpin-pemimpin di sana untuk membahas sesuatu yang perlu dibahas bersama. Bayangkan, dengan pengumuman yang sangat mendadak, bahkan diiringi nada bicara yang ketus sekalipun, pemerintahan desa Cot Seurani mampu mengumpulkan warganya dalam sekejap. Warga pun tidak merasa dirugikan karena mereka tahu itu untuk kepentingan bersama.

Dalam satu pertemuan, dengan tegas pemimpin agama menasihati warganya. Warga tidak merasa dipojokkan sama sekali. Nasihat itu seperti nasihat ayah kepada anaknya, demi kebaikan si anak. Nasihatnya tegas, tidak mengawang-awang, tidak bertele-tele, namun sangat membekas di hati warga.

Di pertemuan itu juga dibahas keamanan lingkungan, bahkan sempat membuat beberapa hukum yang menghadirkan kata sepakat dari semua warga.

Walaupun punya dua pemimpin sekaligus, tapi tidak ada konflik sedikitpun antar pemimpin itu. Mereka saling mengisi dan saling menghormati. Saya tahu, sebetulnya inti dari pertemuan itu adalah sosialisasi ronda, tapi Geuchik dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada Teuku Imum, ia mengatakan bahwa yang penting adalah mengedepankan agama, ronda hanya masalah sepele.

Mimpi besar kita bersama untuk membuat Indonesia secara agregat memiliki jiwa demokrasi yang betul-betul sesuai dengan makna demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

*Teuku Imum: pemimpin agama dalam sebuah desa. Ada dua pemimpin dalam satu desa di Aceh, keduanya selalu berjalan beriringan.

**Geuchik: pemimpin dalam garis pemerintahan, setara Kepala Desa.

Maret 30, 2009

Partai Hijau Belum Bergegas

Diarsipkan di bawah: politik — Tag:, — sagoeleuser5 @ 4:45 am

Hijau. Identik dengan pohon, alam, dan uang. Kenyataannya memang alam ini sangat dekat dengan uang. Anda mengerti kan maksud saya…?

Satu ketika saya berbincang dengan seorang yang sangat senior di bidang lingkungan hidup, sebutlah namanya Pak B. Puluhan tahun dia hidup dan meneliti alam. Katanya, alam itu sangat dekat dengan politik. Statement yang paling mengejutkan adalah bahwa segala masalah, segala perang, segala pertikaian, yang ada di muka bumi ini akibat memperebutkan alam. Pihak yang bertikai memperebutkan alam ingin mengeksploitasinya demi kemakmuran golongannya. Tokoh ini menyebutkan satu demi satu contoh pertikaian besar, kemudian ia menyambungkannya dengan perebutan alam, entah itu emas, minyak, hutan, dan sebagainya. Intinya konflik yang terjadi karena perebutan alam.

Ada sebagian yang sadar dengan hal ini sedangkan sebagian besar yang lain tidak melek atau tidak mau melek. Sebagian dari yang sadar memutuskan untuk mengambil langkah konkret, membela alam. Banyak cara yang dilakukan, salah satunya bergabung dengan lembaga yang mempunyai tujuan membela alam.

Semakin banyak yang sadar kemudian semakin banyak yang berkecimpung langsung mengabdi. Selanjutnya, pemikiran bahwa perjuangan hanya dilakukan lewat lembaga saja tidaklah cukup. Perlu orang pro lingkungan yang menyisip ke dalam pengambil keputusan yang namanya pemerintah itu. Mereka berjuang dalam satu partai yang disebut sebagai Partai Hijau.

Di Jerman, pertama kalinya partai hijau muncul langsung bisa menarik hati 14% pemilih, angka yang sangat besar untuk partai baru. Menurut Pak B, partai mereka memang baru terbentuk tapi perjuangan mereka sudah lama, sudah sangat mengakar di masyarakat. Maka ketika partai hijau dengan orang-orang yang sudah mengakar ini muncul, masyarakat sudah familiar dan tidak ragu untuk mendukung partai hijau.

Bagaimana dengan di Indonesia? menurut Pak B, sudah banyak aktivis lingkungan yang menyusup ke partai, hanya saja, bukan ke satu partai. Mereka menyebar. Akibatnya, masyarakat menilainya bukan merupakan satu kekuatan yang kokoh. Atau kemungkinan kedua, para aktivis lingkungan ini belum sepenuhnya mengakar ke masyarakat.

Ada sebuah partai di Indonesia yang mengaku sebagai partai hijau. Partai ini cukup besar, sudah ada sejak pemilu 2004. Namun, menurut Pak B, mereka belum mengerti banyak tentang lingkungan hidup. Ketika ditanya, bagaimana nasib lingkungan Indonesia kemudian? Pak B menjawab, akan semakin buruk karena belum banyak yang sungguh-sungguh membela alam. Sebagian besar dari pengambil keputusan bukan tidak mau membela alam, tapi mereka tidak tahu keputusan-keputusannya ternyata berakibat buruk ke alam.

Sulit saya simpulkan, harus dimulai dari mana perubahan itu karena banyak hal yang ternyata belum masyarakat tahu tentang perlakuannya secara tidak sengaja justru merusak alam.

Maret 23, 2009

Sembako Murah; Lebih Cepat, Lebih Baik; Lanjutkan !

Diarsipkan di bawah: cerita — Tag:, , — sagoeleuser5 @ 3:29 am

Kenapa bermain yoyo? Kenapa harus mengomentari orang yang bermain yoyo? Kenapa sampai 38? Kenapa merasa dirinya paling bersih? Kenapa harus saling silang?

Padahal, kalau M dan timnya betul-betul bisa memberikan sembako murah (walaupun ini masih kontroversi), kemudian K bisa membuatnya lebih cepat dan lebih baik (ini juga masih kontroversi), lalu S bisa melanjutkan prestasinya (lagi-lagi ini juga kontroversi), maka semua (semoga) akan berjalan ideal seperti yang digaungkan akhir-akhir ini.

Mungkin, ini cuma mungkin loh, karena sifat ke-Aku-an yang sudah luar biasa tinggi di negeri ini. Aku sudah membuktikan prestasi yang baik. Aku yakin, aku bisa bekerja lebih baik dari prestasinya. Aku merasa mereka belum pro rakyat. Aku merasa, akulah yang paling bersih. Semua serba Aku, aku, dan aku. Belum ada yang berani berbesar hati mengatakan, kamu memang hebat, seperti yang sudah terjadi di negeri kulit putih sana yang dipimpin oleh kulit hitam.

Saya rasa, kita terlalu banyak mengeluarkan energy di ke-Aku-an itu, tidak efisien, seperti mesin dua tak yang sudah lama dilarang di Jakarta, kota yang efisien itu.

Ahhh, sudahlah… Perutku sudah lapar.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.