Menapaki Ciwidey dan Gambung

Dalam peta Jawa Barat, ada kumpulan warna merah di sebelah Selatan kota Bandung. Menandakan daerah tersebut punya angka ketinggian yang paling besar. Salah satunya sudah tidak asing di telinga, Ciwidey. Dari terminal Leuwi Panjang ke Ciwidey ada dua alternatif angkutan umum, colt dan bus. Waktu itu Aku naik colt karena katanya lebih cepat, biayanya 6 ribu. Kalau lancar cuma 1 jam, kalau macet dan ngetem bisa sampai 2 jam.

Hal pertama yang terpatri dalam benakku tentang Ciwidey adalah strawberry. Memang banyak sekali perkebunan strawberry di kanan kiri jalan besar, jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Tidak sulit menemukan kebun strawberry yang di dekatnya sering tertulis “Petik Sendiri”.

Ciwidey terkenal dengan Situ Patenggang dan Kawah Putihnya. Situ Patenggang adalah nama sebuah danau eksotis yang menurutku punya kesan mistis yang dalam. Situ artinya danau sedangkan Patenggang berasal dari kata pateangan-teangan (bahasa Sunda) yang artinya saling mencari-cari. Ceritanya, dulu di seputaran danau ini ada pasangan yang saling mencari kemudian dipertemukan di sebuah batu yang kemudian terkenal dengan sebutan batu cinta, terletak di tengah-tengah danau.

Batu cinta. Dok: Iqbal

Kawah putih tidak kalah serunya. Aura mistis masih pekat menyeruak, tapi kesan damai lebih dalam lagi. Asap hasil metabolit kawah putih menyelimuti seluruh pelosok kawah, pagi, siang, malam, tanpa henti. Disebut kawah putih karena memang warna kawah yang putih dicampur sedikit warna biru, mungkin itu warna yang keluar ketika intensitas belerang jauh di atas ambang normal.

Kawah putih. Dok: Iqbal

Junghuhn adalah orang yang selalu dilibatkan dalam sejarah kawah putih. Setahuku dia adalah pengusaha Belanda yang punya andil besar dalam perkebunan Kina di Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Apa hubungannya ya dia dengan kawah putih?

Maaf Aku tidak bisa memberikan banyak info detail tentang perjalanan menuju kedua tempat dahsyat tersebut, karena waktu Aku dengan rombongan Backpacker Indonesia ke sana, kami menyewa angkot dari Bandung dengan rute: Bandung-Kawah Putih-Situ Patenggang-Bandung, per anak bayar 50 ribu. Jadi kalau tidak lebih dari 10 orang akan lebih mahal dari itu dan Aku tidak tahu berapa.

Dari terminal Ciwidey Aku menuju Gambung. Ada misi khusus: menuju perpustakaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk menggali sejarah dari perpustakaannya dalam rangka pembuatan bukuku tentang sejarah Teh di Indonesia. Jalan menuju Gambung agak banyak rusaknya walaupun masih wajar tapi cukup mengganggu. Menggunakan angkot memakan waktu setengah sampai satu jam dengan ongkos 4 ribu, sampailah di pos 1. Butuh naik ojeg untuk sampai ke kantor PPTK, jaraknya sekitar 1,5 km. Tahu ongkos ojeg nya berapa? Seribu perak saja! Kalau di Jakarta, bisa tiga sampai sepuluh ribu. Seribu perak itu memang harganya segitu. Kok bisa ya?

Udaranya dingin sekali. Seingatku, mirip ketika Aku menginap di Cemoro Lawang, Tengger. Memang masih bisa kalau tidak memakai jaket, tapi jauh lebih nyaman dengan jaket. PPTK dikelilingi banyak sekali pohon cemara, mirip rumah Edward Cullen dalam film Twilight, sunyi, damai. Semakin sore semakin riang serangga menggesek-gesekkan kakinya, sepertinya mereka berlomba-lomba mencuri perhatian seisi hutan.

Ya, hutan. Jauh lebih mirip hutan daripada pusat penelitian. Kalau diteruskan, jalan tersebut akan tembus menuju Pangalengan, tapi harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya hutan yang dikelola Perhutani.

Perpus tutup pukul 4 sore, Aku beranjak menuju Wisma milik PPTK. Di dalamnya ada sekitar 6 kamar yang dapat menampung 14 orang. Dua kamar di antaranya punya fasilitas air panas di dalam kamar mandi dalamnya. Dua kamar ini yang paling eksklusif. Yang pertama punya 1 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil. Harganya kalau tidak salah ingat 180 ribu. Kamar kedua punya 3 tempat tidur kecil, harganya 160 ribu. Waktu itu, Aku memakai kamar 2. Selain biaya kamar, Aku memesan makan malam dan sarapan, jadi menambah 30 ribu lagi.

Kalau mau menyewa seluruh wisma yang ada 6 kamar tersebut, biayanya 1,5 juta, itu sudah termasuk makan pagi untuk 30 orang. Walaupun Cuma ada 14 kasur di dalam kamar, tapi ruang tengahnya sangat luas. Begitu pula terasnya. Luas. Langsung menghadap ke hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sepertinya ruang tengah bisa menampung sampai 50 orang. Perapian menambah cantik ruang tengah. Kalau mau booking, hubungi Aku untuk nomor HP penjaga wismanya.

Pukul Sembilan malam sudah memaksaku berselimut, semakin larut semakin dingin. Walaupun saat itu (Januari 2010) sedang musim hujan, tapi bukan karena itu. Menurut penduduk sekitar, kawasan Gambung memang selalu dingin.

Rasanya menyenangkan kalau punya vila di daerah ini. Harga tanah di jalan utama seputaran Gambung ini sekitar 1 juta untuk satu tumbak. Orang sini biasa memakai ukuran tumbak untuk ukuran tanah. Satu tumbak sekitar 14 meter persegi. Jadi satu meternya sekitar 70 ribu saja! Kalau di jalan kecil/pelosok lebih murah lagi, 300 ribu satu tumbak atau 21 ribu per meter!

Esok paginya, merupakan perjuangan berat untuk berjalan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Udara super dingin, lantai lebih-lebih lagi. Untung ada air panas. Walau tidak mengantuk lagi, selimut tetap kutarik, mata tetap kupaksa terpejam, tak sanggup Aku melawan dinginnya pagi itu. Rencana berkeliling kebun teh tidak pernah kuintip lagi.

Pukul tujuh pagi udara sudah cukup bisa ditoleransi. Aku keluar menuju pabrik pengolahan daun teh, sekitar 100 meter saja dar wisma. Satu bungkus kecil teh yang ada di pasaran saja kalau dibuka bungkusnya bisa kuhirup aromanya berkali-kali saking nikmatnya. Bagaimana kalau tehnya sebanyak satu pabrik?! Luar biasa. Aromanya betul-betul menenangkan. Aroma daun teh bisa jadi keajaiban dunia kedelapan. Kewalahan mendapatkan nikmatnya aroma ini. Seperti anak kecil yang diberikan sekolam permen. Kewalahan.

Masih mengeksplorasi perpus PPTK. Sepertinya perpus jarang sekali dikunjungi, selama dua hari itu, sayalah pengunjung satu-satunya. Sesekali masuk karyawan hanya untuk membaca Koran. Padahal, buku-buku di dalamnya banyak yang tidak pernah Aku temui sebelumnya. Perlu diketahui, Aku sudah banyak sekali datang ke bermacam perpustakaan hanya untuk mencari literatur tentang dunia per-teh-an, buku yang ditemukan itu-itu saja. Berbeda sekali dengan Gambung. Banyak buku teh yang kutemukan bersampul keras dan kertasnya sudah berwarna cokelat, menggambarkankan umurnya. Sayangnya, semua buku bagus itu berbahasa Belanda, jadi sama saja, hehe. Aku hanya melihat-lihat gambarnya. Cukup menarik industri teh pada zaman Belanda dulu.

Ada beberapa buku ingin Aku photocopy. Namun di kantor PPTK tidak ada satupun mesin photocopy. Aku harus turun ke arah Ciwidey, menempuh belasan kilometer hanya untuk photocopy! Bisa dibayangkan betapa terpencilnya Gambung.

Gambung bagiku bukan tempat yang efektif untuk bekerja tapi sangat efektif untuk menenangkan diri, menyatu dengan alam, alam Gambung.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

1 thought on “Menapaki Ciwidey dan Gambung”

  1. Hallo Iqbal,
    Wah terimakasih tentang info nya di PPTK Gambung.
    kebetulan saya sedang akan penelitian mengenai teh di PPTK Gambung.
    Sepertinya ngirim sampel sehari waktunya mepet kalau harus balik ke Kampus Bogor hari itu juga.
    Boleh saya minta no HP penjaga wisma PPTK ?

    Terimakasih banyak.

    Yogha-IPB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s