15
Sep
15

Rumah Makan Ma’Uneh: Bermula dari Lotek

Menu di Rumah makan Ma'Uneh

Menu di Rumah makan Ma’Uneh

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer pada 2010

Mampir ke Bandung tak lengkap rasanya kalau belum mencicipi masakan sunda. Sayur mayur identik dengan kuliner sunda. Lalapan selalu tersedia di meja. Mungkin kebiasaan ini yang menyebabkan masyarakat sunda mempunyai kulit yang bersinar dan terlihat terawat. Restoran sunda bertebaran di Bandung, salah satu yang cukup dikenal adalah Rumah Makan Ma’Uneh. Pada awal berdirinya, yaitu tahun 1953, Ma’Uneh mendirikan warung kecil di Jalan Terasana, Bandung. Hanya lotek yang dijualnya ketika itu. Setengah abad lebih sudah berlalu. Menu yang ditawarkan hampir mencapai 100 jenis. Tapi tetap dengan ciri khas dapur sunda.

Agak sulit mencapainya kalau baru pertama kali ke tempat ini. Pertama, kita harus mencari jalan Terasana di sepanjang jalan Pajajaran. Tempatnya melewati gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan pengendara motor. Bagi yang membawa mobil, silakan parkir di jalan Pajajaran karena tidak ada ruang parkir mobil di RM ini. Lagipula, tidak ada jalan yang bisa dilalui mobil.

Hal pertama yang AO tanyakan kepada Empat F Ilyas, pengelola RM Ma’Uneh yang merupakan cucu dari Ma’Uneh, adalah tentang tempat yang sulit diakses. Empat menjawab dengan tegas bahwa itu tidak masalah baginya, terbukti dengan jumlah pengunjung yang semakin hari semakin banyak. “Banyak menteri dan artis yang suka makan di sini. Mungkin mereka kaget di awalnya saja. Harus masuk ke gang-gang kecil. Tapi setelah itu, mereka kembali dan kembali lagi,” semangat Empat.

Kesan elegan yang pertama kali terlintas ketika memasuki RM ini. Foto Ma’Uneh dipajang sebagai bukti kebanggaan cucu-cucunya terhadapnya. Ada beberapa ruangan untuk makan. Ada pula ruangan ber-AC. Tidak ada syarat khusus harus membeli berapa banyak untuk makan di ruang ber-AC ini, semua bisa masuk.

Menu di Rumah Makan Ma'Uneh

Menu di Rumah Makan Ma’Uneh

Jika dijumlahkan, RM ini bisa menampung 150 orang. Pengunjung setiap harinya sekitar 75 orang. Kalau hari libur bisa berlipa dua kali. Banyak pengunjung yang setelah makan membungkus lagi untuk keluarga atau kerabatnya. Untuk melayani itu semua, Empat memiliki 20 orang karyawan untuk di Terasana saja.

Tempat itu sengaja dipertahankan karena di situlah awal mula Ma’Uneh membuka usahanya. Kemudian diteruskan oleh anak laki-lakinya yang bungsu. Empat adalah satu dari delapan anak dari laki-laki tersebut alias cucu dari Ma’Uneh.

“Tiga hal yang selalu dijaga dari tempat makan ini adalah kekonsistenan rasa, kebersihan, dan pelayanan,” tutur Empat. Dengan begitu, pelan tapi pasti, usaha pasti berkembang. Terbukti sampai saat ini, RM Ma’Uneh sudah membuka dua cabang, di Jalan Pajajaran dan Jalan Setiabudi. Akses untuk menuju ke kedua cabang ini relative lebih mudah daripada pusatnya di Terasana.

Jadi, sudah ada tiga tempat yang berlogo RM Ma’Uneh. Semuanya dikelola oleh saudara-saudara dari Empat. Tidak menutup kemungkinan cabang tersebut akan bertambah lagi, tidak hanya di Bandung, mungkin ke kota lain.

Melihat kemajuan dari RM Ma’Uneh ini, beberapa tempat makan, mulai dari lokal sampai makanan asing mencoba untuk mengajaknya bergabung. Tapi semuanya ditolak Empat. “Bukannya kami tidak mau, tapi takutnya ketika kita sudah bergabung, citra khas Sunda kita hilang.

Semua Turun Dapur

Walaupun statusnya adalah pemilik RM, tapi Empat beserta saudara-saudaranya sudah terbiasa untuk menjadi pekerja. Bukan karena kurang mampu untuk membayar karyawan, tapi untuk menjaga kualitas pelayanan.

Di sela-sela wawancara, Empat sempat beberapa kali menegur karyawannya yang melakukan kesalahan seperti tidak hati-hati dalam mebawa piring, atau hal-hal kecil yang lain. Ini bukti dari kekonsistenan dalam menjaga pelayanan.

Setengah Matang

Stok makanan yang ada di dapur Ma’Uneh berupa makanan setengah matang. Ketika pengunjung memesan, makanan langsung dihangatkan. Beberapa menit kemudian, makanan siap disantap. Ini merupakan salah satu kelebihan RM Ma’Uneh. Pengunjung tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan makanan hangat.

Ada hampir 100 jenis makanan yang bisa dicicipi di sini. Bermacam jenis tumis, pepes, cobek, dan leunca ada di sini. Ada juga ikan gurame goreng, ikan kerapu balado, acar ikan tenggiri, udang windu goreng. Makanan khas dari restoran khas sunda ini adalah Haremis, yaitu semacam kerang air tawar kecil yang dimasak bumbu kuning. Yang paling dicari di tempat ini, menurut Empat, adalah jeroan, babat, dan harmis.

Soto Bandung pasti ada di sini. Begitu juga dengan karedok dan buntil. Sambal untuk setiap makanan berbeda-beda. Ada sambal mangga muda yang khusus untuk menemani ikan dan udang goreng.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk seporsi udang windu yang berisi tiga buah udang besar dihargai Rp62.500. Gurame gorang yang cocok untuk dimakan oleh tiga orang dihargai Rp52.500. Daging Guramenya sangat tebal, soal rasa tidak perlu diragukan lagi. Soto Bandung dibandrol Rp20.000 sedangkan Karedok Rp8.750. Satu mangkuk kecil harmis berharga Rp10.500. Bermacam-macam jus ditaksir Rp12.500.

Setiap harinya, RM Ma’Uneh buka pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore. Tempat makan ini buka setiap hari kecuali hari Jumat. Ini jam buka untuk cabang di Terasana. Untuk cabang di Setiabudi, buka pukul 11 siang sampai pukul 7 malam. Sedangkan cabang Pajajaran hanya buka di malam hari. Walaupun dikelola oleh saudara-saudara sendiri, manajemen untuk tiap cabang berbeda-beda, selain dari jam buka yang beragam, menu yang ditawarkan juga sedikit berbeda. Harmis, udang windu, dan bawal putih tidak ada di RM Ma’Uneh Pajajaran, hanya ada di Terasana. Dapur mereka berbeda. Tapi mereka tetap bersaudara.


0 Responses to “Rumah Makan Ma’Uneh: Bermula dari Lotek”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2015
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: