By Iqbal

Mulai 29 Juli 2010, Aku memulai liputan terpanjang (3 minggu) yang pernah kulakoni sebagai penulis. Kali ini proyek dari PTPN VII. Direksi ingin dibuatkan satu buku yang menceritakan pergolakan mereka dalam membangun SDM. Biasanya Dirut BUMN ingin capaian labanya yang dielu-elukan, tapi Dirut PTPN VII berani mengorbankan laba ketika zamannya memimpin demi berinvestasi untuk 25 tahun ke depan, walau itu tidak akan dinikmatinya. Replanting besar-besaran dan menyatukan semangat perubahan adalah dua hal besar yang jarang dilakoni BUMN. Intinya: Bal, gw mau lu cerita perubahan perusahaan gw ini, jgn tutupin sisi jeleknya, angkat semua!

Awalnya, Aku cukup gelagapan dengan banyaknya informasi yang kudapatkan. RJP, Annual Report, Agro 7 (media internal), bermacam berkas, semua Aku pelajari. Informasi 5 tahun ke belakang dan 3 tahun ke depan coba Aku lahap. Sepertinya otak ini sudah luber, tidak mampu lagi menyerap info sebanyak itu bertubi-tubi. Kadang-kadang, tidak tahu kenapa, Aku ingin berlari. Sekedar berlari sampai tenagaku habis, lalu kembali lagi ke penginapan. Atau terkadang Aku ingin mendaki bukit kecil yang ada tepat di pinggir jalan kota. Sekedar mendaki sampai puncak, lalu kembali menulis lagi. Tapi keduanya belum sempat terealisasikan karena Aku tidak bawa sepatu kets =p.

Untungnya, perusahaan memberiku Hotel Grand Anugerah. Yaaah, tidak berlebihanlah kalau Aku bilang ini termasuk hotel papan atas. Satu malam Rp420 ribu (sampai sekarang Aku tidak tahu itu kamar standar atau superior). Kalau tidak ada proyek ini, mana mungkin Aku mampu menginap di sii, walau cuma sehari. Tapi kali ini, Aku menginap 2 minggu! WiFi lancar, HBO dan BBC Knowledge lancar. Kalau mau makan tinggal telepon room service, 10 menit kemudian pintu kamar sudah diketuk. Ada Mini Bar yang menyediakan bermacam rupa snack dan minuman, dari yang halal sampai yang haram. Mau cuci baju tinggal telepon laundry. Setiap hari kamar tidur dan kamar mandiku ada yang membersihkan. Kalau agak suntuk, Aku bisa buka jendela yang langsung menyuguhkan perbukitan Lampung. FYI, Bandar Lampung dikelilingi banyak bukit indah. Kamarku di lantai 5. Cocok sekali! Semua fasilitas tersebut sangat membantu meningkatkan produktivitas kerjaku.

Hampir setiap hari (termasuk weekend!!!), Aku mewawancarai bermacam orang dari berbagai bidang: SDM, Tumbuhan, Humas, Kemitraan, manajer Unit Usaha, Kepala Tanaman, bermacam Sinder, Serikat Pekerja, pekerja pabrik, pekerja kebun, tokoh masyarakat, dll. Terkadang mereka punya cerita yang mungkin belum pernah mereka ceritakan sebelumnya. Sampai sekarang, Aku masih berpikir, apa itu harus Aku tulis? Kalau Aku tulis tentu itu bernilai cerita yang menarik pembaca, tapi akan menguak hal tabu yang mungkin akan menimbulkan konflik di internal pekerja dan juga antara perusahaan dan dunia luar.

Kalau sedang tidak ada wawancara, Aku membuat transkrip hasil wawancara. Hampir tidak pernah Aku keluar hotel. Hanya satu kali Aku keluar, untuk mencari masjid, sekedar untuk membaca Al-Quran. Karenaaa… di mushola hotel tidak ada Quran, Aku telepon House Keeping juga mereka tak punya. Jadi dalam satu gedung hotel ini tidak ada satupun Quran! Yang ada adalah Injil, di setiap kamar.

Di minggu ketiga, Aku berjalan jauh sampai ke Bengkulu dan Palembang. Ini bagian terseru karena Aku jadi punya kesempatan jalan-jalan. Mungkin lain kali Aku akan bertutur tentang serunya menyusuri Pantai Barat dari Lampung sampai Bengkulu, atau serunya berada di atas Benteng pinggir pantai kota Bengkulu, atau serunya berjalan kaki dan bertukar pikiran dengan warga Gunung Dempo sambil menyeruput kopi yang berasal dari kebun sendiri.

Ada hal-hal besar lain yang Aku dapatkan selain serunya perjalanan. Aku mendapat kesempatan satu tim dalam penulisan dengan wartawan senior Tempo yang juga menjadi pendiri Kontan. Di situ, Aku belajar banyak sekali hal detail tentang “bagaimana menjadi wartawan yang baik”. Aku melihatnya langsung melakukan investigasi. Pertanyaan-pertanyaan darinya sangat mendetail dan tajam. Ketika Aku hanya bertanya seberapa sejahtera petani di satu daerah, dia bertanya sampai seberapa besar rumahnya, seberapa banyak ternaknya, seberapa luas tanahnya, seberapa banyak rekening tabungannya, dan seberapa banyak istrinya =p.

Juga, Aku bertemu dengan para manajer, kepala tanaman, sinder, atau mandor yang luar biasa hebat. Mereka bisa menjadikan ratusan anak buahnya yang tadinya sangat bengal menjadi pengikut yang sangat loyal. Aku belajar banyak hal tentang manajemen SDM. Belajar dari orang lapangan yang ahli langsung! Luar biasa pembelajaran kali ini. Aku sangat bersukur diberikan kesempatan ini.

Tiga minggu sudah Aku bekerja, pagi-siang-malam-tengah malam. Hampir tidak ada waktu untuk jalan-jalan. sangat fokus pada pekerjaan dan pembelajaran. Kemarin pesawatku sudah dipesan, sore ini dari Palembang. Pagi ini, 19 Agustus 2010, jenuh sekali rasanya. Makin dekat pemberangkatan makin jenuh. Mirip dengan orang yang kebelet buang air, makin dekat WC makin kebelet dia.

I miss Jakarta damn much! Aku rindu bubur kanji buatan mama =)


2 Responses to “Tiga Minggu untuk N7”


  1. 1 Lia Nuralia
    April 5, 2012 pukul 6:29 am

    Ass, Hallo, salam kenal. saya tertarik dg liputan anda tentang bangunan peninggalan Belanda di perkebunan. saya jg sedang menggeluti masalah itu, hampir mirip tp tdk sama. kalau boleh, bisakah sharing informasi tetang bangunan kuno tersebut? akan sangat senang apabila saya mendapat hard copy nya hasil liputan anda. saya tunggu kabarnya. Bisa kirim email ke liabalar@yahoo.com. terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




April 2017
S S R K J S M
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: