Panen Tempat Wisata dalam Satu Jalur

Kawasan dataran tinggi menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal, terutama dari kota besar seperti Jakarta. Puncak Bogor sempat berjaya dengan keunggulan tersebut, tapi makin lama orang jenuh dengan kondisi macet yang selalu menjadi momok menyebalkan. Ciwidey kemudian dilirik untuk menjadi alternatif Puncak Bogor, terutama setelah proyek Tol Cipularang tuntas.

Dahulu, Ciwidey dan strawberry menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Kalau ke Ciwidey ya petik strawberry. Namun, sebetulnya banyak tempat lain yang bisa dikunjungi sepanjang jalan dari Ciwidey sampai Situ Patengan, berikut akan dibahas satu per satu.

Kawah Putih

DarikotaBandung, perjalanan menuju Kawah Putih menempuh jarak 46 km atau 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kawah Putih adalah tempat wisata besar pertama yang ditemui sepanjang jalan dari Ciwidey ke Selatan. Kalau tempat wisata kecil seperti petik strawberry di belakang rumah, itu banyak terdapat di sepanjang jalan sebelum Kawah Putih.

kawah putih. Dok: tours88.blogspot.com

Letak pintu gerbangnya di sebelah kiri jalan. Dari pintu gerbang tersebut, perjalanan masih menanjak sekitar 6 km sampai menuju kawah yang sebetulnya tidak berwarna murni putih, tapi ada unsur biru dan hijaunya. Sepanjang jalan tersebut, pemandangan yang tersibak adalah hutan hujan tropis dan Eucalyptus. Berdiri di hamparan kawah berarti kita berdiri pada ketinggian 2.194 mdpl.

Tebing-tebing di sekitar kawah putih membuat suasana menjadi semakin syahdu. Air kawah yang tenang seakan mengajak mata untuk terus mengagumi keindahannya. Apalagi ketika kabut sudah mulai turun, rasanya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kita beranjak pulang.

Dulunya, dari pintu masuk sampai parkiran di atas, pengunjung dibebaskan masuk membawa kendaraannya. Namun, sejak 8 Mei 2010, setelah ditutup dua bulan untuk pemugaran, kendaraan sudah disortir untuk ke atas. Biayanya akan sangat mahal jika membawa kendaraan ke atas. Satu mobil dengan satu penumpang dikenakan biaya Rp165 ribu, tambah 15 ribu tiap penambahan 1 orang.

Sekarang, banyak yang bilang, Kawah Putih jauh lebih baik kondisinya daripada sebelum pemugaran. Juga, disuguhkan atraksi baru bagi pengunjung, yaitu Legenda Kawah Putih Domba Lukutan. Namun, banyak yang mengeluh karena biaya masuknya jadi berlipat sehingga sulit dijangkau. Paket termurah yang ditawarkan seharga Rp 25 ribu. Dengan paket tersebut, pengunjung mendapat karcis masuk dan fasilitas Ontang-Anting, yaitu alat transportasi yang akan mengantar pengunjung ke atas, menunggu pengunjung menikmati Kawah Putih, lalu mengantar kembali ke pintu masuk.Adayang bilang, memang harus seperti itu untuk membuat suatu kawasan wisata tetap terjaga keasriannya.

Emte

Entah kenapa diberi nama demikian. Ketika ditanya, apa Emte itu maksudnya Mario Teguh? Si pengelola cuma tertawa. Tempat wisata ini terbilang baru, belum banyak orang yang tahu. Baru sekitar awal 2010 Emte berdiri. Di dalamnya banyak sekali pilihan wisata. Kalau beberapa tempat wisata memfokuskan bisnisnya pada, pemetikan strawberry atau outbond atau pemandangan indah atau pemandian air panas, Emte hadir dengan semuanya itu. Memang, kualitasnya masih belum sebaik tepat wisata yang focus di satu wahana wisata.

Tempat ini cocok untuk keluarga, rombongan, juga perjalanan sendiri. Biaya masuknya Rp5 ribu, sudah termasuk kolam air hangat. Tapi kolamnya sangat biasa dan agak keruh. Adabeberapa saung besar dan kecil buat berkumpul atau berteduh. Flying fox yang melintasi kolam ikan (bukan kolam pemandian) berbayar Rp15 ribu. ATV ukuran besar Rp50 ribu per 3 lap, ukuran kecil Rp25 ribu per 3 lap. Petik strawberry sendiri dibandrol 30 rb/kg, tapi tidak harus memetik 1 kg. Satu Styrofoam itu setara dengan setengah kg, kita bahkan bisa petik kurang dari itu.

Di tengah-tengah tempat lokasi wisata Emte, terdapat kantin yang harganya lumayan bersaing. Nasi putih dengan ayam goreng special dihargai Rp10 ribu, sotobandungRp10 ribu, nasi goreng strawberry special Rp10 ribu. Yang membuat kantin lebih mempunyai daya saing adalah adanya saung-saung lesehan di seputaran kantin tersebut. Dari saung ini, hamparan pemandangan aktivitas wisatawan Emte bisa terlihat.

Ranca Upas

Ranca Upas. Dok: ayowisata.wordpress.com

Sejatinya, Ranca Upas adalah tempat wisata untuk berkemah. Beberapa orang bilang, kalau belum camping di Ranca Upas berarti belum ke Ciwidey. Pengelola sepertinya tidak mau ketiggalan dengan para tetangganya. Beberapa cottage kemudian dibangun. Pilihan aktivitas juga bertambah dengan adanya outbond. Satu paket outbond dengan 4 games yang salah satunya adalah flying fox, dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Harga ini tentu terbilang murah, terutama jika dibanding tempat wisata di Ciwidey yang menawarkan paket serupa.

Tiket masuk Ranca Upas adalah Rp5 ribu untuk weekdays dan Rp6.500 untuk weekend. Jika mau camping di dalamnya, maka pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.

CImanggu

Mata air panas yang ada di dalamnya berasal dari Gunung Patuha.

Rancabali

Tempat ini merupakan 1 dari 41 kebun milik PTPN VIII. Komoditas utama yang diusahakan adalah the. Seperti perkebunan the lain yang mempunyai lokasi strategis, Rancabali juga –oleh pengelolanya- digarap menjadi satu kawasan agrowisata. Kita bisa melakukan tea walk disana. Petik strawberry juga menjadi pilihan yang menarik.

Walini

Kebun Teh milik PTPN VIII yang ternyata punya kolam pemandian air panas.

Situ Patengan

Di tengahnya terdapat Pulau Asmara. Sebetulnya kurang tepat juga disebut pulau, karena letaknya yang tersambung dengan daratan pinggir Situ Patengan.

Di Balik Layar Penyusunan Buku Sejarah N8: Peliputan Kebun

Jumat terakhir di bulan Januari 2010 mungkin menjadi salah satu hari yang tidak terlupakan bagiku. Sore itu kontrak penulisan buku sejarah PTPN 8 bernilai 9 digit diteken. Mulai saat itu, setiap menit begitu berharga karena target yang diinginkan adalah penulisan dan peliputan selesai dalam 1 bulan! Padahal dalam proposal tertulis 3 bulan.

Empat puluh satu kebun milik N8 harus disambangi dan dicari “cerita”nya. Puluhan tetua kebun harus diwawancara. Lima saksi sejarah harus digali ingatannya sedalam mungkin. Bermacam buku dan artikel harus dibaca. Semua itu harus dikerjakan dan ditulis menjadi 110 halaman A4 dalam waktu 1 bulan!

Sabtu dan Minggu menjadi ajang bertukar pikiran bagi empat penulis yang ditunjuk. Semua konsep dan pandangan dijabarkan. Sukur, pondasi gagasan sudah kuat. Outline pertanyaan sudah tersusun rapi. Siap berangkat.

Hari senin, tanggal pertama di bulan Februari, kami berempat berangkat ke kantor N8 di Bandung. Ploting pembagian wilayah peliputan dilakukan. Waktu maksimal untuk menggarap semua kebun tersebut hanya 1 minggu. Aku mendapat wilayah Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Delapan kebun harus kueksplorasi, yaitu kebun Dayeuh Manggung, Cisaruni, Papandayan, Bunisari Lendra, Mira Mare, Bagjanegara, Batu Lawang, dan Cikupa. Tiga kebun pertama mengusahakan teh, selebihnya karet dan sedikit kakao.

Petualangan dimulai. Segala perlakuan dikondisikan untuk membuatku nyaman dan bisa fokus pada peliputan. Mess kebun yang kutiduri selalu nyaman dan punya stok teh walini yang cukup. Makanan tidak pernah kurang kuantitas dan kualitasnya. Aku jarang sekali menenteng tasku sendiri, ada petugas khusus yang ditugaskan untuk itu. Kehidupan bagai raja, jauh sekali dari aslinya. Agak risih juga menerima perlakuan setinggi ini. Aku merinding ketika di kebun Cikupa, pelayan yang bertugas melayaniku selalu duduk jongkok ketika Aku ajak bicara karena merasa dirinya jauh lebih rendah dariku, agh, seperti zaman feodal saja. Seorang pendamping peliputan diikutsertakan untuk membantuku. Apapun yang kuinginkan dalam rangka penggalian cerita diamini.

Sedikit cerita, di kebun Bunisari Lendra, Aku belum puas dengan nara sumber tetua yang diajukan pengelola kebun. Umurnya masih 60-an. Aku memaksa dengan halus untuk dicarikan nara sumber yang sudah 70-an. Mereka mencoba membujukku, tapi Aku tetap merasa tulisan masih kering tanpa nara sumber lain. Maka kemudian seorang staf diutus menjelajah kampung mencari tetua yang kumau. Saat kurasa cukup, baru perjalanan dilanjutkan.

Antara kebun satu ke kebun lain, Aku diberikan mobil lengkap dengan supirnya, biasanya Rocky atau Taft. Rata-rata perjalanan antarkebun 2 jam. Jaraknya mungkin dekat, tapi jalan menuju kebun itu tidak semulus tol Cipularang. Tidak jarang kutemui berkilo-kilo jalan berbatu.

Menuju dan dari Kebun Mira Mare, Aku melintasi pantai selatan. Sedikit hiburan mata di tengah riuhnya peliputan. Jalur selatan jalannya lebih kecil dan lebih berkelok dari jalur utara (pantura). Jalan lebih sepi dan lebih banyak pepohonan dan gunung yang tampak.

Waktu terasa kuhabiskan begitu efisien. Dalam 1 hari Aku bisa mengeksplorasi 2 kebun, itupun sudah menghitung waktu perjalanan. Aktivitas kumulai sejak matahari memberikan sinar untuk menerangi jalanku. Setelah menyeruput teh Walini, Aku keliling emplasemen dan pabrik. Kantor kebun buka pukul 7 pagi. Biasanya tetua sudah siap sebelum kantor buka.

Selama jadi wartawan Agro Observer, Aku biasanya menunggu nara sumber datang. Tapi selama peliputan kebun, aku yang sering ditunggu. Para tetua itu selalu datang in time. Keadaan paling ekstrim, saat di kebun Papandayan, Aku ditunggu sejak sore kemudian baru datang malam. Berjam-jam 2 tetua itu menungguku. Mereka selalu berdandan rapi seperti mau ke pesta pernikahan ketika bertemu denganku, seakan mau ketemu dengan orang besar. Pada umumnya, mereka memakai batik lengan panjang mengkilat. Aku tahu, itu adalah salah satu pakaian terbaik yang mereka miliki.

Beberapa kebun punya cerita menarik. Kebun teh Dayeuh Manggung letaknya di sekeliling gunung Cikuray. Saat membuka pintu mess, Cikuray langsung menyapa. Mengetahui mess yang nyaman dan punya banyak teh Walini itu diperuntukkan hanya untuk tamu N8 dan tamu penting, membuatku merasa sangat beruntung bisa mendiaminya walau cuma semalam. Pagi hari itu, Aku sempatkan berjalan ke pabrik teh ortodoks untuk mengumpulkan wewangian dari daun teh yang sedang dilayukan. Aku menarik napas maksimal sampai rongga dada dan perutku penuh untuk menikmati setiap kubik udara pelayuan.

Memasuki emplasemen Cisaruni, terlihat tugu Karel Frederick Holle. Ia pendiri perkebunan Waspada yang kemudian tersisa sebagiannya saja: Cisaruni. Karel adalah pembelajar tanpa henti, sejarawan terkemuka, sastrawan Sunda yang dikagumi, sekaligus pengusaha teh handal. Sambil menikmati teh Walini, Aku berpikir, “Garut berhutang banyak padanya.”

Dinamakan kebun Papandayan karena letaknya berdampingan dengan gunung Papandayan. Sayang Aku tidak sempat berkunjung ke kawah Papandayan, mungkin lain kali. Perjalanan menuju Papandayan kutempuh di sore menjelang malam hari. Jalan berkelok, tanpa lampu jalan, dan penuh dengan kabut.

Wawancara sesepuh Papandayan. Dok: Iqbal

Bunisare Lendra adalah kebun karet pertama yang kugarap. Banyak bungalow yang tersedia untuk disewakan. Seluruh bagian bungalow terbuat dari kayu dan bambu. Tepat di depan bungalow yang kutempati, terdapat mushola yang dibuat menjorok ke tengah-tengah kolam.

Mira Mare dulunya adalah hutan belantara. Banyak banteng liar di dalamnya. Sampai-sampai, pengelola kebun memanfaatkan fenomena itu dengan membuat “wisata banteng”. Setiap tamu yang datang ke kebun Mira Mare disuguhi wisata unik ini. Pada malam hari, mereka dibangunkan untuk kemudian menuju hutan. Mereka dibekali lampu sorot. Banteng merasa silau dengan lampu sorot sehingga banteng diam tak berkutik. Di saat itu, para wisatawan mulai menghitung banteng yang terpana tersebut. Dalam 1 gerombolan, biasanya terdapat 180 banteng. Namun sejak tahun 90-an, Banteng banyak enyah sehingga wisata banteng dibekukan.

Seluruh perjalanan kunikmati dengan maksimal apalagi selalu ditambah kesegaran teh Walini. Hobiku untuk berbicara dengan orang asing, mengenal budaya lain, mendengar cerita baru, dan bertualang kudapat dengan penuh. Semua wilayah garapanku berada di remote area. Benar kata Eross, “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia….” Semakin jauh dari habitat asalku, semakin dekat Aku dengan-Nya.

Perjalanan terasa melelahkan tapi sangat kunikmati. Seperti gamers yang diberikan games baru favoritnya. Suatu saat pasti merasa lelah lalu memutuskan berhenti sesaat untuk kemudian melanjutkannya lagi di waktu yang lain…=)