Jatiluhur dari Gunung Lembu

IMG20190630060734
Waduk Jatiluhur dilihat dari Gunung Lembu

Ini trip pertama saya dengan Backpacker Jakarta (BPJ). Padahal saya sudah jadi warga BPJ sejak dua tahun lalu, tepatnya di RT 5, tapi baru kali ini ikut tripnya BPJ. Padahal hampir tiap minggu BPJ bikin trip.

BPJ adalah komunitas yang sebetulnya bukan hanya beranggotakan anak Jakarta. Namanya saja yang ada Jakarta-nya. Wong founder nya saja bukan orang asli Jakarta, hehe. Aslinya sih ini komunitas buat yang suka jalan-jalan. Gitu saja.

Setiap trip yang dibuat BPJ, selalu ada contact person (CP), biasanya dua orang. Juga selalu ada keterangan berapa share cost nya (SC). Share cost itu, ya bagi-bagi beban biaya, atau gampangnya patungan. Misal biaya sewa aula atau sewa mobil, kan itu patungan.

Nah, SC ini akan selisih Rp20.000 antara member dengan bukan member. Saya, yang masuk warga RT 5, termasuk member. Kalau yang tidak masuk RT mana-mana, ya bukan member. Untuk trip ke Gunung Lembu ini, SC nya Rp98.297. Murah banget!

Itu sudah termasuk tiket kereta PP Jakarta – Purwakarta, kendaraan dari stasiun ke basecamp, izin simaksi, dan sewa aula. Yang belum, ya tinggal makan saja. Sama transport dari dan ke Stasiun Tanjung Priok.

Enak banget, karena selain murah, kita tidak repot. Tiket sudah diantrikan, dibelikan. Izin simaksi sudah diurusi. Base camp sudah disiapkan. Transportasi di Purwakarta juga disiapkan. Enak banget deh.

Meeting Point-nya di Stasiun Tanjung Priok, Sabtu 29 Juni 2019 jam 2.30 siang. Dibatasi maksimal 3.30. Walaupun saya tahu, akan naik kereta yang jam 4.15 sore.

#

Dari arah Ciledug, saya naik busway ke Tanjung Priok. Langsung ketemu sama CP trip ini, yang sudah megang tiket buat kita ambil. Namanya Sandy. Selain Sandy ada juga Retno yang jadi CP. Saya daftarnya lewat Retno. Sandy tunggu di semacam ruang tunggu di dalam stasiun. Siapa saja yang sudah sampai Tanjung Priok, langsung ambil tiket ke Sandy.

IMG20190629154151
Tiket Tj Priok – Purwakarta cuma enam ribu perak!

Di kereta, kita duduknya saling mencar, beda gerbong. Bisa jadi satu gerbong ada teman yang ikut trip ini juga, tapi kan belum saling kenal. Total peserta sekitar 40 orang. Tidak ada yang saya kenal satupun. Terus kan saya kenalan sama sebelah saya, eh ternyata dia ikut trip ini juga.

Sampai Stasiun Purwakarta, kumpul di depan stasiun. Sandy absen satu per satu peserta yang ada dalam list. Baru deh mulai kenal wajah-wajahnya yang ikut. Kayaknya saya termasuk yang sudah berumur. Rata-rata yang ikut itu sekitar umur 20-25. Di luar itu, ada, tapi tidak banyak.

Setelah absen, kita dikasih waktu bebas sekitar dua jam. “Nanti kumpul lagi setengah sepuluh (malam) di depan Alfa Midi,” kata Sandy. Peserta bebas, bisa makan, bisa lihat air mancur Sri Baduga, bisa sholat. Atur masing-masing. Yang penting waktunya kumpul, ya kumpul.

Saya sholat dulu. Tapi agak aneh mushola kecil dekat stasiun. Pintu pagar ditutup, terus orang yang lagi di teras mushola bilang, “Gak bisa, penuh!” Baru sekali saya mau sholat di mushola dilarang. Tapi memang sih terlihat puluhan tas bertumpuk di teras mushola, dan juga terlihat banyak orang sholat di dalamnya. Bisa jadi memang penuh. Jadinya saya sholat di dalam stasiun. Masuk lagi, permisi sama security-nya, kasih tunjuk tiket, numpang sholat. Boleh.

Seputaran Stasiun Purwakarta setiap malam minggu memang selalu penuh. Penuh orang dan tukang jualan, terutama jualan makanan minuman. Acara apa ini? Kenapa ramai sekali sampai susah jalan? Saya googling dapat sebuah artikel dari liputan 6, berjudul: Malam Minggu? Coba Wisata Kuliner di Tjeplak Purwakarta.

Dari artikel itu, saya bersimpulan, wah kayaknya yang disebut Tjeplak dalam artikel itu ya jalan yang saya lewati di seputaran Stasiun Purwakarta. Tidak jauh dari stasiun, ada Air Mancur Sri Baduga. Baru sadar, ternyata yang saya pernah lihat di TV air mancur bagus banget itu ya ini. Ya Sri baduga ini.

Walau pintu masuknya kecil, tapi orang tetap loh berebut masuk mau nonton. Di sekeliling air mancur, disediakan kursi dua saf. Kalau ke sini lagi, saya akan duduk di bagian depan, bukan bagian samping seperti sekarang. Dari depan, atraksi akan tampak lebih menyeluruh.

Air mancur mulai sekitar 20.15 dan selesai sekitar setengah jam kemudian. Memang bagus banget sih. Heran, kok atraksi keren gini bisa-bisanya gratis ya. Hebat deh pemerintah setempat. Air mancur menari-nari dibalur dengan pencahayaan yang berwarna-warni. Keren!

IMG20190629204743
Air mancur Sri Baduga, hiburan gratis di Purwakarta setiap malam minggu

Teman saya penasaran dengan sate maranggi. Saya ikuti saja. Dan ikut coba. Enak! Jadi kami makan berdua habis 10 tusuk sate Rp25.000 dan 3 nasi Rp15.000. Jadi total Rp40.000. Saya dibayarin sama peserta yang namanya Tony.

Sekitar jam 10 malam, setelah semua kumpul dan terabsen, kami mulai jalan ke arah jalan raya. Kurang tahu deh nama jalannya apa. Di situ sudah ada tiga buah pick-up buat antar kita ke base camp. Naik saja di bak belakang. Jarang-jarang kan naik di baknya pick-up. Yang berdiri ya berdiri, yang duduk ya duduk. Bebas saja.

IMG20190630113917
Mobil pick-up yang mengantar peserta dari Stasiun Purwakarta ke base camp, dan sebaliknya

Sampai base camp sudah jam 12 malam. Kami ditempatkan di aula yang lumayan luas, sebagian ditutupi karpet. Ya tidur di atas situ. Saya gelar sleeping bag, yang ternyata tidak dingin-dingin amat kok. Sebetulnya sarung saja cukup.

Base camp di sini enak, terutama karena ada warung yang buka 24 jam. Atau mungkin dia buka pas ada pendaki saja? Juga ada kamar mandi. Tapi harus sabar antri kalau pas pada kebelet.

#

Jam 3.30 pagi kami sudah mulai jalan, setelah sebelumnya kami saling berkenalan dan berdoa bersama. Track-nya sudah jelas. Jadi buat pendaki pemula, pas banget nih ke Gunung Lembu.

Kenapa disebut Gunung Lembu? Apa karena banyak lembunya? Bukan. Apa karena gunungnya mirip lembu? Bisa jadi. Saya juga belum tahu pasti kenapa.

Ada tiga pos yang akan dilewati. Kalau mendaki santai, bisa sampai dalam dua jam. Kalau agak cepat, satu jam juga sampai. Sandy sang CP naik hanya dengan sandal jepit. Saya tidak dengar dia ngos-ngosan. Dia baru resign gegara cuti 2 minggunya buat jalan-jalan ditolak. Memang betul-betul anak gunung!

IMG20190630074606
Warung di Pos 1

Sepanjang perjalanan ini, saya kenalan dengan beberapa orang. Ada yang baru pertama kali naik gunung. Ada yang sudah kesekian kalinya. Ada yang saya kira sudah lulus kuliah, taunya masih SMA. Ada yang baru jadi CPNS. Ada yang kerjanya di IT juga. Ada yang di grup WA ramai tapi pas ketemu diam saja. Ada yang ngojeg. Ada yang suka lari, sampai ikut marathon. Ada yang ternyata rumahnya dekat banget. Yah macam-macam lah ya karakter orang. Makin banyak kenal beda karakter, makin bagus sih ya.

Di beberapa tempat, saya temukan batu-batu besar. Seperti batu kali gitu, tapi sebesar kulkas. Ada yang sebesar traktor. Di tempat kita nunggu matahari terbit malah batunya lebih besar dari rumah. Jalannya relatif gampang. Ada beberapa track yang memang agak curam, tapi sudah ada talinya buat membantu turun naik.

Sebelum sampai, akan ditemukan beberapa kali turunan. Naik, turun lagi, naik lagi, turun lagi, naik lagi. Jadi seperti puncak tipuan gitu. Pada akhirnya sampai di tempat nongkrong di atas batu super besar. Apakah itu puncaknya? Entahlah.

IMG20190630055402
Pendaki Gunung Lembu memandangi Waduk Jatiluhur, menunggu matahari muncul

Yang jelas, dari situ pemandangannya bagus banget! Di bawah sana terlihat kemegahan Waduk Jatiluhur yang dikelilingi bukit-bukit. Ada bukit yang menjulang, ada yang landai. Di “pesisir” danau, banyak semacam keramba apung. Usaha warga lokal dalam memanfaatkan waduk.

Sayang, matahari baru terlihat sekitar setengah jam dari waktu terbitnya. Awan dan bukit-bukit di seputaran waduk menghalangi penampakan matahari. Tapi tetap dengan kesyahduan yang selalu dibawa matahari pagi.

Kembali ke base camp untuk bersiap pulang, rebutan kamar mandi lagi, naik pick-up lagi, naik kereta lagi, kembali ke Jakarta lagi.