Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019.

Saya ingin bicara pada persamaannya dulu, antara Sabang dulu dan sekarang. Sama-sama ada opsi kapal cepat dan kapal lambat untuk menyeberang dari Ulhee Leueu (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang).

Sama-sama aman. Dulu, saya ingat betul teman bercerita, biarkan saja kunci motor menggantung di motor. Tidak akan hilang. Kalau ada yang mengambil, tunggui saja di pelabuhan besoknya. Pada akhirnya akan ketemu. Sabang sekarang juga begitu. Bahkan mobil yang kami sewa juga dipesani sama yang punya, “Kalau mau pulang ke Banda, taruh saja mobil di parkiran Balohan (Pelabuhan di Sabang).” Lah terus kuncinya gimana? Taruh saja di dalam mobil. Tinggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci. Dan itu yang kami lakukan, sesuai instruksi.

Nah, sekarang perbedaannya, antara Sabang yang dulu dengan yang sekarang. Saya kaget betul dengan Pantai Iboih yang sekarang. Dulu, Iboih sepi, hanya ada satu dua turis asing yang berjemur di pinggir pantai, atau diving. Sekarang, wih, ramai sekali dengan wisatawan lokal. Kami malah sampai putar 3 kali saking sulitnya cari parkiran mobil.

IMG20190203184831
Pantai Iboih: tidak ada yang snorkelling

Dulu, saya cukup snorkelling di Pantai Iboihnya saja, tidak perlu sampai Pulau Rubiah. Itu ikan sudah banyak, karangnya bagus. Sekarang, tidak saya lihat ada yang snorkelling di Pantai Iboih. Semua pada ke Pulau Rubiah. Naik kapal motor nelayan berkapasitas sekitar 10 orang, dengan tarif Rp200.000.

Kirain tarif segitu sudah untuk snorkelling di beberapa spot. Rupanya hanya untuk nyeberang ke Rubiah, terus nanti dijemput lagi pulang ke Pulau Iboih. Nyeberangnya paling hanya 10 menit.

IMG20190203171417
Snorkelling di Rubiah

Udah gitu di Rubiah juga karang sudah banyak yang mati. Pengelola memberikan semacam border apung. Mungkin maksudnya batas boleh snorkelling hanya sampai situ. Namun memang ikan-ikannya masih banyak. Saya malah ketemu bintang laut berwarna biru dan ular laut berwarna abu-abu.

###

Saya cerita ringkas perjalanan saya yaa…

IMG20190204092249
Ulee Lheueu

Minggu 3 Februari 2019 jam 7 pagi sudah ada di Pelabuhan Ulhee Leueu, naik mobil yang kami rental dari Langsa. Masuk Ulhee Leueu yang parkiran kapal cepat. Parkirannya ada di semacam bangunan besar, seperti GOR. Karcis yang dikasih ke kami hanya secarik kertas bertuliskan tanggal masuk, plat nomor, dan keterangan “Lunas 1 malam”.

IMG20190204091722
Tiket parkir mobil di Ulhee Leueu

Masuk pelabuhan, menunggu kapal cepat yang direncanakan berangkat jam 8 pagi, tapi baru berangkat 8.15. Harga tiketnya Rp80.000 dan beinya harus pakai KTP.

Satu jam saja, sudah sampai. Langsung cari Bang Jal, orang lokal yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk disewa mobil dan homestay nya.

Langsung menuju homestay punya Bang Jal, di daerah Cot Ba’u, hampir ke Kota Sabang. Dari pelabuhan ke homestay paling hanya 15 menit.

Istirahat sebentar, langsung lanjut ke Pantai Sumur Tiga. Tadinya mau snorkelling di Sumur Tiga, tapi gak jadi, karena memang gak terlihat orang snorkelling. Mungkin karena panas ya, karena saat itu jam 11 siang.

IMG20190203101846
Pantai Sumur Tiga

Kami langsung tancap ke Goa Sarang. Kelihatannya ini destinasi baru yang dikembangkan penduduk lokal. Kita akan menuruni tangga yang lumayan bikin pegal. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Ada sewa kapal kalau mau kelilingnya pakai kapal. Kalau kami, jalan kaki, melompati bebatuan. Saya melihat banyak ikan sebesar batang korek api, yang bisa lompat dari batu ke batu. Ikan bisa lompat di daratan, hebat.

IMG20190203111549
Goa Sarang

Sampai sekarang saya masih bingung, mana sih yang disebut Goa Sarang? Yang ada adalah karang besar yang tengahnya bolong. Mungkin itu kali ya….

Lanjut ke Pantai Iboih, tapi penuh. Cari parkiran tidak dapat. Akhirnya ke Tugu Kilometer 0 dulu. Kirain sepi, ternyata ramai juga. Foto-foto tidak terlalu lama, turun lagi ke Iboih.

IMG20190203171444
Harga makanan di Sabang

Sewa enam set snorkeller untuk kami serombongan. Satu setnya Rp40.000. Tidak terlihat ada yang snorkelling di Iboih. Semua menyeberang ke Rubiah. Kami pun sewa kapal untuk menyeberang Rp200.000. Akan dikasih karcis yang di dalamnya ada nomor kapal beserta nomor HP pengendara kapalnya. Jadi nanti pas mau nyeberang pulang tinggal telepon.

Saya agak kecewa dengan karang di Rubiah yang sudah banyak mati. Walaupun masih banyak ikan yang terlihat. Sebegini rusak tapi Iboih tetap ramai dkunjungi.

Sekitar 2-3 jam setelah snorkelling, kami kembali ke Iboih. Memang, kapal-kapal itu harus sudah stop semua jam 6 sore, untuk warga lokal siap-siap sholat Maghrib. Kami agak ngaret sampai 6.30. Mandi, sholat, terus kembali ke Kota Sabang.

Besok paginya kami pulang ke Banda dengan kapal cepat pukul 8.00. Beli nasi guri dibungkus seharga Rp10.000 dan martabak telur seharga Rp5.000.

IMG20190204082015
Kapal Cepat Sabang – Banda Aceh Rp80.000
IMG20190203073104
Tket Kapal Cepat

Mungkin Sabang akan terlihat keren kalau kita berwisatanya ke spot snorkelling yang jarang orang datangi. Ya harus rada modal, karena sewa kapal itu sekitar setengah juta untuk setengah hari. Kita bebas mau ke beberapa spot snorkelling.

 

Beberapa gambaran tarif di Sabang:

Kapal cepat 1 Banda-Sabang Rp80.000

Sewa mobil Rp300.000/24 jam

Homestay Rp200.000/kamar

Sewa snorkeller + jaket apung + kaki katak Rp40.000

Tiket masuk Goa Sarang Rp5.000

 

Nomor penting: Bang Jal 085260555300 (rental mobil, homestay)