Kata Hevea*

Perkenalkan, saya Hevea brasiliensis. Nama yang keren, bukan? Nama belakang brasiliensis menegaskan bahwa saya dari Brazil, kecuali ada unsur politis di balik penemuan nenek moyang saya dulu. Kalau saya wanita, dengan nama begitu, maka saya digambarkan sebagai wanita yang anggun, yang berjilbab lebar, menggunakan manset sampai ujung lengan supaya tidak ada celah terlihat aurat, tidak banyak tertawa, tidak bicara yang tidak manfaat, selalu merendahkan suara, dan kalau ada yang lucu, dia cuma tersenyum manis. Pokoknya anggun deh.

Tapi rupanya tidak seindah itu. Karena saya tinggal di Sunda, jadinya saya dipanggil Pea! Dengan e bebek, bukan e perut. Dan penekanan di huruf p. Hey pea! Hepea gimana kabarnya? Haduh, gak enak didengar… Lebih gak enak lagi, karena saya tinggal di samping kuburan.

Katanya, ini kuburan sakti. Banyak yang datang malam-malam minta macam-macam sama kuburan. Loh saya bingung, minta kok sama kuburan. Minta ya sama Allah. Bangun sepertiga malam yang akhir, doa deh. Mana mereka kadang suka semalaman lagi. Kalau mau buang air, nyarinya pohon. Haduh! Kena deh gue.

Perasaan saya sebal sendiri melihat orang-orang bodoh begini. Kuburan dimintain. Laut dikasih makan. Gunung juga. Katanya dalam rangka wujud kesyukuran. Ngapain coba? Itu kan malah jadi mubazir makanannya. Kalau mau bersyukur ya sama Allah. Sedekah ya sama orang miskin, bukan sama gunung. Laut dan gunung itu makanannya bukan nasi dan sayuran. Mereka punya cara makan dan cara bertasbih yang berbeda. Saya juga, cuma kamu saja yang gak tahu cara saya bertasbih.

Saya ini perasa loh, bukan sekedar seonggok kayu. Kamu kenal saudara saya si pohon kurma? Duluuuu sekali, empat belas abad yang lalu, nenek moyang saudara saya itu menangis karena Nabi sudah mendapat mimbar baru. Dia sedih karena tidak lagi dijadikan tempat Nabi khotbah. Nabi kemudian datang mengusapnya sampai ia berhenti menangis (Ibnu Majah 1414).

Kami ini hidup dan bisa bicara, tapi ada waktunya. Ketika perang besar muslim vs yahudi nanti, semua golongan kami akan menjadi spy-nya muslim. Kami dan bebatuan akan memberitahu pasukan muslim kalau-kalau ada yahudi yang ngumpet di balik tubuh kami, kecuali pohon Ghorqod. Dia akan diam, tidak membantu muslim, karena dia tergolong pohon yahudi (Muslim 2922). Makanya Israel seneng banget nanam Ghorqod.

Nih yah, manusia, saya mau cerita kehidupan saya sehari-hari, supaya kalian juga ikhlas menjalani hidup. Saya ini ya, dilukai terus, minimal dua kali seminggu. Kalau majikan lagi butuh duit, malah saya dilukai tiap hari. Digores-gores pakai pisau sadap. Jangan salah, pisau sadap itu lebih tajam dari pisau ibu-ibu di dapur. Mereka ambil air mata saya, katanya sih, bisa jadi duit. Saya ikhlas saja menjalani sunnatullah, memang dasarnya tumbuhan dan hewan ditundukkan buat manusia.

Malahan, terkadang saya diolesi dengan cairan atau gas perangsang yang namanya etilen. Itu memaksa saya untuk menangis sampai delapan kali lebih lama. Makin lama saya nangis, makin banyak air mata saya, makin senang manusia.

Selama pertumbuhan, tangan saya sering dipotong, sebagai pembenaran iklan salah satu produk susu: tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. Rambut saya dikepang paksa. Semua itu dilakukan supaya saya bisa menangis lebih lama, supaya manusia senang. Yah, saya ikhlas, memang itu tugas saya di bumi. Saya punya tugas seperti kamu manusia juga punya tugas. “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku,” firman Allah. Kita harus sama-sama ikhlas.

*imajinasi Iqbal yang berusaha menjadi Hevea braziliensis (nama latinnya pohon karet).

 

Sudut Pandang Baru dari Kereta Ekonomi

Belakangan ini, saya jadi sering pakai kereta ekonomi kalau muter-muter Jawa. Awalnya dulu dicemplungin sama anak-anak Backpacker Indonesia. Banyak dari mereka yang ke mana-mana pakai kereta ekonomi, biar irit katanya. Buat saya, kereta ekonomi ini bukan irit, tapi irit banget! Harga tiketnya bisa cuma 20% harga tiket kereta bisnis/eksekutif. Dan dia gak ikutan naik di waktu harga kereta bisnis/eksekutif naik, misal pas liburan atau lebaran.

Memang sih, kalau punya duit, saya mending naik bisnis/eksekutif karena jelas dapat kursi dan gak ada orang jualan. Tapi di kereta ekonomi ada nilai lebihnya juga yang susah saya dapat di kereta bisnis/eksekutif: sudut pandang baru.

Kebanyakan yang naik kereta ekonomi ini, setahu saya, orang-orang menengah ke bawah, ya kuli bangunan, pedagang kaki lima, satpam, dsb, atau orang-orang yang sedang pakai topeng menengah ke bawah, macam mahasiswa itu lah.

Mereka ini baik baik loh, suka nawarin makan, suka ngajak ngobrol, suka kasih info rute, mau dititipin barang kalau mau ke WC. Bagian yang paling saya suka adalah, mereka suka ngobrol dan pengalamannya banyak yang menarik dan suka beda sama berita yang saya dengar di TV.

Kereta ekonomi Matarmaja. Dok: http://www.ucuagustin.blogspot.com

Saya pernah ketemu sepasang suami istri. Mereka sering ke senayan buat jualan, aslinya orang Jawa Timur. Sang istri dulu pernah jadi TKW di Arab. Dia bilang, berita di TV itu salah. Kalau ada TKW yang digebukin atau diperkosa, itu salah TKW nya, bukan salah bironya. Kalau TKW nya nurut apa yang diminta majikan, dia gak jahat kok. “Saya kan bertahun-tahun di sana, saya tahu karakter orang Arab, saya tahu karakter TKW kita, saya paham situasi, jadi saya tahu mana yang salah.”

“Yang biasanya gak bener kerjanya itu orang Sunda sama NTB. Kalau orang Jawa Tengah nurut-nurut jadi gak ada masalah sama majikan.”

Dia lanjut cerita, kalau masalah digebukin, disetrika, diperkosa, itu mah gak usah ke Arab, di Jakarta juga banyak. Tapi kok gak pernah atau jarang masuk TV? Ya itu karena majikannya terkadang orang berada dan punya pengaruh, nanti kalau diangkat, medianya yang ikutan kena gebuk.

Nah, cerita yang begini-begini yang bikin saya punya sudut pandang baru. Selama ini kan kesan yang dikasih TV ke otak kita, majikan luar yang brengsek, tapi di kereta ekonomi saya dapat pandangan bahwa TKW juga ada salahnya kok.

Si suami nambah cerita pengalamannya jualan di JCC Senayan. “Pokoknya kalau ada pameran computer, itu panen deh,” langsung to the point. Iya sih, saya 2 kali ke Indocomtech, kayaknya butuh dibangun fly over dari dalam ruangan pameran ke parkiran, saking ramainya orang.

Pesan yang saya pegang betul, “Jangan beli teh yang biasa dijual pakai gelas plastik besar. Itu pakai air keran!” Kelihatanya memang segar, tapi gak sehat. Saya gak langsung percaya, mungkin aja ini Cuma suudzon. Tapi logikanya, memang itu lebih riskan sih dibanding minuman kemasan. “Tau berapa modal mereka terus bisa dilipat jadi berapa?”

“Berapa Pak?”

“Lima belas ribu jadi empat ratus ribu. Ya iyalah wong pakai air keran.”

Atau pengalaman lain di kereta ekonomi, dulu saya pernah ketemu anak muda, sekitar umur 20 tahun. Dia dari Madura tapi pindah ke Jakarta. Di Madura kerjaan dia sehari-hari bikin garam, bantu orang tuanya. Dengan kerja Cuma setengah hari, dia bisa dapat 2 juta sebulan. Tapi dia milih hijrah ke Jakarta buat jadi buruh yang gajinya gak nyampe 1 juta sebulan, itu pun mesti dihadapkan dengan biaya hidup yang tinggi.

Saya tanya kenapa pindah. Kan di Madura udah enak? Dia jawab, pengen cari pengalaman. Mungkin dia mau tahu ibukota tuh gimana sih.

Di sini saya juga dapat sudut pandang baru, bahwa walau desentralisasi ekonomi jalan, tapi harus dipikirin juga factor “pengen cari pengalaman”. Pengamat urbanisasi Jakarta yang sering nongol di TV bilang, urbanisasi itu karena di daerahnya gak ada lapangan pekerjaan. Tapi si penghuni kereta ekonomi yang itu pelaku urbanisasinya langsung bilang pengen cari pengalaman, bukan karena di daerahnya gak ada lapangan kerjaan. Bertolak belakang banget kan.

Yah, yang begitu-begitu lah nilai positif kereta ekonomi, bikin saya punya sudut pandang baru, langsung dari yang ngalamin.

Bamboo House: Gambaran Sejarah dan Budaya Jabar dalam Satu Pagar

Pagar depan bamboo house. Dok: Iqbal

Beberapa orang memfokuskan dirinya mengenal budaya Jawa Barat secara keseluruhan. Kuswandi pun demikian. Bedanya, ia mengambil penjurusan yang lebih spesifik, yaitu sejarah perkebunan di Jawa Barat. Rumahnya di Garut divermak habis dengan gaya Sunda.

Februari 2010 lalu, saya mendapat kesempatan menyambangi Bamboo House untuk melakukan studi literatur. Bamboo House adalah nama sebuah tempat mirip vila yang sarat akan ilmu pengetahuan, terutama tentang sejarah dan budaya Jawa Barat. Letaknya tidak begitu jauh dari kota Garut. Katanya sih begitu. Saya sendiri belum tahu di mana letak kota Garut.

Waktu itu, saya pergi menggunakan mobil pribadi. Namun bus umum juga bisa mengaksesnya dengan mudah. Bisa dimulai dari terminal Rambutan atau Lebak Bulus tujuan Guntur Garut, tarifnya sekitar Rp35 ribu. Lanjut naik angkot jurusan Karangpwitan, turun di Cimurah, sekitar Rp3 ribu. Cimurah adalah nama sebuah desa tempat Bamboo House berada. Jalan turun dari angkot menuju desa itu kecil dan sepi. Hanya cukup untuk dilewati satu buah mobil dan satu buah motor. Tapi tetap saja tidak ditemukan dua mobil dari arah berlawanan yang berdesakan menggunakan jalan, karena sepinya jalan itu.

Dari tempat turun bus sampai Bamboo House kira-kira sekitar 200 meter. Saya sarankan, jangan naik ojeg karena akan melewatkan banyak waktu menikmati pemandangan di kanan dan di kiri jalan yang penuh hamparan sawah.

Penduduk sekitar tidak mengetahui bahwa Bamboo House mempunyai segudang koleksi tentang sejarah Jawa Barat. Mereka hanya mengetahui itu adalah sebuah vila biasa, sama seperti vila-vila di sekelilingnya. Kalau kita belum masuk ke dalam vila memang tidak terlihat betapa cerdasnya Bamboo House memunguti cerita-cerita sejarah Jawa Barat.

Kami, saya dan teman penulis lain. disambut langsung oleh Kuswandi, pemilik Bamboo House. Ia adalah mantan karyawan PTPN VIII yang berkedudukan di Bandung. Setelah pensiun, Kuswandi memutuskan bersinergi dengan alam Garut dengan menyulap salah satu rumahnya menjadi tempat yang nikmat untuk menikmati alam Garut.

Sekeliling Bamboo House adalah hamparan sawah sehingga kita dapat dengan mudah melihat gunung-gunung yang mengepung Garut. Saya lupa nama-nama gunungnya, tapi yang jelas ada sekitar 5 gunung yang dengan jelas dapat dilihat dari Bamboo House, tentu kalau awan tidak menghadang.

Matahari kembali ke sangkarnya, beberapa penjaga Bamboo House terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk kami. Ketika makanan sudah terhidang di meja, barulah Kuswandi menjelaskan, “Semua makanan ini berasal dari kebun kita dan kolam kita.” Saya berucap tak percaya, “Ikannya dari kolam itu?” “Iya, baru tadi ditangkap.” “Sayurannya? Lalapannya?” “Ya juga dari kebun kita di sebelah.”

Wah, beruntung sekali saya diberi kesempatan tinggal sementara di Bamboo House dengan pelayanan langsung dari Kuswandi. Pembawaannya yang jenaka membuat saya tidak berhenti tersenyum. Pengetahuannya yang luas tentang sejarah Jawa Barat membuat saya betah berbincang dengannya sampai berjam-jam.

Setelah tuntas makan malam, Kuswandi mengajak kami melihat koleksi-koleksi bukunya. Kebanyakan berbahasa Belanda. Ia mempunyai buku novel “Heren van de Thee” atau artinya pengusaha teh. Ini adalah kisah nyata yang dibukukan berdasarkan catatan-catatan para pengusaha teh di Jawa Barat. Dalam buku itu, diceritakan bagaimana sulitnya membuka lahan perkebunan dari hutan belantara.

Saya baru tahu bahwa Jatinangor yang sekarang menjadi markas Universitas Padjajaran dulunya adalah kebun karet. Begitu juga Dramaga (Bogor) yang sekarang menjadi pusat kampus Institut Pertanian Bogor. Serpong dan banyak tempat lain di sekeliling Jakarta awalnya adalah hamparan kebun yang luas.

Tidak henti-hentinya Kuswandi menceritakan apa yang ia ketahui tentang sejarah perkebunan di Jawa Barat. Belanda menjadikan usaha perkebunan berkembang pesat untuk mengisi kantong-kantong kas nya. Perkebunan ibarat pelampung perekonomian mereka. Tanpa perkebunan, mungkin Belanda tidak akan kuat menjajah Indonesia sampai 3,5 abad.

Orang banyak mengenal Bosscha sebagai tempat peneropongan bintang terbesar di Indonesia. Namun, ternyata Bosscha bukanlah astronomis, ia adalah penguasa kebun teh Malabar yang kebetulan punya hobi meneropong bintang.

Kuswandi menceritakan seluk-beluk kehidupan Bosscha seakan ia hidup sezaman bersama Bosscha. Hidup melajang sampai kematiannya adalah pilihan hidup yang diambil Bosscha. Ia pernah mencintai seorang gadis bernama Nini tapi tidak pernah kesampaian. Itulah alasan mengapa setiap hari Bosscha merenung di salah satu bukit yang kemudian dikenal dengan bukit Nini. Saking cintanya terhadap perkebunan Malabar, Bosscha memilih dimakamkan di perkebunan itu. Sampai sekarang kita bisa melihat bukti sejarah makam itu di perkebunan Malabar.

Pemahaman saya agak beralih. Tadinya saya pikir seluruh orang Belanda pada masa penjajahan adalah jahat. Tapi ternyata tokoh-tokoh perkebunan di Jawa Barat mematahkan itu semua. Kalau tidak ada orang Belanda yang mau bersusah-susah menjelajahi hutan-hutan di Jawa Barat tentu tidak akan ada kemajuan seperti sekarang. Padahal waktu itu, harimau sancang masih menguasai rimba. Mereka tidak gentar. Mereka juga tidak takut setiap hari darahnya dihisap lintah hanya untuk membabat hutan dan membuka lahan perkebunan. Para pekebun itulah yang menghidupkan kota Bandung dengan uang yang mereka punya. Hotel dan restoran berjamuran karena permintaan mereka. Hotel Homan di Bandung adalah yang masih bertahan sampai sekarang.

Semua informasi di atas saya dapatkan di Bamboo House dan dari cerita Kuswandi langsung. Dalam satu malam pengetahuan saya tentang Jawa Barat meningkat pesat. Saya sangat menyarankan orang yang ingin mendalami sejarah Jawa Barat menginap dulu semalam di Bamboo House dengan terlebih dahulu menelepon ke 0262-443522 untuk memastikan apakah Kuswandi ada di tempat dan sempat untuk berbagi cerita. Saya rasa, Kuswandi orang yang sangat terbuka dengan orang baru. Ia senang berbagi ilmu.

Mungkin karena usianya yang sudah cukup sepuh, Kuswandi pamit untuk tidur terlebih dahulu. Ya, maklumlah, makin tua jam tayangnya semakin rendah, hehe. Kami tetap melanjutkan membaca bermacam buku yang dibawa Kuswandi sampai mata tidak bisa diajak kompromi.

Outbond dan wisata budaya

Setelah matahari cukup memberikan sinar, saya berjalan keluar dari Bamboo House. Syahdu sekali rasanya. Beberapa petani berlalu-lalang bersiap untuk menjajaki lahannya. Beberapa dari mereka menggunakan sepeda.

Bamboo House dikelilingi sawah. Setelah saya amati, tidak ada pengairan sawah yang khusus mengaliri sawah-sawah di daerah itu. Semua pengairan berasal dari gunung yang tidak henti-hentinya mengucurkan air. Beruntung sekali Desa Cimurah diberi karunia sebesar ini, air murni tanpa batas.

Tidak salah kalau seseorang pernah berkata, “Aneh kalau orang hidup di desa kalau menjadi miskin.” Sepertinya sangat kontra pemahaman dengan banyak orang. Tapi memang benar begitu adanya. Hanya orang malas yang kelaparan di desa. Sebetulnya hukum yang sama juga berlaku di kota.

Letih berkeliling, saya masuk kembali ke Bamboo House untuk mengitarinya. Kemarin saya datang sudah sore sehingga tidak sempat berkeliling. Ada sebuah kolam cukup besar di tengah-tengah Bamboo House. Ikan dari kolam itulah yang dihidangkan di meja tadi malam. Tiga buah saung dibuat di tengah kolam.

Terlihat banyak orang sedang sibuk mengerjakan interior sebuah bangunan. Bangunan itu akan disiapkan untuk menjadi sebuah museum mini tentang sejarah perkebunan teh dan budaya minum teh Indonesia, terutama Jawa Barat. Tidak terlalu besar tapi cukup untuk menambah pemahaman tentang sejarah teh. Di pojokan ruangan itu dibuat saung kecil tempat orang mampir untuk minum teh.

Sebelum bangunan ini, Kuswandi juga sudah membuat beberapa bangunan lain yang mencirikan kebudayaan Sunda, di antaranya Leuit dan Saung Ranggon. Leuit adalah tempat penyimpanan cadangan padi, sedangkan Saung Ranggon adalah tempat petani menarik tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah atau sejenisnya. Keduanya dibuat dari bambu dengan konstruksi tinggi sampai 3 meter.

Satu buah saung cukup besar dibuat untuk menampung koleksi foto dan cerita. Dinding-dinding saung itu penuh dengan foto, tak ada sisa tempat. Butuh berjam-jam untuk meresapi apa yang ada dalam foto-foto itu dan membaca seluruh cerita yang tertempel di dinding.

Beberapa arena outbond ikut memeriahkan suasana. Dalam kolam ikan besar yang tadi saya sebut, kita bisa bermain kano. Kuswandi berencana membuat sarana untuk flying fox yang akan melintasi kolam itu. Ada beberapa outbond lain yang seru untuk dimainkan bahkan oleh orang dewasa.

Rp350 ribu per rumah

Seingat saya, ada 3 rumah mini yang disewakan dalam Bamboo House. Masing-masing mempunyai dua kasur single terpisah, satu buah kamar mandi, dan satu buah ruangan santai. Seluruh dinding rumah dipenuhi bermacam koleksi cerita sejarah yang dimilik Kuswandi. Menarik, karena cerita yang ditawarkan berbahasa popular dan banyak menyentuh sisi human interest sehingga tidak akan membosankan bagi yang tidak mengetahui sejarah sekalipun.

Di salah satu rumah, terdapat koleksi awetan Harimau Sancang, spesies yang hampir punah saat ini. Harimau awetan itu dulunya adalah harimau yang mengganggu salah satu perkebunan milik PTPN VIII. Setelah ditangkap dan diawetkan, pengelola kebun memberikannya pada Kuswandi sebagai kenang-kenangan. Agak menakutkan melihatnya walau sudah dibekukan. Dari manapun arah mata kita, seakan-akan harimau itu memelototi kita terus.

Satu rumah disewakan dengan harga Rp350 ribu. Harga tersebut sudah termasuk sarapan pagi untuk 2 orang. Memang, bagi backpacker harga tersebut tidak menjadi referensi sebagai tempat menginap. Namun, saya rasa harga tersebut tergolong murah bagi yang ingin mengetahui banyak hal tentang sejarah dan budaya Jawa Barat.

tulisan ini telah diterbitkan di majalah Backpackin edisi 3 yang bisa diunduh di sini.