Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.32
Pantai Kuala Parek, Langsa

Kali ini cara berwisata saya agak tidak bisa, dan cenderung tidak bisa diikuti. Berawal dari teman kantor saya di Langsa (Aceh), yang hobi mancing. Namanya Bang Agus. Dia mengajak saya mancing di Kuala Parek.

Jam 6.30 pagi, Kamis 7 Maret 2019, kami berangkat dari Langsa ke arah Peurelak, sekitar hampir satu jam naik motor dengan jalan santai. Sampai di sebuah jembatan besar yang mengangkangi sebuah sungai besar. Nama daerahnya Rantau Panjang.

Ohya, sebelumnya beli sarapan dulu di pinggir jalan. Nasi gurih pakai telur 3 bungkus plus gorengan 6 buah, dibungkus. Totalnya hanya Rp26.000 dong. Murah banget. Berarti nasinya sebungkus enam ribu perak, sudah pakai telor….

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.56
Nasi Gurih pakai telur Rp6.000

Setelah jembatan, kami belok kiri turun ke perkampungan pinggir sungai, mungkin perkampungan nelayan. Di situlah Bang Agus langsung ke rumah yang punya kapal untuk kami sewa. Seharian hanya Rp100.000. Bensin sekitar Rp50.000. Udang segar buat umpan satu bubu Rp60.000 (ada puluhan udang sepanjang jari tengah). Sama es dan air minum. Semua tidak sampai Rp300.000.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.55
Puluhan udang hidup di dalam bubu untuk umpan

Langsung kami jalan naik kapal. Kami bertiga. Kapalnya bisa muat 4-5 orang. Langsung tancap gas susuri sungai besar itu. Kanan kiri adalah hutan bakau yang sedap dipandang.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31
Persiapan kapal sebelum berangkat

Bakau sepanjang jalan. Kalau saya dilepas di tengah-tengah hutan bakau ini, ya jelas tersesat. Wong kanan kiri depan belakang bakau semua. Sempat saya buka Google Maps, terbaca memang titik posisi saya, tapi ya sudah di tengah-tengah begitu saja. Sungai yang kami lewati tidak terdeteksi sebagai sungai di Google Maps.

Sudah jalan sekitar satu jam, saya melihat ada perkampungan di pinggir sungai, namanya kampung Matang Nibong. Bang Agus cerita bahwa di kampung itu, orang membuat arang dari kayu bakau. Membuat arang itu dengan mengasapi kayu bakau, bukan dibakar. Kalau dibakar ya kebakar dong, bukan jadi arang, malah jadi abu.

Sempat berhenti di tengah sungai untuk mancing sekaligus mendinginkan mesin kapal. Ini pertama kalinya saya mancing. Bang Agus dengan santai masukkan tangannya ke bubu untuk ambil udang sebagai umpan. Padahal udang kan bisa kibaskan ekornya lumayan pedas. Tapi katanya gak sakit tuh. Bagian badan belakang (mendekati ekor) dari udang hidup itu dikaitkan ke mata kail.

Sekitar setengah jam menunggu, tidak ada satupun ikan yang menyentuh kail. Sambil kami sarapan. Selesai sarapan, mesin sudah agak dingin, berangkat terus ke Kuala Parek.

Di muara sungai, yang sudah berbatasan dengan laut, saya melihat banyak alat penangkap ikan yang disebut dengan “ambe”. Saya juga kurang paham cara kerjanya. Yang jelas, menggunakan jaring. Ini adalah cara tradisonal untuk menangkap ikan, cumi, dan udang.

Lanjut ke Pantai Kuala Parek. Nah di sini kami berlabuh. Airnya tenang, pasirnya halus. Sarang kepiting ada ribuan. Kepiting pemalu, dia akan langsung masuk sarang kalau kita mendekat.

IMG20190307100134
Pantai Kuala Parek, pasirnya putih dan halus

Dari kejauhan, melihat ada yang berlabuh, beberapa kucing langsung berlarian. Agak heran juga kok banyak kucing di sini? Mungkin ada sepuluh ekor. Mereka mengeong dan menggesek-gesekkan kepalanya di kaki saya. Mungkin dikira saya nelayan yang bawa ikan kali ya.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.58
Kucing mendekati yang berlabuh

Kuala Parek punya banyak pohon cemara. Unik juga ya, pohon cemara di pinggir pantai. Biasanya kan bakau atau pohon kelapa. Di pinggir-pinggir pantai, ada yang menanam pohon bakau juga, masih kecil-kecil.

Di bawah pohon, banyak berteduh umang-umang. Jumlahnya puluhan, dengan bentuk rumah yang beragam. Ada yang memanjang, ada yang bulat, ada yang tajam-tajam. Warnanya juga beragam.

IMG20190307095635
Umang umang di Kuala Parek

Saya menuju ke sebuah rumah kayu dengan atap dari daun nipah. Tidak ada orang di dalamnya. Ada semacam balai-balai di depan rumah. Langsung tidur di situ. Ah nikmat sekali bisa meluruskan badan. Setengah jam kemudian saya terbangun dengan badan segar.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.51.01
Tidur di sebuah rumah kayu, bersama kekucing

Langsung berenang. Airnya menyejukkan, di tengah udara yang sangat panas. Berjalan di atas pasir saja saya tidak kuat, saking panasnya. Jadi pas banget lah berendam air laut.

Bang Agus mancing terus. Dapat satu ikan kecil. Akhirnya dikasih ke kucing.

Kami pulang sambil berhenti di beberapa titik untuk mancing. Saya berenang. Agak dalam, mungkin sekitar 10 meter. Tidak kelihatan dasarnya. Arusnya deras, jadi jangan jauh-jauh dari kapal, kuatir terbawa arus. Saya hanya berenang di sekeliling kapal saja.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31 (1)
Perjalanan dengan kapal motor sederhana

Tepatnya di Kuala Bayeun, ada kapal yang lewat, dibilang, awas dimakan ikan. Waduh, apa ada ikan besar di sini? Terus ada kapal lewat lagi, bilang hal yang sama. Saya langsung naik ke kapal. Ada apa di bawah sana?

Kami mampir ke perkampungan yang tadi kami lewati ketika berangkat. Perkampungan di tengah hutan bakau. Mampir di sebuah warung untuk makan mi. Bang Agus kenal dengan banyak penduduk sini karena memang pernah tinggal di sini.

Harga mi murah banget. Jadi kami tadi kasih udang yang rencananya mau jadi umpan (separuh lebih umpan tidak terpakai) untuk dimasak terus dimasukkan ke mi. Total bayar hanya Rp24.000. Itu sudah termasuk mi 3 piring dan air mineral 3 gelas. Juga termasuk jasa olah udang.

Bang Agus beli ikan kakap ke nelayan lokal seharga Rp90.000 untuk sekitar 3kg. Mungkin dia tidak enak sama keluarganya, pulang mancing kok tidak bawa ikan?

Kami sampai di tempat penyewaan kapal jam 4 sore, dan baru sampai Langsa lagi jam 5 sore. Langsung tidur. Tersisa belang di kaki saya karena waktu di kapal, sebagian kaki tidak tertutup pakaian. Cokelat dimakan matahari.

Video dokumentasi singkat tentang Pantai Kuala Parek ada di sini.