Pengalaman Hadapi Kejang Demam Anak

Pertengahan Desember 2019, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba anak saya yang umur 7 bulan, kejang. Badannya lemas. Bagian hitam matanya melihat ke atas. Tangisnya langsung berhenti. Jari-jari tangannya kaku. Tentu saya dan istri langsung panik.

Sebetulnya sejak sehari sebelumnya, anak saya sudah demam. Panasnya lumayan tinggi. “Lumayan” di sini abstrak. Kami tidak punya thermometer, itu kesalahan fatal! Kami tidak tahu kapan harus ke dokter, karena tidak ada indikator yang tepat (bukan hanya “lumayan”).

Panas tersebut, didiamkan. Anak terus menangis. Kepalanya panas, setelah didekap (skin to skin) panasnya turun, tapi beberapa menit kemudian panas kembali seperti semula. Memang tangisnya agak aneh dari biasanya, sampai meraung-raung. Mungkin memang dia kesakitan sekali. Saya pikir itu karena giginya mau tumbuh. Tapi yang saya anggap biasa-biasa itu, setelah terjadi kejang, langsung kami bawa ke dokter.

Motor saya nyalakan. Istri gendong anak di belakang, sambil menangis. Yang membuat saya sangat sedih, anak saya sudah tidak terdengar suaranya lagi. Juga tidak bergerak. Baru saya merasakan bahwa ada nilai anugerah dalam tangisan bayi. Di saat itu, saya malah ingin sekali bayi saya menangis.

Kami ke RSIA Mutiara Bunda di daerah Ciledug. Kira-kira 20 menit berkendara dari tempat kami tinggal. Langsung masuk ruang IGD. Anak saya masih tidak bersuara, tapi sudah bergerak walaupun sangat lemas.

Waktu itu, dokter yang menangani namanya Dr. Dwi. Untung ketemu dokter yang tenang. Dicek suhunya 29,2 derajat. Dokter dengan tenang bertanya ceritanya sampai kejang. Kami cerita dengan masih menunjukkan kepanikan. Dokter mendengar ada kesulitan bernapas anak saya, langsung diberikan Breathy Drops, semacam cairan garam untuk meleburkan lendir yang ada di dalam hidung anak, diteteskan lewat hidung.

Dokter juga memberikan obat anti demam lewat dubur (Pyrexin). Satu jam kemudian panasnya menjadi 28,4 dan anak saya sudah menangis sedikit. Juga sudah bergerak.

Dokter menyarankan anak saya dirawat, nanti akan diberikan antibiotik yang cukup tinggi dosisnya. Saya tolak, lalu tanda tangan surat penolakan. Saya minta resepnya saja. Tetap diberikan antibiotik Cefila Syrup. Saya juga minta diresepkan obat anti kejang (Stesolid), anti demam darurat yang lewat dubur (Pyrexin), dan obat penurun panas sirup (Moretic Drops), sekaligus minta diresepkan thermometer.

WhatsApp Image 2020-01-03 at 16.01.13
Tagihan obat karena kejang demam di RSIA Mutiara Bunda

Antibiotik Cefila saya tebus, tapi tidak saya berikan ke anak, karena masih yakin anak saya bisa bertahan tanpa bantuan antibiotik. Sayang kan, masih 7 bulan sudah “dibantu”.

Besoknya, suhu kembali naik, bahkan sampai 39 derajat. Tapi penurun panas yang diresepkan dokter, Moretic Drops, cukup ampuh menurunkan panas.

Tiga hari setelah kejadian kejang itu, karena panasnya sudah stabil, maka tidak kami berikan penurun panas lagi. Baru kemudian kami sadari sepertinya anak saya kena campak, karena muncul bercak-bercak merah. Anak saya sudah beraktivitas cukup normal, sehingga kami tidak kuatir.

Gejala itu bukan penyakit. Demam itu mekanisme tubuh semacam warning bahwa ada sesuatu yang menyerang. Batuk itu mekanisme alami membuang sesuatu dalam tubuh. Kalau batuknya diredam dengan antitusif, lah jadi tidak keluar penyakitnya. Penyakit yang menyerang pun tidak melulu harus dilawan dengan bantuan. Antibodi kita butuh medan perang untuk berlatih. Kalau selalu diberi bantuan “antibiotik”, kapan latihannya?

2020-01-08_8-53-34
Kembali sehat, tanpa antibiotik

Anak saya kembali sehat tanpa antibiotik. Dia bisa senyum dan nangis dengan normal seperti sedia kala. Betul kan, anak saya kuat! Pasukan antibodinya pasti bangga berhasil melawan campak, dan tentu pasukan itu akan semakin kuat dan semakin PD kalau lain kali ada lagi yang menyerang.

#

Apa yang perlu disiapkan atau diperhatikan orang tua?

  1. Punya thermometer! Ini penting untuk menentukan, apa kita perlu ke dokter atau tidak. Kalau sudah di atas 38,5 derajat, bisa cek ke dokter.
  2. Kompres! Ini bisa jadi cara efektif menurunkan panas. Bisa dengan kain yang sudah dibilas air biasa (bukan air hangat).
  3. Obat anti kejang. Bisa jadi cadangan di rumah, terutama untuk anak yang ada riwayat kejang. Siapkan yang bisa dimasukkan lewat dubur, karena ketika kejang, bayi tidak bisa konsumsi obat lewat mulut (takut tersedak).
  4. Jangan panik! Kejang demam itu tidak bahaya. Memang terlihat menakutkan, tetapi insya Allah akan pulih kembali dengan sendirinya.
  5. Pikir ulang untuk memberikan antibiotik. Mungkin dokter meresepkan antibiotik, tetapi perlu diingat bahwa semakin sering konsumsi antibiotic, semakin resisten tubuh anak kita terhadap antibiotic (perlu antibiotic yang lebih “kuat” lagi). Antibiotik juga bisa membunuh biota baik dalam tubuh.
  6. Kalau sudah terlanjur kejang, berikan ruang napas yang cukup. Jangan malah didekap kencang sampai sulit bernapas.