Posts Tagged ‘Imigrasi SIngapura

29
Jun
17

Singapura: Tahanan Imigrasi

Buat banyak orang, urusan imigrasi di Singapura jauh lebih mudah dan lebih cepat dari yang saya hadapi. Hanya karena nama saya Muhammad Iqbal, repot banget urusannya.

Pertama kali saya ke Singapura adalah bersama anak dan istri saya pada akhir 2015, lewat Changi Airport. Anak dan istri saya sudah lewat imigrasi. Saya ditahan dulu. Disuruh masuk dalam suatu ruangan. Tidak ada informasi apa-apa. Hanya disuruh masuk saja. Lah kita kan bingung dan coba menebak-nebak kenapa ditahan?

Tadinya saya pikir karena penampakan saya yang dicirikan sebagai “teroris” oleh media kebanyakan: jenggot lebat dan jidat hitam. Tapi tidak juga, saya lihat para tahanan imigrasi itu juga ada beberapa wanita yang malah pakai rok mini.

Ada sekitar 15 orang “tahanan” dalam ruangan itu. Sebagian besar saya lihat passport nya dari negara di Asia Tenggara. Sekitar 2-3 orang dari Indonesia. Saya sempat tanya dengan orang Indonesia yang ada di situ, kenapa sih kita ditahan? Mereka juga bingung.

20170414_183639Satu demi satu dari kami dipanggil. Setelah dipanggil tidak kembali lagi, jadi tidak bisa ditanya tadi diapain? Satu demi satu “tahanan” baru juga masuk, dengan muka kebingungan.

Setelah hampir satu jam menunggu, nama saya dipanggil, dihadapkan dengan seorang yang dari nada bicaranya sih ramah. Saya ditanya mau ke mana? Dengan siapa? Menginap di mana? Urusan apa? Kuliah di mana? Kerja di mana? Emailnya apa? Berapa hari di Singapura? Keluar Singapura kapan? Lewat mana? Dst…

Untuk penahanan pertama ini, saya jawab dengan nada ramah. Petugasnya bilang, ini protokol yang harus dilakukan. Oh ya sudah…

Kedua kalinya saya ke Singapura, bersama dengan teman-teman kantor, saya kembali ditahan. Disuruh menunggu di dekat kantor imigrasi. Setengah jam kemudian datang petugas menanyakan hal-hal yang sama seperti kedatangan saya yang pertama. “Cuma pengecekan random,” kata petugas.

Ketiga kalinya, begitu lagi. Ditahan lagi. Ditanya-tanya lagi. Saya kesal juga, kenapa tiap masuk Singapura ditahan dulu sih? Dijawab sama petugas, “Your name is like a crime.”

Lah terus apa akan begini terus tiap ke Singapura? Apa nama saya tidak bisa dihapus dari list mereka? Toh sudah beberapa kali ke Singapura tidak kenapa-kenapa kan? Kata petugasnya, tetap loh tidak bisa. Jadi prosesnya akan begitu terus setiap masuk Singapura.

Jadilah saya setiap ke Singapura pesan ke barengan, kalau mau jalan duluan silakan, kalau mau nunggu ya bisa jadi satu jam. Tunggu di pintu keluar setelah pengambilan bagasi.

Keempat dan kelima kalinya saya ke Singapura, begitu lagi. Ditahan lagi. Keenam, ketujuh…. sampai kesebelas kalinya masih sama. Berat memang nih nama Muhammad Iqbal.

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 1/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Ini adalah kali pertama saya dan istri jalan-jalan ke Singapura dan Kuala Lumpur, tapi kami tidak menggunakan biro travel apapun. Saya browsing sana sini untuk dapat segala info tentang Singapura dan Kuala Lumpur, ya transportasinya, ya makanannya, petanya, destinasinya. Saya perlu dua hari penuh untuk mengumpulkan informasi.

Saya buat itenerary sekalian budget-nya. Total Rp5,5 juta sudah termasuk tiket pesawat PP saya-anak-istri, transportasi, dan makan. Ini belum termasuk oleh-oleh dan tiket Singapore Flyer. Detail budget sampai saya break down kebutuhan per mata uang. Jadi keluarannya adalah, butuh sekian rupiah, sekian ringgit, dan sekian Dolar Singapura. Itenerary-nya adalah hari pertama ke sini sini sini, hari kedua ke sini, dst…

Helix Bridge berlatar Marina Bay Sands

Helix Bridge berlatar Marina Bay Sands

Menurut saya, perencanaan detail begini penting supaya semua target tujuan bisa tercapai dan tidak over budget. Hasilnya, sekitar 80% sesuai dengan yang direncanakan. Budget Rp5,5 juta juga ada sisa yang akhirnya ditukar ke rupiah lagi.

Tiga minggu sebelum keberangkatan, saya beli tiket pesawat Jakarta – Singapura dan Kuala Lumpur – Jakarta. Untuk dua rute itu harga tiketnya stabil kok. Bahkan beli dua hari sebelum keberangkatan juga tidak beda jauh dengan yang beli sebulan sebelumnya. Waktu itu, harga tiket Air Asia Jakarta – Singapura Rp1,1 juta untuk saya-anak-istri. Tiket Lion Air Kuala Lumpur – Jakarta juga segitu. Anak tidak diberikan kursi khusus, tetapi digendong.

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Dari Ciledug, kami naik taksi ke Soekarno Hatta. Kami membawa 1 carrier 60L, 1 tas isi stroller lipat, dan 1 backpack. Hanya backpack yang masuk kabin pesawat. Setelah check in, lalu cap di imigrasi. Prosesnya cepat. Anak saya yang baru 1,5 tahun juga harus buat paspor dan harus urus imigrasi.

Sampai di Changi, kami langsung urus Imigrasi. Saya entah kenapa dipanggil ke suatu ruangan khusus bersama imigran lainnya. Kirain cuma yang jenggotan saja, disangka teroris kali. Tapi tidak juga, perempuan bercelana super pendek pun ada diruangan itu. Di situ ada yang dari Vietnam, Thailand, dsb. Ada sekitar 20 orang dan semua tidak tahu kenapa dimasukkan ke ruangan itu. Menurut saya, ini kurang baik untuk image Singapura.

Setengah jam saya menunggu baru dipanggil oleh petugas. Dia bertanya mau ke mana di Singapura? Berapa lama? Di Indonesia kerjanya di mana? Sebagai apa? Nanti setelah dari Singapura mau ke mana? Setelah mereka yakin saya tidak punya masalah dengan keimigrasian, baru deh dilepas..

Changi itu memang keren. Ada water drop yang bisa naik turun sendiri menari-nari. Wah, ini keren banget! Saya baca-baca juga Changi menyediakan tour gratis buat yang transit lama. Changi juga punya taman mini yang ada kupu-kupunya.

Mudah sekali mendapat arahan bagaimana menuju stasiun MRT. Ada penunjuk arah di mana-mana. Saya naik MRT dari Changi menuju Tanah Merah hanya melewati dua stasiun. Itu harus bayar $2,4/orang alias Rp24.000/orang. Bayi tidak perlu bayar. Padahal perjalanannya hanya 10 menit loh, tidak sampai 10 KM. Terhitung mahal jadinya. Coba bandingkan dengan di Jakarta, naik KRL Jakarta – Bogor cuma Rp5.000 perak, jaraknya 40 KM.

Lift betul-betul diprioritaskan untuk yang lebih memerlukan

Lift betul-betul diprioritaskan untuk yang lebih memerlukan

Saya punya saudara di Tanah Merah. Taruh tas, istirahat sebentar, baru berangkat lagi. Naik MRT ke Promenade, $2,5/orang. Kalau kita kesampingkan mahalnya, MRT ditambah budaya disiplin penduduk Singapura, jadinya bagus sekali. Untuk beli tiket, ada mesin yang mudah sekali digunakan. Naik turun lantai kami tinggal naik lift. Lift di sini jarang dipakai. Penduduk lebih senang pakai eskalator. Kami naik lift karena sekalian dorong stroller bayi.

MRT ramah terhadap ibu yang bawa anak. Hampir selalu kami mendapati kursi kosong yang memang sudah reserved untuk ibu yang bawa bayi, selain juga untuk jompo, ibu hamil, dan penyandang cacat. Sebetulnya kursi reserved begini juga ada di Jakarta (KRL atau Bus TJ), tapi biasanya diduduki orang. Di MRT Singapura, kalaupun kursi reserved itu sudah penuh diduduki jompo, misalnya, maka ada saja yang berdiri lalu mempersilakan istri saya yang menggendong anak untuk duduk. Wah ramah sekali deh.

Mesin tiket MRT Singapore

Mesin tiket MRT Singapore

Sampai Stasiun Promenade, ke mana-mana kami jalan kaki. Ke mana-mana di sini sudah termasuk ke Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, dan Singapore Flyer. Pertama, Merlion Park. Ini adalah icon Singapura banget. Patung singa berbadan ikan yang mengeluarkan air dari mulutnya. Jalan dari Promenade ke Merlion Park ya lumayan. Tapi pemandangan sungai sepanjang perjalanannya bagus (sungai atau laut ya?). Kalau cape tinggal istirahat saja, duduk-duduk di pinggir.

Kios minuman berlatar Helix Bridge

Kios minuman berlatar Helix Bridge

Merlion Park ramai sore itu. Atau mungkin karena waktu itu saya hari Sabtu ya? Saya mudah mendapati percakapan dengan Bahasa Indonesia. Berarti banyak orang Indonesia yang suka liburan ke sini. Saya juga ketemu kenalan yang jadi tour guide turis-turis dari Indonesia. Mereka cuma 2 hari di Singapura. Kok jadi berasa di Jakarta saja ya, sampai ketemu kenalan segala.

Saya berjalan kembali ke arah awal, lalu naik ke Helix Bridge, yaitu jembatan untuk pejalan kaki yang menghubungkan Marina Centre dengan Marina South di area Marina Bay. Posisi saya awalnya di Marina Centre, ingin ke Marina South. Helix Bridge punya bentuk yang unik dengan lampu menyala di waktu malam.

Tadinya saya mau mampir ke Art Science Museum, tapi sudah sore dan keliatannya Museum biasa saja, jadi langsung deh ke Garden By The Bay. Ini adalah taman besar yang menurut saya biasa saja kalau dari bawah. Kita bisa naik ke atas, lalu berjalan di jembatan kecil untuk melihat ke bawah. Nah, ini lebih menarik. Tapi ticketingnya sudah tutup waktu itu.

Sudah keletihan, kami ambil arah pulang lewat Helix Bridge lagi. Saya pikir awalnya mudah untuk dapat tab water, ternyata bingung juga cari di mana. Beli air mineral di sini mahal banget. Sebotol 600ml itu $1,5 alias Rp15.000. Ini mah lima kali harga di Indonesia. Tapi ya namanya haus, tetap dibeli juga.

Tujuan terakhir hari ini adalah Singapore Flyer, katanya sih ini bianglala terbesar di dunia. Tiketnya $33/orang. Anak saya belum dihitung. Naik Singapore Flyer, kita bisa melihat kota Singapura dari atas. Total waktu untuk berputar adalah 30 menit. Menurut saya sih biasa saja untuk harga tiket yang begitu mahal.

Singapore Flyer akan mendarat

Singapore Flyer akan mendarat

Ohya, sebelum naik Singapore Flyer, kami makan sate 10 tusuk plus ketupat, total $13. Ini bukan di restoran loh, ini di semacam food court di Singapore Flyer. Sudah mahal, tidak kenyang pula. Jadinya beli lagi paket nasi ayam diskonan di Sevel harganya $3,5. Sevel di sini seperti toko kelontong. Kalau di Jakarta besar besar dan jadi tempat tongkrongan yaa J




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31