Takengon: Keliling Lut Tawar

IMG20190217070343
Danau Lut Tawar dan Kota Takengon, difoto dari Pantan Terong

Aceh punya danau yang cukup besar dan bagus, yaitu Danau Lut Tawar. Sekeliling Danau ini sebagian besar adalah perbukitan hijau. Satu sisi di barat danau, yang daratannya agak datar, merupakan Kota Takengon. Nah, saya berenam, satu mobil, mengelilingi danau ini pada Sabtu 16 Februari 2019.

Jalannya bagus, aspal. Rata-rata mulus. Sebagian kecil saja yang berlubang. Sebagian lagi terlihat longsoran menutupi sebagian jalan. Longsor di dan menuju Takengon bukanlah berita heboh. Sudah sering terjadi.

Kami sampai Takengon sekitar jam 9 pagi, langsung mencari sarapan di pinggir danau. Dapatnya di kafe One One (nemu di jalan). Awalnya saya kira bacanya “wan wan”, tapi teman saya yang orang lokal bilangnya “O-ne O-ne”.

IMG20190216092815
Kafe One One Takengon: Lobster ditangkap setelah dipesan

Ini tempat makan memuaskan sekali. Ikan dan lobster yang dipesan segar. Setelah pesan, baru diambil dari kolam dan dimasak. Awalnya saya berimajinasi lobster yang dimaksud adalah lobster besar sepenuh piring, rupanya lobster kecil (sama udang bedanya apa sih?). Saya pesan nasi goreng lobster. Harganya hanya Rp25.000. Itu sudah puas makan 4 anak lobster.

IMG20190216100938
Kafe One One Takengon: Nasi goreng lobster Rp25.000

Penasaran, kok bisa sangat murah. Saya tanya ke yang nangkap lobster buat dimasak, katanya lobster itu ditangkap dari danau pakai bubu, semacam perangkap. Jadi ya gak modal. Maka murah.

Puas sekali kami makan di One One. Semua enak. Semua murah.

Lanjut lagi ke Dermaga Nosar. Kalau dicari di google maps judulnya: Dermaga Wisata Teluk Suyen Bamil Nosar. Ini dermaga buatan yang memang untuk menggaet wisatawan. Tapi sayangnya tidak ada karcis masuk. Pungutan parkir mobil Rp10.000 dan biaya masuk Rp2.500/orang itu semua tanpa karcis dan dipungut oleh…. Siapakah dia? Tidak berseragam. Sepertinya anak muda lokal.

IMG20190216161007
Dermaga Nosar, Takengon

Bagus nih di Nosar, buat foto-foto, juga buat menenangkan pikiran. Kalau sudah sore, air berombak kecil, jadi suara gemericiknya semakin terasa, semakin syahdu.

Lanjut lagi, di ujung timur ada yang namanya Pantai Menye. Ini danau rasa pantai. Memang nyatanya terlihat seperti pantai, ada ombak kecil yang berlomba ke tepian danau. Anginnya pun kuat. Saya hanya lewat saja di sini, dengan gas pelan, jadi bisa menikmati pantainya. Waktu lewat, saya tidak melihat ada yang berenang. Dulu, tujuh tahun lalu, saya pernah ke sini juga. Salah seorang saudara melarang saya berenang. Tidak dijelaskan alasannya. Saya baca-baca, alasannya mistis.

Kami lanjutkan perjalanan. Sayangnya ada yang terlewat: Ujung Paking. Katanya sih ada plang besar, tapi kami tidak ada yang lihat. Jadi bablas.

Ada beberapa tempat lagi sebagai view point danau. Tapi kami sudah “mabok” foto danau, sudah terlalu banyak, jadi hanya dilewatkan dengan gas pelan saja, misalnya: Pantai Ujung Senang, Pantai Ketibung.

Kembali ke kota, mencari penginapan. Dapat di dekat pasar inpres, namanya Wisma Nacara. Dia punya belasan kamar. Kamar yang dua kasur single tarifnya Rp150.000/malam. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu. Kamar mandi dalam, dengan toilet jongkok.

Malamnya kami ngopi di Galeri Kopi Indonesia, sekitar 5 kilometer dari kota. Tempatnya masuk satu gang kecil, pas buat lewat satu mobil. Awalnya gak yakin, apa betul jalannya? Karena kok semakin sepi. Kami hanya ikuti google (semua perjalanan kami di Takengon diarahin google). Tapi ternyata memang di ujung dia. Sesuailah sama google maps nya: Galeri Kopi Indonesia.

IMG20190216210921
Galeri Kopi Indonesia: order di sini

Tempatnya keren banget! Dia di tengah-tengah kebun kopi. Pesannya di depan. Terus kita cari tempat untuk duduknya. Mereka punya semacam saung tapi di tempat yang agak tinggi. Kita harus semacam memanjat pohon terlebih dahulu. Sebelum memanjat, kita juga akan melewati kebun kopi dulu. Agak jauh dari imajinasi saya yang mengaggap galeri kopi ya ruangan modern dengan jenis-jenis kopi dalam toples. Ternyata galerinya ya kopi betulan, pohon betulan. Keren!

Saya pesan kopi wine. Ini harganya rada mahal dibanding yang lain, yaitu Rp30.000. Tapi rasanya memang enak. Disajikan dalam gelas ukur, jadi saya berasa sedang praktikum kimia. Dikasih gelas kecil buat minum sedikit-sedikit, seperti espresso gitu (cara minumnya). Saya gak pernah minum wine, tapi kalau kopi wine aja enak, apalagi wine betulan… Gitu kali ya? Nanti saja minumnya, insya Allah di surga.

IMG20190216215517
Galeri Kopi Indonesia: Kopi wine disajikan dalam gelas ukur

Pas petugasnya datang membawa kopi pesanan kami, agak bingung dengan penampakannya. Teman saya ada yang pesan Vietnam drip, ada yang sanger. Kan sama-sama tuh warnanya, rada cokelat muda. Biasanya Vietnam drip kan ada saringannya. Yang ini enggak. Makanya kami bingung, lalu bertanya ke petugas pembawa, “Yang Vietnam drip yang mana?” Santai saja dia jawab: enggak tahu.

Kami mengampuni petugas itu, karena dia masih muda, muda sekali, mungkin SMP. Pekerja di bawah umur kah?

Teman saya yang kelaparan, selain ngopi, juga nge-mie. Jadi, ada mie juga di sini. Ada juga nasi goreng. Ada juga cemilan macam-macam.

Hari itu selesai dengan kopi.

Besoknya, 17 Februari 2019, tepat setelah subuh, kami tancap ke Pantan Terong, yang disebut-sebut sebagai view point terbaik di Takengon. Dan memang ini yang terbaik!

Saat itu, matahari belum muncul. Kota Takengon diselimuti kabut. Danau Lut Tawar bisa terlihat dalam satu frame dengan Kota Takengon. Saya sempat membuat video di sini.

Segera pulang, karena besok itu Senin, kembali ke nasib masing-masing.

Backpacking Takengon

takengon1

Takengon adalah nama Ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kalau dipetakan, Takengon terletak di tengah-tengah wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Karena letaknya yang bukan pada jalur utama jalan antarprovinsi, maka wajar saja kalau jalan menuju ke sana banyak yang rusak, dari yang hanya sompel sedikit sampai lubang yang besar sekali. Jauh lebih besar daripada kerusakan jalan di Ibukota yang sering masuk TV itu. Sayangnya, Takengon letaknya jauh dari kota besar, tidak ada masyarakat ataupun mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut perbaikan jalan. Jadi, jalan menuju Takengon tetap begitu-begitu saja.

Belum banyak yang tahu tentang keindahan Takengon. Bahkan, mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar Takengon. Pamornya masih kalah jauh dibanding Waduk Jatiluhur, Danau Singkarak, apalagi Danau Toba. Sepertinya, Takengon hanya akrab di telinga masyarakat Aceh saja, sekedar artis lokal yang belum terdengar namanya di kancah nasional.

Padahal, potensinya luar biasa. Danau Lut Tawar sudah lama menjadi icon Takengon, selain komoditas kopinya. Danau tersebut terletak tidak jauh dari kota Takengon. Dari atas kumpulan ruko 3 lantai yang ada di kota saja, danau ini sudah dapat dilihat dengan jelas. Hanya sekitar 300 meter dari jantung kota.

Di pagi hari, hawa mistis menyeruak kental sekali dari dalam danau. Air danau sangat tenang, seperti cermin datar yang memantulkan segala apa yang ada di atasnya. Kabut dengan jelas terlihat melapisi permukaan danau, sedikit demi sedikit merangkak ke atas, sampai akhirnya hilang sama sekali. Seakan, sinar matahari menyedot semua kabut itu, kemudian akan dimuntahkannya lagi di malam harinya. Sinar matahari itu dengan tersipu malu memancarkan kehidupan dari balik bukit di pinggir danau. Bukit yang berangkulan erat di setiap sudut danau, menjaga danau dengan sepenuh raga.

takengon2

Untuk mendapatkan pemandangan danau Lut Tawar yang indah itu, hanya jalan darat yang bisa digunakan. Dari kota medan, ada angkutan L300 yang siap mengantarkan kita ke kota takengon. Alternative kedua, jalan darat dari Banda Aceh. Kalau ingin mengenal Aceh lebih dekat, ada baiknya kita menggunakan jalur dari Banda Aceh. Lagi-lagi, L300 yang jadi andalan. Biayanya 80 ribu. Dari Banda, akan memakan waktu sekitar 8 jam.

Selama perjalanan ini, L300 akan melakukan paling tidak dua kali pemberhentian. Sebelum pemberhentian pertama di Sare, kita akan melewati gunung Seulawah sehingga jalan akan berkelok. Cukup untuk membuat pusing. Sare adalah suatu daerah yang dulunya sepi sekali, tidak ada kehidupan manusia, kemudian pemerintah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Sare. Mayoritas transmigran bertani. Hasil pertaniannya inilah yang dijual di pinggir-pinggir jalan sehingga banyak mobil yang mampir ke Sare sekedar untuk berbelanja. Satu makanan olahan yang terkenal di tempat ini adalah keripik ubi. Bermacam jenis keripik ubi yang ditawarkan, tergantung selera.

Pemberhentian kedua adalah di kota Biereun. Tempat ini jauh lebih ramai daripada Sare. Ada satu jenis produk yang sangat tersohor se-antero Aceh, yakni Keripik Biereun. Sekali coba pasti langsung terpesona. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang membawa Keripik Biereun sebagai oleh-oleh khas Aceh. Bahan dasar keripiknya beragam, ada pisang, ubi, dan Sukun. Keripik Sukun yang mempunyai keunikan lebih dibanding teman sejawatnya. Satu kilo keripik sukun dibandrol dengan harga 50 ribu, jauh lebih tinggi dibanding keripik pisang dan ubi yang tidak lebih dari 20 ribu saja.

Terminal di Biereun bisa dikatakan yang paling padat diantara terminal lain di Aceh. Mungkin ini karena adanya angkutan BE (Biereun Express), selain bus antar kota, L300, dan labi-labi (angkutan lokal, mirip angkot).

Sepanjang perjalanan, sering sekali terlihat hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sapi-sapi di Aceh seakan tidak memiliki kandang permanen. Penduduk melepaskan begitu saja sapinya. Sehingga menjadi pemandangan yang wajar ketika ada sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat sampah pasar, ada yang berkeliaran di lapangan, bermain bersama anak-anak kecil yang sedang asik bermain bola. Sapi memang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.

Perjalanan dari Biereun menuju Takengon tidak semulus perjalanan sebelumnya. Jalan berkelok-kelok dan mendaki. Beberapa papan pengumuman menyampaikan hal yang sama, bahwa daerah itu rawan longsor ketika hujan. Pernah dulu, menurut warga Takengon, jalan satu-satunya dari Biereun ke takengon itu tertutup tanah sehingga transportasi sama sekali terputus. Penduduk harus pergi ke Medan untuk mendapatkan kebutuhannya. Sampai sekarang pun, jalan itu masih rawan akan longsor. Belum lagi, jalan tidak mulus, banyak ditemui lubang-lubang besar mematikan. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang.

Memasuki KM 40 dari Biereun (jarak Biereun-Takengon 101 KM), posisi bisa dikatakan sudah di atas gunung, pohon cemara di kanan kiri absen tanpa henti. Kadang terlihat gubuk-gubuk kecil beratapkan dedaunan kering. Atapnya cukup panjang ke bawah, kira-kira sampai setinggi bahu orang dewasa, jadi, harus menunduk untuk memasuki gubuk kecil itu. Di dalamnya tidak besar, mungkin hanya muat untuk dua orang. Sepertinya tempat ini di set untuk tempat orang pacaran.

Hati-hati berjalan menuju Takengon di malam hari, karena tidak ada lampu di puluhan kilometer jalan itu. Lampu hanya terlihat di beberapa desa yang dilewati saja. Selebihnya hutan yang tidak memiliki cahaya. Semakin masuk ke hutan, udara semakin sejuk.

Kalau beruntung, kita akan menemui penjual air aren di pinggir jalan. Penduduk sekitar yang berjualan sudah menyiapkan gelas dan sedikit tempat duduk dari potongan kayu yang dibersihkan seadanya. Satu bungkus air aren dijual dengan harga 5 ribu. Kira-kira isinya 1 liter. Segar sekali.

Mencapai Takengon, ada satu hotel yang sangat terkenal di daerah ini, Renggali namanya. Hotel ini adalah satu-satunya hotel yang ada di pinggir danau Lut Tawar. Pengelolaannya sudah cukup professional. Harganya juga ikut-ikutan professional. Untuk standard room dihargai 250 ribu, deluxe 350 ribu, dan suite 550 ribu. Indah sekali view dari hotel ini. Beberapa kamar menghadap langsung ke danau. Pantulan bulan terlihat sempurna di danau. Ada beberapa cercah cahaya yang mondar-mandir di danau pada malam hari. Kalau dilihat lebih teliti, itu adalah cahaya dari lampu nelayan sekitar yang mencari ikan khas Takengon.

Suite room di Hotel Renggali
Suite room di Hotel Renggali

Di pagi harinya, silakan mengejar sunrise, karena cahaya oranye bercampur kuning dan merah di langit pasti akan membuat Anda terpesona. Namun, jangan coba-coba berenang atau bermain-main air danau karena hal tersebut cukup dilarang keras. Menurut penduduk sekitar, ada Peutri Ijo, sesosok makhluk yang menjaga danau tersebut yang selalu meminta korban di setiap tahunnya. Kebanyakan korbannya adalah pendatang.

Budgeting Takengon Trip (dari Banda):

L300 Banda Aceh-Takengon 80.000

Makan 5 kali 50.000

Standard Room Hotel renggali 250.000

L300 Takengon-Banda 80.000

Total 460.000