Said

Kebetulan purnama. Said senang sekali dengan indahnya purnama. Apalagi dengan keadaan hatinya yang sedang sendu, atau kata anak sekarang, galau. Dia tidak habis pikir, mengapa justru hujatan masuk kepada pihak yang menyerukan kebenaran dan mengingatkan apa yang keliru. Padahal yang dihujat hanya bermaksud mengingatkan. Jelas bukan mencari sensasi.

Ini terkait dengan pemberitaan yang sedang marak mengenai pengharaman BPJS oleh MUI (atau mungkin bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Said termenung sambil menatap purnama, seakan solusinya ada di bulan yang pernah terbelah dua itu. Seolah bulan itu akan memberi tahu lembaga mana lagi yang bisa lebih kuat dari MUI untuk menyampaikan syariat yang harusnya dijalankan. Said pun berandai, mungkin bulan akan membelah lagi, lalu keluar ukiran di langit “Tinggalkanlah riba”. Kemudian bulan menyatu kembali.

Said teringat, sebelas tahun lalu hal serupa pernah terjadi. MUI mengeluarkan fatwa nomor 1 tahun 2004 tentang pengharaman bank konvensional (ini juga bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Ramai di saat itu, lalu semua lupa. Semua merasa tidak ada salahnya dengan bank konvensional. Lebih menguntungkan kok. Lebih praktis, ATM-nya di mana-mana.

Sepuluh emiten terkuat di pasar saham didominasi sektor perbankan atau sektor riba lainnya. Perusahaan-perusahaan mewajibkan karyawannya mempunyai rekening di bank konvensional (kalau masih mau digaji). Mayoritas karyawan bank tidak berkeinginan hijrah ke sektor non riba. Bekerja di bank hampir sama elitnya dengan bekerja di perusahaan minyak. Bank konvensional tumbuh dengan sangat subur. Semua lupa dengan fatwa sebelas tahun lalu.

Betapa Said menyadari kondisinya dan semua orang di sekelilingnya. Banyak, tetapi tidak berkekuatan, seperti buih. Seperti yang sudah diprediksi empat belas abad lalu.

Hati Said iri sekali dengan keteguhan pemuda Kahfi puluhan abad lalu. Bagaimana mungkin mereka berani hijrah ke sebuah goa yang gelap demi meninggalkan keburukan. Betapa iman mereka begitu tinggi, sehingga langit pun luluh menidurkan mereka, lalu membangunkannya ketika kondisi sudah baik. Tiga ratus tahun mereka tidur. Anjing yang mereka bawa hanya tinggal tulang. Tapi tubuh mereka masih tetap utuh. Said menggelengkan kepalanya, “Seperti dongeng,” dia berkata lirih.

Hanya satu yang membuat hatinya agak terangkat. Sedikit. Sedikit sekali. Yaitu kabar bahwa penentangan dari hati masih tergolong dalam kumpulan iman, meskipun yang paling lemah. Masih ada rasa syukur, bahwa hatinya diberikan penentangan. Meski sedikit. Meski dia menyesali betapa lemah dirinya? Betapa sistem yang ada begitu kuat mencengkram?

Said masih beruntung mempunyai hati yang menentang dan tahu bahwa keterpaksaannya adalah sesuatu yang salah. Wajahnya sedikit tersenyum sinis melihat lingkungannya yang malah setuju dengan adanya BPJS. Sebagai pembelaan, oou.. mudah saja bagi mereka. Cari berita tentang seorang ulama atau tokoh agama terkenal yang menyuarakan bahwa BPJS itu boleh. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Tidak perlu takut dengan tudingan riba. Tidak perlu menentang BPJS. Dan tidak perlu merasa bersalah jika nantinya ada BPJS Syariah tetapi dirinya masih di BPJS konvensional. Tinggal cari berita lagi, tentang tokoh agama yang menyatakan BPJS Syariah itu sama saja dengan yang konvensional. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Senyuman masih muncul di wajah Said. Namun senyuman itu segera hilang. Said kaget melihat sebuah berita di tangannya. Said kaget sekaget-kagetnya. Matanya terbelalak ketika membaca bahwa salah satu penghujat MUI punya nama yang sama dengannya: Said. “Kenapa namanya disama-samakan dengan saya?!” sambil melipat dahinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Laba-Laba

laba laba
Laba laba. Dok: http://www.atjehcyber.net/

Wahai laba-laba,

Enak sekali hidupmu. Tidak perlu ada pertanggungjawaban panjang pasca tiada, hanya balas membunuh atau dibunuh. Tidak perlu menjawab Man Robbuka. Tidak perlu lulus UN. Tidak perlu dipaksa lingkungan untuk memvaksin anakmu. Tidak perlu mengikuti apa yang TV ajarkan kepadamu. Tidak perlu ikut BPJS. Tidak perlu selipkan amplop ke penghulu kalau mau kawin. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan “makan apa besok”. Tidak perlu terpaksa punya rumah dan mobil dengan berutang. Tidak disiksa di neraka kalau membunuh, meskipun sengaja. Tidak perlu belajar kalkulus. Tidak perlu pusing kasih nama anak. Tidak perlu dikerjain polisi waktu bikin SIM (bahkan tidak perlu bikin SIM!). Tidak perlu menggunakan uang kartal. Tidak perlu bikin paspor. Tidak perlu…. Semua itu tidak perlu kamu lakukan.

Karena… ya karena kamu seekor laba-laba, yang tinggal kawin ketika kamu mau kawin. Tinggal makan kalau mau makan, bahkan tidak ada yang melarangmu untuk membunuh. Kamu bisa buat jaring-jaring indah berpola tanpa masuk Harvard terlebih dahulu, it’s in your genes! Jaring itu begitu hebat, sampai-sampai jika jaring itu diperbesar, maka Boeing 747 pun bisa tersangkut.

Oh ya, inti pembicaraanku kali ini adalah aku ingin dengar pandanganmu mengenai harta. Ya… darimu, karena dari namamu, harusnya kamu punya uang yang sangat banyak ya. Sekali laba saja sudah bagus. Kamu mendapatkannya berulang-ulang. Sampai bukan lagi menjadi middle name, it’s your full name, dude!

Bagaimana bisa sebuah (mana yang lebih tepat ya, sebuah? Seekor?) spesies yang sangat kaya sepertimu diam-diam saja dan tidak terlihat sikap sombong sama sekali?

Hmm… Okay, aku coba konfirmasi ulang jawabanmu. Jadi kamu diam-diam saja karena kamu malu ketahuan tidak bisa berenang? Karena sejatinya permukaan tubuh luarmu adalah hidrofobik?

Haha, baik, pertanyaan kedua. Kenapa kamu, yang super kaya dan tidak perlu memikirkan makan apa besok, masih mau menelan lagi jaring yang kamu buat untuk menjadi bahan pembuatan jaring berikutnya?

Apa? Muzhid? Wow… Untuk mengefisienkan segala hal ya? Hebat sekali kamu. Beda dengan kaumku yang perokok, lebih memilih beli rokok daripada makanan. Kurang mubazir apa coba? Andai nanti ada aturan Pemerintah yang mewajibkan nyalakan rokok di kedua ujungnya… Biar kapok mereka.

Pertanyaan ketiga, ketika dulu kamu menjadi pahlawan Nabi Muhammad dan Abu Bakar karena jaring-jaringmu yang membuat para pengejar terkecoh, kenapa tidak buat jumpa pers dan mempublikasikan kisahmu yang heroik? Karena dari situ kamu bisa diundang ke mana-mana dan dapat “laba” lebih banyak?

Yeah, betul sekali nasihatmu, karena kaya itu bukan di jumlah harta, tapi di bisa atau tidaknya dia bersyukur.

Pertanyaan terakhir, jika tahun lalu Budi membeli tiga pensil dan dua buka seharga Rp3.500 dan tadi pagi Budi membeli empat pensil dan lima buku seharga Rp7.700, dengan inflasi sebesar 10%, berapa harga buku tahun lalu?

Hey, jangan pergi….