Punya Bayi Lagi, Ini Rasanya…. (Dan Biayanya)

Anak saya yang pertama, lahir tahun 2014. Anak kedua (perempuan lagi), baru di tahun ini, 2019. Tepatnya 1 Mei 2019. Iya, pas hari buruh. Beruntung sekali dia karena setiap tahunnya nanti pas dia ulang tahun, akan libur. Kalau nanti masih, banyak serikat buruh yang akan turun ke jalan, memperingatinya.

Punya anak yang baru lulus balita, terus ditambah satu lagi yang baru lahir, itu harus siapkan shift dua setiap harinya. Setidaknya sampai enam bulan awal. Tidur batita masih tidak stabil, maksudnya, bisa jadi pas jam tidur kita, dia bangun, dan sebaliknya. Waktu dia bangun, ya kita tidak bisa tidur. Tangis bayi bisa membuat orang tuanya terjaga semalaman.

Tapi sebelum sampai rumah, bayi harus “ditebus” dulu dari rumah sakit. Kedua anak saya lahir di RS Bhakti Asih (Ciledug). Total pengeluaran saya untuk lahiran itu Rp6 juta lebih dikit. Dapat kamar kelas dua. Karena yang VIP dan kelas satu habis. Awalnya saya sudah siapkan sekitar Rp12 juta untuk lahiran di VIP. Cash, tidak mau pakai BPJS.

Bukannya belagu, tapi pas waktu itu memang lagi ada uang. Toh Rp12 juta itu sebetulnya tidak besar, dibanding banyak RS yang VIP nya bisa lebih dari Rp20 juta. Kalau mau murah, opsinya juga banyak sih, bisa lewat Puskesmas, yang saya dengar bisa gratis. Masih ada sisa uang lumayan untuk aqiqah dan persiapan lain.

Ditambah tebusan-tebusan lainnya yang menunggu, seperti popok, alat pumping, kulkas ASI, baju celana, dst. Dibahas satu satu nih ya. Popok itu, kalau pakai pampers, bisa habis sekitar 3 pak ukuran NB (New Born) dalam satu bulan. Kira-kira Rp250 ribu per bulan. Semakin besar bayinya, biaya popok makin besar, karena makin besar ukuran, harga per piece nya makin tinggi.

Alat pumping. Istri saya mau yang elektrik merek Malish. Ini termasuk yang mahal, yaitu Rp2 jutaan. Kalau mau yang manual bisa dapat sekitar Rp300 ribu.

Kulkas. Kami beli kulkas freezer merk Aqua yang harganya sekitar Rp2,3 juta. Perlu satu kulkas freezer khusus untuk tabungan ASI selama 3 bulan istri saya cuti melahirkan. Supaya nanti pas masuk kerja, tabungan ASI nya cukup. Nyatanya berlebih banget, sampai satu kulkas tidak muat. Mungkin karena alat pumping-nya yang bagus.

WhatsApp Image 2019-09-07 at 09.07.57
ASI satu kulkas, hampir basi gegara mati lampu

Sedikit cerita tentang tabungan ASI. Waktu mati lampu di hari minggu yang heboh itu, ASI sudah penuh satu kulkas. Apa ASI itu akan mencair sehingga harus dibuang? Karena kalau sudah tidak ada bentuk esnya lagi, ASI itu harus dibuang. Kami sampai mohon-mohon ke Indomaret dekat rumah yang saat itu pakai genset. Kami sudah dapat tempat di bagian bawah kulkas es krim. Alhamdulillah baik banget petugasnya. Tapi pas mau diangkut ke Indomaret, listrik nyala!

Baju celana bayi sebetulnya tidak terlalu makan biaya. Pertama, karena akan banyak yang kasih kado baju celana. Kedua, bisa pakai baju celana bekas anak pertama.

Itu baru tantangan berbiaya punya bayi baru. Belum lagi tantangan tak berbiaya. Misal, pikiran kalau badan bayi panas, semalaman tidak tidur-tidur padahal besok harus ngantor, pipis tembus popok sehingga harus cuci seprai (bahkan cuci kasur!), kakaknya ngambek karena merasa “kasih sayang” buatnya berkurang, dll.

Waktu terkuras banget buat bayi baru. Boro-boro mau menyalurkan hobi, mau istirahat cukup saja susah. Mangatur waktu ketika ada bayi, itu tidak ada sekolahnya. Ya jalani saja.

Kalau baca tulisan ini, rasanya berat ya punya anak. Emang! Hehe. Tapi saya ingat bahwa kalau kita sudah meninggal, anak yang solih/ah bisa jadi jariah yang kirim pahala terus-menerus. Juga jadi pelipur lara ketika kita tua nanti. Amin.