Nusa Tenggara? Berangkat….

Ini sudah lama saya rencanakan, impikan, dan doakan. Ini juga jadi alasan saya resign yang kelima kalinya, dan akan menjadi catatan yang keenam. Sebetulnya bukan resign, tapi tidak memperpanjang kontrak. Saya pun tidak cari kontrak yang lain dulu. Mau fokus traveling.

Minggu ini saya masih kerja, sampai Jumat 29 Maret 2019. Tiket Jakarta – Lombok sudah saya pesan tadi malam, lewat Traveloka, yang kemudian ditransfer pakai mobile banking BCA punya istri.

Jadi saya memutuskan untuk stop bekerja dulu, supaya bisa keliling Nusa Tenggara selama satu bulan. Rencananya mau saya buatkan catatan perjalanannya juga. Saya bawa laptop! Sukur-sukur ada yang mau menerbitkan seperti dulu buku Keliling Sumatera Luar Dalam.

Mulai 1 April 2019 sampai 30 April 2019. Itu rencananya. Berawal dari Lombok. Sendirian.

Di Lombok, sebetulnya saya agak menghindari lama-lama di sini. Kenapa? Saya lebih senang ke tempat yang sepi, yang sedikit turisnya. Agak alergi dengan komersialisasi obyek wisata. Target utama di Lombok sebetulnya Rinjani. Tapi Rinjani masih tutup. Semua jalur ditutup. Jadi sedih.

Yah, paling jadinya nongkrong-nongkrong saja di Sembalun. Saya penasaran dengan perekonomian di sana. Gimana nasib-nasib porter dan semua yang bergerak di industri wisata? Jalur tutup artinya tidak ada turis naik gunung, artinya tidak ada yang perlu jasa porter.

Senggigi dan Gili Trawangan nampaknya harus, walaupun hanya lewat. Saya akan berkesimpulan: “ Ooh, begitu saja.” Yang agak seru sepertinya pantai selatan Lombok. Antara Kuta atau Selong Belanak? Bagusan mana ya? Saya mau belajar surfing juga, dengar-dengar ada di Selong Belanak ya?

Nyeberang ke Sumbawa lewat Pelabuhan Poto Tano. Titik-titik yang rencananya saya lewati di Sumbawa adalah Taliwang (mau coba ayam Taliwang), Pulau Bungin, Sumbawa Besar, Dompu, Tambora (mau ada festival Tambora), Bima, dan Sape (buat nyeberang ke Flores).

Pulau Mojo cukup menarik, bukan karena air terjun Mata Jitu nya, tapi lebih ke kehidupan masyarakatnya, seberapa susah sih mencari uang di Mojo? Supaya saya bisa bersyukur bisa punya kesempatan mencari uang dengan lebih mudah dibanding masyarakat di Mojo. Tapi ya lihat nanti, kalau tidak sempat, ya lewat. Karena saya lebih tertarik dengan NTT dibanding NTB. Rasanya mau buru-buru sampai Labuhan Bajo.

WhatsApp Image 2019-03-26 at 17.20.52
Lonely Planet 2003 sebagai referensi

Yang saya baca, dari Lonely Planet Indonesia terbitan 2003 (cuma mampu beli yang bekas), kapal dari Sape (Sumbawa) ke Labuhan Bajo (Flores) tidak mampir Pulau Komodo dan Rinca. Rata-rata turis ambil paket trip 2-3 malam di sebuah kapal carter, yang kapal itu akan mampir ke Komodo, Rinca, dan beberapa pulau lain. Ini sebetulnya bagus sih, dapat banyak destinasi, sekaligus bisa ngobrol pakai Bahasa Inggris, lama tidak terasah. Sebagian besar turis akan berupa bule (ini kalimatnya betul tidak ya?). Tapi ongkos tripnya lumayan, sekitar tiga jutaan. Yah lihat mood nanti saja. Biasanya memang saya hanya tentukan jalur utama, lebih spesifk mau ke mananya, lihat nanti saja.

Dari Labuhan Bajo, yang jelas akan lewat Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, dan Larantuka. Saya dengar jalannya bagus, tapi angkutannya gabung sama makhluk hidup lain, seperti babi. Dan jalannya lambat banget, betul tidak sih?

Di Ruteng, penting banget gak sih ke Wae Rebo? Semenjak sudah ada tarif-tarifan saya jadi malas. Saya dengar ada desa lain, masih daerah Ruteng, yang juga punya rumah-rumah keren seperti di Wae Rebo. Nanti kita tanya di sana….

Ende punya pelabuhan besar yang rutenya agak banyak. Yang paling menarik adalah ke Waingapu (Sumba). Tapi katanya kapalnya seminggu sekali, dan kapal baliknya juga seminggu sekali. Beli tiket pesawat tak mampu. Lihat nanti di sana saja.

Yang membuat saya paling berdebar dan paling menarik adalah pulau-pulau di timur Flores: Adonara, Solor, Lembata, Pantar, dan Alor. Semua menarik! Kepulauan selalu menarik. Tapi saya ragu dengan jalur kapal antar pulau tersebut, juga jalur darat di dalam pulau. Akankah waktu saya cukup untuk kesemua pulau itu?

Di kepulauan, saya akan menemukan keramahtamahan yang tidak ditemui di kota. Saya akan menemukan bentuk kesederhanaan yang paling sederhana. Saya akan sangat bersyukur dengan kemudahan yang selama ini saya dapatkan. Saya akan bersyukur dengan nikmat-nikmat yang paling sederhana: jaringan HP, makanan, transportasi, kedekatan dengan keluarga…. Saya senang kepulauan!

Lalu saya akan lompat ke Kupang, entah dari mana, mungkin dari Alor. Karena belum tentu ada kapal langsung dari Alor ke Kupang, bisa jadi harus balik Larantuka dulu untuk ke Kupang. Di Timor, yang menarik buat saya adalah Soe, Atambua, dan mungkin Dili (ini sudah bukan Indonesia). Di Soe, saya akan lewat saja. Dulu teman kuliah saya salah satunya dari Soe. Dia sudah meninggal. Mungkin saya akan mampir ke orang tuanya dan menyampaikan kebaikan-kebaikan almarhum selama di kampus.

Atambua menarik karena menjadi kota yang paling dekat dengan perbatasan. Mungkin saya akan menukar dollar, lalu menyeberang ke Dili, lalu kembali ke Kupang. Bisa jadi akan menyeberang ke Pulau Rote, lalu kembali ke Kupang. Untuk kemudian terbang balik ke Jakarta. Bekerja lagi, menabung lagi.

Sumba? Sebetulnya pulau ini menarik. Ada sih rencana menyeberang dari Kupang ke Sabu, lalu ke Waingapu (Sumba). Yah lihat nanti… Doakan saya! Kalau ada masukan untuk itinerary, ditunggu yaah…