Posts Tagged ‘Arjuna lewat Purwosari

10
Jul
17

Arjuna Lewat Purwosari

IMG-20170708-WA0014

Pos 5 Mangkutoromo

Ini data dan cerita saya ketika mendaki Arjuna lewat Purwosari pada 8 Juli 2017.

Saya berangkat bertiga, dengan Security kantor (SCK) dan OB kantor (OBK). Saya sebetulnya tinggal di Jakarta, tapi dapat project di Pandaan dan diajak naik oleh SCK yang memang biasa naik. Ya jalan sudah…

Digunakan inisial SCK dan OBK karena ada cerita personal sepanjang perjalanan yang akan saya share di sini, namun kelihatannya lebih baik kalau saya samarkan namanya. Tentang hidup. Tentang pekerjaan. Tentang bagaimana perusahaan memanusiakan karyawannya.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi dan sudah sampai Purwosari lagi pukul 3 sore. Jadi total naik turun dan sudah hitung istirahat sekitar 7 jam. Perjalanan hanya sampai Pos 5 Mangkutoromo, sesuai rencana awal. Tidak menginap. Hanya pakai ransel biasa saja. Isi air 2L, madu, roti, sosis, jas hujan. OBK  ekstrim sekali, tidak bawa apa-apa! Dan dia berlari! Pakai sandal jepit!!!

Secara ringkas waktu perjalanan kami sbb:

 

Desa Tambak Watu – Pos 1 Onto Boego : 60 menit

Pos 1 Onto Boego – Pos 2 Tampuono : 30 menit

Pos 2 Tampuono – Pos 3 Eyang Sakri : 15 menit

Pos 3 Eyang Sakri – Pos 4 Eyang Semar : 25 menit

Pos 4 Eyang Semar – Pos 5 Mangkutoromo : 35 menit

 

Turunnya sekitar 60 menit jika tidak berhenti. Jalan santai tapi tidak berhenti.

Jumlah menit di atas hanyalah waktu pendakiannya saja, tidak menghitung waktu istirahat di tiap pos. Kami berjalan biasa, tidak cepat, tapi jarang sekali berhenti di jalan. Berhentinya di pos-pos saja. Di Pos 2 Tampuono kami berhenti sampai satu jam ketika naik, karena saya belum sarapan. Dan satu jam ketika turun, karena ramai pendaki, jadi sambil ngobrol. Sepiring nasi putih dengan telur tahu tempe dan dua gelas kopi harganya Rp13.000. Murah meriah J

 

Desa Tambak Watu ke Pos 2 Tampuono

Saya dan SCK sudah dari pabrik tempat kami bekerja di Pandaan pukul 7 pagi. SCK ini habis tugas malam, jadi semalaman tidak tidur, terus langsung naik gunung. “Kuat mas…” kata dia. Saya dan SCK motoran sampai rumah OBK yang letaknya di desa Tambak Watu.

Dari pertigaan besar Purwosari (dilewati jalur bus Surabaya – Malang) sampai desa Tambak Watu perjalanannya menanjak dan berkelak kelok. Tidak ada angkutan umum. “Kalau tidak bawa kendaraan repot mas. Ojeg mahal. Apalagi kalau pakai bahasa Indonesia kayak sampean,” kata SCK.

Rumah OBK tidak jauh setelah masjid NU. Rumahnya sederhana. Lantai sudah keramik. Di depan rumah dijemur kopi. Rata-rata begitulah tipikal rumah penduduk di desa ini. Mereka rata-rata adalah petani. Bukan petani tanaman pangan, tapi tanaman perkebunan. Sekaligus peternak skala kecil.

Kami taruh motor di rumah OBK lalu mulai mendaki. OBK belum datang, mungkin masih di kantor. Tapi nanti dia akan menyusul. Nanti saya akan tahu bahwa dia akan menyusul dengan berlari!

Saya dan SCK berjalan santai. Saya relatif lebih cepat, tapi karena tidak tahu jalan, saya sering berhenti menunggu SCK yang jalannya relatif lebih lambat tapi tidak berhenti. Tap tap tap… terus dia, tidak berhenti.

Kanan kiri adalah perkebunan kopi dan pinus. Sampai Pos 1 Onto Boego saya masih mendapati jalan bebatuan. Kebanyakan track landai.

Pos 1 Onto Boego mempunyai beberapa bangunan. Salah satu yang menarik adalah goa yang mulutnya dibuatkan bangunan kecil dengan pintu. Menurut SCK, penduduk setempat percaya bahwa goa ini adalah “lift” yang bisa membawa ke Pantai Selatan dalam sekejap. Bangunan di mulut goa ini tidak sendiri. Ada beberapa bangunan lagi. Bersih, gelap, kecil, dan tercium bau dupa. Saya tidak berani masuk.

Tidak ada warung yang buka di Pos 1 Onto Boego. Jadi saya baru sarapan di Pos 2 Tampuono. Seorang ibu penjaga warung hanya menyahut “Yaa…” ketika saya panggil. Tapi tidak keluar-keluar. Jadi saya masuk saja ke bangunan gubuk berlantaikan tanah. Masuk ke dalam, saya baru melihat si ibu sedang sibuk menggoreng keripik pisang. Di atas kayu bakar yang membara.

“Ada nasi Bu?”

“Ada, tapi hanya ada telur,” dijawabnya sambil menunggu jawaban balik dari saya.

“Gak apa-apa bu. Saya pesan satu ya bu…”

Lalu tidak lama datang nasi dengan telur dengan tahu dengan tempe, dan ada sambalnya satu piring. Memang ya, apa saja enak kalau di gunung.

Baru setengah makan, datanglah OBK, sambil berlari dari bawah. Tidak terlihat keringat. Tidak ngos-ngosan. Tidak membawa apa-apa, cuma celurit di tangannya (mungkin buat bersihin lading kopinya). Langsung dia bakar rokoknya. Dia berlari sekitar setengah jam saja! Padahal kami perlu hampir 2 jam untuk sampai Pos 2 Tampuono.

OBK sudah bertahun-tahun tinggal di desa Tambak Watu. Dengan gajinya yang pas UMR (hanya selisih beberapa ratus ribu), dia bisa dikatakan beruntung di desanya punya gaji sebesar itu. Nah, di sini saya bersyukur sekali dengan pendapatan saya. Kok dia yang dapat UMR bisa dikatakan beruntung oleh penduduk desanya, tapi saya dapat berkali lipat dari UMR tapi masih mengeluh!

 

Pos 2 Tampuono – Pos 5 Mangkutoromo

Buat saya, cerita SCK dan OBK lebih menarik ketimbang perjalanan fisik yang saya lewati. Tapi tentu pembaca mau tahu track nya seperti apa. Secara umum, track pendakiannya normal. Yang agak berat itu dari Pos 3 Eyang Sakri sampai Pos 5 Mangkutoromo. Kebanyakan jalan nanjak agak curam. Berbatu. Jarang ada bonus.

Tidak sadar saya sudah lewati Pos 3 Eyang Sakri. “Tadi itu sudah lewat,” kata SCK setelah saya tanya di mana Pos 3 Eyang Sakri. Mungkin tidak terlalu jelas posnya sehingga terlewat begitu saja.

Kalau di Pos 4 Eyang Semar, ramai orang. Ada gubuk kecil dan ada yang masak. Ada semacam tempat ibadah yang lokasinya terbuka. Seperti gundukan batu yang di atasnya datar. Banyak lidi-lidi berasap. Ada yang sedang semacam beribadah. Seperti ibadahnya umat Hindu. Tapi mereka bukan Hindu. Menurut SCK, itu adalah Kejawen. “Berat loh jadi Kejawen, mereka tidak makan yang bernyawa dan yang berminyak. Jadi digodok terus.”

Sambil jalan, saya ajak ngobrol OBK tentang pekerjaannya. Dia adalah karyawan outsourcing dari perusahaan yang terkenal menyuplai Office Boy, termasuk di Jakarta. Sudah 6 tahun bekerja tapi gajinya ya mepet UMR terus. Kalau sedang tidak ada proyek, ya nganggur sudah. Dirumahkan, istilah si OBK. Tidak ada pemasukan sama sekali. Sudah 6 tahun tapi tidak diangkat menjadi karyawan tetap. Kontraaak terus.

Bagi yang beruntung, akan diangkat menjadi controller, atau apa istilahnya saya lupa. Si controller akan tetap mendapat gaji walau tidak ada proyek. Tapi dia harus masuk ke kantor. “Gajinya beda-beda tipis sama saya. Cuma beda beberapa ratus ribu,” kata OBK.

Kenapa OBK tidak diangkat-angkat? Ya tanyakan saja sama perusahaan-perusahaan outsource itu. “Ada yang sudah belasan tahun kerja tetap juga tidak diangkat-angkat,” kata OBK.

Yang menurut saya hebat, OBK tidak terlihat mengeluh. Kalem saja dia. Justru saya sering dapat banyak keluhan tentang gaji itu dari teman-teman yang pendapatannya berlipat-lipat dari UMR. Jadi seperti meludah ke wadah air yang airnya akan dia minum sendiri.

Pelajaran seperti ini yang saya senangi buat memperbaiki jiwa saya sendiri. Jangan mengeluh!

SCK juga ikut bercerita. Dia sudah ingin sekali masuk menjadi karyawan tetap di tempat client nya yang sekarang, ya pabrik tempat kami bekerja sekarang. Tapi sudah bertahun-tahun belum berhasil.

Pendakian tidak terlalu berasa kalau diselingi dengan sambil bercerita begini. Apalagi kalau latar belakangnya beda. Tentu akan banyak sudut pandang.

Sampai di Pos 5 Mangkutoromo, kami rehat sekitar satu jam. Makan perbekalan, tapi tidak makan berat. Di sini banyak tenda. Memang tempatnya pas: luas dan datar. Ada juga tenda besar semi permanen yang atapnya sudah ditumbuhi perdu-perduan, ada perdu yang tingginya sampai 2 meter! Jadi ini tenda besar sudah lama sekali. Sepertinya untuk tentara. Di dalamnya bisa buat tidur. Jadi sebetulnya bisa saja hanya bawa matras dan sleeping bag kalau mau tidur di Pos 5 Mangkutoromo. Tidak bawa tenda tidak apa-apa.

Gundukan batu tempat ibadah juga ada di Pos 5 Mangkutoromo, seperti yang ada di Pos 4 Eyang Semar. Saya melihat ada seorang ibu berjilbab lebar di atasnya, seperti sedang membaca doa yang ada di buku kecil di tangannya. Tidak lama kemudian ibu ini pamit turun duluan dan menawarkan makanan, “Silakan itu ada nasi di dalam. Ambil saja yaa.” Bicaranya ramah dan banyak senyum.

 

Turun

Turun memang lebih cepat daripada naik. Hampir selalu begitu. Tapi hati-hati betisnya. Saya baru turun 15 menit saja sudah gemetar. Bahkan si OBK yang sudah biasa naik Arjuna juga gemetar.

Di perjalanan turun saya ketemu dengan ibu yang tadi sedang berdoa di Pos 5 Mangkutoromo. Dia bersama 2 anak muda yang membawa carrier besar. Satu di antaranya malah membawa 2 carrier besar. Saya pikir, mungkin anak muda ini adalah bawaan si ibu untuk bantu bawa barang.

OBK bertanya, “Sudah berapa lama bu?”

“Sebulan,” katanya singkat sambil terus berusaha turun perlahan, masih fokus pada batu yang dia tapaki.

Kelak saya akan tahu bahwa ibu itu bernama Rahayu, dari Jakarta. Dia meminta tolong 6 anak muda yang baru dikenalnya untuk membawakan barangnya turun. Ketika naik, dia juga meminta tolong 6 anak muda untuk membawakan barangnya naik. Masing-masing diberikan ongkos Rp150.000.

Apa yang Ibu Rahayu lakukan di gunung selama 1 bulan? Ini saya juga belum tahu. Yang saya tahu, itu juga tahu dari cerita SCK, banyak orang jauh yang datang ke Arjuna untuk semedi, mencari “ilmu”, atau semacam itu. Apakah itu yang Ibu Rahayu lakukan? Belum bisa dipastikan.

Tulisan ini saya buat dua hari setelah turun. Paha masih nyut-nyutan. Betis masih sakit. Jalan masih susah. Tapi naik gunung itu seperti tobat sambel. Sekarang kepedasan, besok mau lagi.




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31