Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu

IMG20180507052341Saya langsung terbius membaca buku ini. Tidak tebal, sehingga cepat sekali habis. Idris Pasaribu menuliskan kisah hidup seorang Pincalang bernama Amat. Pincalang adalah manusia perahu, yang seumur hdupnya tinggal di perahu. Walaupun tidak betul-betul seumur hidup, karena sering juga berlabuh ke pulau beristirahat.

Kejahatan tidak hanya ada di kehidupan darat, juga ada di kehidupan laut. Perompak tidak segan-segan untuk merampok seluruh isi perahu orang-orang seperti Amat. Tak hanya harta yang diambil perompak itu, juga harga diri istri-istri mereka. Kehidupan laut dekat dengan makanan laut, dengan kolesterol yang tinggi. Makanan tersebut meningkatkan libido manusia laut, maka mereka melampiaskannya kepada yang dekat.

Amat harus menjaga keluarganya. Ia dan kawan-kawannya sesama Pincalang berhasil membunuh komplotan perompak di sebuah pulau yang memang sudah Amat hapal. Ada juga yang ditenggelamkan di laut Bersama perahu sang perompak, dengan cara melubangi lambungnya, lalu membakarnya dari atas.

Idris Pasaribu bercerita bagaimana pandangan para Pincalang terhadap orang darat, yaitu tdak bisa dipercaya, suka menipu. Hal tersebut sekaligus ditampiknya dengan cerita bahwa Amat bisa melebur dengan orang darat dan mendapat banyak kawan baik dari darat.

Perekonomian para Pincalang begitu sederhana. Mereka memanen kelapa untuk dijadikan kopra, lalu dijualnya pada para tauke di dermaga. Harga yang diberikan para tauke sering di bawah harga yang sesungguhnya. Tapi karena memang Pincalang tidak bisa membaca dan kurang bisa berhitung, maka mereka sering ditipu.

Amat termasuk Pincalang yang cerdas. Dia membandingkan harga dengan tauke lain sehingga bisa mendapat harga yang paling baik. Bisnisnya berkembang, bahkan Amat sendiri menjadi tauke bag teman-temannya yang ingin menjual kelapa.

Konflik besar dimulai ketika mulai banyak kapal-kapal Keppres yang membabati hutan bakau. Disebut kapal Keppres karena kapal ini hasil kebijakan presiden lewat Keppres, agar para nelayan memiliki kapal dengan kredit lunak.

Mereka membabati hutan bakau dan Amat tidak diam. Beberapa orang diingatkan Amat untuk tidak membabati bakau. Mereka tidak dengar. Amat marah lalu membunuh mereka. Amat dicari-car polisi dan ditangkap. Setelah beberapa tahun Amat bebas dan mulai menanami hutan bakau lagi, yang kemudian dibabati lagi oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Ini merupakan konflik social yang saya rasa masih terjadi sampai sekarang.

Terima kasih Idris Pasaribu.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s