Mengenal Pekanbaru

Project baru, kota baru, pengalaman baru….

Sejak awal April 2018, entah sampai kapan, mungkin September, saya ditempatkan di Pekanbaru. Ini pertama kalinya saya ke Pekanbaru. Landing pertama kali di bandara Pekanbaru (Sultan Syarif Kasim II), saya pakai taksi untuk langsung menuju kantor di Jalan Rambutan. Taksinya pakai argo dan tidak ada pungutan bandara seperti di Cengkareng. Saya lihat ada juga halte Trans Metro Pekanbaru (TMP) –seperti Trans Jakarta di Jakarta- di bandara. Tapi kalau sudah malam, TMP tidak ada lagi.

IMG20180428082001
Bus Trans Metro Pekanbaru (TMP)

Pilihannya, kalau mau murah di malam hari dari bandara, adalah dengan Gojeg atau Grab Bike. Sudah ada dan sudah banyak. Tapi saya harus keluar bandara dulu waktu itu, jalan dulu sampai Hotel Batiqa. Sekitar 1,5 km atau 20 menit jalan kaki. Saya suka jalan, jadi gak masalah. Dari situ pesan Gojeg ke hotel saya di Evo, bertarif sekitar Rp9.000. Murah kan, dibanding taksi bisa sekitar Rp40.000.

Ada beberapa hal khas banget Pekanbaru yang saya mau ceritakan setelah tinggal di sini lebih dari sebulan:

 

Warung Kopi

Tidak sulit mencari warung kopi. Jalan sedikit ketemu warung kopi. Di depan kantor saya berjejer warung, beberapa di antaranya warung kopi. Salah satunya bernama warung kopi Yuli. Harga kopinya segelas Rp3.000. Ini kopi hitam, bukan sachet. Kelihatannya semua kopi yang dijual di semua warung kopi, by default adalah kopi hitam, bukan sachet. Mirip di Aceh.

IMG_20180506_171833
Menu kopi di Radja Koffie, Pekanbaru

Nah tapi warung kopi ada kelas kelasan juga. Ada yang kelasnya rada tinggi. Misalnya Radja Koffie. Tempatnya lebih berkelas dan banyak diisi orang-orang bermobil. Harganya ya jelas beda. Segelas kopi sekitar Rp10.000.

 

Warung Padang

Buat teman saya yang orang Jawa, ini berita buruk. Tapi buat saya, ini berita sangat baik. Bahwa Pekanbaru bertaburan warung padang. Mungkin karena Provinsi Riau mepet dengan Sumatera Barat ya.

Di depan kantor saya, yang paling banyak adalah warung padang. Dan herannya, harganya itu loh, murah-murah banget. Misalnya saya beli makan siang nasi pakai ikan laut. Ikannya itu panjang melintasi piring, lebih panjang dari diameter piring. Saya pikir kena dua puluh ribuan. Ternyata hanya Rp10.000.

IMG20180410153537
Nasi padang di Pekanbaru. Semua ini harganya Rp20.000

Atau pernah juga di depan kantor, di warung padang yang lain. Saya datang sendiri, pesan pakai ikan goreng kecil-kecil. Setelah duduk ternyata yang disajikan di meja saya ada sekitar 7 piring. Ada yang isinya sayuran segar. Ada yang isinya sambal. Ada yang isinya sayur nangka. Satu piring khusus ikan yang saya pesan. Sambal kalau gak salah ada 2 piring. Pas bayar, ternyata hanya Rp20.000.

Di samping hotel tempat saya tinggal juga ada warung padang Simpang Raya. Agak sana sedikit ada Pagi Sore. Jadi ini kota isinya warung padang semua. Saya senang….

 

Rokok

Di warung, di ruang kerja, bahkan di tempat-tempat meeting, orang Pekanbaru senang sekali merokok. Seperti tidak bisa keluar idenya kalau tidak merokok. Jadi di ruang AC nih ya, itu pada merokok. Nah ini yang bikin saya kurang betah.

 

“Semalam”

Pernah di suatu meeting, rekan kerja saya bilang, “Yang semalam kita obrolin itu, Bang….”

Perasaan semalam saya gak ketemu dia deh. Komunikasi lewat HP juga enggak. Pulang kantor langsung istirahat. Saya kerutkan dahi terus bertanya, “Semalam?”

“Iya semalam, masak Abang lupa. Yang Abang bilang (bla bla bla)……..”

Baru saya ngeh, ternyata yang dimaksud semalam itu adalah minggu lalu. Dan sebetulnya tidak terbatas di minggu lalu, bisa juga tahun lalu. Hahaa. Jadi “semalam” artinya adalah yang sudah lewat.

 

Halte TMP

Kalau di Jakarta, haltenya kan besar-besar. Harus beli tiket baru bisa masuk. Kalau di Trans Metro Pekanbaru (TMP) haltenya sedanya. Beli tiketnya di dalam bus. Haltenya itu, ada yang hanya berupa tangga. Ada yang haltenya dekat pasar, isinya sayuran, bukan penumpang (jadi tempat dagang sayur).

IMG20180428083214
Tangga di depan halte. Jadi haltenya buat apa?

Yang lebih lucu lagi, ada yang bikin halte, tapi terlalu ke dalam (jauh dari jalan bus melintas), jadi bus TMP susah melengos ke kiri. Akhirnya dia pasang tangga lagi di depan halte. Terus haltenya buat apa?

IMG20180428085822
TIket TMP sebesar Rp4.000

Tiket naik TMP adalah Rp4.000 sekali jalan, bebas mau ke mana saja. Busnya bagus, bersih, dan sepi. Waktu saya naik dari Terminal Payung Sekaki, sampai turun di Gramedia dekat fly over, itu penumpangnya paling hanya 5 orang.

 

Multikultur

Ini juga karakteristik Pekanbaru yang keren. Isinya banyak orang Batak, banyak orang Padang, banyak orang Melayu, banyak juga orang Jawa. Di kantor saya, di depan pintu toiletnya ada judul-judul begini: “Mba”, “Mas”, “Ucok”, “Butet”, “Uda”, “Uni”. Ini melambangkan variasi kultur yang tinggi.

Tidak sulit mendengar orang berbicara Jawa. Tidak sulit mendengar hentakan-hentakan suara khas orang Batak. Bahasa Padang dan Melayu juga sering terdengar.

Saya pernah main ke salah satu site kebun di Sei Galuh. Di emplasemennya, masjid dibangun tepat di seberang gereja. Hanya dibatasi jalan. Mereka hidup rukun dan kompak.

 

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

59 tanggapan untuk “Mengenal Pekanbaru”

  1. “Semalam” hmm pembendaharaan kata baru nih. Biar nanti ga salah presepsi. Paling murah makan di pekanbaru dan Duri. Masakannya enak harganya ramah di kantor.

  2. Sebagai pencinta kopi dan tukang makan, apalagi makanan murab meriah dan enak sepertinya aku harus ke Pekanbaru

  3. Hal yang paling menarik bagi saya di Pekanbaru dan sekitarnya adalah arsitektur masjidnya indah – indah. Jika pada kunjungan saya berikutnya ke Pekanbaru, Mas Iqbal masih di sana, boleh ya kita road mosque to mosque yang dilewati rute TMP. Btw, terimakasih ya untuk informasi menarik Pekan Baru lainnya….

  4. Wah aku baru sekali ke pekan baru padahal salah satu kampung halaman. Ternyata skrg udah ada busway nya. Yg aku tau org Riau memang suka merokok sama spt bapakku haha.

  5. nasi padangnya muraaah sekalii. bisa kolesterol saya kalo tinggal di sana. ikannya aja panjangnya melintasi piring. 😁

  6. Senang banget kalau kota-kota selain Jakarta transportasinya mudah dan nyaman. Jadi nanti kalau ke sana, nggak bingung soal transportasinya. Apalagi kalau plesirannya sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s