Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran

IMG20180407131008
Gedung depan Hotel Pandanaran

Sabtu 7 April 2018 adalah hari terakhir saya tinggal di Hotel Pandanaran, Semarang. Enam bulan sudah saya tinggal di sini untuk mengerjakan project IT di sebuah BUMN. Minggu depan saya dipindah lagi ke Pekanbaru untuk memulai project lain lagi.

Cepat atau lambat, yang saya yakini, pengelola Hotel Pandanaran akan melihat tulisan ini. Kalau melihat ada review buruk dari tulisan ini yang bisa menjadi bahan perbaikan, silakan diambil. Kalau melihat ada review bagus, itu bukan karena saya dibayar. Ini murni review subjektif saya.

Jadi kenapa kantor tempat saya bekerja memilih menempatkan di Hotel Pandanaran? Karena lokasinya dekat dari kantor, di daerah Mugas. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit lewat Taman Pandanaran. Sering kali malah waktu istirahat siang saya ngacir ke hotel untuk tidur siang, karena begitu dekatnya.

Posisi hotel ini sangat strategis. Di daerah yang dekat dengan banyak toko oleh-oleh. Dekat dengan Simpang Lima. Mau ke Lawang Sewu tinggal jalan kaki. Kalau mau ke mana-mana pakai Trans Semarang gampang, ada haltenya persis di depan hotel.

Beberapa kamar di lantai 9 dan 10 sudah saya coba, tapi yang paling sering saya dikasih kamar 906 di lantai 9. Sering gonta ganti kamar karena setiap 2 minggu sekali saya terbang balik (hometrip) ke Jakarta. Jadi Jumat check out, barang titip resepsionis, Senin check in lagi, kadang dengan kamar yang berbeda. Satu kamar diisi 2 orang.

IMG20180407124428
Kamar 906

Cerita 906 nih ya. Yang paling menarik adalah posisinya yang tinggi, jadi bisa lihat banyak bangunan dari jendela kamar. Bisa lihat hujan kalau hujan. Bisa terpaksa bangun kalau sudah sekitar jam 7 pagi karena cahaya yang masuk lewat selipan tirai lumayan intens, membuat mata terpaksa bangun.

Malam tahun baru 2018 kemarin, sebetulnya saya sudah tidur habis sholat Isya, tapi terbangun pas jam 12 malam karena bunyi suara petasan. Ya sudah sekalian saya buka tirai dan melihat kembang api di atas kota Semarang. View nya bagus sekali dari 906.

IMG20180407124551
View dari kamar 906 Hotel Pandanaran

Setiap kamar dan di setiap kasur punya lampu baca yang bisa diarahkan sesuka hati. Ini manfaat sekali buat yang suka baca. Jadi tidak perlu sungkan nyalakan lampu kalau teman sekamar sudah tidur dan kita mau baca. Saya tinggal nyalakan lampu baca di kasur saya lalu disorotkan ke arah buku.

Hair dryer ada di setiap kamar mandi. Buat saya tidak berguna. Tapi buat perempuan yang rambutnya panjang panjang mungkin penting ya.

Kopi sachet yang selalu refill setiap hari, kurang oke rasanya. Mohon maaf, malah seperti tercampur tanah.

Air panas dari shower bagus, panasnya cepat. Sirkulasi airnya juga bagus, sehingga tidak ada air menggenang.

Roti yang dijual di kafe, ini enak! Roti berkelas. Rasanya elegan. Pilihan rasanya juga banyak: keju, coklat, abon, sosis, coklat pisang dst… Apalagi setiap di atas jam 6 sore harga didiskon 50% dari Rp6.000 jadi Rp3.000. Sudah murah, jadi tambah murah. Ini jadi andalan kalau saya pulang malam dan malas makan nasi.

Koran gratis di meja resepsionis, ini sering saya ambil sembari berangkat ke kantor sekitar jam 8 pagi. Bacanya di kantor waktu senggang. Kalau tidak sempat, minimal jadi tatakan mouse. Biasanya Koran lokal, tapi kadang-kadang ada juga Koran Jakarta. Terima kasih untuk ini.

Payung, ini payung pada ke mana? Setiap mau pinjam payung bilangnya tidak ada terus. Mungkin ada yang pinjam kemudian tidak kembali. Penghuni seperti ini mah kasih denda saja pas dia check out.

Kolam renang dan gym dulu sering saya pakai waktu awal-awal semangat olahraga. Kolamnya bersih. Alat-alat di gym juga cukup. Terima kasih untuk air galonnya di gym, jadi kalau jatah air yang di kamar habis, bisa refill di sini, ketimbang telepon Housekeeping minta tambahan air sebotol dihargai Rp10.000. Di Alfa cuma Rp3.000.

Nah sekarang bahas sarapan. Awal-awal saya senang betul sarapan di hotel. Malah kadang-kadang makan sampai overload, sampai saya tidak merasa lapar di jam makan siang. Jadi baru makan lagi sore.

Tapi belakangan memang bosan juga muncul. Teman saya yang setahun di hotel ini malah lebih senang pesan Go Food buat sarapan, atau beli makanan di jalan sembari ke kantor. Mungkin karena sudah sangat bosan dengan menu sarapan hotel.

Sebetulnya menurut saya menunya tidak begitu monoton. Kuah-kuahan di ujung deretan makanan utama, sering diganti, yang menjadi favorit: sup cream jagung dan sup sosis. Pernah sekali saya kaget waktu pegang gagang buat nyiduk kuah di sini. Saya kesetrum, mungkin karena listriknya ada masalah. Jadi sempat agak trauma kalau mau ambil kuah-kuahan.

Lauk makanan utama hampir selalu ayam dan ikan patin. Itu saja diputar tiap hari dengan cara masak yang berbeda. Keduanya jarang saya sentuh. Kalau ada dori, nah ini baru saya makan banyak. Perlu diganti-ganti nih. Ikannya ya jangan patin melulu lah. Ayamnya juga sekali-sekali ganti daging dong. Tidak pernah saya lihat ada menu daging kalau sarapan di hotel. Budget-nya tidak cukup mungkin ya.

Menu lain yang selalu ada kala sarapan sudah oke: bubur ayam, sereal, roti-rotian, kue-kue kecil, bapao, popcorn kalau weekend. Dan ada meja yang tiap hari menunya berubah, kadang gado gado, kadang tahu campur, kadang pecal, kadang tahu gimbal.

Kentang dan telur jadi andalan saya hampir setiap hari. Tapi yang jagain egg corner seringnya baru ada sekitar jam 7, padahal sarapan buka jam 6. Jadi kalau saya sarapan kepagian, mau pesan telur tidak ada yang jaga. Nasi goreng juga, baru mulai ada yang jaga sekitar jam 7.

Buah selalu ada 3 jenis, yang sering adalah pepaya, semangka, dan nanas. Kadang-kadang nanas diganti bengkoang. Ini sudah oke sih.

Resepsionis yang jaga lumayan ramah. Housekeeping kalau ditelepon selalu diangkat dan selalu melayani dengan baik. Termasuk teknisi yang pernah saya buat repot gara-gara teman sekamar saya grendel pintu dari dalam.

Jadi ceritanya, setelah grendel pintu dia lupa buka lagi. Terus tidur. Saya pulang tidak bisa masuk, pintu hanya bisa dibuka sedikit saja. Diteriaki tidak bangun. Ditelepon mungkin sampai sepuluh kali tidak bangun. Ditelepon dari resepsionis juga tidak bangun. Rasanya mau saya jitak habis-habisan ni anak.

Akhirnya si teknisi ini turun tangan. Dia masuk lewat kamar sebelah (908), buka mur jendela yang menghadap keluar, lalu merayap untuk masuk ke 906 lewat jendela juga. Pintu bisa dibuka dari dalam 906.

Ahh… maaf ceritanya kepanjangan. Tapi ada satu cerita lagi yang perlu. Yaitu tentang seorang penjual rokok kopi yang ngampar di depan hotel, agak serong sedikit. Namanya Ibu Endang. Setiap saya ke kantor dia selalu menyapa selamat pagi. Senyumnya begitu lebar. Kalau didekati, kita akan dengar suara murotal yang diputar dari telepon genggamnya di dalam saku. Kalau saya pulang ke hotel untuk istirahat siang, sering lihat Bu Endang sedang merajut. “Istirahat ya pak,” begitu dia menyapa.

Sudah dua kali Bu Endang kena Satpol PP. Semua dagangan rokoknya, satu kardus indomie, diambil. Gerobaknya juga pernah diambil. Tapi wajahnya tetap kelihatan gembira. Saya tidak pernah membeli rokok atau kopi dari Bu Endang, tetapi Bu Endang mengesani saya dengan baik dan menjadi satu hal yang saya ingat terkait Hotel Pandanaran.

Terima kasih Hotel Pandanaran!

 

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

67 tanggapan untuk “Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran”

  1. 6 bulan di hotel yang sama…hebat
    Ya tiap hotel memang ada kelebihan dan kekurangannya.
    Aku pernah nginap di hotel bintang lima, kamarnya gede banget, malah jadi takut, karena sendiri.

  2. Saya juga pernah pengalaman ketiduran di kamar dan gak bangun walau sudah diketok pintunya bbrp kali. Akhirnya teman saya minta dibukain oleh staff hotel dgn kartu aksesnya. Untung saja saya gak pakai gerendel pintunya.

  3. 6 bulan! Luar biasa. Saat kemarin saya ikut program IKKON, juga selalu dapat konsinyering di hotel yang sama. Selama 3 hari tiap bulannya selama 4 kali!

    Dengan waktu segitu aja saya udah bosan luar biasa sama masakan hotel. Hahahha, masakan abang2 pinggir jalan lebih ngangenin.

  4. 6 bulan tinggal di hotel biar sedikit hemat gitu ya caranya, kalau gak dipake mendingan checkout aja. Kalau mau nginep checkin lagi deh. BTW, itu dapet harga khusus gak dari hotelnya?

  5. Hhmm…ngeri ya kalo komen negatif suatu tempat yg kita gratis menginap. Tp klo gak gratis yg subjektif aja gpp. Ada kesan lain jg yg ditampilkan seputar kisah bu endang. Nice review

  6. lah kalao hair dryer suka mls pakai soalnyakena AC kkadang dah kering ni rambut. heheh makasih mas ikbal ya..itu kesonoan dikit ada carefour bukan yaak? depannya ada pusat oleh2. aku perna ksitu juga lumpianya enak banget..

  7. (((TEMPAT FAVORITE))) klo dines di Semarang pasti ke situ..deket tempat OLeh oleh..wkkw
    Mas Foto2 Lorong2nya donk… entah aku awsome aja sama interiornya..

    Unik-unik homey hotelnya

  8. Woow. 6 bulan. Biasanya kalau saya dinas lama, maksimal seminggu saja di 1 hotel habis itu ganti hotel lagi. Tujuannya agar menghilangkan rasa bosan terutama terhadap menu sarapan.

    1. iya, tiap sarapan biasanya di awal ditanya dr kamar brp, terus gak pernah lg…. waktu check ini jg langsung udah tau nama… waktu hometrip ke jkt ditanya, bapak kapan kembali ke hotel hehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s