Tinggal di Batumas Pandaan

Di daerah Pandaan, Jawa Timur, komplek perumahan yang terkenal paling elit adalah Taman Dayu. Dulu rencananya saya dan 3 teman saya mau menyewa rumah di Taman Dayu, tapi terlalu mahal. Untuk rumah dengan 3-4 kamar disewakan Rp40 juta per tahun. Ini cerita tahun 2017.

Lalu masuk saran dari mana-mana, akhirnya kami putuskan untuk menyewa rumah di Batumas, dengan harga sewa lebih terjangkau. Jarak rumah ke kantor di MSD sekitar 5 menit saja naik mobil. Apa yang saya suka dari Batumas adalah pemandangan gunungnya yang langsung menyapa ketika memasuki gerbang depan. Gunung Penanggungan. Air tanah di Batumas juga sangat segar. Kalau mandi habis pulang kantor itu nikmat banget.

Security selalu berjaga di pintu gerbang depan. Plang hanya dibuka security ketika ada yang masuk. Yang masuk juga selalu diperhatikan siapa. Warga Batumas iuran setiap bulan Rp60.000. Ini untuk jasa security dan jasa angkut sampah.

Rumah sewa kami ada di blok C6. Depan rumah kami adalah lapangan tenis. Agak serong sedikit ada mushola. Setelah sholat subuh, selalu ada suara orang baca Asmaul Husna dan surat-surat pendek Quran (biasanya Al-Mulk). Magrib dan Isya juga cukup ramai warga yang ke mushola.

Saya suka jogging di Batumas karena tidak ada polusi. Biasanya saya lari mengelilingi sawah. Heran juga, di komplek begini masih ada sawah di bagian depan komplek. Setelah melewati plang gerbang depan, langsung ketemu sawah. Heran sih, tapi ya bagus, karena rasanya lebih tenang kalau lihat sawah.

Buat saya, tidak perlu AC untuk tinggal di Batumas, malah seringkali saya pakai selimut tipis karena kalau terbangun di tengah malam suka terasa dingin. Apalagi kalau musim hujan, hampir selalu pakai selimut.

Tadinya kami punya kolam ikan di dalam rumah. Sempat semua ikannya mati karena kami tinggalkan rumah sampai 1 bulan. Sedih rasanya semua ikan mati. Kami beli lagi di Pasar Ikan Hias Sidoarjo, 50 ekor @Rp2.000.

Saya lihat, banyak rumah yang disewakan di Batumas, kisaran harganya Rp15 juta sampai Rp30 juta per tahun, biasanya tergantung besarnya rumah dan apakah ada isi atau kosongan. Ada juga kosan dengan kisaran tarif Rp900.000/bulan. Untuk daerah Pandaan, saya rasa tinggal di Batumas termasuk mahal. Sebagai pembanding, saya pernah cari rumah kontrakan di daerah Kuti sekitar Rp15 juta setahun dengan 4 kamar. Atau ada juga yang lebih murah, di dalam perkampungan, Rp6 juta setahun dengan 4 kamar!

Makanan

Tinggal di Pandaan itu cepat kaya. Bayangkan saja, nasi goreng rata-rata Rp10.000. Kalau pesan setengah, ya harganya betulan setengahnya, Rp5.000. Nasi bebek rata-rata Rp17.000. Seringnya sih saya masak di rumah. Beli bahan-bahan di Pasar Pandaan. Tidak ditembak harganya, walaupun belinya tidak pakai Bahasa Jawa. Jadi kami juga tidak pernah nawar.

Sering juga, kami makan di rumah makan padang Roda Baru. Ini tempat selalu ngantri kalau mau pesan makanan. Di awal tahun, harga sepiring nasi dengan rendang masih Rp15.000, di akhir tahun naik menjadi Rp18.000. Ada juga rumah makan padang Ampera di dekat Pasar Pandaan. Buka 24 jam. Makanannya juga lumayan nyambung sama lidah. Yang agak kurang nyambung itu rumah makan padang yang di seberang Taman Dayu. Terlalu manis buat saya.

Ada semacam food court di Taman Dayu. Harganya ya sama seperti di pinggir jalan. Tidak jadi lebih mahal. Pandaan tidak punya mal. Jadi ya tidak pernah makan di mal juga. Cepat kaya deh hidup di Pandaan. Makan murah.

Jajanan yang popular di Pandaan itu sempol, pentol, dan es oyen. Ini mudah ditemukan di pinggir jalan. Ohya, yang juga jadi favorit saya adalah kue pukis di depan Pasar Pandaan. Harganya Rp9.000 per 10 pc rasa keju. Makannya panas-panas.

Kadang-kadang kami makan di Tretes. Makan jagung bakar, roti bakar, minum jahe panas. Atau pernah juga ke Trawas. Pilihannya lebih sedikit sih, tapi suasananya enak, dingin, mirip di puncak Bogor.

Selama tinggal di Pandaan (hampir sepanjang tahun 2017), saya sempat jalan-jalan ke Bromo, Ijen, Pulau Tabuhan Banyuwangi, Baluran, Taman Safari Prigen, Gunung Penanggungan, dan Gunung Arjuna. Mumpung di Jawa Timur.. Kapan lagi?

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s