Taksi di Atas Gunung Ijen

Ada yang terasa berbeda di perjalanan ke Ijen kali ini, 22 September 2017. Keramahan pemilik homestay, dan cerita-ceritanya, membuat saya banyak ber-wah.

Coba googling map “Kawah Ijen Inn” di Jalan Kenjo Glondok, Licin, Banyuwangi. Nah di situ saya bermalam. Lebih tepatnya di depannya, ada rumah saudaranya Pak Paing. Sebut saja nama pemiliknya Pak Budi Luhur (lupa nama yang sebenarnya). Dulunya Pak Budi adalah seorang penambang belerang, yang bisa tidak pulang selama sebulan. Jadi dari dia berangkat sampai pulang lagi itu sebulan. Waktu itu harga belerang masih Rp350 per kg. Sekarang sudah Rp925 per kg. Dijual ke PT Candi Ngrimbi yang pabriknya di Desa Tamansari.

Pak Budi Luhur sudah pensiun dari menambang belerang. Dia cerita, tapi saya lupa lupa ingat. Seingat saya ceritanya begini..

Sekitar 2015 Pak Budi Luhur stop menambang dan fokus di usaha menyewakan rumahnya yang berisi 3 kamar. Tapi Pak Budi bukan yang secara langsung mengurusi usaha sewa. “Pakai HP saja saya susah,” begitu katanya. Ada Pak Paing sebagai connector atau bisa juga disebut broker. Penyewa berhubungan dengan Pak Paing di nomor 08125911535 atau web www.kawahijeninn.com lalu Pak Paing yang menyiapkan kamar dengan berkoordinasi dengan Pak Budi. Yang dia siapkan bukan betul-betul miliknya, tapi milik saudara-saudaranya, ya seperti Pak Budi ini. Selain pak Budi ada beberapa yang lain.

Pak Budi cerita, dua tahun lalu, Pak Paing masih menambang belerang. Ngenes melihat Paing dulu, kata Pak Budi. Tapi sekarang sudah punya mobil 2 buah. Usahanya lancar. Paing adalah aktor intelektualnya, yang menagjak saudara-saudaranya ikut berbisnis bersamanya. Mungkin dari ongkos sewa kamar Rp130.000/ kamar, Paing mendapatkan sekian persennya.

Kamarnya bersih. Kami pesan 3 kamar. Rumah Pak Budi ada 4 kamar. Yang 3 buat kami, yang 1 di belakang sendiri buat Pak Budi. Ada dapur, mushola kecil, dan ruang tengah dengan TV yang bisa digunakan. Toilet hanya 1. Tiap kamar ada kipas angin.

Pak Budi memberikan servis lebih dengan memberikan kami pisang sekitar 3 sisir. Enak, manis. Terlihat sekali ramahnya Pak Budi. Kami diajak ngobrol, diberikan banyak informasi. Ditawari mau minum apa, tapi karena tidak enak hati, jadi kami bilang tidak saja. Pulangnya kami diberi oleh-oleh ukiran dari belerang. Dalam hati saya, sudah bayarnya murah, yang punya ramah, servisnya bagus, dikasih oleh-oleh lagi.

Nah sekarang cerita tentang perjalanan ke kawah Ijen. Dari homestay pukul 12 malam, sampai di Paltuding sekitar pukul 1 malam. Di tengah jalan, tepatnya di desa Taman Sari, terdapat pungutan dari warga sebesar Rp3.000 per orang. Di Paltuding juga bayar tiket masuk Rp5.000 per orang. Yang belum punya masker, sarung tangan, dan kupluk, bisa dapat di sini, di Paltuding. Ohya, saya melihat ada beberapa tenda. Jadi bisa nge-camp di sini dan tendanya bisa sewa di sini.

BWI DSC_1776
Kawah Ijen. Dok: Winy Febrianti

Kami mulai tracking pukul 1.30 dan sampai di puncak bayangan pukul 3.45, jadi ya 2 jam lebih jalannya, karena saya bertujuh dan separuh dari kami baru pertama kali naik gunung. Dua tahun lalu saya ke sini bareng sama yang biasa naik gunung itu sekitar 1,5 jam sudah sampai. Jalannya berpasir. Pasirnya halus dan suka bikin terpeleset di beberapa tempat yang miringnya lumayan. Beberapa pendaki pakai tongkat, ini membantu banget. Atau ada yang menggunakan batang kayu untuk jadi tongkat. Kayunya diambil dari pinggir jalan pendakian, dari pohon-pohon kecil.

Baru masuk gerbang, bukan gerbang sih, tepatnya semacam gapura kecil yang di situ kita harus perlihatkan tiket kita untuk bisa masuk, nah di situ sudah terlihat banyak yang menjajakan jasa “taksi”. Alat yang digunakan adalah gerobak modifikasi yang sebetulnya untuk mengangkut belerang dari puncak bayangan ke bawah/parkiran. Tarifnya dong.. Rp800 ribu! Itu untuk PP dari gerbang masuk ke puncak bayangan, lalu turun lagi ke bawah/parkiran. Kalau cuma naik Rp600 ribu dan kalau cuma turun Rp200 ribu. Kalau naik ditarik oleh tiga orang. Kalau turun cukup satu orang.

IMG-20170924-WA0011
Taksi di Atas Gunung Ijen. Tarifnya Rp800 ribu PP

Senang deh dengar ada taksi ini. Artinya ada alternatif mencari nafkah yang lain untuk penambang. Dapatnya juga lumayan. Sekali jalan naik saja bisa Rp600 ribu per 3 orang atau Rp200 ribu per orang. Ini untuk perjalanan sekitar 1,5 jam.

Bandingkan dengan pendapatan mereka ketika menambang. Sekali angkut misalkan 70 kg belerang yang 1 kg nya dihargai Rp925 atau dibulatkan Rp1.000 deh, jadi dapatnya Rp70 ribu. kalau sehari bisa bolak-balik dua kali, dapatnya Rp140 ribu, tetap lebih rendah dari penghasilan menjadi driver “taksi”. Belum lagi melihat risiko mereka ketika menambang, yang harus menghirup banyak asap belerang.

Taksi bertenaga manusia ini diberi “sofa” kecil yang memungkinkan penumpangnya setengah berbaring. Malah ada yang satu taksi yang ditumpangi dua orang. Sofa itu dilepas ketika pengunjung menurun, untuk diisi belerang kembali.

Dari mana datangnya gerobak-gerobak yang kadang berubah fungsi menjadi taksi ini datang? Bukan dari pemerintah kita, tapi justru dari bule Perancis yang punya usaha di Bali. Gerobak diberikan sekitar 2-3 tahun lalu. Sebelumnya, si bule rutin memberikan uang kepada penambang sebesar Rp100 ribu per penambang per 3 bulan.

Kata Pak Budi, bule itu memang sayang dengan penambang. Homestay yang kami tinggali juga bisa ada akibat program community development nya para bule itu. Mereka mengajari Bahasa Inggris, supaya asal bisa mengerti dan bisa menjawab. Teman saya ada yang dengar, waktu bule mau pipis di pendakian, si guide yang orang lokal jawab, toilet yang betulan tidak ada, adanya “natural toilet”, ya maksudnya pipisnya di semak-semak saja. Tuh kan mereka berhasil.

Bentuk berhasilnya mereka berkembang juga terlihat dari perlakuan mereka terhadap pengunjung. Mereka ramah. Semua pertanyaan dijawab. Kalau kita keliru diingatkan, diarahkan.

Kalau cerita perjalanan saya yang lain, yah biasalah, di tulisan yang lain juga banyak. Bahwa dari puncak bayangan turun ke blue fire itu ngantri. Bahwa semakin turun ke blue fire semakin tajam bau belerangnya, semakin berbahaya. Bahwa dari puncak bayangan jalan ke puncak yang sebenarnya sekitar 1,2 km. Dan bahwa foto-foto di atas puncak itu bagus, untuk di-update di medsos.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s