Singapura: Strategi Sholat

Hampir tidak pernah saya dengar adzan selama di Singapura. Di hotel tidak ada mushola (Park Royal Hotel on Beach Road). Di kantor (daerah Tuas) tidak ada mushola. Jadi 3 bulan di Singapura cara tahu waktu sholatnya gimana? Ya gampang, google saja. Atau saya kan punya aplikasi “Salaam”. Pakai itu saja. Tapi karena settingan lokasinya cuma wilayah Indonesia, jadi saya setting Batam. Kan cuma beda beberapa menit paling.

Kalau di hotel, biasanya saya jadikan handuk mandi saya sebagai sajadah. Sholat di kamar hotel, untuk Subuh, Maghrib, dan Isya. Dzuhur dan Ashar saya sholat di kantor menggunakan kertas flipchart yang biasa ada di ruang meeting sebagai sajadah. Kertasnya dua lembar. Satu untuk kaki, satu untuk kepala dan tangan waktu sujud.

Sholatnya di ruang meeting yang kosong, atau di kubikal yang sepi dan tidak ada pemiliknya, atau di gym yang ada di dalam kantor, atau di ruang menyusui. Yang paling enak di ruang menyusui. Berasa punya mushola pribadi. Ada washtafelnya buat wudhu. Waktu basuh kaki ya diangkat. Tenang saja, ruangan bisa dikunci dari dalam J

Kalau tidak di ruang menyusui, wudhunya di toilet. Tangan sampai kuping di washtafel. Kaki kadang angkat ke washtafel (kalau sepi) kadang di dalam toilet. Kalau di dalam toilet, saya bawa air dalam botol untuk membasuh kaki di dalam toilet. Airnya merk Dasani. Air minum kemasan 600 ml. Kalau beli di luar biasanya $1,5 atau sekitar Rp15.000. Jadi buat basuh kaki harganya Rp15.000.

Nah kalau sholat Jumat, ini yang seru. Teman saya booking ruang meeting buat sholat Jumat sekitar 45 menit. Saya khotbah dan jadi imam. Teman saya itu adzan dan qomat. Ya sudah begitu saja. Yang penting rukun-rukunnya terpenuhi. Rasanya gimana gitu kalau gak Jumatan.

Kenapa tidak ke masjid saja Jumatannya? Karena jauh. Naik taksi sekitar S$20. Perjalanan setengah jam. PP jadi satu jam. Sholatnya setengah jam paling cepat. Jadi bisa hampir 2 jam lah. Itu belum makan. Padahal waktu istirahat hanya 1 jam.

Baru belakangan saya nemu tempat jumatan sekitar 4 km dari kantor di Tuas. Ini tempat jumatan baru, tadinya tidak ada. Kalau tidak dipakai jumatan, tempat ini adalah tempat olahraga. Saya bisa lihat garis-garis lapangan yang ada di bawah alas tempat saya duduk bersila. Ratusan orang, malah mungkin sampai seribu. Mayoritas orang Bangladesh. Imamnya orang melayu, masih muda, ganteng.

Kalau saya lagi iseng jalan-jalan malam, nah ini harus sudah sholat dulu, karena kalau tidak, susah banget cari masjid. Masjid yang ada memang besar-besar, bagus, terawat, tapi jarang banget.

Di hotel tidak ada mushola. Yang ada cuma arah kiblat yang ada di balik laci meja. Tidak ada yang dipasang di langit-langit. Saya sholat biasanya habis mandi habis pulang dari kantor, biasanya pas maghrib. Jadi habis mandi, handuknya dipakai buat sajadah. Bisa sih bawa sajadah dari rumah, tapi makan tempat di tas. Saya usahakan barang tidak masuk bagasi. Backpack saja, jadi cukup di kabin.

Nah kalau handuk buat mandi besok paginya, saya biasanya pakai handuk kecil. Biasanya di kamar mandi hotel disediakan 2 handuk besar buat mandi dan 3 handuk kecil buat lap muka atau buat lap ingus. Atau handuk kecil itu juga bisa buat lap air mata kalau kamu rindu seseorang. Juga bisa buat lap ketiak setelah nge-gym. Ya terserah yang menginap dong.

Balik ke masjid yang besar-besar. Di dekat hotel saya ada masjid Sultan. Mungkin sebesar masjid Sunda Kelapa di Jakarta. Di depan masjid ada spanduknya, dengan tulisan sbb:

Masjid Sultan is now ISO 9001 : 2015 Certified

Wow, ternyata masjid bisa ikut sertifikasi! Ini keren banget! Memang masjidnya megah, bersih banget. Antara toilet dan masjid dipisah dengan genangan air semata kaki, buat menghilangkan najis setelah dari toilet. Di dalam masjid, ada semacam cerita sejarah adanya masjid Sultan.

Kalau pas Ramadhan, ada buka ta’jil yang bikin kenyang. Ini kata teman saya yang pernah buka di sana. Di sekeliling masjid banyak yang berjualan makanan. Setahu saya semua halal. Ini enaknya tinggal di daerah Bugis.

Itu cerita di Bugis. Jadi saya sudah cerita bagaimana saya sholat di tempat-tempat peredaran saya, yaitu hotel, kantor, tempat cari makan. Tapi belum airport.

20170407_190228
Multi-Faith Prayer Room

Di Changi Airport, namanya bukan mushola, tapi “Prayer Room” atau “Multi-Faith Prayer Room”. Walaupun disebut multi-faith, yang itu berarti juga jadi tempat ibadah untuk agama selain islam, tapi yang saya lihat isinya orang sholat saja.

20170407_172112
Sholat di dalam Prayer Room Singapura

Di dekat Prayer Room ada ruangan lain yang disebut Meditation Room. Saya pernah ngintip, tidak ada orang. Dulu waktu saya ngantuk nunggu pesawat di Changi, teman saya kasih saran tidur saja di Meditation Room, tapi saya tidak. Takut dimarahin satpam bandara.

Waktu awal-awal dulu, saya pernah tanya ke petugas bandara, musholanya di mana? Dia bingung. Setelah dijelaskan tempat ibadah untuk muslim, baru diarahkan ke Prayer Room. Jadi kalau nanya, jangan mushola, tapi Prayer Room.

Saya pernah sholat di dua Prayer Room yang ada dalam Changi, kalau tidak salah di terminal 2 dan 3. Tempatnya bagus, bersih. Tempat wudhunya di dalam Prayer Room itu, tidak di ruangan terpisah. Wudhunya sambal duduk, karena ada tempat untuk duduknya. Ruangnya hening sekali. Saya tidak pernah lihat ada sholat berjamaah dikoordinir. Memang ada yang berjamaah, tapi itu dengan rekannya. Kebanyakan saya lihat sholat sendiri-sendiri.

20170407_172256
AlQuran terjemahan India

Di pojokan Prayer Room, ada lemari yang penuh buku. Kebanyakan Bahasa India! Yang menarik buat saya adalah Al-Quran terjemahan Bahasa India. Jadi di setiap baris ayat Quran, ada terjemahannya di bawah. Eh tapi belum tentu deng, wong tulisannya Bahasa India, bisa jadi bukan terjemahannya.

20170407_172148
Koleksi Buku di Prayer Room Changi Airport

Ada beberapa buku lagi yang isinya Bahasa India semua, gak ada arab-arabnya. Saya asumsikan ini kitab agama lain (bukan islam), karena yang saya pahami kalau kitab agama islam itu mesti ada potongan ayat atau hadits dengan tulisan arab.

Semua cerita di atas hanyalah pengalaman subjektif saya di Singapura. Bukan pandangan yang objektif. Bisa jadi banyak muslim yang senang tinggal di Singapura karena mudah beribadah. Ya.. bisa saja.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s