Bromo via Pasuruan 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 dengan 4 orang teman saya. Start dari Pandaan pukul 00.30 dengan mobil sendiri, Avanza.

Jalur yang kami lalui adalah Jalan Raya Pasuruan – Jalan Raya Wonorejo – Jl Raya Ranggeh – Jl Raya Bromo – Wonokriti. Yang perlu hati-hati di Jalan Raya Bromo – Wonokriti. Jalannya belok-belok, menanjak. Sudah aspal sih, tapi sempit. Kalau ada mobil dari arah berlawanan harus sangat hati-hati. Kanan kiri sering kali ketemu tebing. Jalannya sepi. Jarang rumah. Gelap. Alhamdulillah Avanza masih kuat.

Sampai Wonokriti, langsung dikerubungi penjual masker, kupluk, sarung tangan, dan juga calo Jeep. Kalau mau harga normal, beli masker, kupluk, dan sarung tangan itu di dekat toilet. Yang jaga bapak-bapak agak sulit pendengarannya tapi rajin bicara. Kelak pas pulang ketemu dia lagi. Ternyata selain jaga toilet, jualan aksesoris gunung, juga dia jaga parkir. Bayar parkir Rp10.000.

Saya ke toilet bayar Rp3.000. Beli kupluk Rp10.000. Beli sarung tangan Rp5.000 (mirip punya tukang bangunan, gak apa-apa, yang penting sarung tangan). Kami juga sempat makan dan ngopi dulu di warung dekat situ. Kalau tidak salah ingat, saya ngopi dan makan mi tanpa telur bayarnya Rp10.000.

Dari Wonokriti, mobil pribadi tidak boleh naik. Harus sewa Jeep. Nah di sini tantangannya untuk dapat harga normal. Para supir Jeep punya semacam paguyuban yang menetapkan harga Jeep untuk ke Pananjakan dan Bromo itu Rp350.000. Tapi malam itu saya cari-cari dan penawarannya paling murah Rp450.000. Kebanyakan malah minta Rp500.000. Weekend katanya.

Ya bayar sudah Rp450.000 ke orang yang nawari tadi. Dia telfon supir Jeep, lalu bilang: bentar ya, lagi isi bensin. Jeep datang, kami masuk. Maksimal penumpang 6 orang, tapi kami hanya ber-5. Tapi ya bayarnya tetap per Jeep, bukan per orang.

Baru naik, langsung kecewa. Karena info dari supir, tariff Jeep-nya Rp350.000. Dia hanya dikasih Rp350.000 dari si calo. Duh gemes rasanya. Tapi kalau diulang lagi, saya juga bingung, gimana membedakan mana calo mana supir aslinya?

Jeep kami warna hijau nomor 200. Kami langsung berangkat. Baru sebentar jalan, Jeep berhenti dulu di pos tiket. Satu orang bayar tiket masuk Rp27.500. Kami kumpulkan uang untuk 5 orang, lalu kasih ke supir. Supir malah lapornya 4 orang. Aduh, gak bener nih.

Jalanan sepi mulus sampai Pananjakan. Tapi ya memang nanjaknya agak ekstrim. Betul juga sih kalau ada peraturan mobil biasa tidak diperbolehkan lewat. Gak akan kuat!

Sampai di tempat parkir (sebetulnya di pinggir jalan, bukan parkiran khusus), kami harus jalan sekitar 20 menit. Jalannya sih biasa saja, tapi yang mengganggu adalah lewatnya ojeg, terus menerus, bau asap.

Sholat dulu di mushola Bank Syariah Mandiri. Bersih, rapi, bagus. Mushola ini baru ada sekitar 2014. Mushola di atas awan. Toilet musholanya juga bersih. Digunakan tidak hanya oleh muslim. Bayar ke yang jaga Rp3.000.

Setelah sholat, kami lanjut jalan sedikit lagi sampai view point Pananjakan. Tapi sudah tidak ada tempat! Orang penuh banget. Ini ketiga kalinya saya ke Bromo – Pananjakan, kali ini yang paling ramai. Hanya lihat punggung orang. Tidak dapat sunrise. Saya kok merasa semakin tidak nyaman ya ke sini.

20170812_062258
Bromo sejajar Semeru, dilihat dari Pananjakan. Dok: Iqbal

Setelah matahari naik, orang semakin surut. Kami pun. Turun menuju Bromo. Makan dulu di dekat parkiran. Nasi, sop, telur, tahu tempe, harganya Rp25.000. Setelah perut terisi, baru naik ke Bromo. Saya tidak naik tangga lagi seperti sebelum-sebelumnya, tapi mendaki lewat samping tangga. Kenapa? Selain mau coba track yang beda, track yang lewat tangga juga penuh orang. Naik 1 tangga, berhenti dulu, tunggu yang depan. Naik 1 tangga, berhenti lagi, tunggu lagi. Sudah terlihat dari jauh macetnya tangga, jadi saya tidak mau naik tangga.

Di atas Bromo, sulit mendapat view yang bagus, karena penuh orang. Saya sempat ngintip ke kawah. Beda sekali dengan kawah yang saya lihat 6 tahun lalu. Sekarang kawahnya semakin dalam dan terlihat semakin mengerikan. Asapnya banyak.

Tidak lama, hanya 15 menit di puncak Bromo, saya turun lagi ke parkiran Jeep, lalu pulang ke Wonokriti. Sampai Wonokriti, kami kebingungan cari kunci mobil. Tidak ada di tas siapa-siapa. Tidak ada di kantong siapa-siapa. Pas dibuka, mobilnya bisa. Kuncinya ada di dalam mobil! Jadi selama kami ke Pananjakan Bromo, mobil di Wonokriti tidak terkunci, kuncinya ada di dalam mobil, tapi aman…

 

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s