02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Setelah dikerjai  pengendara mobil dari simpang Tayan ke Sosok, dan naik bus yang sempat mogok dari Sosok, saya bisa istirahat dulu di Balai Karangan. Saya mampir di tempat makan sederhana, sekadar beli minum. Makanan yang ada di sini tidak jauh beda dengan yang biasa saya lihat. Sate, pecel, nasi padang, dkk.

Saya mampir ke salah satu masjid. Setelah sampai ke tempat baru, saya biasanya mampir ke masjid. Ngobrol dengan warga lokal. Minta izin tidur di masjid itu. Kadang diizinkan, kadang malah disuruh menginap di rumahnya. Kebanyakan disuruh menginap di rumahnya. Termasuk kali ini di Balai Karangan.

Saya bertemu dengan Umar Hamdan. Dia seorang guru mengaji. Aslinya adalah orang Jawa. Umurnya masih sekitar 34 tahun. Kisah hidupnya begitu penuh intrik. Satu cerita yang menurut saya paling mengesankan saya ceritakan sbb:

Umar dan ibunya ditinggalkan sang Ayah karena program transmigrasi yang diikuti oleh sang Ayah. Waktu itu Umar masih bayi. Maka sejak itu, Umar tidak lagi melihat sang Ayah yang akhirnya pergi ke Kalimantan Barat bersama istri baru sang Ayah.

Kalimantan Barat termasuk salah satu provinsi terluas di Indonesia. Apa bekal Umar untuk mencari sang Ayah? Hanya nama sang Ayah? Mana mungkin? Tapi Umar tidak memikirkannya. Umar semakin terpicu karena seorang kenalannya dari Kalimantan Barat mengaku mengetahui nama yang disebut-sebut Umar sebagai ayahnya. Lokasinya di Sanggau.

Saat menjejak ke Kalimantan pada 2003, umur Umar sekitar 21 tahun. Satu bulan sejak kedatangannya ke Kalimantan, Umar baru betul-betul yakin bahwa Ayahnya adalah seorang pemilik warung makan sederhana di Sanggau. Tidak ada rasa rindu, sedih, bahagia, atau rasa apapun, ketika Umar pertama kali bertemu Ayahnya. Di warung makan itu, Umar memesan makanan. Sang Ayah menghidangkan makanan pesanan kepada pengunjung warung makannya, tanpa tahu bahwa pengunjung itu adalah anak kandungnya yang telah ditinggalkannya 20 tahun lalu.

Selepas makan, Umar mengajak pemilik warung berbincang. Umar bertanya, “Apa Bapak mempunyai anak?”

“Iya, umurnya sekitar 21 tahun sekarang,” jawab pemilik warung.

“Bapak tahu namanya?” tanya Umar.

“Tentu saja. Karena saya yang memberi nama. Namanya Umar Hamdan,” kenang pemilik warung.

“Sayalah anak Bapak itu,” kata Umar sambil menatap Ayahnya.

Tapi aneh, tidak ada rasa apapun yang muncul dalam hati Umar. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Tidak ada suara yang tiba-tiba serak. Mungkin karena terlalu lama, sehingga rasa itu sudah pudar, menjelang hilang.

Begitu juga sang Ayah. Dia tidak percaya yang sedang berhadapan dengannya itu adalah anaknya. Tidak ada rasa yang muncul.

Rasa itu baru muncul beberapa waktu kemudian, setelah sang Ayah mengonfirmasi ke beberapa sanaknya di Jawa. Sang Ayah luluh dalam rasanya, entah itu sedih, bahagia, sesal, kurang jelas. Yang jelas, Umar tetap belum memiliki “rasa” itu.

Buat saya, kisah Umar ini menarik sekali. Lebih menarik dari seluruh cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini.

Saya diminta Umar untuk tidur di rumahnya. Dia dan teman-temannya tertarik dengan laptop yang saya bawa. Nah, ini memang menjadi salah satu senjata rahasia saya untuk membuat orang tertarik, apalagi anak-anak. Saya buka Google Map dan melakukan zoom-in sampai lokasi tempat kami berada. Itu saja sudah membuat banyak yang tertarik.

Keinginan saya untuk sampai ke Kuching saya sampaikan ke Umar. Kebetulan sekali besok Umar berencana pergi ke Serian tempat saudaranya. Serian adalah daerah di Malaysia yang sejalur dengan perjalanan menuju Kuching. Langsung saya iyakan sesaat setelah Umar mengajak pergi bersama.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Iklan

1 Response to “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2017
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: