14
Nov
16

Terinspirasi Kelas Inspirasi

Sebuah email masuk, menyatakan bahwa saya lulus menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Tegal 2. Ada angka dua, karena sebelumnya pernah ada yang pertama. Ini adalah episode berikutnya. Tidak diketahui akan berakhir sampai episode berapa. Tegal terbilang muda karena baru dua. Kota lain sudah ada yang sampai lima. Kenapa setiap di akhir kalimat ada vokal “a” semua ya?

Yang saya pahami, sebagai relawan saya bertugas menjelaskan apa profesi saya kepada siswa SD. Kelak saya tahu ternyata tidak sesederhana itu. Grup WA dibentuk. Diskusi langsung bergulir, membahas tentang struktur pengurus kecil, konsep opening dan closing, siapa berangkat kapan naik apa, pendanaannya bagaimana, siapa yang desain… dan sebagainya.

Sebagai katalisator, ada yang namanya Fasilitator atau disingkat “Fasil”. Fasil inilah yang bertugas mendorong agar tiap kelompok yang dipegangnya bisa berjalan sukses. Fasil saya namanya Nurhadi. Dia seorang ustad yang kalau pagi mulutnya selalu basah berdzikir. Saya kalau jadi dia rasanya bakal stres karena sulit sekali menggerakkan grup agar bisa aktif dalam diskusi. Dia setiap pagi menyemangati kami, yang belum dikenalnya, untuk semangat bekerja.

Semakin mendekati Hari Inspirasi, 12 November 2016, semakin banyak topik diskusi yang dibahas. Semakin mendetail. Tentang desain mana yang akan digunakan, berapa banyak siswa yang akan diajar, homestay yang akan digunakan relawan, detail jadwal pengajaran, sampai gerakan apa yang akan digunakan untuk ice breaking.

Kelompok saya adalah Kelompok 19, yang akan mengajar SDN Tunon 2, tidak jauh dari Stasiun Tegal. Total ada 20 kelompok yang tersebar ke seluruh Tegal. Ada yang dekat pantai, ada yang di gunung. Masing-masing menyusun strateginya sendiri-sendiri untuk menjalankan Hari Inspirasi.

Tim saya mengadakan kopdar di Jakarta dan di Tegal. Dilakukan di dua tempat karena memang sebagian tim ada yang dari Jakarta dan sekitarnya, ada yang dari Tegal dan sekitarnya. Saya tidak ikut keduanya karena sedang di Mojokerto, cari sesuap berlian..

Profesi dari anggota tim saya cukup beragam: akuntan, human resource, sekretaris, arsitek, banker, humas, pelatih tenis, apoteker, sampai tentara. Mereka dari “habitat” yang berbeda sehingga bisa memberikan cara pandang yang lain. Kok rasanya semakin ingin cepat-cepat menuju Hari Inspirasi ya…

Saya berangkat dari Mojokerto dengan kereta Bangunkarta. Ini kereta mahal banget, sama dengan harga tiket pesawat. Bukannya belagu maunya naik Bangunkarta, tapi coba deh buka tiket.com dan cari rute Mojokerto – Tegal. Apa ada selain Bangunkarta??

Berangkat langsung dari kantor, di Stasiun Tegal saya dijemput relawan satu tim. Kami langsung menuju homestay, jam 1 dini hari. Ternyata semua masih sibuk mempersiapkan pernak-pernik untuk hari inspirasi. Jam 2 baru tidur.

Hari Inspirasi

Malam sebelumnya, saya habiskan 3 jam menonton Kelas Inspirasi di Youtube. Bagaimana ice breaking, bagaimana mengajar anak SD, bagaimana menjadi guru yang baik. Itu yang saya coba aplikasikan ketika mengajar.

Saya dijatah mengajar 3 kelas: Kelas 2, 4, dan 6. Masing-masing 35 menit. Yang pertama adalah kelas 6. Setelah saya cairkan suasana dengan berbagai macam tepuk, situasi tenang kembali, malah tenang sekali kalau diminta tunjuk tangan. Mereka bisa menjawab kalau bersama-sama, tetapi tidak ada satupun yang bersuara ketika diminta tunjuk tangan sebelum menjawab.

Saya memilih berprofesi sebagai Penulis, jadi saya ajarkan bagaimana menggali informasi dari nara sumber lalu menuliskannya di MS Word yang ditembak melalui proyektor sehingga mereka bisa melihat saya menulis kata per kata.

Lalu saya minta masing-masing mereka melakukan hal yang sama: menggali informasi dari nara sumber (teman di sebelahnya) lalu menuliskannya di selembar kertas. Hasilnya jauh dari ekspektasi. Mereka malu-malu melakukan wawancara dan kesulitan dalam menulis walaupun hanya 3 kalimat. Wah.. kelihatannya strategi saya keliru di kelas pertama.

Di kelas kedua, yaitu Kelas 2, berkebalikan jauh sekali dari yang pertama. Tidak diminta tunjuk jari malah tunjuk jari semua. Baru sepuluh menit sudah ada yang naik meja, ada yang menarik-narik jam tangan saya, ada yang tidak berhenti memanggil “Pak, bapak, bapaaaak…”, ada yang tiba-tiba mengadukan temannya yang nakal, ada yang tetap di tempat dengan tangan sedakep, ada yang sepatunya hilang, ada yang malah ngeloyor keluar kelas bawa tasnya hendak pulang. Suara saya seperti hampir habis teriak-teriak meminta tenang. Saya tidak terbayang gimana bisa wali kelasnya betah.

_mg_0641

Mengajar di Kelas 2 SDN Tunon 2 Tegal. Foto: Agus

Dengan iming-iming akan diajari tepuk-tepukan, mereka akhirnya bisa tenang. Tapi tidak lama berantakan lagi. Ada yang naik meja lagi. Ada yang laporan temannya nakal lagi. Ada yang sepatunya hilang lagi. Ada yang menarik-narik jam tangan saya lagi.

Sudahlah, saya keluarkan jurus pamungkas: kotak impian. Kotak yang terbuat dari kardus ini memang digunakan untuk closing. Masing-masing siswa menuliskan nama dan cita-citanya di atas kertas cita-cita, lalu memasukkannya ke dalam kotak impian. Demi mendapatkan kertas cita-cita, mereka mau duduk ke tempatnya masing-masing.

Saya agak menyesal menawarkan “siapa yang mau membacakan kertas cita-cita?” karena pada akhirnya semua minta diperbolehkan membacanya di depan kelas. Mereka tunjuk tangan di tempat duduknya masing- masing, “Saya Pak… saya Paaak.” Kalau saya diamkan mereka akan maju sambil tetap mengacungkan jarinya, sampai saya mempersilakannya membaca. Ini kelas super sekali. Setelah 35 menit akhirnya saya bisa lepas dari kelas dua.

Kelas terakhir yang saya ajar adalah Kelas 4. Di sini saya merdeka karena siswanya aktif dan mudah diarahkan. Saya contohkan bagaimana seorang penulis mewawancarai nara sumber lalu menyilakan mereka untuk melakukan hal yang sama di depan kelas. Begitu aktifnya, sampai hampir semua sempat untuk berdiri di depan mempraktekkan wawancara dengan spidol yang berpura-pura menjadi mic.

Total jam mengajar saya tidak lebih dari dua jam, tapi kenangannya begitu hebat. Ini mah bukan saya yang menginspirasi, tapi malah saya yang terinspirasi. Bagaimana seorang anak bisa begitu riang dalam menghadapi hari-harinya. Bagaimana sulitnya menjadi guru SD.

Setelah selesai mengajar, kami relawan berkumpul kembali dan bertukar cerita. Rasanya semua jadi ketagihan ikut Kelas Inspirasi. Yang juga hebat adalah, sesama relawan jadi muncul ikatan kebersamaan yang kuat, padahal baru kenal satu hari. Kami malah sempat ke pantai bareng, minum teh poci, makan sate blengong, dan foto-foto di hutan mangrove. Sadar tidak sadar, ini jadi jalan rezeki untuk kita semua. Sudah dijanjikan bahwa silaturahim membuka pintu rezeki.

Malam hari kami menginap di PMI dekat Alun-Alun Slawi bersama relawan dari kelompok lain. Tidurnya ya geletak di atas karpet begitu saja. Tapi tidak ada masalah tuh. Semua happy…

Refleksi

Esok harinya, dua puluh kelompok yang ikut dalam Kelas Inspirasi Tegal 2 berkumpul di Pendopo dekat Alun-Alun Slawi. Ini adalah refleksi dari apa yang telah kita lakukan kemarin. Masing-masing menceritakan pengalamannya mengajar dan apa tindak lanjut berikutnya.

Salah satu kelompok mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Seorang relawan dalam kelompok tersebut bahkan sampai menangis di depan kelas ketika mengajar murid-murid SLB, karena terharu dengan apa yang dia saksikan. Betapa beruntungnya kita yang mempunyai fisik lengkap, sekaligus betapa meruginya kita yang berfisik lengkap tapi tidak banyak manfaatnya untuk orang lain.

Seorang siswi SLB tersebut ditampilkan ke depan untuk bernyanyi. Dia adalah murid yang cantik. Bola matanya berputar-putar. Kepalanya yang besar menggeleng tiada henti. Dia bernyanyi sebuah lagu bertemakan syukur kepada orang tua. Dia bernyanyi di atas kursi rodanya sambil menggoyangkan kakinya ke depan dan ke belakang. Tidak sedikit yang menangis mendengarkan nyanyiannya.

“Mereka jauh lebih cerdas daripada murid pada umumnya. Mereka punya kelemahan, tapi jauh lebih banyak kelebihannya,” kata relawan yang mengajar di SLB tersebut.

Banyak sekali yang bisa saya bawa pulang dari Kelas Inspirasi. Tag line Sehari Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi rasanya tepat sekali.


1 Response to “Terinspirasi Kelas Inspirasi”


  1. November 16, 2016 pukul 6:14 am

    mengajar kelas yg lebih rendah lebih banyak capeknya, tp justru makin seru, kalo kelas 6 lebih kalem …🙂 salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2016
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: