01
Sep
16

Seni Ketangkasan Domba Garut Makin Digandrungi

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Segerombolan orang sedang berkumpul di suatu lapangan luas. Mereka terlihat asik sekali menonton sesuatu. Sesekali terlihat ketegangan di raut muka mereka. Alunan gamelan, tepukan kendang, dan tiupan terompet yang dimainkan langsung di lapangan membuat suasana semakin marak. Ada beberapa bule yang ikut berjoget di pinggir lapangan. Seperti tidak ada kesulitan sama sekali dalam hidup mereka ketika hobi dapat tersalurkan. Semua menikmati acara hari ini, seni ketangkasan domba garut.

Seperti seorang tokoh yang gagah berani, seekor domba garut bisa menghantam semua benda di sekitarnya yang dianggap bisa mengganggu. Insting bertarung domba garut sangat tinggi. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam kadang pun seringkali kandang ikut diseruduknya. Maka perlu kayu khusus untuk membuat kandang si pemberani yang satu ini agar tidak jebol. ”Memang domba garut ini memiliki keinginan yang berkelahi yang tinggi. Sifat itulah yang membuat komoditi ini berharga mahal,” kata Robi Agustiar, Sekretaris Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Anak-anak penggembala yang konon gemar mengadu domba-domba mereka di pinggir hutan. Lalu para priyayi melihat kemudian ikut mengadu domba-domba mereka. Dari situlah awalnya seni ketangkasan ini berkembang.

Seperti karapan sapi di Jawa Timur, seni ketangkasan domba garut ini berkembang pesat di Jawa Barat. Terlihat dari jumlah domba garut yang ada di Jawa Barat mncapai 49% dari total populasi domba garut nasional. Secara tidak langsung kebudayaan ini ikut melestarikan plasma nutfah domba garut.

Awalnya pertandingan seperti ini dinamakan adu domba, tapi sejak tahun 1970 sudah diganti menjadi seni ketangkasan. ”Image adu domba dirasa terlalu negatif, berbenturan dengan agam, padahal ini seni, bukan adu domba,” kata Robi. Dulu, adu domba sering dilakukan sampai salah satu domba mati, tapi sekarang HPDKI sudah mengubah beberapa peraturan yang dianggap tidak sesuai. Kematian domba karena seni ketangkasan bisa dikatakan tidak ada.

Domba jenis ini bisa dibilang merupakan domba paling langka di dunia. Varietas domba garut terbentuk dari persilangan tiga jenis domba, yaitu domba Merino, domba Kaapstad, dan domba lokal. Domba Merino didapat dari pemberian Ratu Belanda ketika itu. Sedangkan domba Kaapstad didapat dari pedagng-pedagang Arab.

Tidak semua hasil turunan domba garut bisa dilagakan dalam seni ketangkasan. ”Perbandingan cetakan domba garut sayur dengan domba garut untuk seni ketangkasan adalah 5:1. Jadi, memang tidak mudah mendapatkan domba garut pemberani,” jelas Robi. Domba sayur di sini maksudnya domba garut yang tidak memiliki insting bertanding sehingga tidak bisa dilagakan. Biasanya domba sayur dijadikan domba pedaging.

Ciri fisik domba garut untuk seni ketangkasan yaitu bertanduk melengkung dengan ujung runcing yang biasanya mengarah ke depan. Lehernya besar dan kuat. Telinganya kecil dan tersembunyi, tidak seperti telinga kambing yang besar dan menjuntai ke bawah. Ekor domba garut juga berbeda, kecil dan pendek.

Pertandingan Rutin

Pehobi domba garut memiliki jadwal latihan dan jadwal kontes rutin untuk menyalurkan hobi mereka. Latihan dilakukan seminggu sekali sedangkan kontes dilakukan sebulan sekali. Hampir di tiap kota kabupaten di Jawa Barat terdapat pamidangan, yaitu tempat laga seni ketangkasan.

Emis Rukanda, salah satu pehobi seni ketangkasan domba garut mengaku rutin mengikuti latihan dan kontes yang ada. ”Pertandingan terdiri dari beberapa kelas tergantung bobot badan domba. Kelas A untuk domba dengan bobot lebih dari 75 kg, kelas B untuk bobot 65-75 kg, sedangkan kelas C untuk domba berbobot kurang dari 65 kg,” jelas Rukanda.

Satu pertandingan maksimal dilakukan sampai dua puluh kali tumbukan dengan pemberian waktu istirahat pada tumbukan ke-15. Jarang sekali ditemukan domba yang mati pada tumbukan ke-20, bisa dibilang tidak ada yang mati pada seni ketangkasan ini.

Ada beberapa kriteria yang dijadikan penilaian oleh juri dalam seni ketangkasan ini, yaitu adeg-adeg, teknik pemidangan, teknik bertanding, kesehatan, dan keberanian. Adeg-adeg adalah postur tubuh, termasuk di dalamnya penampakan wajahnya.

Domba yang menang dalam kontes akan mendapatkan hadiah, tetapi bukan berupa uang tunai, melainkan barang seperti TV, sapi, dan sebagainya. Hadiah-hadiah ini tidak terlalu berharga dibanding sertifikat yang diberikan. Sertifikat ini dapat membuat harga domba pemenang berlipat-lipat.

Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Harga dari domba garut petarung tergantung dari genetisnya dan prestasi dari si domba. ”Domba garut yang merupakan peranakan dari pemenang hebat akan memiliki harga tinggi. Domba yang pernah menang liga seni ketangkasan juga memiliki harga yang lebih mahal karena ada sertifikat yang menyatakan domba itu pernah menang,” kata Robi.

Ada domba garut yang dijual dengan harga menembus seratus juta rupiah. ”Rata-rata domba garut biasa dijual dengan harga sekitar 3-5 juta. Untuk domba garut yang merupakan bibit bagus, artinya peranakan dari domba garut petarung hebat, bisa dihargai 10-15 juta. Sedangkan untuk domba bersertifikat dari kelas A bisa dihargai 20 sampai 30 juta,” tambahnya. Penjualan domba juga diikuti dengan sertifikat prestasi si domba.

Domba Sayur Juga Dicari

Bukan berarti hanya domba garut dalam seni ketangkasan saja yang potensinya besar. Domba garut sayur juga cukup menjanjikan. Kualitas daging domba garut baik. Gizinya cukup baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya dagingnya yang dapat dimanfaatkan, domba garut juga memiliki bulu yang ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool. Kulit domba garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Industri jaket berbahan baku kulit domba garut bisa menyerap ribuan tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai puluhan miliar rupiah.

Populasi domba dan kambing di Indonesia tumbuh lambat, tidak secepat pertumbuhan permintaannya. potensi kebutuhan daging domba dan kambing untuk kurban saja mencapai 5,6 juta ekor tiap tahunnya, belum lagi untuk kebutuhan aqiqah dan tempat makan. Potensi ini belum menghitung kebutuhan pasar Asia Tenggara yang tiap tahunnya membutuhkan 9,3 juta ekor. Namun, sayangnya peternak domba dan kambing di Indonesia sebagian besar hanya pemain kecil yang beternak dengan cara-cara tradisional sehingga perkembangannya tidak maksimal.


0 Responses to “Seni Ketangkasan Domba Garut Makin Digandrungi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2016
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: