15
Agu
16

Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jamu Bukti Mentjos. Dok: www.wisataseru.com

Jamu Bukti Mentjos. Dok: http://www.wisataseru.com

Biasanya jamu diidentikkan dengan sesuatu yang inferior dan tidak modern. Sejak adanya produk-produk jamu dalam kemasan, buah karya dari pabrik jamu besar, pandangan itu sedikit demi sedikit tereduksi. Kemunculan kafe-kafe jamu membuat nama jamu semakin terangkat. Bukti Mentjos adalah salah satu kafe jamu di Jakarta yang mengemas jamu dengan lebih eksklusif.

Letaknya yang strategis membuat Bukti Mentjos mudah diakses. Posisinya sekitar 500 meter dari kampus UI Salemba. Sejak tahun 50-an, warung jamu itu sudah berdiri di tempat yang sama seperti sekarang. Bedanya, dulu perawakan tempatnya tidak semenarik sekarang. “Dulu hanya warung kecil dengan tanahnya yang becek,” ingat Romuli yang akrab dipanggil Ako, pemilik Bukti Mentjos. Tempatnya sekarang memang tidak terlalu besar tapi Ako mampu menyulapnya menjadi tempat yang selalu ramai, tidak pernah sepi, apalagi setelah matahari kembali ke peraduannya, Bukti Mentjos semakin dikerubuti pelanggannya.

Kebanyakan pelangannya adalah orang yang loyal, sudah tahunan berlangganan Jamu racikan Ako ini. Mereka sepakat kalau dikatakan ramuan Ako ini handal mendepak berbagai penyakit harian seperti batuk, pilek, pegal, masuk angin, dan perut kembung. Bukan berarti hanya penyakit ringan saja yang bisa ditanggulangi jamu Ako. Kanker dan tumor juga punya ramuan tersendiri.

Beberapa pengunjung bertutur tentang kisahnya. Seorang Bapak mengaku sudah sejak umur 5 tahun ia rajin minum jamu di Bukti Mentjos. “Kalau ada keluhan-keluhan kecil saya selalu ke sini, menyampaikan keluhan, lalu minum jamu. Dengan segera tubuh saya membaik. Sekarang umur saya sudah empat puluh lewat. Berarti sudah puluhan tahun saya sudah jadi langganannya Ako,” katanya sambil tertawa.

Seorang ibu mengaku sudah menjadi pelanggan sejak dirinya belum dilahirkan. Orang tuanya sudah getol mampir ke Bukti Mentjos. Berarti pelanggan Ako sudah sampai lintas generasi.

Satu orang bapak gempal bercerita dengan serius, “Saya kalau sudah flu ya pasti ke sini. Setelah dari sini biasanya dalam dua hari flu saya sudah minggat. Saya yakin betul dengan kualitas jamu di sini. Dua kejadian yang membuat saya makin yakin. Pertama, vonis operasi karena ambeien saudara saya bisa dipatahkan hanya dengan dua kali berkunjung ke sini. Jadi dalam dua malam saja keluhan hilang. Yang kedua, sakit pinggang saya diobati di dokter saraf RS Cipto, sembuh memang, tapi ketika kambuh lagi, saya coba ke sini, ternyata bisa sembuh dengan jamu. Kalau begitu, buat apa saya ke Cipto lagi?” ulasnya.

Menanggapi pernyataan positif itu, Ako yang mendengarkan percakapan pengunjung dengan AO hanya tersenyum. “Yang penting orang minum jamu, sembuh, sehat, kita sudah senang lah,” kata Ako yang terlihat awet muda itu walaupun umurnya sudah setengah abad.

Jamu-jamu racikan Ako kebanyakan berbahan dasar rempah-rempah yang didapat dari Solo, tempat asal mula didirikannya Bukti Mentjos pada tahun 40-an oleh kakek dan neneknya Ako. Ia membawa bahan-bahan mentah tersebut ke Jakarta baru kemudian diolah lebih lanjut sampai berbentuk serbuk halus siap seduh.

Tiap Botol Punya Kode. Pengunjung bisa membawa pulang ramuan atau bisa minum langsung di tempat. Kalau kita memilih minum di tempat, ada bonus khusus, yaitu atraksi mencampurkan jamu. Ada sekitar 20 botol berkode yang berjejer rapi. Setiap kode mencirikan jamu jenis apa yang ada di dalamnya. “Ramuan ini kan pengenalannya tidak bisa dari warna, bisanya dari bau dan rasa. Makanya ada nomor kode untuk memudahkan,” kata Ako.

Setidaknya ada 57 ramuan hasil karya Ako, baik dari hasil risetnya sendiri maupun dari ilmu yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja yang dijejer di etalase hanya sekitar 20 ramuan karena itulah yang sering dipesan. Selebihnya ada namun tidak dipajang. Sebut saja jamu nomor 55 yang dinamakan “Si Jantung”. Jamu ini berfungsi mengobati jantung sakit/lemah, dada sesak, berdebar-debar, dan cepat lelah. Atau jamu nomor 33, bernama “Bersih Darah”, yang dapat membersihkan darah sehingga bisa melenyapkan bisul, gatal-gatal, jerawat, eksim, giduh (biduran), dan bau keringat.

Ako dengan fasih mencampurkan sedikit serbuk jamu bernomor sekian dengan nomor sekian dan sekian setelah mendengar rentetan keluhan pengunjungnya. Pengalaman puluhan tahun bergelut di dunia perjamuan membuatnya hebat memberikan resep. Ia selalu melakukan up date ilmu tentang dunia jamu dengan mengikuti seminar, penyuluhan, dan symposium. Semua untuk menyerap ilmu baru supaya dapat membuat ramuan yang lebih mujarab. Ako punya komentar tersendiri untuk seminar-seminar ilmiah, “Biasanya penelitian yang sekarang ini tidak jauh dari zaman kakek nenek kita. Temulawak buat lever dari dulu sudah dipakai, kunyit untuk usus dari dulu sudah dipakai. Ajaib kan!”

Bisa dibilang, ilmunya ini termasuk aliran Jawa asli. “Kalau di India kan ada sekolahnya, lulus jadi tabib. Di Cina ada sekolahnya, lulus jadi Sinsei. Kalau di Indonesia kan tidak ada, jadi turun-temurun dari kakek nenek. Dan seterusnya juga akan turun temurun, bisa ke anak saya bisa juga ke keponakan.”

Akrab

Satu kelebihan besar yang dimiliki Bukti Mentjos adalah keakrabannya dengan pengunjung. Ako yang merupakan pemilik usaha ini turun langsung melayani pengunjung. Dengan seksama ia mendengarkan keluhan dari pengunjung. Tidak ragu-ragu, pengunjung pun berkeluh kesah, tidak jarang terlihat pengunjung yang membawa secarik kertas bertuliskan sejumlah keluhan dari kerabatnya di rumah. Supaya lebih tepat, Ako terkadang melempar pertanyaan kembali, seperti “Masuk angin, gatal hidung, agak flu. Gak ada batuk ya?” atau “Kata dokter apa?” Setelah yakin dengan resepnya, Ako memberikan gelas yang sudah berisi serbuk jamu kepada pegawainya lalu bertanya kepada pelanggan, “Manis atau pahit?” Kalau manis, pegawainya akan menambahkan air jahe manis untuk melarutkan serbuk jamunya. Setelah selesai minum jamu, pengunjung dikenakan 13 ribu rupiah per gelas jamu yang diminumnya.

Di sela wawancara, Ako tetap memperhatikan konsumennya. Kalau ada yang memperlihatkan mimic kepahitan, Ako langsung menyuruh pegawainya menambahkan madu supaya lebih manis. Lalu bertanya lagi sekedar memastikan, “Gimana Bu? Sudah cukup manis?”

Tidak jarang, Ako memberikan sedikit nasihat, “Ibu tetap jaga ya, kontrol makanan. Ibu jangan kapok ya (minum jamu), yang penting sehat Bu,” atau “Saya pernah ngomong ya, di mana kamu duduk, apakah di rumah, di kantor, jaga kantong blakang supaya peredaran darah lancar.”

Memang, Ako tidak selalu ada di setiap jam aktif Bukti Mentjos, yaitu pukul 11 siang sampai 10 malam. Biasanya Ako hanya terlihat pada malam hari. Selebihnya, sepuluh karyawannya lah yang melayani langsung pengunjung. Namun, jangan anggap remeh karena menurut Ako, seluruh karyawannya sudah dibekali ilmu juga. Mereka siap melayani pengunjung.


0 Responses to “Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2016
S S R K J S M
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: