15
Jul
16

Jermal

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Film Jermal adalah film yang keseluruhan proses shooting-nya dilakukan di atas Jermal, yaitu sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang ditinggali oleh nelayan dengan keseharian aktivitas menangkap ikan.

Walaupun demikian, film ini bukan film documenter yang menonjolkan aktivitas jermal melainkan film fiksi yang lebih mengangkat hubungan psikologis antara ayah dan anak. Hanya sedikit-sedikit saja aktivitas Jermal yang Nampak. Setiap harinya, awak Jermal menjaring ikan dari lubang yang cukup besar di tengah Jermal dengan menggunakan wadah besar yang tampak terbuat dari rotan. Ikan tersebut dicuci. Kemudian, menurut Suryani, salah satu penggiat film Jermal, ikan tersebut dijual ke kapal-kapal yang lewat Jermal itu. Air bersih dan bahan makanan dibeli dari kapal-kapal yang lewat Jermal juga. Praktis, awak Jermal tidak pernah keluar dari Jermalnya.

Digambarkan dalam film tersebut, kehidupan di Jermal sangat keras. Jaya dan Johar (Didi Petet) adalah pemeran utama yang berperan sebagai anak dan ayah. Johar yang berperan juga sebagai komandan Jermal tidak mau mengakui Jaya sebagai anaknya ketika anak itu dibawa ke Jermal karena ibunya sudah meninggal. Perlakuan Johar sangat keras kepada Jaya, sungguh tidak mencerminkan hubungan ayah dan anak. Awak Jermal yang kesemuanya masih terhitung anak di bawah umur juga awalnya memperlakukan Jaya yang dikisahkan berumur 12 tahun dengan tidak manusiawi. Barang bawaan Jaya diambil dengan paksa. Jaya yang terbiasa hidup di daratan tidak berkutik dengan kerasnya kehidupan laut.

Awalnya Jaya tidak kuat dengan semua itu. Ia tidak melawan perlakuan kasar itu. Sempat sekali Jaya mencoba kabur dari Jermal dengan menggunakan ember besar. Kru Jermal yang lain justru malah menjadikan itu sebagai ajang taruhan, berapa lama Jaya kuat di laut.

Sedikit demi sedikit, Jaya mulai belajar tentang kehidupan laut. Jaya yang tadinya tidak keluar sepatah katapun dari mulutnya mulai berbncang dengan awak lain. Ia mulai melawan Johar yang masih tidak mau mengakuinya sebagai anak. Bahkan, Jaya berani mengacungkan golok ke leher Johar karena menganggap Johar adalah pembunuh.

Konflik terbesar adalah ketika jangkrik peliharaan Jaya ditusuk oleh pemimpin awak Jermal. Jaya tidak terima dengan perlakuan itu. Ia melawan dengan memukul menggunakan kayu sampai tidak ada perlawanan. Johar yang melihat kejadian itu lalu menghentikan Jaya kemudian membawanya ke ruangan Johar. Setelah Jaya tenang, Johar menceritakan bahwa ia memutuskan untuk hidup di Jermal karena tidak ingin dikejar-kejar polisi akibat perbuatan pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang dianggap selingkuhan istrinya. Johar teringat kembali kekhilafannya waktu itu ketika melihat Jaya memukul dengan membabi buta. Perlahan, Jaya mulai mengakui Johar sebagai Ayahnya, terutama ketika Jaya membaca surat-surat dan foto-foto dari Ibunya yang dikirimkan kepada Johar setiap tahun.

Semakin kuat hubungan antara Johar dan Jaya sampai suatu ketika mereka memutuskan untuk tidak tinggal lagi di Jermal. Akhir dari film ini adalah ketika adegan Jaya dan Johar berlalu meninggalkan Jermal dengan dilepas rasa haru dari awak lain. Awak yang ditinggalkannya merasa kehilangan Jaya karena dialah satu-satunya awak yang pandai menulis sehingga sering dimintai tolong untuk menulis surat yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dilemparkan ke laut.

Beberapa kali diperlihatkan adegan ketika polisi patroli menggeledah Jermal milik Johar. Dengan sigap, seluruh awak menyembunyikan dirinya. Maksud dari polisi patrol itu adalah menanggulangi perdagangan anak di bawah umur. Menurut Suryani, dulu memang masih banyak perdagangan anak yang kemudian dijadikan buruh di Jermal. Adegan yang menggelitik ketika seorang anak tertangkap oleh polisi patroli di sebuah keranjang besar. Ketika ditanya sedang apa. Awak Jermal itu mengaku sedang tidur, ia mengaku umurnya 18 tahun padahal postur tubuhnya menggambarkan anak umur 12 tahun. Polisi tersebut memintanya membuka baju lalu mengangkat tangannya. Lalu polisi bertanya, kok tidak ada bulu ketiaknya? Anak kecil tersebut beragumen bahwa pertumbuhannya lambat dibanding orang dewasa yang lain. Karena nada bicaranya tegas dan keras, si polisi tidak jadi menangkapnya.

Untuk merampungkan film ini, dibutuhkan waktu shooting sampai 26 hari. Selama shooting, kru tidak menginap di Jermal tetapi di pantai yang jaraknya satu jam perjalanan dari Jermal tempat shooting. Suryani menceritakan jarak itu belum yang paling jauh. Ada Jermal yang dicapai dengan dua jam perjalanan.

Sayangnya sudah terlambat bagi yang ingin menonton di bioskop karena film ini ditayangkan sejak 12 Maret 2009 sampai akhir Mei. Dengan jangka waktu sekitar dua minggu, film ini mampu menarik sekitar 15 ribu penonton. Untuk produksi total, dibutuhkan biaya sampai 4 miliar.


0 Responses to “Jermal”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2016
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: