14
Jun
16

Akses ke Hasil Perikanan dan Peternakan Masih Sulit

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2008

Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: www.argakencana.blogspot.co.id/

Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: http://www.argakencana.blogspot.co.id/

Manusia tentunya butuh protein dalam hidup dan kehidupannya. Banyak makanan yang secara alami mempunyai nilai protein yang tinggi. Protein hewanilah yang paling tepat untuk memenuhi asupan protein manusia. Berbicara tentang protein hewani maka terkait erat dengan sektor perikanan dan peternakan.Sudahkah kita mampu memenuhi kebutuhan protein bangsa ini?

Human Development Index (HDI) tahun 2007 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-107 dari 177 negara, kalah dari Vietnam (105), Thailand (78), Malaysia (63), Brunei (30), dan Singapura (25). ”Jika ternyata bangsa kita kualitas fisiknya kurang baik maka ini mungkin disebabkan oleh rendahnya asupan pangan bermutu, terutama yang bersumber dari pangan hewani. Gizi masyarakat Indonesia sangat jauh dari cukup,” jelas Ali Khomsan, ahli Gizi dari IPB. Saat ini, rata-rata warga Indonesia dalam satu minggu hanya minum susu setengah gelas, satu butir telur, dan dua potong daging. Keadaan ini cukup memprihatinkan.

Kesadaran akan pentingnya protein hewani masih belum memadai baik pada aras masyarakat maupun pemerintah. Namun tak bisa semuanya disalahkan pada masyarakat. Akar dari rendahnya diversifikasi menu penduduk Indonesia adalah rendahnya daya beli. Menurut Ali Khomsan, masyarakat akan dengan sendirinya membuat makanannya beraneka ragam ketika daya belinya meningkat. Kalau penghasilannya kecil, pasti ia akan memilih mengisi perutnya dengan karbohidrat terlebih dahulu, masalah gizi urusan belakangan. Saat ini tidak ada protein hewani yang murah. ”Tingkatkan daya beli masyarakat, dengan begitu, diversifikasi menu akan terjadi secara otomatis,” tambah Ali Khomsam.

Selain HDI, ada juga pengukuran yang secara langsung mencerminkan asupan pangan masyarakat, yaitu skor Pola Pangan Harapan. Nilai maksimalnya adalah 100. Indonesia mempunyai nilai 70. Nilai ini didominasi dari karbohidrat. Jadi, masyarakat Indonesia lebih banyak memakan karbohidrat. Sudah jelas, masyarakat bermasalah pada asupan gizinya

Serba Impor

Susahnya lagi, sumber protein hewani dari ternak masih sangat bergantung dari impor. Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri untuk hasil peternakan. Impor susu masih besar, yaitu 90% dari kebutuhan. Daging sapi juga masih impor sebesar 25%. Bahkan Gapmmi memperkirakan pada tahun 2035 Indonesia akan mengimpor 4 juta ton daging, 3,6 juta liter susu dan 23,4 milyar butir telur.

Untuk perunggasan Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurut Arif Daryanto, pengamat perunggasan, Indonesia sudah berdaulat di bidang perunggasan, bahkan potensi untuk ekspor sudah besar. Tapi sayangnya, perunggasan Indonesia dilanda Avian Influenza (AI) sehingga saat ini pasar ekspor unggas tertutup untuk Indonesia. Perkembangan perunggasan yang menggembirakan ini juga tidak didukung dengan industri pakan ternak yang berbasis bahan baku lokal. Bahan pakan utama unggas, yaitu kedelai, jagung masih impor dan juga tepung ikan hampir sebagian besar masih impor.

Masih tingginya komponen impor di sektor peternakan mengakibatkan harga-harga daging, telur dan susu menjadi tinggi. Kenaikan harga ini membuat masyarakat semakin sulit menjangkau makanan dengan gizi baik. Konsumen semakin mengurangi konsumsi protein hewani. ”Dengan daya beli yang rendah masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan karbohidrat, sedangkan menu bergizi menjadi prioritas kedua,” kata Ali Khomsam.

Menurut data dari FAO (2006), rata-rata konsumsi daging penduduk Indonesia sebanyak 4,5 kg/kapita/tahun, tertinggal dari Malaysia (38,5), Thailand (14), Filipina (8,5), atau Singapura (28). Konsumsi telur juga tidak jauh berbeda. Indonesia mengonsumsi 67 butir/kapita/tahun, masih lebih rendah dari Thailand (93) dan Cina (304). Demikian pula dengan konsumsi susu, masyarakat Indonesia meminum susu sebanyak 7 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia mengonsumsi 20 kg/kapita/tahun. Kita masih jauh tertinggal dari Amerika yang meminum 100 kg susu/kapita/tahun.

Ketidakmampuan Indonesia memproduksi sendiri sumber protein hewani merupakan konsekuensi logis dari kebijakan pangan yang kita anut lebih bertumpu pada beras. Pengembangan sumber protein hewani seringkali masih ditempatkan pada prioritas berikutnya. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan protein hewani sangat diperlukan bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan generasi mendatang.

Arif Daryanto mengatakan bahwa kedaulatan pangan kita di bidang peternakan dapat dilakukan mengingat Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan subur yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan. Di samping itu, masyarakat Indonesia sudah familiar dengan dunia peternakan. Namun demikian, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu mensinergikan potensi tersebut dengan kondisi peternakan saat ini yang masih menghadapi permasalahan seperti modal, transfer teknologi, dan lain-lain.

Perikanan Kurang Terakses

Sumber protein hewani lainnya yang tak kalah prospektif adalah perikanan. Hasil sub sektor perikanan Indonesia relatif lebih tersedia daripada peternakan. Hasilnya cukup melimpah. Artinya produksi dalam negeri cukup memadai untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan, setiap tahunnya kita sudah rutin melakukan ekspor, nilainya mencapai 2,3 Miliar $US.

Tapi sayangnya kesadaran makan ikan masyarakat masih rendah. Lagi-lagi ini dikarenakan daya beli masyarakat yang masih rendah, disamping budaya yang tidak biasa mengkonsumsi ikan. Tridoyo Kusumastanto, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, mengatakan bahwa konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia sangat beragam. Semakin jauh daerah itu dari laut maka akan semakin sulit mengakses ikan. ”Konsumsi masyarakat pegunungan sekitar 7 kg/kapita/tahun, berbeda jauh dengan masyarakat pesisir yang rata-rata mengkonsumsi 50 kg/kapita/tahun,” tutur Tridoyo. Konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia pada tahun 2003 adalah 22,36 kg/kapita/tahun sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 26,00 kg/kapita/tahun, meningkat rata-rata 3,86%/tahun. Jauh lebih rendah daripada peningkatan produksi budidaya perikanan sebesar 26,60%/tahun dari tahun 2003-2007.

Di satu sisi kita mempunyai kemampuan yang hebat untuk memproduksi ikan tapi di sisi lain konsumsi ikan masyarakat kita masih sedikit. Padahal, kecerdasan anak bangsa berkorelasi positif dengan banyaknya ikan yang ia makan. Ironis memang.

Ada beberapa hal menurut Arif Satria, Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB, yang menjadi penyebab kurangnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Pertama, daya beli masyarakat rendah sehingga harga ikan masih dianggap mahal. Kedua, pendistribusian ikan ke daerah yang jauh dari laut dan tidak memiliki budidaya perikanan masih sulit, efeknya lagi-lagi ke harga yang tinggi. Ketiga, walaupun peningkatan budidaya perikanan cukup tinggi, tapi jumlahnya masih kurang untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit mendapatkan ikan. Sebagian besar peningkatan budidaya dilakukan di pesisir sehingga hasilnya sulit didistribusikan ke daerah pegunungan.

Selain itu, menurut Tridoyo, DKP atau lembaga penelitian yang terkait tidak berorientasi pada konsumsi komoditas umum. Jadi, banyak ikan konsumsi yang harganya terjangkau, seperti kembung dan bandeng, belum diperhatikan dengan baik. Pemerintah lebih berorientasi kepada ekspor dibanding memaksimalkan komoditas yang mampu dibeli masyarakat.

Mau tidak mau memang Indonesia harus menuju ke perikanan budidaya, terutama darat, apalagi melihat keadaan laut yang saat ini sudah banyak terjadi overfishing. Dengan budidaya, akses masyarakat yang bertempat jauh dari laut untuk membeli ikan akan lebih baik.

Secara langsung nelayan akan diuntungkan karena hampir semua usaha budidaya menguntungkan. Dengan begitu, pendapatan nelayan akan meningkat yang juga berarti peningkatan daya beli. Made Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya, yakin bahwa budidaya perikanan mampu meningkat produksinya 40% per tahun. ”Empat puluh persen itu kecil selama ada pembiayaan yang cukup. Pembiayaan di sini bisa dari pemerintah maupun perbankan,” kata Made. Terbukti memang dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan produksi. Namun, peningkatan ini belum mencapai angka 40%.


0 Responses to “Akses ke Hasil Perikanan dan Peternakan Masih Sulit”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2016
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: