15
Mei
16

Pasar Burung Pramuka, Kicaunya Terdengar se-Asia

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pasar Burung Pramuka. Dok: www.omkicau.com

Pasar Burung Pramuka. Dok: http://www.omkicau.com

”Kata orang-orang sih begitu, pasar burung ini yang terbesar se-Asia, sayangnya saya tidak mempunyai data untuk mendukungnya. Tapi saya sering melihat bule datang ke pasar ini, mungkin itu bisa dijadikan bukti kalau pasar ini besar,” kata Sabandri Tanjung, Supervisor Pasar Burung Pramuka, sambil tersenyum.

Dari kejauhan sudah terdengar suara berbagai jenis burung saling bersahutan dari dalam pasar. Sudah tidak jelas lagi burung jenis apa yang sedang berkicau. Bagaimana tidak, puluhan ribu burung saling berebut untuk didengar suaranya.

Sudah lama sekali Pasar Burung Pramuka ini berkicau di jalan Pramuka Raya, Jakarta, tepatnya sejak tahun 1974. Unik sekali memang barang dagangan yang dijajakan di pasar ini, hanya fokus pada burung-burung hias saja. Memang, ada sedikit pedagang yang menjual ayam, tapi bukan ayam pedaging atau petelur, melainkan ayam jago, ayam kate, dan ayam hias.

Pasar ini buka setiap hari dengan puncak keramaian pada hari Sabtu dan Minggu. Pedagang datang pagi-pagi betul untuk memberikan makan burung-burung dagangannya, selain itu pedagang juga menyemprot beberapa burung. Begitu juga pada siang dan sore harinya. Setelah selesai merawat burungnya, barulah kios siap untuk dijadikan tempat transaksi. Biasanya dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 4 sore.

Pasar burung ini sempat mati suri ketika flu burung merebak di mana-mana. Orang-orang takut memegang burung, apalagi datang ke pasar burung. Tapi sekarang keadaannya sudah membaik.

Murai jadi Primadona

”Semua jenis burung ada di sini kecuali burung yang dilindungi,” kata Tanjung. Namun, dari semua jenis burung, saat ini, murai yang paling dicari. Rifai, seorang pedagang di Pasar Burung Pramuka, mengaku bahwa stok burung murainya cepat sekali habis. Rifai menjual murai yang berasal dari hasil tangkapan di hutan Kalimantan. ”Sekali datang, supplyer saya mengirim 100-150 ekor murai. Semua ludes terjual dalam waktu kurang dari satu minggu,” aku Rifai. Ia menjual murai dengan harga Rp125.000,- per ekor untuk sesama pedagang. Dari penjualan murai saja, Rifai dapat meraup omzet sampai 50 juta setiap bulannya. Wajar saja kalau ia betah berjualan di Pasar Burung Pramuka sampai dua puluh tahun.

”Namun, menjual burung tidak semudah yang dibayangkan. Kalau masih belum tahu cara merawat burung dengan baik, akan semakin banyak burung yang mati sebelum terjual. Saya saja bisa mendapatkan 10% burung mati, apalagi penjual-penjual baru yang masih belum mengerti betul. Bisa-bisa, bukannya untung malah buntung,” ungkap Rifai. Burung-burung yang mati tersebut kebanyakan karena beberapa burung ditempatkan dalam satu kandang sehingga sering terjadi perkelahian antarburung. ”Tidak muat kalau setiap burung saya taruh dalam satu kandang,” kata Rifai.

Selain murai, Rifai juga menjual burung kecer, kenari, branjangan, dan pentet. Burung kecer Rifai jual dengan harga Rp200.000,-. Itu dengan kondisi burung yang sudah dapat berkicau dengan baik. Kalau yang baru ditangkap dari hutan dijual dengan harga Rp50.000,-. Untuk burung Kenari dan Branjangan dijual dengan kondisi yang sudah bagus kicauannya, masing-masing dengan harga Rp150.000,- dan Rp40.000,-. Sedangkan untuk burung Pentet dijual dengan harga Rp20.000,- untuk yang baru ditangkap dan naik menjadi Rp75.000,- untuk yang sudah bagus kicauannya.

289 Kios

Ada dua gedung di Pasar Burung Pramuka, gedung baru dan lama. Tidak ada yang berbeda dari keduanya kecuali umur bangunannya. Total kios dari kedua gedung ini adalah 289 buah kios. Namun, pedagang di pasar ini hanya berjumlah 154 orang. Ini karena sebagian pedagang tidak hanya menggunakan satu kios. ”Banyak juga pedagang yang menggunakan 4-5 kios karena barang yang dijajakan tidak akan muat kalau dipaksakan masuk ke satu kios saja,” tutur Tanjung. Uniknya, pedagang di Pasar Burung Pramuka didominasi oleh orang-orang asal Jepara, Jawa Tengah. Mungkin memang orang-orang Jepara sudah dididik untuk cinta akan burung hias. Mereka sudah bertempat tinggal tetap di daerah pramuka. ”Satu orang pedagang tidak akan mampu mengurus ratusan burung, maka mereka biasanya mengajak saudara-saudara mereka dari kampung untuk ikut membantu berjualan,” kata Tanjung. Mungkin dari situ awalnya sehingga banyak orang Jepara yang mengadu nasib di pasar burung ini.

Pembelinyapun sangat beragam, tidak peduli dari strata sosial mana. Yang jelas mereka sama-sama penggemar burung. Sebagian besar didominasi oleh laki-laki. Ada saja tingkah dari pecinta-pecinta burung ini. ”Mereka bisa tahan sampai berjam-jam hanya untuk mengamati aktivitas satu burung. Setelah cocok, baru dibelinya burung itu,” ungkap Tanjung sambil terkekeh. Tidak hanya diminati oleh orang-orang Indonesia saja,  bule juga sering berseliweran di pasar ini, biasanya mereka hanya sekedar mengamati jenis burung apa saja yang ada di pasar ini.

Dikelola Pemda DKI

Pasar Burung Pramuka berada di bawah naungan Pemda DKI Jakarta. Pasar ini dijadikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Setiap kios berukuran 6m2 dikenakan Biaya Pemeliharaan Pasar (BPP) sebesar Rp6.000,- per hari. Pengelola bertugas membersihkan pasar setiap harinya. Setiap malam, ada petugas yang menjaga keamanan pasar. ”Semua burung dimasukkan ke dalam kios, kios dikunci oleh pedagang, selanjutnya kami jamin pasar aman dari maling,” kata Tanjung.

Untuk ke depannya, ada kemungkinan pasar ini akan dijadikan obyek wisata. Pengelola yakin pasar ini menarik karena keunikannya yang hanya menjual burung hias. ”Mungkin nanti pasar akan kami renovasi atau bahkan kami pindahkan ke tempat lain. Di tempat yang baru itu akan dimasukkan konsep wisata dalam tata letaknya,” kata Tanjung.


0 Responses to “Pasar Burung Pramuka, Kicaunya Terdengar se-Asia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2016
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: