15
Apr
16

Susu Sapi Belum Kuasai Pasar Dalam Negeri

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Susu sapi. Dok: www.sehatraga.com

Susu sapi. Dok: http://www.sehatraga.com

Konsep empat sehat lima sempurna sudah diajarkan oleh orang tua kita sejak kecil dulu. Susu mempunyai nilai unik tersendiri sehingga dapat menyempurnakan konsumsi harian kita. Pantas jika dalam konsep di atas susu ditempatkan dalam poin khusus.

Namun, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yaitu hanya 5,5 kg/kapita/tahun. Padahal, menurut FAO, kebutuhan susu minimum manusia adalah 6,4 kg/kapita/tahun. Angka 5,5 kg itupun tidak tersebar secara merata. Konsumsi susu masyarakat di Jakarta jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 24 kg/kapita/tahun, tapi konsumsi di daerah-daerah tertentu hanya 0,01-0,05 kg/kapita/tahun, bahkan ada daerah yang tidak mengonsumsi susu sama sekali.

70% impor

Catatan pada januari 2007 mengatakan bahwa kebutuhan susu nasional Indonesia sebesar 1,306 juta ton per tahun, padahal pasokan dalam negeri hanya sebesar 342 ribu ton saja. Artinya, lebih dari 70% kebutuhan susu nasional masih ditutup dari impor.

Australia dan New Zealand adalah langganan sumber susu Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai net-consumer.

Besarnya nilai impor Indonesia menunjukkan bahwa potensi untuk beternak sapi perah sangat besar. Apalagi ditambah dengan harga susu internasional yang semakin hari semakin tinggi. Harga di Industri Pengolahan Susu (IPS) saja saat ini sudah menembus angka Rp 3.000,-. Kesadaran minum susu masyarakat yang semakin meningkat juga akan meningkatkan permintaan susu, membuat potensi berbisnis sapi perah semakin menggiurkan.

Produktivitas Rendah

Rata-rata setiap sapi di Indonesia hanya menghasilkan 9 liter susu dalam satu hari. Nilai ini terhitung masih kecil. ”Ini merupakan akibat dari rendahnya kemampuan budidaya peternak dan juga mutu bibit sapi Indonesia yang sebagian besar adalah PFH (Peranakan Friesian Holstein). PFH menghasilkan susu lebih sedikit dari FH,” kata Rarah Maheswari, ahli susu dari IPB. ”Tapi,” Rarah menambahkan, ”Saat ini sudah banyak peternak yang mengawinkan sapi PFH dengan FH sehingga secara genetis akan menghasilkan keturunan yang lebih mirip FH, sehingga susu yang dihasilkan juga akan lebih banyak.”

Kemampuan budidaya juga mencakupi masalah pakan. Rarah mengatakan bahwa untuk mendapatkan hijauan yang berkualitas semakin sulit karena lahan relatif semakin sempit. Akibatnya, pakan yang seharusnya berisi 70% hijauan berkualitas tidak terpenuhi. Hanya pemain-pemain besar yang dapat melakukannya. ”Mereka punya modal besar, manajemennya bagus, pakan bagus, sehingga produksi susunya pun juga tinggi, yaitu sekitar 20 liter per hari,” tutur Rarah.

Sebagian besar peternak sapi perah di Indonesia (91%) adalah pemain kecil yang hanya memiliki 1-3 sapi perah, padahal jika setiap peternak punya 10 ekor sapi maka kesejahteraannya akan lebih baik. ”Jika dalam satu keluarga mempunyai 10 ekor sapi perah, maka akan terlihat keuntungan yang nyata,” tambah Rarah. Inilah yang juga menjadi kendala peternak sapi perah Indonesia, keterbatasan modal. ”Mereka hanya membeli sapi sejumlah uang tabungan yang mereka punya saja,” katanya.

Pondok Ranggon Tidak Bergantung IPS

Berbeda dengan daerah lain yang menjual sebagian besar atau bahkan seluruh susu sapinya ke IPS, peternak sapi perah di Pondok Ranggon, Jakarta, mempunyai pasar tersendiri. Rahmani, Ketua Kelompok Sapi Perah Pondok Ranggon, mengatakan bahwa 70% susu Pondok Ranggon dijual kepada loper-loper susu yang kemudian langsung mengantarnya ke konsumen. Susu juga diolah langsung oleh peternak dengan kebutuhan sebanyak 20% dari total produksi susu di Pondok Ranggon. Sisanya baru dikirim ke koperasi yang kemudian akan dijual ke IPS. Ini bisa terjadi karena memang kesadaran minum susu masyarakat Jakarta jauh lebih tinggi daripada daerah lain. Dengan keadaan ini, tentunya harga jual susu ke loper akan lebih tinggi dari harga di IPS. Hasil olahan susupun akan menghasilkan nilai tambah yang cukup besar. Sehingga, kesejahteraan 25 orang peternak sapi perah di Pondok Ranggon relatif lebih baik daripada daerah lain.

Parsum, salah satu penggiat di Pondok Ranggon mengatakan bahwa peternakannya dapat mengolah susu sapi menjadi es susu, yoghurt, dan juga susu pasteurisasi. Ia memiliki susu pasteurisasi dengan brand KFA. ”Produksi kami memang masih kecil, paling banyak 200 liter per hari. Tapi nilai tambah dari proses pasteurisasi ini cukup kami rasakan. Inilah keuntungannya beternak di daerah yang kesadaran minum susunya sudah tinggi,” kata Parsum.


0 Responses to “Susu Sapi Belum Kuasai Pasar Dalam Negeri”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2016
S S R K J S M
« Des   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: