15
Des
15

Prototipe Pemetik Daun Teh

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Memang sulit sekali keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Pada umumnya, kesejahteraan didapat dari ilmu pengetahuan, tapi untuk mendapatkan ilmu tersebut dibutuhkan batas kesejahteraan tertentu. Dilema seperti inilah yang membawa Iyam, salah satu pemetik daun teh di Gunung Mas, Bogor, tetap menjadi pemetik teh di usianya yang hampir mencapai setengah abad. Kemiskinan tidak bisa ia lepaskan dari kehidupannya dan anak-anaknya.

Setiap hari, kecuali Minggu, Iyam melakukan aktivitas yang sama. Ia bangun pukul empat pagi untuk mempersiapkan hidangan untuk keluarga dan membersihkan rumah layaknya ibu rumah tangga yang lain. Pukul enam Iyam sudah mulai berkemas karena pukul tujuh dirinya dan ratusan pemetik teh yang lain harus sudah mulai memetik teh. Biasanya, Iyam berada di kebun selama sembilan jam per hari. Istirahat hanya dilakukan seadanya saja sambil makan siang dengan makanan yang ia bawa dari rumah, tentunya sudah dalam keadaan dingin. Makanan hangat di siang hari terasa sangat mahal baginya. Setelah selesai di kebun, Iyam bergegas pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan malam keluarganya. Acara nonton TV bersama keluarga hanya dapat dinikmatinya sejenak saja karena keesokan harinya Iyam harus bangun pukul empat pagi lagi. Perjuangan seperti ini sudah dilakukan Iyam sejak tiga puluh tahun yang lalu. Tetapi senyuman bahagia tidak pernah lekang dari wajahnya.

Suami Iyam mempunyai pekerjaan utama yang sama, memetik teh. Tapi namanya tidak tercantum seebagai pemetik teh, ia hanya membantu Iyam saja. Kadang-kadang, ia juga berjualan mainan anak-anak di sebuah lapangan yang ramai ketika hari Minggu. Iyam mempunyai lima orang anak. Hanya satu yang masih belum menikah karena masih duduk di bangku Sekolah Dasar. ”Kalau sudah lulus SMP juga langsung saya nikahkan seperti keempat kakaknya,” ungkap Iyam sambil tersenyum. Bangku SMA hanya menjadi angan-angan saja bagi keluarga kecil ini. Bangku kuliah tidak mampu ia bayangkan sama sekali.

Sumber penghidupan Iyam dan keluarganya didapat dari hasil memetik daun teh. Iyam dan suaminya rata-rata bisa memetik daun sebanyak 25 kg per hari yang dapat ia tukarkan dengan uang sebesar Rp13500 (1 kg daun teh = Rp540). Jika beruntung, sang suami bisa memberikan tambahan Rp80000 per bulan dari hasil berjualan mainan anak-anak. Berarti pendapatan per bulan keluarga ini tidak lebih dari Rp500000. Sejumlah uang ini harus terdistribusi dengan sangat baik ke pos-pos pembelanjaan rumah tangga untuk membuatnya tetap hidup.

Iyam sangat ingin untuk terlepas dari lingkaran kemiskinan. Ia berharap paling tidak anak-anaknya sukses, tidak seperti dirinya. ”Tapi apa mungkin lulusan SMP seperti anak-anak saya bisa kaya? Kalaupun ada, kemungkinannya sangat kecil,” sela Iyam dengan tidak melepas senyumannya.

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada Iyam saja, masih ada ratusan Iyam lain di perkebunan teh ini dengan kehidupan dan penghidupan yang tidak jauh berbeda.


0 Responses to “Prototipe Pemetik Daun Teh”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2015
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: