15
Okt
15

Bandeng, Bangkit Di Saat Udang Terpuruk

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Ikan Bandeng. Dok: www.djpb.kkp.go.id

Ikan Bandeng. Dok: http://www.djpb.kkp.go.id

Insting, satu-satunya andalan nelayan Indonesia saat ini. Tidak ada pegangan yang kuat tentang budidaya apa yang baik yang bisa dijadikan mata pencaharian seterusnya. Semua bergantung pada pasar dan insting si nelayan. Dulu, pantai utara pulau Jawa dipenuhi oleh tambak bandeng. Ketika harga udang bagus, nelayan beralih ke udang. Pantura penuh tambak udang. Sekarang, potensi udang menurun sehingga Bandeng mulai dilirik lagi.

Dulu, memang Indonesia terkendala dalam pembibitan bandeng. Masyarakat pada era sebelum 90an hanya mengandalkan bibit bandeng alam, artinya hanya mendapatkan bibit bandeng dari hasil tangkapan nener yang terbawa aus ke pinggir pantai, sangat tradisional. Tapi sekarang teknologi pembibitan buatan sudah diketahui dan sudah banyak dilakukan. ”Sekitar tahun 90an kita sudah mengenal usaha pembenihan buatan. Nelayan memelihara bandeng di tambak, kemudian dibesarkan. Ketika mencapai panjang tertentu, bandeng dipindahkan ke jaring di laut sampai bertelur. Setelah teknologi ini banyak dilakukan, baru benih bisa melimpah seperti sekarang,” kata Enang Haris, dari Budidaya Perikanan, IPB.

Benih yang mudah didapatkan menambah daftar panjang penyebab nelayan banyak memelihara ikan bandeng, yaitu rasanya yang cukup digemari masyarakat, nilai jualnya yang tinggi, dan tahan terhadap penyakit.

Diferensiasi Produk

Tadinya masyarakat hanya mengembangbiakkan bandeng untuk dikonsumsi saja. Sekarang, bandeng bisa dijual dalam beberapa varian umur. Setelah bibit bandeng, atau biasa disebut nener, yang hanya sebesar jarum dipelihara sampai panjangnya sekitar 2 cm, ikan bisa langsung dijual. Bandeng seukuran ini biasa disebut sisiran. Ketika dipelihara lebih lama lagi, ikan membesar menjadi fingerlink. ”Sisiran dan Fingerlink ini lumayan laku untuk dijual di pasaran,” kata Enang. Bandeng umpan akan terbentuk ketika pemeliharaan diteruskan. Panjangnya sekitar 12 cm. Setelah dibudidayakan lagi, baru menjadi bandeng konsumsi.

Dinamakan bandeng umpan karena memang digunakan untuk umpan pemancingan ikan tuna. ”Tahun 2004 bisa dibilang menjadi tahun emas bagi nelayan bandeng karena permintaan bandeng umpan melejit. Nelayan menjualnya ke muara baru. Kemudian dari tempat itu, kapal-kapal penangkap ikan membelinya untuk umpan,” tutur Enang. Namun, beberapa tahun terakhir ini, permintaan bandeng umpan menurun. Menurut Enang, ada dua penyebab. Pertama penangkapan ikan yang menggunakan bandeng umpan menurun. Kedua, perputaran uang dalam penjualan bandeng umpan ini kurang lancar, sehingga nelayan bandeng merasa dirugikan.

Untuk bandeng konsumsi, terkenal sekali produk bandeng presto. Bandeng yang banyak mengandung duri kecil di dalam dagingnya sering kali membuat konsumen kesal. Berbagai proses dilakukan untuk menghilangkan duri kecil tersebut, lahirlah produk bandeng presto ini. Ada juga bandeng asap yang menjamur di daerah Surabaya dan pindang bandeng yang banyak ditemui di daerah Bandung.

Konsumsi bandeng meningkat cukup tajam ketika perayaan Imlek. Bandeng dijadikan makanan istimewa oleh etnis Cina ketika hari besar itu. Tapi, berbeda dengan bandeng konsumsi biasa yang biasanya berbobot 200-300 gram. Bandeng konsumsi pada waktu imlek berbobot lebih dari 1 kg. Harga bandeng tersebut mencapai 25 ribu/kg, sedangkan bandeng konsumsi biasa harganya sekitar 12 ribu/kg.

Teknologi Kurang Visible

Bandeng digemari karena rasanya gurih dan tidak asin seperti ikan laut. Kendala pengolahan Bandeng ada dua, yaitu berbau lumpur dan duri yang banyak. Penghilangan duri dapat dihilangkan dengan panci bertekanan tinggi (presto atau autoklaf). Setelah proses ini, duri akan menjadi lunak sehingga dapat sekaligus dikonsumsi bersama dengan dagingnya. Sedangkan untuk mengatasi bau lumpur, masyarakat banyak yang merendamnya dengan air cuka. ”Sebetulnya, bau lumpur dapat dihilangkan hanya dengan memberikan arus ke dalam kolam sekaligus dengan memuasakan ikan, artinya tidak usah diberikan makan. Dengan begitu, geosmin, bahan yang membuat bau lumpur akan ikut hilang bersamaan dengan terbakarnya lemak,” jelas Enang.

Teknologi ini sudah digunakan dan dipatenkan oleh Malaysia. Alat ini digunakan di restoran-restoran tertentu. Ikan hidup dimasukkan ke alat berarus tersebut, dalam beberapa jam bau lumpur akan hilang.

Penelitian untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sudah banyak, tapi sayangnya tidak semua dapat diaplikasikan. ”Kita banyak mempunyai hasil-hasil penelitian yang dapat mendukung peningkatan kualitas. Di balai-balai penelitian juga banyak. Cuma sayangnya, kebanyakan hasil penelitian tersebut hanya sebatas lab, artinya, kurang memikirkan aspek ekonomi skala sesungguhnya. Selain itu, penyampaian informasi kepada nelayan juga kurang,” tutur Enang.

Butuh Paksaan

Konsumsi bandeng rata-rata penduduk Indonesia sebesar 1,35 kg/kapita/tahun. Ekspor dan impor bandeng belum dilakukan. Ini berarti produksi dan konsumsi bandeng berputar hanya di negeri sendiri. Angka ini sebetulnya masih bisa didongkrak lagi. Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi ikan, termasuk bandeng, tidak meningkat ketika pendapatan meningkat. Konsumsi ikan baru meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang makan di luar rumah. Peningkatan jumlah karyawan kantor, mahasiswa, dan rumah sakit akan memicu peningkatan konsumsi ikan yang berarti dibutuhkan juga peningkatan produksi.

Tidak ada salahnya jika menu ikan dimasukkan dengan paksa ke konsumen. Ini dilakukan demi memperbesar konsumsi dan produksi ikan dalam negeri. ”Secara umum, masyarakat mengonsumsi ikan karena terpaksa. Tapi setelah mencoba beberapa kali malah mencari ikan. Jadi, untuk mendongkrak konsumsi ikan memang sulit di awalnya, harus ada paksaan,” jelas Enang. Menurutnya, hal ini bisa diawali dengan memasukkan menu ikan lewat jasa boga yang biasanya menyediakan makanan bagi karyawan-karyawan pabrik. ”Salah satu pabrik besar yang pernah saya wawancarai hanya memberikan menu ikan sekali dalam tiga minggu. Dengan bobot ikan 80 gram per saji. Dari sini saja bisa kita dongkrak. Dengan paksaan makan ikan tersebut, maka konsumsi ikan nasional akan meningkat,” katanya lagi.


0 Responses to “Bandeng, Bangkit Di Saat Udang Terpuruk”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2015
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: