13
Okt
15

Pertanian, Lingkungan, dan Politik

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pertanian bak artis lokal yang timbul secara tiba-tiba, dielu-elukan namanya dalam jeda waktu tertentu. Namun, tidak lama kemudian, ia ditinggalkan kembali. Muncul lagi, lalu tenggelam lagi. Sayangnya, periode munculnya pertanian jauh lebih sedikit daripada periode tenggelam. Pemilu kali ini bisa dibilang sebagai momen munculnya pertanian. Menjadi semakin heboh karena pesta demokrasi kali ini melibatkan lebih banyak partai. Pertanyaannya, apakah pertanian akan kembali ditinggalkan setelah pemilu usai?

Kalau diperhatikan, banyak iklan di media massa yang menjadikan pertanian sebagai pijakan. Ada yang mengaku maju atas nama petani dan akan membela petani habis-habisan. Ada yang mempunyai misi utama menjadikan produk-produk pertanian (sembako) murah. Bahkan, ada juga yang memperebutkan pengumuman prestasi yang sudah dicapai di belakang.

Bisa kita lihat dari iklan-iklan tersebut, bahwa pertanian memang penting untuk diangkat. Tidak mengherankan kalau ini menjadi penting karena lebih dari separuh penduduk negeri ini bergerak di bidang pertanian. Angka yang sangat signifikan untuk mendongkrak suara pada pemilu.

Namun, apa betul iklan-iklan tersebut dapat menarik hati masyarakat pertanian? Usnadi, seorang ketua kelompok tani dari desa Cibatok, Bogor, mengatakan bahwa sama sekali dia tidak tertarik dengan iklan-iklan yang menyebut-nyebut petani itu. Hatinya tidak akan bergerak hanya karena iklan tersebut menyebut-nyebut kaumnya. Begitu pula dengan teman-teman sesama petani di daerahnya. “Mereka itu kan menyebut kita kalau ada butuhnya saja, untuk keuntungan mereka saja. Kalau sudah jadi, petani akan kembali seperti biasa, sulit,” katanya. Usnadi lebih tersentuh kalau ada partai yang betul-betul turun langsung ke petani, sayangnya tidak ada satupun yang intensif turun ke petani di daerahnya. Padahal, petani di desa Cibatok terkenal maju dan punya kemajuan untuk lebih maju lagi.

Bedah Parpol

Menurut Didin S Damanhuri, pengamat ekonomi pertanian dari IPB, ada sebagian parpol yang sudah memandang pertanian sebagai basis (platform) atau prioritas dalam visi mereka. Sebagian lagi berbicara bahwa pertanian itu penting, tetapi hanya salah satu bagian dari strategi pembangunan secara keseluruhan atau sektoral saja. “Namun menurut pandangan saya, kiranya sebagian besar parpol masih menganggap pertanian sebagai salah satu sektor dalam pembangunan.”

Artinya, sebagian besar parpol masih akan bertindak mirip sistem yang dijalankan saat ini. Tentu saja parpol-parpol tersebut tidak mau disamakan dengan pemerintahan yang sekarang. Mereka berjanji akan bisa menunjukkan prestasi yang lebih baik lagi. Kemudian mengajukan beberapa konsep untuk mencapai itu.

Sayangnya tidak ada yang tahu apakah konsep tersebut applicable atau hanya akan menjadi tumpukan kertas saja. Jangan-jangan nasibnya akan seperti RPPK (Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) yang hanya bisa berbangga di komoditas beras, selebihnya belum bisa dikatakan mencapai target. Maka, sikap apatis petani seperti yang diungkapkan Usnadi akan menjadi wajar

Mengenai konsep pertanian yang dibangun oleh think tank parpol, menurut Didin, ada parpol yang sudah memandang pembangunan pertanian di Indonesia ini secara komprehensif dan mendasar, sekaligus mengkritik bahwa strategi pembangunan saat ini salah arah (missleading) dan lebih bersifat Neo-Liberal, seperi yang disampaikan oleh Suharso Manuarfa (Bendahara Umum PPP). Ada juga yang sudah berulang-kali menyampaikan kepada masyarakat di media, dia (parpol) akan mengubah sistem ekonomi yang sekarang menjadi ekonomi kerakyatan dan mengarah ke resource-based development (mis: Prabowo dari GERINDRA).

“Dari sini saya melihat ada tiga kategori, pertama ada yang menganggap pertanian itu sangat penting dalam artian bersifat ideologis dan mendasar, dan  melakukan kritik terhadap strategi pembangunan sekarang. Kedua, ada yang menganggap pertanian itu penting sebagai basis pembangunan, tetapi tidak melakukan kritik terhadap strategi pembangunan yang berlangsung, hanya akan lebih bersifat menekankan dan tidak berencana melakukan perubahan secara radikal. Ketiga, ada yang menganggap penting saja, bersama-sama dengan parpol-parpol lainnya. Dilihat berdasarkan parpol-parpol yang saat ini mendominasi sebagian besar suara, saya kira hanya berpandangan pertanian lebih penting saja (kategori ketiga). Diantaranya dengan lebih mendorong swasembada pangan, meningkatkan anggaran, dan lain-lain.”

Masih menurut Didin, negara-negara yang memiliki sumberdaya alam sedemikian besar seperti Amerika, Perancis, New Zealand, seperti hal nya Thailand dan Indonesia seharusnya menitik-beratkan pembangunannya pada industri yang berbasis sumberdaya alam atau resource-based industrialization, dengan demikian yang disebut dengan ekonomi rakyat itu sudah included didalamnya. Artinya, rakyat menjadi pelaku aktif. Dengan begitu tidak ada kontradiksi pertanian terkorbankan untuk mengejar pertumbuhan (growth). Jadi, dari segi kebijakan fiskal, kebijakan moneter, kebijakan perbankan, kebijakan pasar modal, tata ruang dan sebagainya diatur pada daya saing yang berbasis industri pertanian. Kenapa? Karena negara kita kaya akan sumberdaya alam, rakyatnya juga sebagian besar bergerak di bidang itu (pemanfaatan SDA), sehingga seluruh sumberdaya dialokasikan untuk menggenjot daya saing. Oleh karena itu, selanjutnya tidak ada lagi backward-kaitan ke belakang kepada bahan baku maupun forward-kaitan ke depan untuk pengolahan tidak akan lagi meninggalkan persoalan ini. Bahkan, pertanian menjadi sangat penting peranannya.

Dari iklan yang ada di media massa, jelas terlihat satu partai yang mengatakan akan betul-betul menjadikan platform pertanian di garda terdepannya. Namun, Didin punya pandangan sendiri, “Dalam hal ini, saya tidak memihak kepada siapapun karena saya bukan orang partai. Kalau memang benar Prabowo (GERINDRA) dengan iklan-nya itu, mestinya ia bisa merinci hal-hal yang saya sampaikan tadi, tidak sekedar ngomong. Jangan mengabaikan pertanian small-scale, medium-scale. Apalagi dia mengatakan pembangunan sekarang ini bersifat Neo-liberal yang berbasis pada pemegang modal. Arus modal yang besar, yang justru saat ini lebih dominan mengalir di bidang-bidang non-agro. Jangan lupa kalaupun kita mengundang PMA dan mengambil teknologi tinggi di bidang pertanian, jangan sampai jatuh menjadi neo-kapitalisme agro. Jadi, industrinya berbasis agro tapi rakyat ditinggalkan, tidak, bukan begitu juga. Karena itu, kita harus berpegang pada konstitusi. Pasal 33 dalam UUD 45 itu menekankan adanya kontrol negara. Nantinya negara harus lebih memiliki peranan, seperti ada monitoring devisa, ada kewajiban devisa itu disimpan di bank-bank Indonesia.”

Lingkungan Terancam Semakin Terpuruk

Pertanian sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Menjaga lingkungan berarti menjaga pertanian tetap sustainable. Jangan sangka kalau lingkungan itu hanya sekedar air dan pencemaran saja. Itu hanyalah sebagian kecil dari cakupan lingkungan. Keadaannya sekarang, lingkungan Indonesia semakin rusak. Menurut Suryo Hadi Wibowo, aktivis dan pengamat lingkungan, hal itu disebabkan karena keputusan politik yang salah. “Kerusakan lingkungan terjadi karena kebijakan politiknya yang bertujuan untuk memenuhi kantong-kantong pendapatan asli daerah atau juga untuk partai yang mengusung dia. Yang paling gampang untuk menutupi pundi-pundinya ya dari sumber alam. Sumber alam sudah tersedia, tinggal kasih lisensi saja. Itu yang membuat, setelah saya teliti, 300 Perda dari seluruh pulau Jawa cenderung untuk eksploitasi. Kesimpulan saya, menjelang pemilu ini sumber daya alam makin banyak rusak. Dari mana dia dapat uang? Mungkin dibayarnya setelah pemilu dalam bentuk lisensi atau yang lain. Maka urusan pengurusan sumber daya alam itu urusan politik, bukan urusan teknis.”

Celakanya, kebanyakan dari para pengambil keputusan belum mengerti betul bahwa Perda yang ditelurkannya berakibat buruk terhadap lingkungan. Di situlah masalah yang terbesar menurut Bowo. Nasib lingkungan hidup ke depan akan lebih parah lagi, akan makin banyak kerusakan, terutama Pulau Jawa, karena kebijakannya tidak banyak berubah.

Untuk partai-partai yang ada pada pemilu kali ini, menurut Bowo, belum ada yang menonjol dalam memasukkan misi perbaikan lingkungan dalam pemikirannya. “Ada sebuah partai di Indonesia yang meng-claim dirinya green partij, tapi saya dengar partai itu juga ingin tahu apa sih yang disebut partai hijau. Partai hijau di negara-negara maju begitu lahir langsung naik. Perolehan suaranya tinggi. Di Jerman (Partai Hijau) langsung mendapatkan 14% suara. Kenapa? Karena dia bekerja di rakyat. Lahirnya dari LSM-LSM yang mengadvokasi persoalan lingkungan yang bekerja di rakyat.”

Bagaimana dengan Indonesia? Mengapa tidak mengusung sendiri partai hijau dari kekuatan LSM? Bowo menjawab, “Itu yang mau diikuti teman-teman (aktivis lingkungan), membentuk partai hijau. Pertanyaannya, sudah lama belum berjuang dengan rakyat di bawah?” Saat ini, banyak juga aktivis lingkungan yang masuk ke partai, tapi belum menjadi sebuah gelombang besar. Mereka masuk ke partai yang berbeda-beda.

Bowo dan teman-teman tidak tinggal diam melihat keterpurukan lingkungan ini terus berlanjut. Ia bersama dengan tim Kementerian Lingkungan Hidup berupaya untuk mengarusutamakan pertimbangan lingkungan ke dalam setiap kebijakan. “Sekarang sedang digodok, sudah jadi draft, Kajian Lingkungan Hidup strategis. Itu adalah suatu kajian untuk menjamin supaya pemikiran lingkungan masuk ke kebijakan-kebijakan departemen lain. Dari mulai tata ruang, sektor perhubungan, semuanya. Memang tidak banyak yang tahu tentang itu. Belum banyak yang memahami bahwa persoalan lingkungan itu banyak terletak pada aspek-aspek politik keputusan, politik kebijakan. Itu yg harus kita ungkap terus.


0 Responses to “Pertanian, Lingkungan, dan Politik”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2015
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: