29
Sep
15

Buka Cabang di Organik

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Go Organic. Dok: www.bekas.com

Go Organic. Dok: http://www.bekas.com

Munculnya cita-cita Deptan untuk Go Organik 2010, memberi efek positif bagi segala yang berembel-embel organik, termasuk pupuk organik. Kuantitas subsidi untuk pupuk organik ditingkatkan menjadi 474 Miliar pada tahun 2008. Jumlah subsidi per kg ditingkatkan, bahkan digratiskan pada program BLP (Bantuan Langsung Pupuk). Permintaan pupuk organik yang semakin besar ini menjadi peluang emas bagi produsen pupuk organik. Bahkan beberapa produsen yang tadinya belum bergerak di pupuk organik membuka cabangnya di bisnis pupuk organik.

Beberapa tahun terakhir, petani diminta oleh pemerintah untuk menggalakkan pemakaian pupuk organik. Dorongan dari pemerintah semakin kuat untuk menunjang ke arah itu. Subsidi pupuk organik ditingkatkan dari HET Rp1.000/kg di tingkat petani, diturunkan menjadi Rp500/kg, bahkan digratiskan pada program Bantuan Langsung Pupuk (BLP).

Dengan begitu, harapannya, petani akan terbiasa dengan pupuk organik sehingga ke depan petani secara sadar akan meningkatkan permintaan pupuk organik secara agregat. Kesempatan ini ditangkap oleh beberapa produsen organik sebagai peluang bisnis.

Tadinya hanya Petrokimia Gresik yang bergerak di pupuk organik, sekarang sudah ada Pusri, Kaltim, Kujang, dan Pertani yang ikut terjun ke organik. Kapasitas produksinya akan terus ditingkatkan dalam beberapa waktu ke depan.

Ambil saja contoh Kujang. Pada awal 2009, kapasitas produksinya sebesar 20 ribu ton per tahun. Muhammad Husein, Direktur Teknik dan Pembangunan PT. Pupuk Kujang, mengatakan akan meningkatkan kapasitas produksinya sampai 80 ribu ton di tahun ini. Target dalam tiga tahun ke depan, kapasitasnya menjadi 300 ribu ton/tahun, naik lima belas kali lipat dari sekarang.

Produksinya tidak difokuskan pada pabrik, tapi mengandalkan UKM dengan sistem kemitraan. Masalah terbesar dalam produksi pupuk organik adalah bahan baku. Kujang lebih memilih mengandalkan beberapa UKM yang letaknya dekat dengan sumber bahan baku daripada memproduksinya di satu pabrik.

Sejauh ini, sudah ada lima UKM yang menjadi mitra Kujang yang terletak di Sumedang, Sukabumi, Bandung, Tangerang, dan Ngawi. Baru 2008 kemarin dilakukan inisiasi pembentukan UKM-UKM itu. Saat ini sudah sampai tahapan pembicaraan yang lebih lanjut. Bahkan di Sukabumi sudah mencoba untuk memproduksi. Ditargetkan, tahun 2009 ini kelima mitra itu sudah aktif berproduksi. Inisiasi ke tempat-tempat lain akan terus dijajaki. Yang menjadi syarat utama dari Kujang adalah daerah itu punya potensi sumber bahan baku yang bagus.

Husein mengaku, program subsidi pupuk organik yang diamanahkan pemerintah kepada Kujang untuk program pupuk bersubsidi sebanyak 20 ribu ton, tapi dengan dikembangkannya UKM-UKM di berbagai daerah, Kujang sanggup kalau tahun ini jumlahnya ditingkatkan sampai 80 ribu ton.

Peningkatan produksi yang dilakukan Kujang setali tiga uang dengan yang dilakukan PT. Pertani. Perusahaan ini sudah lama memulai ke organik tapi dengan kapasitas yang kecil. “Pupuk organik mulai kami produksi sejak 1989. Produk pertama bernama Bokaplus. Berkembang pertama di Jawa barat, kedua di Sulawesi Selatan. Kemudian kami kerja sama dengan universitas dan Litbang Deptan, di Malang kami mengembangkan pupuk organik granule. Waktu itu kami hanya memproduksi 40 ton per bulan dalam satu tempat. Kami kemudian men-develop produk menjadi pupuk organik granule di Malang, hanya 15 ton per hari, masih kecil,” tutur Wahyu, Direktur Marketing PT. Pertani.

Sekarang, dari proyek BLP saja Pertani sudah harus menyiapkan 100 ribu ton per tahun. Untuk mencapainya, Pertani bermitra dengan 20 UKM yang tersebar se-Indonesia. Tugas UKM adalah mengumpulkan dan mencampurkan beberapa bahan organik yang tidak jauh dari kotoran hewan dan tumbuh-tumbuhan berdasarkan SOP yang diberikan Pertani. Kemudian Pertani menambahkan biofertilizer, mengemas, lalu menjual, termasuk untuk kebutuhan BLP. Pertani membayar UKM-UKM tersebut sebanyak harga pokok yang layak ditambah sekitar 10-15% dari harga pokok itu.

Karena sudah lama berkecimpung di organik, Pertani telah memiliki pasar di luar proyek BLP. “Kalau untuk pasar selain dari program BLP, kami menghitung sekitar 12 ribu ton untuk padat, kecil memang. Dibandingkan dengan yang NPK, baik yang subsidi maupun non-subsidi itu hampir 500 ribu ton/tahun,” kata Wahyu. Untuk pupuk organic cair, Pertani sudah mempunyai pasar sebesar 250 ribu liter, masih jauh di bawah kapasitas produksi maksimal, sebesar 1 juta liter.

Dengan jumlah produksi pupuk organik yang masih jauh lebih kecil dibandingkan kimia, maka pengembangan pupuk organik ini punya potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Wahyu mengatakan, potensi kebutuhan pupuk organik di Indonesia sebesar 1,5 juta ton per tahun, masih jauh dari produksi agregat saat ini. “Selanjutnya kalau kita bicara prospek bisnisnya adalah setelah adanya kesadaran petani untuk menggunakan pupuk organik. Dengan demikian tercipta demand. Kami menyadari itu tidak bisa tercipta dengan satu dua kali saja, minimal tiga tahun BLP organik ini plus sosialisasi,” jelasnya.

Ongkos Produksi

Setiap pabrik pupuk punya jenis produk organik yang berbeda-beda. Kujang sendiri saat ini punya tiga jenis produk; serbuk, granular, dan cair. Produk serbuk digunakan untuk tanaman pangan dan tanaman semusim lainnya. Granular untuk tanaman tahunan dan tanaman keras. Sedangkan produk cair untuk tanaman hortikultura. Ketiga jenis itu adalah produk pupuk organik yang murni. Saking semangatnya mengembangkan organik, Kujang juga menelurkan produk NPK Kujang plus organik, yaitu pupuk NPK yang sudah ditambahkan unsur organik.

Untuk pupuk organik serbuk dan granular, Kujang mengandalkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama. Kemudian dicampurkan dengan kompos dari tumbuhan, limbah-limbah industri Kujang, dan beberapa bahan plus untuk pengkayaan pupuk. Butuh kotoran sapi dalam jumlah besar sehingga untuk efisiensi harus dilakukan melalui sistem kemitraan seperti di atas.

Mengenai biaya produksi, Husein mengatakan, per kilogram pupuk organik butuh ongkos produksi sebesar Rp1.200. Harus sampai ke konsumen dengan HET Rp500. Selisih harga dan ongkos distribusi ditanggung oleh pemerintah. Pertani pun tidak jauh berbeda. “Harga pokok  kami sebagai produsen ditetapknnya oleh kementrian BUMN itu Rp 1500-1600/kg (organik granule) itu blm termasuk biaya distribusi,” kata Wahyu. Ia menambahkan, pupuk organik memang dapat diproduksi dengan harga pokok Rp500-Rp600 tapi kualitasnya akan turun. Pemerintah menetapkan harga pokok sekaligus kualitas yang harus terkandung di dalamnya.

Menanggapi ongkos produksi tersebut, Dwi Andreas Santoso, dosen Ilmu Tanah dari IPB, mengatakan jumlah itu terlalu tinggi. “Apapun, kalau kita masuk ke company memang prinsipnya maximizing profit. Kalau begitu serahkan saja ke petani. Jangankan Rp1.200, kami sanggup hanya dengan Rp.600. Dengan kualitas yang sama persis dengan mereka. Bahkan kalau perlu kami tambahkan mikroorganisme yg memicu tumbuh tanaman. Kalau harga Rp1.200 itu dijadikan patokan, kami sangat tidak setuju. Kalau perlu, serahkan saja ke kelompok-kelompok tani, kami dengan SPI (Serikat Petani Indonesia) dan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu yang organisir kelompok-kelompok tani itu,” jelasnya.

Henry Saragih, ketua umum SPI, kurang lebih sepakat dengan Andreas. “Seharusnya pemerintah tidak perlu mendistribusikan pupuk organik. Diajarkan saja petani memproduksi pupuk organik itu. Jadi yang penting materialnya disiapkan, misalnya sapi, kambing, itu yang harusnya disiapin. Itu (kebijakan. red) akan hanya menguntungkan perusahaan, itu dagang baru dari mereka, padahal itu semua sudah bisa diproduksi petani,” katanya.


0 Responses to “Buka Cabang di Organik”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2015
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: