22
Sep
15

Telur Ayam, Masih yang Termurah

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Kebutuhan telur ayam di Indonesia sudah bisa dipenuhi dengan produksi sendiri alias swasembada. Namun, kita tidak bisa begitu saja berlega hati karena banyak hal yang dapat menggerus industri telur ayam ras sedikit demi sedikit. Tepung telur ayam dari luar negeri yang masuk ke pasar nasional bisa menjadi sebab. Telur dumping dari Malaysia pun tidak terasa sudah ikut andil. Keadaan tersebut berpotensi merusak pasar telur yang masih dinobatkan sebagai sumber protein hewani termurah.

Ada dua perubahan besar yang terjadi di industri peternakan ayam petelur Indonesia. Pertama, sekitar tahun 1950, ayam ras masuk menggantikan ayam kampong yang biasa dipelihara masyarakat di belakang rumah. Sebelum tahun 1950, masyarakat belum mengenal peternakan ayam petelur. Belum ada hitung-hitungan ekonomis. Asal bisa memberikan penghasilan tambahan saja. Kemudian perubahan yang kedua, produksi masal mulai digalakkan setelah masyarakat sudah terbiasa dengan telur ayam ras, yaitu sekitar tahun 1955.

Dari titik ini, kemajuan industri telur ayam terus meningkat, terutama produktivitasnya. “Pada saat awalnya ayam ras masuk ke Indonesia, produktivitasnya hanya sekitar 75%, artinya kalau peternak memiliki 1000 ayam petelur, maka dalam satu hari akan didapatkan 750 telur. Sekarang kita bisa katakan produktiviasnya sudah 85%. Itu angka rata-rata. Pada titik tertentu angkanya bisa mencapai 97%,” ulas Hartono, ketua Pinsar Unggas Nasional (Asosiasi Peternak Unggas se-Indonesia). Perlu diketahui bahwa BEP untuk industri telur ayam ini dicapai pada produktivitas 63%, tapi angka itu berfluktuasi tergantung harga pakan yang merupakan komponen biaya produksi terbesar, 70-80%, begitu yang disampaikan Ketut, salah satu peternak ayam petelur yang mengelola 200 ribu ekor ayam.

Ayam kampung tidak ditinggalkan sepenuhnya. Masih ada konsumen yang lebih memilih telur ayam kampung. Keadaannya sekarang, menurut Hartono, sekitar 90% peternak menggunakan ayam ras. Ini dikarenakan ayam kampung belum memiliki hitung-hitungan ekonomis yang bagus. Produktivitasnya masih rendah. “Bisa saja kita mencari galur petelur yang produktif dari ayam kampung, tapi ini membutuhkan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Kita Indonesia belum pernah melakukan itu.”

Semakin produktif tentu saja membuat harganya semakin kompetitif. Hartono bercerita bahwa dulu, tahun 50-70an harga telur setara dengan setengah harga daging. Sekarang keadaannya lebih baik lagi. Harga telur setara dengan seperempat harga daging. Inilah protein hewani yang termurah. Itu sebabnya masyarakat Indonesia semakin gandrung dengan telur. Telur ayam tidak sulit ditemukan di lemari es masyarakat Indonesia. Itu merupakan indikator penting.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia tidak kalah baiknya dari sisi teknologi. Kita sudah bisa membuat close farm dengan bagus. Peternakan yang dikelola Ketut bisa menggambarkan baiknya teknologi yang kita miliki. Modikfikasi sudah dilakukan untuk mendapatkan iklim yang sesuai dengan Indonesia. Ada flow angin yang dibuat khusus untuk mengurangi suhu di dalam kandang. Kandangnya pun sudah tertata dengan rapi. Ayam petelur yang umurnya masih muda mempunyai kandang yang berbeda dengan ayam yang sudah tua. Karyawan tidak boleh sembarangan keluar masuk kandang. Kalau baru masuk dari kandang ayam tua tidak boleh langsung masuk ke kandang ayam muda. Truk yang masuk ke daerah peternakan harus disemprot desinfektan untuk mengurangi risiko penyakit pada ayam. Semua sudah dilakukan Ketut. Teknologi baru yang ia dapatkan dari internet juga tidak segan-segan diaplikasikannya. “Tidak banyak yang berubah ilmu itu dari dulu sampai sekarang,” tuturnya.

Menanggapi masalah harga telur ayam di pasaran. Ketut merasa adanya Pinsar sangat membantunya. “Ada pedoman yang bisa dipegang, baik oleh produsen seperti saya maupun agen,” katanya. Perubahan harga biasanya tidak lebih dari Rp200/kg dari harga yang ditetapkan Pinsar.

Bisa Meningkat 16 Kali

Sekitar sembilan puluh persen produksi telur nasional disalurkan untuk konsumsi rumah tangga, sisanya masuk ke industri bakeri. Namun, angka konsumsi telur masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 80 butir per kapita per tahun. Artinya, rata-rata masyarakat hanya makan satu butir telur dalam empat hari. Ini menyedihkan, kata Hartono, mengingat seharusnya kecukupan gizi masyarakat baru dapat dipenuhi dari 2-4 butir telur sehari. Jadi, gizi baru tercukupi jika masyarakat memakan telur 16 kali lebih banyak dari biasanya.

Jika peningkatan konsumsi itu terjadi, tentu saja, produksi yang saat ini sebesar 900 ribu ton per tahun akan dirangsang naik. Apabila kenaikan sampai 16 kali lipatnya, maka menurut Hartono, akan ada peningkatan investasi di sektor ini sampai 200 triliun rupiah dan terciptanya 9 juta lapangan pekerjaan, baik yang langsung masuk ke peternakan maupun yang menjadi ikutannya, seperti jagung.

Tentunya angka ini masih butuh waktu yang lama sekali untuk dicapai. Memang bagus sekali meningkatkan kecerdasan masyarakat dengan memberikan gizi yang cukup. Jika masyarakat cerdas maka ia dapat memperbaiki perekonomian keluarganya sehingga bisa mendongkrak daya beli. Sayangnya, masyarakat belum cukup mampu untuk mencapai kecukupan gizi tersebut. Daya beli kita masih rendah. “Perlu waktu lama untuk menggapainya, kami harapkan dalam 40 tahun,” harap Hartono. Yang perlu dimunculkan terlebih dahulu adalah, hey, ini ada produk bagus, mari kita konsumsi lebih banyak.

Kuatir Dumping Malaysia

Perjalanan industri telur tidak semulus yang diharapkan. Hartono mencium beberapa sebab yang dapat menimbulkan gejolak. Sebut saja impor tepung telur dan telur segar yang masuk dengan harga dumping ke Indonesia.

Malaysia tidak segan-segan melemparkan kelebihan produksinya ke pasar Indonesia dengan harga dumping. Tujuan mereka hanyalah ingin mengamankan pasar mereka sendiri. Karena kelebihan produksi sedikit saja dapat mengganggu keseimbangan pasar. Kalau harga di Indonesia 13 ribu maka Malaysia berani jual 12 ribu. Walaupun mungkin dari ongkos produksi tidak menutupi, tapi Malaysia tetap jual murah. Tujuannya ingin mengamankan pasar dalam negerinya.

Siapa yang tidak mau telur murah? Importir Indonesia dengan senang hati menerima telur dumping dari Malaysia tersebut. Efeknya ada pada produsen dalam negeri. Produknya tidak bisa bersaing. Sedikit demi sedikit ini akan menggerus industri telur dalam negeri. “Ini sudah banyak terjadi. Secara legalitas memang mereka dapatkan dari daerah khusus Batam. Makanya kami berusaha mati-matian menghapus keistimewaan Batam untuk produk-produk tertentu,” tegas Hartono.

Jangan sampai kejadian seperti Haiti dan Ghana terjadi pada Indonesia. Haiti menjadi net importir sedangkan Ghana sekarang harus impor ayam dari Brazil dan Amerika. Menurut Hartono itu karena mereka awalnya membuka keran impor sehingga industri ayam mereka mati. Mungkin awalnya negara diuntungkan karena bisa mendapatkan barang murah. Tapi kalau sudah bergantung maka harga bisa dimainkan. “Nah, ketahanan nasional ini yang harus kita jaga. Kami selalu bersuara kalau ada yang mengatakan bahwa impor itu adalah jalan keluar,“ semangatnya.


0 Responses to “Telur Ayam, Masih yang Termurah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2015
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: