16
Sep
15

Pusat Jajanan Sabang, Hidup Setelah Mentari Padam

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Agro Observer tahun 2009

Sabang Food Center

Sabang Food Center

Jika hendak bercengkerama dengan kawan lama sambil menggoyang lidah, maka Jalan Sabang bisa jadi jawabannya. Berjenis-jenis nama makanan tampak di spanduk yang terpampang di sepanjang jalan. Nasi goreng, soto, sate, bakmi, bakso, nasi uduk, bubur ayam, martabak, dan masih banyak lagi penganan yang bisa didapat di jalan ini. hidup sampai lewat tengah malam menjadikannya salah satu tempat makan favorit warga Ibukota.

Matahari semakin meluruhkan cengkeramannya. Manusia Ibu Kota sudah semakin terpenam dengan riuh pikirannya. Namun, beberapa yang lain dengan semangat yang masih berlimpah-limpah sedikit demi sedikit membangun kedai-kedai tidak permanen di kanan kiri Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Memasuki kawasan ini, pengunjung akan melewati semacam gapura besar bertuliskan Welcome Pusat Jajanan Sabang di sebelah kiri dan Sabang Food Center di sebelah kanan. Pemerintah Kota DKI sudah menetapkan kawasan ini sebagai pusat jajanan.

Letaknya yang mudah diakses dan keberagaman makanan yang ditawarkan membuat Pusat Jajanan Sabang cukup digandrungi. Sejak jam pulang kantor, Jalan Sabang mulai dikerumuni oleh orang-orang kerja berpakaian necis, sampai sekitar jam delapan malam. Setelah itu, lebih banyak keluarga yang datang. Pusat Jajanan Sabang sendiri hidup dengan tenaga penuh sampai lewat tengah malam kemudian semakin meredup sampai mentari muncul kembali.

Puluhan warung dan restoran di jalan ini menjajakan berbagai rupa makanan. Sebut saja warung Sate Pak Heri, Nasi Goreng Gila tanpa nama, Bakmi Roxy, Seafood 99, Bubur Ayam Sabang Bang Robby, Ratu Bebek dan Ayam Bakar, Warung Soto Pak Gendut, Pempek Jalan Sabang, dan Pondok Kerang. Restoran-restoran besar tak mau kalah, ada American Grill, Hoka-Hoka Bento, Dunkin Donuts, Sakura Anpan Bakery, Holland Bakery, Soto Ayam Ambengan Pak Sadi, dan Kapitiam Oey.

AO sempat membuat survey kecil mengenai warung favorit di Jalan Sabang. Muncul tiga kandidat besar, yaitu Sate Pak Heri, Nasi Goreng Gila tanpa nama, dan Bakmi Roxy. Ketiganya tidak pernah berhenti berkeluget, pengunjung sambung menyambung datang ke ketiga tempat ini.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan Nasi Goreng Gila tanpa nama. Ketika ditanya apa nama warung ini, Ai si pemilik warung mengaku tidak pernah memberikan nama untuk warungnya itu. “Kami cuma tulis Nasi Goreng Gila di spanduk karena itu yang paling laris di tempat ini,” tuturnya. Berbagai jenis nasi goreng lainnya juga hadir di daftar menu, seperti nasi goreng kambing, nasi goreng pete, dan nasi goreng ikan teri medan. Di luar nasi goring, masih ada Gohyong, Puyunghai, Ayam Kuluyuk, Ayam Malaya, berbagai jenis kwetiau, bihun, dan mie.

Ai juga tidak mafhum mengapa banyak yang datang ke warungnya yang sudah berdiri sejak tahun 2002, “Bumbu yang dipakai tidak ada yang special. Bahan yang ditambahkan juga sama, ada ayam, baso, sosis, kornet, telur, dan sayuran. Sama saja.” Tempat kecilnya itu mampu membius seratus orang lebih untuk mampir setiap malamnya. Pengunjung tidak keberatan dengan harga nasi goreng gila sebesar Rp17 ribu. Mereka puas karena gurihnya nasi goreng racikan Ibu Ai bisa dikatakan seimbang dengan harganya.

Sebagian besar warung yang ada di Jalan Sabang hanya buka di malam hari. Begitu juga dengan warung Ibu Ai. “Kami buka dari jam 4 sore sampai jam 4 pagi.” Bersama suami dan empat orang anak buahnya, Ai ikut meramaikan pikuk Jalan Sabang.

Tempat kedua yang juga cukup direkomendasikan adalah Sate Pak Heri. Banyak warung yang menjajakan sate di sepanjang Jalan Sabang, tapi sebagian besar menyarankan Sate Pak Heri sebagai tempat makan sate paling nikmat.

Tempatnya memang relatif lebih besar daripada yang lain. Aktivitasnya padat menandakan tempat ini cukup laris. Pak Heri, pendiri tempat ini sudah tidak lagi aktif berjualan, diteruskan oleh anaknya. Menurutnya, Ribuan tusuk sate laku setiap harinya. Harga yang dibandrol untuk sepuluh tusuk sate ayam lengkap dengan lontingnya adalah Rp14 ribu. Sedangkan untuk sate kambing Rp17 ribu. Selain sate, dijajakan juga soto ayam yang dibandrol dengan harga Rp12 ribu.

Penjual Sate di Jalan Sabang

Penjual Sate di Jalan Sabang

Sate Pak Heri termasuk warung yang cukup sepuh berdiri di kawasan ini, 29 tahun sudah. Saat itu, Jalan Sabang keadaannya belum sebaik seperti sekarang, belum seramai sekarang.

Selanjutnya ada Bakmi Roxy, letaknya tepat di seberang Sate Pak Heri. Bakmi Roxy adalah cabang dari Bakmi yang dijual di Roxy. Pemiliknya tidak mau ambil pusing dengan pemilihan nama yang berkesan, cukup dengan “Bakmi Roxy” saja. Satu porsi bakmi dengan ayam dijual dengan harga Rp8 ribu, sedangkan kalau ingin ada tambahan pangsit atau bakso, satu porsinya dihargai Rp11 ribu.

Tidak kurang dari tiga ratus porsi ludes dipesan setiap malamnya. Pengalaman berjualan selama 9 tahun di Jalan Sabang membuat pengelola Bakmi Roxy semakin lihai menggaet pelanggan dengan tetap menjaga mutu bakmi.

Jam tayangnya tidak berbeda jauh dengan warung lain. “Kami buka dari jam 5 sore sampai setengah satu malam,” kata si penjual sambil tetap fokus menuangkan kuah ke beberapa mangkuk.


3 Responses to “Pusat Jajanan Sabang, Hidup Setelah Mentari Padam”


  1. September 16, 2015 pukul 4:22 am

    sering ke jakarta tp belum pernah mampir disini😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2015
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: