02
Sep
15

Rempah Tidak Sekedar Penambah Citarasa

 Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Semakin lama semakin banyak produk minuman tradisional Indonesia yang dipajang di swalayan-swalayan besar. Bahkan tidak jarang ditemukan beberapa macam merk untuk satu jenis minuman. Fenomena ini bisa dijadikan indikator semakin berkembangnya minuman-minuman tradisional tersebut. Bandrek, wedang jahe, dan sekoteng adalah sedikit contoh dari sekian banyak jenis minuman asli Indonesia. Semua menggunakan rempah-rempah dalam campurannya. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai penguat rasa, sebagian besar campuran rempah mempunyai aktivitas fisiologis yang tentunya baik untuk kesehatan.

Tren back to nature yang beberapa tahun ini menggeliat ternyata ikut mengangkat rempah Indonesia. Dulu orang hanya berpikir untuk mendapatkan kenikmatan khas dari minuman rempah, tp saat ini tidak sedikit orang yang mencari minuman rempah untuk mendapatkan kesehatan. Akulturasi antara makanan dan obat sudah semakin berkembang. Tentunya ini bisa menjadi angin segar untuk pengembangan rempah selanjutnya.

Banyak Aktivitas Fisiologis

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa rempah mempunyai aktivitas fisologis yang tentunya baik untuk menjaga kesehatan tubuh. ”Sebagian besar yang beraroma itu memiliki aktivitas fisiologis,” kata Hani Wijaya, salah satu peneliti senior di Pusat Studi Biofarmaka (PSB).

Jahe ternyata terbukti bisa menimbulkan efek antiinflamasi, artinya dapat mencegah peradangan. Selain itu, jahe juga telah terbukti mempunyai aktivitas antioksidan dan antimikroba. Efek antioksidan cukup penting dalam kehidupan manusia karena dapat mengurangi radikal-radikal bebas dalam tubuh yang berarti dapat meningkatkan imunitas tubuh dan mengurangi risiko penyakit kanker. Sedangkan efek antimikroba dapat mengurangi terjadinya infeksi tubuh akibat aktivitas mikroba. Jahe juga terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan mencegah tersumbatnya pembuluh darah yang berarti juga mencegah stroke dan serangan jantung.

Pala telah diteliti mempunyai aktivitas anti-anxiety (anti cemas), sedatif atau penenang, dan anti konvulsi (anti kejang). ”Aktivitas pelemas saraf sepeti ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai obat tidur alami,” kata Latifah K Darusman, kepala PSB. Bahkan saat ini sudah ada industri kecil yang mengemas pala dalam bentuk kapsul.

Bawang putih dan cengkeh terbukti mempunyai aktivitas antibakteri. Selain itu, bawang putih juga telah terbukti menghambat perkembangbiakkan bakteri Helicobacter penyebab tukak lambung.

Lada hitam cukup ampuh dalam mencegah diare. Kandungan piperine di dalamnya dapat membantu menstimulasi pigmentasi kulit pada penderita vitiligo, yaitu gangguan pada pembentukan warna kulit.

Temulawak memang jarang dijadikan sebagai bumbu dalam masakan. Tapi tanaman yang satu ini masih masuk dalam golongan rempah-rempah. Beberapa produk minuman instan temulawak dalam bentuk sachet sudah banyak dijual di swalayan-swalayan besar. Tanaman ini sudah terbukti khasiatnya sebagai hepatoprotektor. Artinya, temulawak dapat menjaga fungsi organ hati yang juga berefek baik pada fungsi empedu.

Kunyit mempunyai aktivitas antiinflamasi, terutama untuk radang tenggorokan. Secara turun-temurun, kunyit banyak digunakan sebagai obat kanker. Namun, belum ada penelitian ilmiah yang mengiyakan fungsi ini.

Andaliman yang merupakan rempah khas yang hanya ada di kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara juga mempunyai aktivitas antioksidan dan antimikroba. Komoditi ini memang kurang populer di luar Sumatera Utara, tapi menurut Hani, saat ini andaliman menjadi komoditi yang sangat tren.

Puluhan Rempah dalam Satu Cangkir

Tidak hanya masyarakat tradisional yang dapat menikmati minuman rempah. Sekarang, tidak sulit menemukan bandrek dan minuman rempah lain di daerah perkotaan.

”Sejak dulu memang peran rempah dalam fungsional itu sudah banyak di dalam dunia jamu, seperti beras kencur dan kunyit asam,” jelas Hani. Namun, saat ini keberagaman produk-produk minuman rempah itu sudah semakin tampak. ”Saya baru tahu kalau ada minuman rempah Indonesia yang isinya sampai 39 jenis rempah,” katanya lagi.

Produk bandrek saja saat ini mempunyai berbagai tipe dengan kekhasan masing-masing. Komposisi rempah di dalamnya beragam. Ada bandrek yang menggunakan kapulaga, ada juga yang menggunakan kayu manis dan lada. Masing-masing mempunyai rasa yang unik. Tapi yang jelas semuanya tetap mengangkat aroma dan rasa jahe.

Bir pletok, minuman tradisional khas betawi juga banyak mengandung rempah-rempah yang utamanya adalah jahe. Tidak sejalan dengan namanya, bir pletok tidak mempunyai kandungan alkohol sama sekali di dalamnya. Minuman ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup baik juga. Bahkan, sekarang banyak diperdagangkan di berbagai tempat termasuk hotel-hotel yang ada di Jakarta.

Wedang Jahe juga cukup digemari masyarakat Indonesia. Minuman panas ini dibuat dari jahe dan sereh yang direbus dengan air panas. Ini juga merupakan ciri khas minuman Indonesia yang banyak digunakan masyarakat sebagai penyegar dan penghangat tubuh.

Sekoteng merupakan minuman tradisional dari Jawa Tengah. Lagi-lagi kandungan rempah utama di dalamnya dalah jahe. Bahan campuran lainnya di dalam sekoteng ini adalah potongan roti, kacang hijau, dan kacang tanah. Sampai saat ini, masih banyak penjual sekoteng bergerobak pikul yang berkeliaran di malam hari di tanah Jawa. Memang minuman yang satu ini sudah menjadi budaya untuk diminum di malam hari.

Ada lagi Cinna-ale, minuman tradisional Indonesia yang terdiri dari 17 jenis rempah-rempah. Nama Cinna-ale diambil dari nama latin unsur penyusun utamanya, yaitu kayu manis (Cinnamomum burmani Blume) dan jahe (Zingiber officionale Roscoe). Karakteristik minuman ini adalah warnanya yang merah, serta aroma dan rasanya yang khas. Khasiatnya yang telah diteliti cukup banyak, diantaranya sebagai antidiare dan antioksidan.

Tren minuman dengan bahan rempah ini ternyata tidak hanya terdapat di Indonesia saja, tapi juga di negara lain yang tidak menghasilkan rempah. ”Di Eropa bisa kita lihat ada minuman cokelat rasa jahe, cokelat rasa merica, dan rasa cabe. Cokelat rasa cabe juga sudah masuk ke Korea, Jepang, dan sebagainya,” jelas Hani.

Tantangan Formulasi

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana membuat minuman yang enak dinikmati tetapi tetap berkhasiat. Karena terkadang konsentrasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan aroma yang baik dengan konsentrasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan aktifitas fisiologis itu tidak sama. ”Yang konyol itu kalau aktivitas fisiologisnya baru muncul ketika konsentrasinya ditambahkan sampai sepuluh kali lipat dari konsentrasi aroma. Maka dari itu harus ada teknologi-teknologi baru lagi yang dapat menunjang ke arah itu, peningkatan aktivitas dengan tidak memperburuk aroma,” tutur Hani.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, maka akan semakin meningkat juga permintaan akan minuman kesehatan. Sehingga, permintaan rempah-rempah Indonesia ke petani juga ikut terdongkrak. Hal ini bisa membuat Indonesia kembali lagi ke masa kejayaan rempah Indonesia seperti ketika kita dijajah dulu.


0 Responses to “Rempah Tidak Sekedar Penambah Citarasa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2015
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: