12
Agu
15

Pulau Tayan: Pulau di Tengah Sungai

Pemandangan di Pulau Tayan

Pemandangan di Pulau Tayan

Indonesia punya banyak sekali sungai. Beberapa terbilang besar dan panjang. Begitu dekat dengan sungai, membuat beberapa penyair membuat bait-bait lagu mengenai sungai, bahkan diberi judul nama sungai. Dari beberapa sungai besar yang panjang ini, ada yang paling panjang, yaitu Sungai Kapuas. Panjangnya lebih dari 1.000 km dan seakan membelah Kalimantan Barat menjadi dua bagian.

Bodinya yang besar, membuat sedimentasi tidak hanya menumpuk di pinggir sungai, kadang juga menumpuk di tengah. Membentuk daratan yang cukup kokoh, sehingga disebut pulau. Pulau di tengah sungai.

Kapuas mempunyai beberapa pulau di tengah sungai, salah satunya adalah Pulau Tayan. Pulau ini ukurannya kecil, mungkin tidak sampai satu jam jalan kaki kita sudah bisa mengitari seluruh pulau. Background pulai ini adalah Jembatan Tayan, yang akan menjadi jembatan terpanjang di Kalimantan.

Lokasi Pulau Tayan

Lokasi Pulau Tayan, Kalimantan Barat

Mess tempat saya bekerja berada di pinggir Kapuas. Dari depan mess, saya dapat melihat Pulau Tayan. Menurut beberapa orang yang tinggal di mess ini, Pulau Tayan tidak begitu menarik. Ya itu kata orang. Supaya saya bisa mempunyai penilaian, saya harus ke sana dan menilai langsung. Apa betul tidak menarik?

Minggu sore saya menyeberang ke daerah Keraton terlebih dahulu  dengan kapal klotok yang disewa perusahaan, jadi saya tidak perlu bayar. Ada yang tidak disewa perusahaan, nah, yang ini berbayar Rp5.000/orang atau Rp15.000/motor (plus orangnya) sekali nyeberang.

Kenapa disebut klotok? Mungkin karena mesin kapal ini mengeluarkan bunyi klotok klotok klotok ketika sedang bekerja. Kita harus berteriak kalau mau ngobrol di atasnya. Kalau kapal ini mengeluarkan musik, maka mestilh itu musik yang keras. Musiknya tidak jauh-jauh dari musik remix dengan dentuman yang tinggi. Dangdut di-remix, Bondan Prakoso di-remix. Semua di-remix. Sampai lagu India juga di-remix.

Dari Keraton, sudah ada boat-boat menunggu wisatawan yang hendak liburan ke Pulau Tayan. Kedengarannya keren ya… “liburan ke Pulau Tayan”. Bayar boat untuk menyeberang Rp3.000/orang. Cuma 5 menit. Dekat sekali. Penumpang dalam boat ini adalah wisatawan-wisatawan lokal. Lokal banget malah.

Peta Menuju Pulau Tayan

Peta Menuju Pulau Tayan

Tapi jangan salah, bahasa yang dipakai itu interlokal, alias bukan Bahasa Indonesia. Setelah sampai Pulau Tayan, telinga saya tidak jarang mendengar Bahasa Mandarin.

Kok bisa Mandarin? Nah, ini yang menurut saya unik dari Pulau Tayan. Perekonomian Pulau Tayan dikuasai oleh China. Tapi tentu saja, China yang merah putih. Mereka sudah lama hidup di Pulau Tayan. Sebagian orang mengatakan Pulau Tayan adalah pecinan. Ada Klenteng di dalam Pulau Tayan.

Pulau Tayan punya jalan utama, namanya Jalan Dwikora. Di sinilah letak Pasar Tayan. Pasarnya berbentuk toko-toko di pinggir jalan. Jalan ini membuat Pulau Tayan jauh lebih maju dibanding daratan di sekitarnya, misalnya Piasak atau Kawat.

Hebatnya, di Pasar Tayan ini harganya lebih murah daripada Pasar Piasak atau Pasar Kawat. Mungkin ini karena para pedagang di Pulau Tayan membeli langsung dagangannya dalam jumlah besar dari Pontianak, lalu dibawa ke Pulau Tayan lewat jalur sungai. Sementara pedagang di Pasar Piasak dan Pasar Kawat mengangkutnya lewat darat, lewat beberapa tangan, dan membeli dalam jumlah lebih kecil.

Terlihat ada beberapa penginapan di Pulau Tayan. Saya tanya salah satunya dihargai Rp55.000/malam, dengan kasur besar dan kipas angin. Menurut saya agak aneh, karena wisatawan yang datang hanya dari orang-orang sekitar. Mereka datang dan pergi, tidak menginap. Lalu buat siapa penginapan ini? Teman saya yang ngeres pikirannya, ketawa-ketawa saja.

Anak kecil bermain di pinggir Pantai Tayan

Anak kecil bermain di pinggir Pantai Tayan

Saya tidak makan di Pulau Tayan. Sama sekali tidak konsumsi apa-apa. Karena banyak sekali yang menggunakan daging babi dalam menunya. Teman saya yang Protestan justru ke sana tujuannya itu. Katanya untuk asupan vitamin B2.

Nah, terakhir adalah view yang paling dicari di Pulau Tayan, yaitu pantai. Sebetulnya bukan pantai. Mana ada pantai yang tidak di pinggir laut? Tapi karena ada daratan landai bertemu air, ya disebut saja pantai. Pantai ini adalah tujuan utama wisatawan datang dan berkumpul di Minggu sore. Setiap Minggu sore. Di hari-hari lain sepi.

Di Pantai Tayan, ada yang main pasir, ada yang pacaran (sama istrinya mungkin), ada yang bangun tenda dadakan untuk jualan (dibongkar setelah wisatawan pulang), ada yang lari-lari, ada yang main bola. Ada yang BERJUDI. Gile bener… Judi di pinggir pantai.

Berjudi di Pinggir Pantai Tayan

Berjudi di Pinggir Pantai Tayan


0 Responses to “Pulau Tayan: Pulau di Tengah Sungai”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2015
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: