04
Jun
15

Laba-Laba

Wahai laba-laba,

Enak sekali hidupmu. Tidak perlu ada pertanggungjawaban panjang pasca tiada, hanya balas membunuh atau dibunuh. Tidak perlu menjawab Man Robbuka. Tidak perlu lulus UN. Tidak perlu dipaksa lingkungan untuk memvaksin anakmu. Tidak perlu mengikuti apa yang TV ajarkan kepadamu. Tidak perlu ikut BPJS. Tidak perlu selipkan amplop ke penghulu kalau mau kawin. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan “makan apa besok”. Tidak perlu terpaksa punya rumah dan mobil dengan berutang. Tidak disiksa di neraka kalau membunuh, meskipun sengaja. Tidak perlu belajar kalkulus. Tidak perlu pusing kasih nama anak. Tidak perlu dikerjain polisi waktu bikin SIM (bahkan tidak perlu bikin SIM!). Tidak perlu menggunakan uang kartal. Tidak perlu bikin paspor. Tidak perlu…. Semua itu tidak perlu kamu lakukan.

Karena… ya karena kamu seekor laba-laba, yang tinggal kawin ketika kamu mau kawin. Tinggal makan kalau mau makan, bahkan tidak ada yang melarangmu untuk membunuh. Kamu bisa buat jaring-jaring indah berpola tanpa masuk Harvard terlebih dahulu, it’s in your genes! Jaring itu begitu hebat, sampai-sampai jika jaring itu diperbesar, maka Boeing 747 pun bisa tersangkut.

Oh ya, inti pembicaraanku kali ini adalah aku ingin dengar pandanganmu mengenai harta. Ya… darimu, karena dari namamu, harusnya kamu punya uang yang sangat banyak ya. Sekali laba saja sudah bagus. Kamu mendapatkannya berulang-ulang. Sampai bukan lagi menjadi middle name, it’s your full name, dude!

Bagaimana bisa sebuah (mana yang lebih tepat ya, sebuah? Seekor?) spesies yang sangat kaya sepertimu diam-diam saja dan tidak terlihat sikap sombong sama sekali?

Hmm… Okay, aku coba konfirmasi ulang jawabanmu. Jadi kamu diam-diam saja karena kamu malu ketahuan tidak bisa berenang? Karena sejatinya permukaan tubuh luarmu adalah hidrofobik?

Haha, baik, pertanyaan kedua. Kenapa kamu, yang super kaya dan tidak perlu memikirkan makan apa besok, masih mau menelan lagi jaring yang kamu buat untuk menjadi bahan pembuatan jaring berikutnya?

Apa? Muzhid? Wow… Untuk mengefisienkan segala hal ya? Hebat sekali kamu. Beda dengan kaumku yang perokok, lebih memilih beli rokok daripada makanan. Kurang mubazir apa coba? Andai nanti ada aturan Pemerintah yang mewajibkan nyalakan rokok di kedua ujungnya… Biar kapok mereka.

Pertanyaan ketiga, ketika dulu kamu menjadi pahlawan Nabi Muhammad dan Abu Bakar karena jaring-jaringmu yang membuat para pengejar terkecoh, kenapa tidak buat jumpa pers dan mempublikasikan kisahmu yang heroik? Karena dari situ kamu bisa diundang ke mana-mana dan dapat “laba” lebih banyak?

Yeah, betul sekali nasihatmu, karena kaya itu bukan di jumlah harta, tapi di bisa atau tidaknya dia bersyukur.

Pertanyaan terakhir, jika tahun lalu Budi membeli tiga pensil dan dua buka seharga Rp3.500 dan tadi pagi Budi membeli empat pensil dan lima buku seharga Rp7.700, dengan inflasi sebesar 10%, berapa harga buku tahun lalu?

Hey, jangan pergi….


1 Response to “Laba-Laba”


  1. Juni 5, 2015 pukul 9:07 am

    Kereeeeeen tulisannya brur


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2015
S S R K J S M
« Apr   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: