02
Jun
15

Balada Kapuas

Pak Udin sudah siap di tepi Sungai Kapuas. Dia sedang duduk-duduk di sebuah tempat merapatnya perahu/boat/klotok (karena diksi “pelabuhan” sepertinya terlalu besar). Boatnya ditempeli mesin Yamaha dan berkapasitas 7 penumpang. Pak Udin segera bangkit setelah melihat kedatangan kami. Dia siap untuk mengantar saya dan tim untuk menyeberangi Kapuas.

Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi

Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi

Kami ada di sini untuk membenahi sistem informasi di sebuah perusahaan tambang. “Di sini” yang saya sebut tadi berarti di sebuah kecamatan bernama Tayan Hilir, tepatnya Desa Pedalaman (ini betul-betul nama desanya, bukan deskripsi dari saya tentang desa itu).

Kembali ke Pak Udin. Pak Udin adalah seorang warga lokal yang jasanya dibeli oleh perusahaan tambang tempat saya bekerja untuk mengemudikan boat. Hidupnya dekat sekali dengan Kapuas. Buat Pak Udin, pemandangan orang mandi di Sungai Kapuas bukanlah suatu hal baru. Pagi, siang, sore, malam, ada saja yang mandi di bantaran Sungai Kapuas.

Dulu, air Kapuas bukan hanya untuk mandi, tetapi sampai menjadi sumber air minum warga. Setelah dimasak tentunya (mudah-mudahan). Fungsi lain Sungai Kapuas adalah mengantarkan kayu-kayu dari pedalaman Kalimantan Barat ke Laut Cina Selatan, lalu menuju ke negara-negara di luar Indonesia. Belakangan, masyarakat mengetahui aktivitas tersebut sebagai illegal logging.

Ooo, tentu banyak sekali ikan di dalam perut Kapuas. Menurut Wikipedia, terdapat 700 jenis ikan di dalamnya. Sebanyak 40 jenis di antaranya terancam punah. Mungkin 40 jenis ikan itu pusing karena aktivitas tambang emas dan perak di bagian tengah sungai.

Sungai Kapuas menjadi sumber kehidupan sepanjang alirannya, 1.143 KM (sama panjangnya dengan Pulau Jawa). “Sumber kehidupan” punya makna yang cukup dalam buat saya. Setiap harinya, saya bertemu dengan orang-orang yang bekerja seperti robot, mengejar target, produktivitas, hasil yang banyak dengan effort sekecil mungkin, dan “utamakan kendaraan produksi”. Sungai Kapuas menjadi oase dari pemandangan keseharian di lingkungan kerja seperti itu, dan sukses membuat suasana hati lebih baik.

Menunggui sunset di bantaran Sungai Kapuas sambil mengudap sesuatu dan melihat kapal wara-wiri adalah satu aktivitas yang sangat menentramkan. Sepertinya ini deskripsi terbaik yang bisa saya tulis tentang langit Kapuas ketika matahari ingin tenggelam: sorotan cahaya berpencar menabrak awan yang kemudian memendarkan cahaya tersebut menjadi beberapa warna, kuning, merah, jingga, emas, biru muda, biru tua, dan entah warna apa itu. Tabrakan sorotan cahaya tadi juga membentuk siluet yang memenuhi setiap lekukan awan. Jelas sekali, bahwa aktivitas menunggui sunset ini akan saya rindukan di Jakarta.

IMG-20150517-WA002

Semburat Sunset Kapuas. Dok: Adhika Pratomo

***

Setelah semua penumpangnya masuk ke dalam boat, Pak Udin memajukan tuas di dekat setir boat, lalu kapal melaju dengan kecepatan konstan. Hanya ada tiga posisi tuas di dalam boat Pak Udin: depan, tengah, dan belakang. Tuas ke depan berarti maju. Tuas di tengah berarti netral. Tuas ke belakang berarti mundur (untuk mengerem). Perjalanan ke seberang hanya 10 menit. Sesekali boat menabrak potongan kayu di sungai. Itu biasa.

Jika Pak Udin sedang berhalangan, maka yang menggantikan tugasnya adalah Bu Udin. Bu Udin ini tangguh sekali. Dia pengemudi boat yang andal. Bu Udin selalu terlihat menggunakan sarung batik ketika mengemudi, sambil menggunakan topi pet.

Setelah beberapa kali menaiki boat Pak Udin, saya minta untuk mengemudikan boat itu sendiri. Pak Udin setuju. Sepuluh menit kemudian saya menabrak sebuah boat warga lokal yang sedang bersandar. Tiga kali. Yang pertama karena memang terlambat mengerem. Yang kedua dan ketiga karena Pak Udin panik dan memposisikan tuas ke depan, padahal maksudnya mau menarik ke belakang. Lampu boat Pak Udin langsung copot.

Orang yang ada di atas boat tadi lelompatan sampai tiga kali. Saya mau ketawa, tapi kuatir disantet. Kalau tidak ketawa, sayang banget, karena ekspresi lelompatannya itu lucu banget. Saya memilih diam saja. Mudah-mudahan dia bisa mencerna informasi dari bahasa tubuh saya, bahwa saya hanya menabraknya sekali. Yang dua lagi itu Pak Udin…


0 Responses to “Balada Kapuas”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2015
S S R K J S M
« Apr   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: