05
Apr
15

Muzhid

Aira anakku, ada sebuah cerita menarik dari Kutub Utara. Kamu mau dengar, nak? Yaitu tentang cara berburu serigala yang dilakukan oleh suku Eskimo. Mereka membaluri sebilah pisau tajam dengan darah hewan lain, lalu darah itu dibiarkan mengering tanpa dibersihkan. Pisau itu kemudian ditanam dengan posisi bagian tajam menonjol ke atas. Para pemburu sengaja menanam pisau tersebut di tempat serigala biasa berkumpul.

Sang serigala polos akan membaui darah dan secara naluriah mendekati pisau berlumur darah kering tersebut. Tentu saja lidah sang serigala akan berdarah ketika menjilati darah kering di permukaan pisau tersebut. Tetapi karena udara yang dingin, sang serigala tidak menyadari lidahnya telah terluka. Dia tidak merasa kesakitan. Yang dia tahu adalah semakin banyak darah yang bisa dia nikmati, padahal itu darahnya sendiri. Kamu bisa menebak, nak, bagaimana nasib serigala itu selanjutnya. Di suatu titik, sang serigala mati lemas dan sang Pemburu tinggal melenggang mengambil buruannya yang sudah tidak berdaya lagi.

Mungkin nak, ini bisa menjadi analogi untuk manusia yang secara naluriah senang mengumpulkan materi, membelanjakan keinginannya. Lalu keinginannya bertambah, dikejar lagi. Keinginannya bertambah lagi, dikejar terus. Tidak ada batasan sampai kapan kepuasan manusia terpenuhi.

Sejak lama kita dinasihati dengan dalil, bahwa manusia tidak akan puas dengan apa yang dia miliki. Ketika dia punya emas sebanyak satu gunung, maka dia akan mencari emas di gunung ketiga. Brickman dan Campbell menyebut fenomena ini dengan istilah “Hedonic Treadmill”.

Pesan ayah nak, kita sudah dibekali pengetahuan tentang sifat dasar manusia ini sejak lama, dan sekaligus sudah diberikan obatnya: Zuhud. Zuhud adalah sifat hidup dengan sederhana, tidak berlebihan. Orang yang menjalankan sifat Zuhud disebut Muzhid (masuk dalam jenis kata Isim Fa’il).

Dengan terbiasa hidup sederhana, keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, lebih banyak, itu dapat lebih dikendalikan. Kamu tidak bisa menghilangkannya nak, tapi kamu bisa mengendalikannya.

Ingatlah beberapa pesan Nabi dalam Shahih Muslim. Muslim sengaja membuat kitab khusus berjudul “Zuhud dan Kelembutan Hati”. Hadits pertama yang dipaparkan Muslim berbunyi: Dunia adalah penjara bagi orang Iman dan surga bagi orang kafir (Muslim: 5256). Karena untuk menjadi orang Iman, banyak hal yang menjadi larangan dan banyak perintah yang harus dilaksanakan.

Perhatikan apa yang Nabi Muhammad doakan untuk keluarganya,nak: Allahummaj’al rizqo aali muhammadin quutan. Artinya: Ya Allah, berilah rezeki untuk keluarga Muhammad sekadarnya saja (Muslim: 5272). Ini beda sekali dengan doa kebanyakan orang di sekitar kita pada zaman kita sekarang. Dalam riwayat yang lain, diceritakan bahwa orang-orang fakir akan masuk surga lebih dahulu, baru empat puluh tahun kemudian menyusul orang-orang kaya masuk ke dalam surga. Empat puluh tahun! (Muslim 5291).

Tentu Aira juga sering mendengar hadits yang menceritakan ketika di pagi hari Nabi Muhammad menanyakan kepada isterinya, apakah ada makanan? Lantas isterinya menjawab tidak. Lalu Nabi Muhammad berpuasa di hari itu. Kelaparan adalah suatu hal yang biasa dialami Nabi Muhammad. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengikat batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar. Kamu tahu nak, sejak Nabi Muhammad tinggal di Madinah sampai beliau wafat, Nabi Muhammad tidak pernah kenyang memakan roti gandum selama tiga hari berturut-turut (Muslim: 5274). Kala itu, roti gandum adalah makanan yang istimewa, yang seharusnya menjadi makanan sehari-hari bagi pemimpin sebuah kaum.

Nabi Muhammad pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang Aku takutkan pada kalian, tapi Aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mencari harta dunia sebagaimana dilakukan orang-orang sebelum kalian, lalu ia membinasakan kalian seperti halnya mereka.”

Dengan menyimak apa yang Nabi Muhammad ucapkan, doakan, dan lakukan, Aira akan sangat kaget ketika menjalani hidup di zaman sekarang. Aira akan merasa hidup di dalam novel fiksi, bahkan lebih fiksi dari novel fiksi. Bagaimana saat ini manusia berlomba-lomba mencari harta dunia. Bagaimana teman-teman kantor Aira nantinya begitu update dengan gadget-gadget terbaru dan bagi yang memilikinya akan mendapat perhatian dari sekelilingnya. Bagaimana kita menjadi begitu konsumtif. Bagaimana barang-barang sekunder sepuluh tahun lalu menjadi barang primer saat ini. Dan barang sekunder saat ini akan menjadi barang primer 10 tahun lagi. Bagaimana bidang media menjadi bisnis yang begitu menggiurkan dan menjadi top 5, lalu ratusan iklan terpapar ke setiap pribadi setiap harinya.

Jadilah se-muzhid mungkin nak, sebanyak apapun rezeki yang Allah berikan padamu kelak. Jangan sampai menjadi serigala yang tertipu dan mati karena kebodohannya sendiri.


0 Responses to “Muzhid”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2015
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: