24
Mar
15

Perpanjang Sim C (Harusnya) Tidak Lebih dari Rp100 Ribu dan Tidak Lebih dari 30 Menit

Saat ini SIM menjadi kartu identitas kedua bagi masyarakat Indonesia, setelah KTP. Tapi prosedur yang ada dalam pembuatan atau perpanjangannya masih saja belum jelas seperti apa yang seharusnya. Karena sudah menjadi semacam pembiasaan, jadi praktek2 arahan membeli asuransi dulu masih subur. Tentang tes kesehatan juga tidak jelas arahnya ke mana. Masyarakat mengikutinya mungkin karena malas bolak-balik dan malas ribet. Berikut cerita pengalaman saya memperpanjang SIM C hari ini di Samsat Cipinang, Jakarta Timur..

Satu minggu sebelumnya, saya di-stop polisi (terkahir di-stop mungkin dua tahun lalu) dan ditanyakan SIM dan STNK. Baru di situ saya sadar bahwa SIM saya sudah mati sejak 10 bulan lalu. Maka hari ini (24 Maret 2015) saya ke Samsat Cipinang untuk mengurusnya.

Saya sudah googling prosedur perpanjanjang SIM seperti apa dan biayanya berapa. Rata-rata menghabiskan lebih dari Rp100 ribu. Tiga komponen biayanya adalah dari biaya perpanjang itu sendiri (lewat BRI), biaya tes kesehatan, dan biaya asuransi. Saya berniat tidak mau begitu saja menerima pembebanan tersebut kalau tidak ada kuitansinya.

Di depan pintu kantor perpanjang SIM, terdapat tulisan jadwal pelayanan penerbitan dan perpanjang SIM. Senin-Kamis pukul 08.00 – 13.30. Jumat pukul 08.00 –13.30 (istirahat Shalat Jumat 11.30 – 12.30). Sabtu 08.00 – 12.00.

Jatinegara-20150324-00393

Dengan jadwal itu, saya berasumsi istirahat siang para petugas baru setelah jam pelayanan (13.30). Tetapi saya keliru. Pukul 11.40 saya datang, kantor sudah tutup. Dan dikabari baru buka lagi pukul 13.00. Kalau memang seperti itu, menurut saya, sebaiknya jam istirahat Senin-Kamis juga ditulis di pengumuman jam pelayanan. Atau jangan2 seharusnya memang tidak ada istirahat?

Pukul 12.45 saya kembali lagi dan tidak lama setelah itu pintu dibuka. Seorang petugas yang berdiri dibalik meja bertuliskan “Informasi” saya tanya mengenai prosedurnya seperti apa. Namanya Pak Sitepu. Saya memperkenalkan diri sebagai wartawan dan ingin share informasi di media atau blog saya mengenai prosedur perpanjang SIM. Dia mengarahkan untuk tes kesehatan dulu, lalu membayar asuransi dan membayar biaya perpanjangan di loket BRI.

“Kesehatan itu bukan wajib, tapi harus. Asuransi bukan keharusan, tapi kesehatan itu harus,” kata Pak Sitepu.

Tapi Pak Sitepu mulai tidak mau memberikan informasi secara lugas setelah saya tanyakan apa boleh informasi ini saya sebarkan di media?

Pak Sitepu lantas mengarahkan saya untuk “berkoordinasi” di loket 1 dengan Ibu Sulis. “Ke dalam dulu, koordinasi Pak. Koordinasi dulu di loket 1. Ke dalam ada Ibu Sulis,” kata Pak Sitepu.

Lantas saya mendatangi loket 1 dengan nama Aiptu Sulistiyani di depannya. “Ibu Sulis?” sapa saya?

“Iya, ada apa?” kata Aiptu Sulis.

“Saya ingin menanyakan prosedur yang sebenarnya untuk perpanjang SIM di sini. Juga saya mau tanya jam kerja di sini. Karena tadi saya 11.40 sudah tutup,” kata saya.

“Saya harus lapor atasan saya dulu… Yang tutup pintu siapa (maksudnya: kan saya atau tim saya yang tutup pintu). Kan di sini baru istirahat tadi jam 12 tutup pintu,” jelas Aiptu Sulis.

“Kalau saya punya bukti foto 11.40 di sini sudah tutup, apa Ibu masih mau menyangkal?” saya bertanya.

“Saya telepon atasan saya dulu,” kata Aiptu Sulis.

Dalam hati saya, kok ribet amat ya cuma mau dapat statement prosedur yang benar untuk perpanjang SIM. Yang ditugasi berdiri di meja informasi lempar ke dalam. Yang di dalam lempar ke atasannya. Atasannya entah di mana.

Semenit kemudian, seorang polisi mendatangi saya. Namanya Pak Kuswanto. Pak Kuswanto langsung sigap melayani perpanjang SIM saya. Dia meminta SIM lama dan KTP saya untuk di-fotocopy. Lantas saya diminta untuk bayar ke loket BRI sebesar Rp75.000.

Di loket BRI saya dimintai hasil Tes Kesehatan. Saya menggeleng. “Tidak bisa Pak, harus tes kesehatan dulu,” kata petugas BRI.

Melihat saya kebingungan, Pak Kuswanto memasukkan kepalanya ke loket BRI lalu memberi suatu pesan ke petugas BRI, entah apa. Saya tidak bisa mendengar karena seperti berbisik. Yang jelas, petugas BRI langsung memproses pembayaran saya.

Lalu saya diarahkan untuk Tes Kesehatan di sebuah ruangan. Terlihat sekitar 5 orang mengantri di depan ruangan itu. Pak Kuswanto menyuruh saya langsung masuk, tanpa mengantri.

Di dalam ruang tes kesehatan itu duduk seorang wanita muda dan langsung mengatakan, “Biaya tes kesehatan Rp25.000.”

Ciledug-20150324-00395“Ok, boleh saya minta kuitansinya?” saya bertanya.

“Boleh,” jawabnya singkat. Lalu saya diberikan kuitansi dengan cap atas nama Dr Lystia Vidya Pratiwi

Tes kesehatan di sini hanya tes buta warna. Saya bisa dengan mudah membaca nomor2 yang ada di dalam beberapa gambar abstrak. Tidak ada tes lain selain tes buta warna itu. Kalau hanya tes buta warna, dan di pembuatan SIM sepuluh tahun lalu saya sudah dites hal yang sama, buat apa prosedur ini diharuskan dijalani? Buta warna adalah penyakit genetik. Jadi, kalau sudah dites sekali tidak buta warna, maka selamanya tidak akan buta warna. Buat apa tes ini dilakukan di setiap proses perpanjang SIM?

Saya diarahkan Pak Kuswanto ke loket 1 lagi untuk mengisi formulir mengenai beberapa data diri. Lalu cap jari, tanda tangan, dan foto di loket foto. Terakhir, mengambil SIM yang sudah jadi. Semua atas arahan Pak Kuswanto.

Rentang waktu sejak Pak Kuswanto meminta SIM lama dan KTP saya, sampai saya bisa memegang SIM hasil perpanjangan, hanya 20 menit! Andai seluruh petugas pelayanan SIM seperti Pak Kuswanto, yang betul-betul melayani masyarakat untuk mengurus SIM-nya, wah bagus sekali.

Saya puas dengan servis di Samsat Cipinang, terutama karena ada Pak Kuswanto-nya. Yang masih mengganjal adalah keharusan melakukan tes kesehatan yang esensinya hanyalah tes buta warna. Saya sudah menghubungi 081236896888 untuk menanyakan mengenai prosedur tes kesehatan ini, tetapi tidak diangkat terus. Nomor tersebut terpampang pada spanduk di dalam Samsat Cipinang. Tulisannya seperti ini:

PELAYANAN TANPA PENYIMPANGAN

NOMOR PENGADUAN 081236896888

Kalau nomornya susah dihubungi, bagaimana masyarakat bisa bertanya atau mengadu?

Semoga tulisan saya ini bermanfaat J


2 Responses to “Perpanjang Sim C (Harusnya) Tidak Lebih dari Rp100 Ribu dan Tidak Lebih dari 30 Menit”


  1. Maret 29, 2015 pukul 1:33 pm

    Iseng banget lo, bal. :)) masa cuma tes buta warna? bukannya ada tes rabun jauh juga ya? kalo gua dulu sih 2 itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2015
S S R K J S M
« Mar   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: