15
Mar
15

Dicari: Penggunaan Baru Skala Besar

 Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Industri-industri bumbu masakan, rokok, obat, kosmetik, dan perfumery di tanah air sudah cukup lama menggunakan rempah-rempah sebagai salah satu bahannya. Namun, perkembangan industri-industri tersebut nyaris tak terdengar sehingga peningkatan penggunaan rempah dalam negeri pun tidak bergerak banyak dari tahun ke tahun, bahkan bisa dibilang statis. Hanya komoditas cengkeh yang terdongkrak akibat industri rokok yang semakin berkembang. Mungkinkah komoditas rempah lain berkibar seperti cengkeh?

Untuk komoditas rempah-rempah, Indonesia saat ini sudah merambah ke dunia industri. Ada industri yang mengolah rempah masih dalam bentuk mentah (raw material) dan ada juga yang mengolah lebih dari itu, sampai menjadi bubuk, minyak, dan sebagainya.

Untuk cassiavera, varietas kayu manis andalan Indonesia, sebagian sudah diolah menjadi bubuk. Lada ada yang masih dalam bentuk biji tetapi ada juga yang sudah diolah menjadi minyak. Pala juga seperti lada. Banyaknya penjualan yang masih dalam bentuk raw material bukan mengindikasikan kurangnya teknologi dalam mengolah rempah. Tapi, memang pasar menginginkan bentuk mentahnya karena pengolahan selanjutnya di industri seperti farmasi, jamu, dan penyedap makanan, lebih membutuhkan raw material. Misalnya saja cengkeh yang hampir 100% produksinya diolah untuk industri rokok kretek. Cengkeh olahan tentunya tidak akan cocok dengan pabrik rokok.

Berjalan di Tempat

Dulu memang rempah Indonesia sangat berjaya. Tapi sejak saat itu sampai sekarang, Indonesia tidak terlalu mengembangkan rempah, sedangkan negara-negara lain banyak mengembangkan rempahnya. Sehingga, bisa dibilang kita tertinggal dari negara lain. ”Industri rempah Indonesia berjalan di tempat,” kata Pasril Wahid, ketua Masyarakat Rempah Indonesia. Kebanyakan petani rempah Indonesia hanya menempatkan pekerjaannya sebagai pekerjaan sambilan, hanya beberapa komoditas saja yang merupakan mata pencaharian utama. Jadi, wajar saja kalau Mentan, Anton Apriantono, mengatakan bahwa daya saing rempah Indonesia sangat rendah.

Industri rempah kita semakin sulit berkembang karena kecurangan-kecurangan yang seringkali dilakukan pedagang atau petani rempah Indonesia ketika harga tinggi. ”Dulu, sekitar tahun 1990an, harga kayu manis sedang bagus-bagusnya. Karena ingin mendapatkan untung berlipat, petani atau pedagang memasukkan paku ke dalamnya dengan tujuan menambah bobot kayu manis. Tentunya ini akan merusak citra Indonesia,” ungkap pasril. Atau kejadian penambahan air raksa ke dalam vanili. Hal-hal seperti inilah yang juga membuat industri rempah Indonesia tetap berjalan di tempat.

Perlu Push Demand

Penggunaan rempah, baik di dalam maupun luar negeri tidak terlalu banyak. Karena itulah pasar rempah ini menjadi sangat terbatas. Sehingga diperlukan kecermatan dalam penanganan rempah. Tidak bisa sembarangan melakukan perluasan lahan karena jika produksi meningkat sedangkan pasar terbatas maka harga akan jatuh.

Cara yang paling aman untuk meningkatkan produksi rempah adalah dengan meningkatkan permintaan. ”Itulah tantangan kita. Untuk mencari penggunaan baru yang bisa menerobos konsumsi rempah menuju peningkatan yang pesat,” kata Pasril.

Produksi cengkeh Indonesia meningkat pesat ketika industri rokok kretek muncul. Ini karena permintaan industri tersebut meningkat untuk cengkeh. Penggunaan baru seperti rokok kretek inilah yang akan meningkatkan perputaran rempah. Bahkan sekarang hampir sepenuhnya cengkeh digunakan untuk rokok. Sampai-sampai diprediksi bahwa pada tahun 2009 kita akan mengimpor cengkeh karena produksi cengkeh Indonesia tidak dapat mengimbangi konsumsinya di industri rokok. Saat ini memang industri rokok masih bisa bertahan tidak impor cengkeh karena mengandalkan stok yang ada di dalam gudang. Diperkirakan stok ini akan habis pada 2009.

Namun, walaupun perputaran cengkeh sudah besar, permintaan sudah banyak meningkat, tetap dibutuhkan kehati-hatian dalam penanganannya. Menurut Pasril, pengembangan cengkeh sebaiknya dilakukan dengan rehabilitasi dan intensifikasi, bukan dengan ekstensifikasi karena ditakutkan akan terjadi lagi kelebihan produksi.

Spa Berpotensi

”Saya perkirakan, spicy ini akan booming lg nanti, itulah sebabnya Masyarakat Rempah Indonesia (MaRI) dan Dewan Rempah indonesia (DRI) bergerak untuk mendorong perkembangan rempah Indonesia,” aku Pasril. Suhirman, ketua DRI juga sepakat dengan hal tersebut. ”Industri hilir rempah baru kami galakkan. Pada dasarnya pekerjaan itu merupakan tugas dari pelaku agribisnis, dalam hal ini swasta,  pemerintah dan dewan yang memfasilitasi. Kami membantu mendorong dan mengingatkan, sehingga sering diadakan pertemuan-pertemuan,” kata Suhirman..

Saat ini pemakaian rempah memang sudah semakin beragam. Indikasi kejayaan rempah sudah mulai terlihat. Banyak produk-produk makanan baru yang menggunakan rempah. Beberapa hotel dan restoran sudah menampilkan spicy cassava atau singkong yang diberi rempah-rempah di dalam daftar menunya. Permintaan akan makanan dan minuman tersebut juga semakin banyak, bahkan banyak yang sudah mulai diekspor.

Industri jamu juga berkembang dengan baik. Ada lagi industri farmasi dan kosmetika yang juga membuat posisi industri rempah semakin bagus. Selain untuk industri rokok kretek yang menempatkan Indonesia menjadi pemain terbesar di dunia, cengkeh sekarang sudah ada yang diolah menjadi pewangi ruangan, pengusir nyamuk dan lalat. Dari kesemuanya ini, terlihat bahwa pasar rempah untuk industri dalam negeri semakin membaik.

Selain sekian banyak pemakaian rempah itu, spa juga mempunyai potensi berkembang yang cukup baik. Ini juga berarti angin segar bagi industri rempah karena spa banyak menggunakan berbagai rempah. Menurut Pasril, spa sudah menjadi tren saat ini. Walaupun belum terlalu membudaya dan juga hanya menggarap pasar dengan ekonomi menengah ke atas tapi pasar itu semakin berkembang.

”Sebenarnya perkembangan baik ini sudah berlangsung lama, tapi tidak dimonitor. Misalnya saja industri rokok yang sudah berkembang sejak lama. Industri rokok kreteknya berkembang, tapi pembinaan pada petani cengkeh dan tembakaunya begitu-begitu saja. Pembinaan terhadap petani tidak pernah memperlihatkan program yang jelas sehingga ya berjalan secara alamiah saja,” ungkap Suhirman.

Tidak Cukup Hanya Pameran

Menurut Rifda Amarina, sekretaris DRI, potensi pasar rempah kita besar sekali. Tapi sayangnya pemasaran rempah Indonesia tidak didukung oleh pemerintah. Sebetulnya pemasaran ini bukan berarti hanya menggelar pameran saja, tapi juga akses produksi.

”Seharusnya infrastruktur transportasi untuk mendukung produk rempah itu difasilitasi oleh pemerintah,” tambahnya. Sehingga, petani yang letaknya jauh, seperti di Sulawesi dan Maluku, dapat menjual produknya dengan lebih baik dengan mendapatkan peluang pasar yang lebih besar. Jadi, mereka tidak harus menunggu pedagang datang kepada mereka. Karena kalau begitu, petani tidak akan tahu harga yang sebenarnya. Mungkin itu yang menjadi salah satu penyebab keterpurukan daerah penghasil rempah. ”Bahkan beberapa daerah malah mengganti tanaman rempah dengan tanaman lain. Ini menyedihkan,” tambah Rifda.


0 Responses to “Dicari: Penggunaan Baru Skala Besar”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2015
S S R K J S M
« Mar   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: