25
Agu
11

Sapi Perah di Segitiga Emas Masih Berdetak

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Seperti cerita di negeri dongeng. Sampai detik ini, masih ada produsen susu sapi yang bertahan meneruskan usaha nenek moyangnya di tengah jantung kota ibukota, dikelilingi gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Lebih dari lima puluh sapi perah berbagai usia masih hidup dan masih produktif dimiliki Mirdan. Dua ratus liter susu sapi disuplai dari tempat ini setiap harinya. Menurut Ridho, kakak kandung dari Mirdan yang juga mengelola peternakan ini, mereka sudah merintisnya sejak tahun 1960. Peternakan ini merupakan usaha turun-temurun keluarganya.

Letaknya dekat sekali dengan kawasan Mega Kuningan, tepatnya di Jalan Perintis, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tidak persis di pinggir jalan perintis, tetapi ada semacam lorong kecil sepanjanglimapuluh meter yang memang hanya menuju peternakan ini. Di jalan perintisnya sendiri, kemacetan khas ibukota dijumpai setiap hari pada jam masuk dan keluar kantor.

Kedua keadaan tersebut sangat kontras sekali terasa. Di jalan raya, segala kemodernan kental sekali, mobil-mobil mewah berbondong-bondong menuju atau keluar perkantoran. Tetapi ketika berjalan sedikit ke dalam peternakan, hawa pedesaanlah yang menyeruak, alami sekali. Tampak jelas di sekeliling peternakan sapi perah ini gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi menampakkan kekuasaannya. Sapi perah di kawasan ini sudah ada sejak dulu, sebelum gedung-gedung tinggi disekitarnya dibangun, bahkan sebelum dipikirkan akan dibangun.

Bekas Sentra Susu Jakarta

Memang kawasan ini dulunya adalah tempat produksi susu sapi terbesar diJakarta. Bahkan ada suatu gang yang dinamakan gang susu. Sepanjang gang susu ini dulunya dipenuhi sapi perah. Sekarang tidak ada satupun sapi yang terlihat di gang susu. Namun, plang nama Gang Susu masih tetap tegar berdiri menjadi saksi bisu kejayaan akan susu sapi di tempat ini dulu.

Ahmad Mirdan adalah salah satu dari sisa peternak itu. Usaha peternakan miliknya saat ini sudah dilakukan sejak dua generasi sebelumnya. Jadi, Mirdan adalah generasi ketiga. Ia dan keluarganya memiliki lebih darilimapuluh sapi berbagai usia, ada yang siap perah ada juga yang belum. Terlihat juga belasan kambing yang ikut diternakkan di tempat ini. Bisa dibilang, lahan peternakan seluas kurang lebih 200 meter persegi ini kurang layak lagi untuk ditempati sapi-sapi dan kambing-kambing itu karena harus berjejalan dengan jarak antarsapi yang sangat kecil.

Beternak sapi di bawah gedung-gedung tinggi. Dok: Iqbal

Setiap hari, Ridho memerah sapinya dua kali, yaitu pada pukul 6 pagi dan 4 sore. Produksi susu dari peternakan ini sekitar 200 liter per hari. “Saya jual ke loper-loper susu yang berani membeli dengan harga tujuh ribu per liter. Kalau tidak ada yang beli ya saya jual ke koperasi. Susu pasti laku dijual,” kata Mirdan. Ridho menambahkan, terkadang ada juga pembeli yang langsung datang ke tempatnya untuk membeli susu. Minimal pembelian adalah satu liter. Harga yang diberikan sama dengan harga untuk loper.

Setelah sapi diperah, biasanya para loper susu sudah menunggu hasil saringan susu itu untuk diedarkan ke berbagai pelosok ibukota. Kemasannya ada dua jenis, plastik dan botol. Botol-botol yang dipakai ini adalah hibah dari pemerintahan Soeharto dulu. Ukurannya ada yang setengah dan ada yang satu liter.

Dulu, para loper susu ini menyebarkan susu dengan menggunakan sepeda yang disemati kantong-kantong di sekujur tubuh sepeda. Namun, sekarang tidak perlu mengayuh sepeda sampai berpuluh kilometer lagi karena biasanya loper sudah dilengkapi dengan sepeda motor.

Pemindahan sentra susu Jakarta dari Kuningan ke Pondok Ranggon dilakukan sekitar tahun 70an. Saat itu, Jakarta mulai melakukan pengembangan kawasan Mega Kuningan. Sedikit demi sedikit peternak pindah ke Pondok Rangon atau memilih untuk menutup usaha sapi perahnya sama sekali.

Proses pengembangan kawasan Kuningan menggerus lahan-lahan kosong yang biasa ditumbuhi rumput. Dengan begitu, Mirdan dan Ridho merasa kesulitan mencari hijauan sebagai pakan sapi-sapi mereka. “Biasanya kami ngarit sampai ke Cilandak,” kata Ridho. Memang mendapatkan hijauan menjadi kendala bagi peternak di daerah perkotaan. Di Pondok Ranggon pun mencari hijauan sudah memperlihatkan kendala.

Bahan pakan selain hijauan relatif lebih mudah didapatkan. Ridho bercerita bahwa pakan yang diberikan terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan potongan-potongan singkong, selain hijauan yang diberikan dalam jumlah paling besar. Ada komposisi tertentu yang dipercaya efektif menghasilkan susu lebih banyak.

Kalau dilihat dari sudut pandang para loper susu sebagai distributor andalan, mereka diberi pilihan yang berat, membeli susu ke Pondok Rangon dengan harga relatif lebih murah, yaitu sekitar 4 ribuan tetapi biaya distribusinya lebih tinggi, atau membeli ke Mirdan, mahal tetapi dekat.

20 juta per meter

Menurut Mirdan, lahan peternakan miliknya sekarang berharga 20 juta/meter. “Sampai sekarang belum ada penawaran harga yang cocok buat saya jadi belum saya jual,” akunya. Mirdan tidak segan untuk menjual lahan peternakan mininya itu jika ada tawaran menarik. Pengembang kawasan Mega Kuningan masih mematok harga tertinggi 10 juta/meter. Harga tersebut masih ditolak oleh Mirdan.

Bagi Mirdan, bisnis usaha sapi perah masih cukup menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, keuntungan bersih dari satu ekor sapi produktif adalah lebih dari 10 juta dalam satu tahun. Sedangkan Mirdan memiliki puluhan sapi yang masih produktif. Jadi, memang hasil dari beternak sapi di kawasan ini sama menggiurkannya dengan menjual lahan peternakannya kepada pihak pengembang.

Kalau lahan Mirdan ini sudah dijual, habis sudah bekas-bekas kejayaan kuningan sebagai produsen susu. Sapi berubah menjadi gedung. Lebih gagah memang, tetapi juga lebih sombong.


0 Responses to “Sapi Perah di Segitiga Emas Masih Berdetak”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2011
S S R K J S M
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: