07
Jul
11

Pembunuh Singa Padang Pasir

Karya Dr Najib Kailani. Penerbit Pustaka.

Empat paragraf awal, sebelum daftar isi, langsung membuatku ingin membaca terus sampai episode terakhir (total 268 halaman). Ini hanya penangkap perhatian pembaca saja, yang diambil dari pertengahan cerita. Selanjutnya novel dimulai dari persiapan Quraisy untuk perang Uhud melawan umat islam yang sudah hijrah ke Madinah.

Serunya, yang dijadikan pemeran utama adalah Wahsyi, seorang budak milik Jabir bin Muth’im (tokoh Mekah). Darinya kita jadi tahu kehidupan budak zaman dulu.

Penulis membeberkan sejarah masuknya islam. Konflik dan peperangan awal antara islam dan orang Quraisy serta Yahudi dari berbagai klan. Sekalipun mereka menyatukan kekuatan dalam perang Khandaq, tapi islam tidak kunjung takluk.

Dialog-dialog cerdas dan dalam tentang pemaknaan islam antara Wahsyi dengan Suhail, kawannya, dan Wisoli, pelacur Mekah yang tersohor, membuat novel ini makin memperlihatkan seperti apakah islam, paling tidak menurut Najib Kailani.

Puncaknya ketika Fathu Mekkah (terbukanya kota Mekkah) ketika kota Mekkah takluk tanpa terjadi adu senjata. Islamisasi yang sungguh anggun. Tinggallah Wahsyi yang kabur dari Mekah karena takut perbuatannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga dijuluki si Singa Padang Pasir) atas permintaan Hindun bin ‘Atabah.

Perkataan Suhail tentang islam dan jaminannya bahwa Nabi tidak akan membunuhnya kala dia ingin masuk islam, membuat Wahsyi berkeputusan menjumpai Nabi. Nabi menerima keislamannya, tapi Wahsyi diminta untuk menjauhkan wajahnya dari hadapan Nabi. Permintaan Nabi itu sungguh membuatnya terpukul. Namun, ia tetap melaksanakannya.

Wahsyi menjadi penganut islam dan menjalankan syariat islam seperti orang pada umumnya. Keandalannya dalam melempar lembing membuatnya berhasil membunuh Musailamah Al Kazzab, nabi palsu yang menjadi musuh islam, pada zaman kekhaifahan Abu Bakr RA.

Wahsyi berjongkok, mencabut tombaknya yang masih tertancap di tubuh Musailamah. Dengan wajah tengadah Wahsyi bergumam:

“Maka sekiranya aku dengan tombak ini telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, aku berharap, kiranya Allah mengampuni segala dosa-dosaku, karena dengan tombak ini pula aku telah membunuh sejahat-jahat manusia, yaitu Musailamah Al Kazzab.”

 


0 Responses to “Pembunuh Singa Padang Pasir”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: