16
Jun
11

Malioboro dan Tetangga-Tetangganya

Yang paling kuingat tentang Malioboro, selain Dagadu dan batik-batiknya, adalah cerita temanku tentang perjalanannya keliling seputaran Malioboro dengan becak yang cuma berbayar seribu perak. Tapi beberapa artikel bilang, mereka (tukang becak) itu niatnya bukan mencari yang seribu itu, tapi dengan kita belanja di tempat-tempat yang sengaja disambangi si tukang becak, dia dapat banyak uang dari si pemilik toko. Jadi, aku pilih berjalan.

Dari Stasiun Tugu ke Selatan sedikit, kita bisa jumpai rentetan penginapan murah di Jalan Pasar Kembang atau orang biasa menyebut Sarkem. Mudah mencari penginapan yang sewanya Rp 50.000 per malam. Banyak penginapan ya otomatis banyak tempat jajanan di sepanjang jalan. Sarkem paling sering direferensikan backpacker ke backpacker lain untuk menginap, juga karena banyak tempat wisata yang dekat darinya.

Salah satu muara Jalan Sarkem adalah Malioboro, jalan yang nyala terus. Banyak orang bilang, Malioboro mutlak dijajaki kalau ke Jogja. Baju, makanan, elektronik, sampai kuda, ada di Malioboro. Mungkin hanya kalau hujan Malioboro baru agak sepi. Itupun agak. Buatku, Malioboro lebih dari itu. Dia jantung buat Jogja. Pusat peradaban sekaligus salah satu pusat perekonomian. Namanya bahkan lebih tenar dibanding Diponegoro, bahkan Sri Sutan sekalipun.

Hari pertama, setelah melewati Malioboro, aku masuk ke Keraton Jogja. Ramai sekali Sabtu ini. Setelah membayar Rp 5.000 untuk tiket masuk dan Rp 1.000 untuk kamera (termasuk kamera HP!), kita dipersilakan masuk melihat-lihat ke dalam. FYI, semua museum di sekitar Malioboro minta Rp 1.000 untuk kamera. Peraturan yang agak aneh menurutku. Kalau tiket masuk ya jelas untuk perawatan, lah kamera? Apa kalau dijepret bisa mengurangi nilai si benda koleksi?

Banyak kelihatan turis dengan warna kulit macam-macam. Seperhatianku, mereka kurang tertarik dengan peralatan-peralatan pribadi milik Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi mayoritas koleksi Keraton. Justru yang menurutku membuat mereka tertarik adalah pemandu yang bisa berbahasa aneka. Bahasa Inggris sudah mutlak bagi para pemandu, termasuk seorang tua yang kulihat berpakaian serupa dengan pamain wayang orang yang sedang menjelaskan tentang Keraton pada sekeompok bule. Sekali kudengar seorang pemandu bicara seperti bahasa Mexico yang banyak “rrr” nya.

Seorang pemandu mendekatiku. Padahal setahuku, aku tidak pasang tampang sedang mau cari tahu atau tampang kebingungan. Dia menunjukkan bahwa ada satu tempat baru, galeri lukisan katanya. Aku diajak keluar lewat pintu belakang yang ada tulisan “Enter” nya, lalu diarahkan ke sebuah galeri mini. Di akhir aku baru sadar, rupanya dia calo lukisan yang tentunya dapat komisi kalau aku membeli lukisan di situ. Ini yang menurutku membuat Keraton kurang nyaman.

Banyak koleksi Sultan HB IX yang tersebar di enam ruangan museum. Koleksi yang menurutku paling menarik adalah tiga buah batu besar bertuliskan pernyataan Soekarno yang mengamanahkan Jogja kepada Sultan, dua hari setelah kemerdekaan. Seorang pemandu (yang ini pemandu tetap di ruangan museum, bukan pemandu yang di luar-luar ruangan) bilang, inilah dalil bagi orang Jogja yang pro penetapan untuk tetap menjadikan Jogja sebagai daerah istimewa.

Ukiran pada batu ketiga membekukan sosok macam apa HB IX itu. Tertulis dalam Bahasa Belanda yang kalau diterjemahkan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Dia sosok yang kuat dan dibanggakan masyarakatnya. Seluruh Jogja menundukkan kepala ketika ia meninggal pada 1988 lalu dimakamkan di Imogiri.

Betul, mayoritas museum di sekitar Keraton menyajikan wisata sejarah, termasuk Museum Kereta, museum kedua yang kukunjungi hari itu.  Awalnya kupikir kereta yang dimaksud di sini kereta uap atau kereta yang ada rel nya itu, tapi ternyata kereta kuda. Dalam museum berbayar Rp 3.000 ini (kamera juga kena Rp 1.000), banyak koleksi kereta kuda yang waktu zaman Belanda banyak dipakai.

Kereta kuda yang dipajang di sini bukan sembarangan, ini punya bangsawan di masa itu. Interiornya berlapis beludru mewah dengan jendela di kanan kiri yang ditutup gorden bermotif mewah. Sebagian koleksi masih rapi jali dengan badan kereta yang tidak berdebu dan tempat duduk di dalam kereta yang terlihat (karena tidak boleh dipegang) lembut. Sayangnya, lampu di dalam museum terlalu redup, jadi beberapa foto di dinding kurang jelas, tulisannya juga, dan koleksi keretanya juga jadi kurang terlihat mewahnya.

Seorang petugas yang terlihat sedang mengelap salah satu koleksi bilang, kereta-kereta ini diaktifkan kalau ada perayaan. Kuda-kuda yang digunakan adalah khusus, dikandangkan masih di areal kompeks Keraton. Tidak sejajar dengan pernyataan petugas lain yang bilang kalau ada parade yang diambil adalah kuda-kuda yang banyak ada di Malioboro. Simpang siur.

Taman Sari (Rp 3.000) menjadi destinasi berikutnya. Letaknya di Selatan Keraton. Dari luar sudah tampak bahwa ini bangunan pas betul kalau dijadikan tempat foto pre-wedding. Betul saja, di dalamnya terlihat beberapa pasang yang sedang foto-foto, tapi sepertinya bukan pre-wedding, melainkan pura-pura pre-wedding. Mereka terlihat teralu muda untuk pre-wedding.

Dua buah kolam besar dengan air jernih menjadi pusat keindahan Taman Sari. Kolam-kolam tersebut dikelilingi tembok tinggi yang berlekuk indah. Pot-pot besar mengeilingi kolam dengan ukuran pot yang sama dan jenis tumbuhan hijau yang sama. Sudut pandang yang lain untuk menikmati kolam tersebut adalah dari lantai tiga sebuah bangunan di salah satu sisi kolam.

Bangunan tersebut juga indah dengan beberapa kamar di dalamnya. Sekilas terlihat seperti penjara dengan jeruji-jeruji besi di jendelanya dan dipan yang terbuat dari beton. Tapi mana ada penjara yang pemandangannya dua kolam jernih berwarna biru?

Beberapa lubang pintu tak berpintu berbentuk setengah oval menjadi penghubung ke banyak ruangan dan ke pemukiman penduduk. Tingginya hanya sekitar 1,8 meter. Mungkin banyak bule yang sudah terjedut di lubang-lubang pintu itu.

Pemukiman di sekitar bangunan Taman Sari ya seperti layaknya pemukiman. Ada rumah, ada poskamling, ada warung, dan ada WC umum. Suasana bangunan tua hilang seketika kalau masuk ke areal pemukiman tersebut. Lebih baik kembali ke areal bangunan Taman Sari.

Tadinya aku mau lanjut ke Museum Sono Budoyo, tapi ternyata jam 2 siang sudah tutup. Kata Satpamnya, biasanya jam 1 juga sudah tutup. Karena sudah mau hujan juga, jadi aku kembali ke penginapan.

Esoknya, aku jalan lagi melintasi Malioboro dari arah Sarkem. Jam 8 pagi, wajah Malioboro belum terlalu tampak. Penjual makanan saja yang tampak banyak. Penjual baju dan aksesoris lainnya mayoritas masih berupa gerobak berbalut terpal yang diikat. Hanya sebagian kecil saja yang mulai membongkar gerobaknya.

Museum Vredeburg terlihat gagah dan menarik dari luar. Tarif masuknya Rp 3.000 (kamera Rp 1.000). Lagi-lagi suguhannya adalah tentang sejarah Jogja. Patung Jenderal Soedirman dan Letjen Urip Sumoharjo menyambut setiap pengunjung yang masuk lewat pintu depan. Taman di pinggir jalan setapak terpangkas rapi menggambarkan bagaimana museum ini dirawat.

Ada beberapa Diorema yang terbagi dalam beberapa ruangan sepi dan gelap. Aku paling suka ketika masuk salah satu Diorema yang mengulas saat-saat Indonesia berpindah Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Terjelaskan bagaimana dinginnya hubungan Belanda dan Indonesia waktu itu. Inisiatif Pangeran Diponegoro dengan menyeru pada seluruh rakyat untuk berperang gerilia menjadi inisiatif yang diakui paling tepat dalam menangkal Belanda. Sebuah serangan umum yang hanya memakan waktu beberapa jam saja bisa membuat Jogja kembali dikuasai pribumi. Rakyat Jogja menggunakan granat gombyok dalam perlawanannya terhadap invasi Belanda. Replika granat ada di sebuah kotak kaca dengan sedikit keterangan tentangnya.

Sebagian diorama menyediakan tombol yang kalau dipencet akan keluar suara orang bercerita tentang kejadian di diorama tersebut. Tapi sebagian (besar!) tombol tidak berfungsi atau berlapis selotip dan tulisan, “Jangan dipencet.”

Keluar dari pintu belakang benteng, aku langsung menemui Taman Budaya berupa gedung yang sepi. Saat itu sedang ada pameran lukisan tapi hanya aku satu-satunya pengunjung. Itupun setelah menimbang-nimbang, ini pameran gratis atau berbayar, untuk umum atau bukan. Tidak jelas karena tidak ada tanda apa-apa di depan gedungnya. Di salah satu teras gedung terlihat beberapa anak umur TK sedang belajar menggambar. Di teras sisi yang lain sedang ada sekelompok gadis sedang belajar menari.

Kios-kios penjual buku berada tidak jauh dari Taman Budaya. Aku teringat Kuitang di Jakarta. Isinya juga tidak jauh beda, ya majalah bekas ya buku bekas ya buku obral ya buku bajakan. Koleksinya lumayan banyak. Tidak kalah lah sama Kuitang.

Tepat di sebelahnya adalah areal Taman Pintar. Setahuku tempat ini adalah tempat buat belajar anak-anak yang dibuka belum lewat 10 tahun. Beberapa gedung media belajar ada di dalamnya dengan tarif antara Rp 1.000 sampai Rp 15.000. Sukur, tidak ada ongkos tambahan untuk kamera.

Justru aku tertarik memperhatikan aktivitas di halaman gedung-gedung tersebut. Sepertinya di luar sini lebih ramai daripada di dalam. Permainan-permainan outdoor yang disajikan sepertinya sudah cukup untuk menggapai maksud rekreasi keluarga. Apalagi gratis. Jadilah ramai betul halaman Taman Pintar.

Satu permainan yang cukup ramai adalah Dinding Berdendang. Terdapat beberapa tabuhan yang terletak vertikal dan kalau ditabuh akan menghasilkan tinggi suara yang berbeda karena ukurannya yang berbeda. Di sebelahnya terdapat keterangan kenapa itu bisa terjadi. Tapi aku tidak yakin mereka membacanya. Mereka hanya mendengarkan suara tabuhan yang naik turun, tanpa ingin tahu kenapa bisa begitu. Mungkin pendiri Taman Pintar bisa berduka dengan kenyataan itu.


1 Response to “Malioboro dan Tetangga-Tetangganya”


  1. 1 orang
    Juli 9, 2011 pukul 6:06 am

    baguuuz!
    saya suka,, tapi sdikit gaq ngerty c.., heee..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: