10
Jun
11

Benteng Pendem

“Boleh sepedanya aku bawa masuk, mba? Gak ada kuncinya.” Mungkin si mba-mba penjaga gerbang Benteng Pendem dalam hatinya bilang, “Ini orang masih pagi udah nyusahin.” Aku parkir sepeda dekat gerbang bagian dalam setelah sebelumnya diusir karena menaruh di depan loket karcis masuk.a

Benteng pendem adalah salah satu wisata andalan Cilacap, Jawa Tengah. Letaknya pas di Teluk Penyu, juga pas di samping tanki-tanki raksasa punya Pertamina.

Setelah bayar Rp 4.000 untuk karcis masuk (Weekend Rp 5.000. Update harga Mei 2011) aku lihat ke dalam, mana bentengnya? Tidak ada bangunan gagah yang tinggi menjulang. Aku cuma melihat tembok batu yang tingginya sekitar 2 meter bertuliskan “Benteng Pertahanan”.

Benteng Pertahanan. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Panjang tembok yang katanya benteng pertahanan itu sekitar 40 meter. Ada beberapa lubang yang berjejer. Lubang yang menghadap ke dalam lebih besar daripada yang menghadap ke luar (ke arah laut). Di sekeliling benteng bagian luar ada parit besar yang dalamnya tidak terdeteksi karena airnya tenang dan warnanya gelap.

Mungkin begini taktiknya: musuh harus kesulitan melewati parit besar sebelum bisa mencapai benteng. Supaya tambah sulit lagi, musuh yang berusaha masuk itu juga ditembaki dari lubang-lubang yang mengecil ke bagian luar tersebut.

Hanya ada satu jembatan kecil yang melintasi parit. Tidak jelas ini jembatan sudah ada dari dulu atau baru dibuat setelah jadi arena wisata. Ujung jembatan itu adalah benteng pertahanan yang sudah dibobol, untuk orang masuk.

Setelah masuk benteng pertahanan -yang cuma tembok itu-, aku menangkap tulisan “Benteng Jepang”. Aku tidak tahu apa ini bagian dari benteng pendem atau justru itu benteng pendem atau dua benteng yang berbeda. Aku dekati, tapi tetap saja membingungkan, mana bentengnya? Tadi cuma tembok batu tebal dibilang benteng pertahanan. Kali ini lebih abstrak lagi, tidak terlihat bangunan apapun kecuali arena bermain anak.

Aku jalan terus mengikuti jalan yang naik turun, lantas ketemu tulisan Ruang Amunisi, Ruang Penjara, dsb. Dilihat dari luar, sepertinya besar ruangan-ruangan itu hampir sama. Tapi terlalu gelap di dalam, jadi tidak bisa terlihat utuh. Ruangan-ruangan itu punya kesamaan: beratapkan tanah berumput.

Aku membayangkan, dulu ada sebuah bukit yang dilubangi tengahnya secara horizontal, lalu dilubangi lagi kecil-kecil secara vertikal membentuk ruangan-ruangan itu tadi.

Tiap ruangan punya pintu masuk yang kecil dan pendek. Kelihatannya harus menunduk buat masuk ke dalam. Halaman tiap ruangan hamper sama: tanah becek. Kadang-kadang malah ada air mengalir dari atas ruangan bagian luar. Bisa jadi itu mata air.

Tidak butuh waktu lama buat mengelilingi benteng. Kalau tidak masuk-masuk ruangan paling 20 menit sudah beres. Tapi kalau mau bersantai-santai dulu, gazebo tersebar di areal wisata. Tempat duduk-duduk dari semen juga banyak di sepanjang parit besar dekat benteng pertahanan.

Ada bagian parit yang jadi tempat mangkal mainan bebek-bebekan yang dikayuh. Karena masih pagi, waktu itu sekitar pukul 8, jadi belum beroperasi.

Aku kembali ke pintu utama, mengambil sepeda, lantas pulang.

Tags: benteng pendem, cilacap


0 Responses to “Benteng Pendem”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: