29
Mei
11

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.


0 Responses to “Belajar Faroidh di Klaten”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: